
Tak lama, Jihan menggandeng gadis yang memakai baju putih, dengan jilbab putih juga. Gadis itu menunduk, membuat Exel malas sekali memandang nya.
"Cantik sekali cucu menantu ku" Puji Sanjaya, Exel pun melirik gadis yang sudah duduk di depan nya.
Satu lirikan membuat Exel ingin memandang nya lebih jelas lagi. Tubuh nya tiba-tiba lemas saat melihat sosok yang ada di depan mata nya. Lalu Exel memandang laki-laki yang tadi mengakad nya, dan kini ia ingat siapa laki-laki itu.
"Sabrina" Ucap exel sambil menatap gadis cantik di depan nya
"Afrin, mas. Nama ku Afrin" Jawab nya sambil malu-malu
"Dia Afrin, xel. Kau ini" Byan menepuk pundak exel sambil tersenyum penuh kemenangan.
Exel pun juga memandangi satu persatu orang di sana, semua nya senyum sumringah penuh kemenangan. Tak terkecuali Sanjaya.
"Ayo, rin. Cium tangan suami mu" Titah Ustadz Amir kepada putri nya.
Exel masih tak percaya dengan apa yang terjadi, otak nya masih saja nge-blank. Tapi ia masih bisa mengendalikan nya, jadi tidak terlihat bodoh.
Sabrina meraih tangan Exel, lalu mencium nya. Setelah itu, Exel langsung nyosor mencium kening Sabrina dan..
"Sudah" Byan menjauhkan wajah Exel dari Sabrina, sehingga Exel yang hendak mencium bibir Sabrina pun gagal. "Kau tak malu di lihat banyak orang, main nyosor saja"
"Reflek, paman"
Sabrina malu-malu, dia terus saja menunduk.
"Opa bahagia, melihatmu bahagia" ucap sanjaya sambil tersenyum
__ADS_1
"Aku yakin semua menjebak ku kan?"
"Tapi akhirnya kau senang, kan?" Byan langsung menjawab
"Kalau gak senang, ini bisa di batalkan" Ucap Ustadz Amir sambil tersenyum
"Oh, tidak. Tidak perlu di batalkan" Exel menjawab sangat cepat, dan itu membuat semua orang tertawa.
"Yasudah, kamu pulang saja, xel. Kamu juga kan capek habis dari Amerika"
"Iya, ini exel juga mau pamit pulang" Ucap nya sambil melirik Afrin yang tak lain adalah Sabrina.
Dasar Exel, bisa-bisa nya dia menjawab itu.
Kini Semua orang pulang ke rumah mewah milik Sanjaya. Di rumah sakit hanya ada Jihan, caca dan suami caca. Yang lain nya pulang, karena ingin menyiapkan tasyakuran Exel dan Sabrina. Lastri juga ikut pulang, ja tak di izinkan tidur di rumah sakit karena faktor kesehatan nya juga.
"Iya, Ustadz Amir juga pulang. Kata nya mau persiapin acara nya Exel"
Di lantai satu, semua sibuk berkemas, ada yang sibuk santai menonton televisi, dan ada yang sibuk di dapur. Tapi tidak di kamar kedua pengantin. Sabrina tengah duduk di tepi ranjang, sedangkan Exel sibuk menutup semua gorden jendela kamar nya dan tak lupa pintu nya juga ia kunci.
"Mas, ini masih sore"
"Memang kenapa kalau masih sore?"
Sabrina diam.
"Kenapa nama mu di ganti dengan Afrin? dan kapan kamu jadi janda? dan kenapa cerita nya jadi seperti ini?" Exel berjongkok di depan Sabrina sambil memegang tangan Sabrina
__ADS_1
"Ayo jawab, kalau tidak ku makan habis saat ini juga"
"Pertanyaan mas Exel banyak sekali, Afrin bingung mau jawab yang mana"
Exel tiba-tiba langsung mencium Sabrina dengan cukup kasar.
"Nama mu Sabrina, aku gak mau nama Afrin."
"Tapi... "
Exel langsung mendorong tubuh Sabrina, lalu ia langsung menindih nya.
"Harus nurut, gak boleh bantah"
Sabrina menatap Exel, jantung nya berdetak kencang. Ia merasa takut dengan Exel
"Hahaha.. mas hanya bercanda sayang. Maaf" Exel bangkit dari atas tubuh Sabrina
"Bangunlah, ayo ceritakan semua nya dari awal" Exel menarik Sabrina agar duduk, dan setelah Sabrina duduk, Exel langsung meletakan kepala nya di pangkuan Sabrina.
"Mas Exel gak punya malu" Exel yang agresif tapi Sabrina yang menahan malu
"Mas lima tahun menahan semua ini, jadi mas sungguh tak bisa menahan nya lagi. Walau kita sudah sangat lama sekali tidak berhubungan, tapi mas tetap merasa dekat dengan mu seperti dulu" Jawab Exel
Sabrina hanya diam saja, ia menatap Exel yang berada di pangkuan nya.
"Ayo ceritakan, mas gak sabar. Sihir apa ini, kok bisa semua orang berubah"
__ADS_1