Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Anak!


__ADS_3

afifah pun mengambil ayam utuh, memasukkan ke keranjang. saat berbalik, afifah kaget dengan sosok yang berdiri di belakang nya, untung saja tidak sampai menabrak nya.


"Pak Haji, membuat afifah kaget"


"Hehehe.. maaf ya fah, ayo cepat soalnya sebentar lagi ada keluarga ustadz amir mau belanja.


Afifah diam,


"Mereka sepertinya masih tidak menyukaimu fah, aku tak mau nanti kamu dikatain. tau sendirikan mereka seperti apa?"


"Yasudah pak Haji, aku beli ini aja. aku juga gak mau ketemu mereka untuk saat ini. apalagi ustadz amir"


"Kamu masih suka sama ustadz amir?" tanya pak Haji sambil menotal belanjaan afifah


"Tidak pak Haji, cuma gak mau ketemu dulu."


"Sabar ya fah, aku tau bagaimana kamu dan ustadz amir. tapi sekarang kamu gak usah sedih lagi. udah dapet pak dokter El yang tampan heheh"


"Pak Haji bisa aja, yasudah berapa semuanya?"


"67.500 fah"


afifah pun membayar nya, setelah itu segera pergi dari sana, dan benar tak lama kemudian satu mobil avanza datang, turunlah ustadz amir dan ibu nya.


Untung afifah sudah pulang.


...****************...


Kini El menatap ayam bakar balado di depan nya. sungguh perut El sudah ingin menyantap nya.


"Nasi nya dikit aja" ucap El saat afifah menuangkan Nasi di atas piring nya.


"Setelah sekian lama, ngerasain juga ayam bakar balado nya mbak afifah" zakir juga sangat ingin segera menyantap ayam bakar itu


"Ini resep afifah sendiri nak El, bukan ibu yang ajari"


"Ibu sama afifah memang jago nya masak" untuk pertama kalinya, El memuji afifah dengan tulus.


Mereka pun makan bersama, setelah zakir memimpin doa.


"Lebih nikmat tak pakai sendok pak" tutur zakir


El diam, memikirkan sejenak kata-kata zakir. lalu ia bangkit untuk cuci tangan.


Untuk pertama kalinya, El makan tanpa menggunakan sendok dan garpu.


Lebih terasa! Yummy!


afifah memperhatikan cara makan el, yang masih terlihat inyik-inyik, namun tetap jelas terlihat ia sangat menikmatinya.


"Fah, tambahin bumbu nya" titah El.


afifah pun menciduk bumbu yang ada di piring lauk.


setelah habis satu potong, El mengambil lagi Satu potong ayam bakar disana, bu zainab tersenyum melihat sang menantu sangat suka masakan anak nya.


setelah makan, kini El duduk bersila di atas karpet depan televisi, berdua dengan afifah.


"Mas, kata ibu mau gak nginep sini?"


"kamu jawab apa tadi ke ibu?"


"Ya aku bilang, tak tanyain kamu dulu"


"Gak usah deh, lain kali saja" tolak El, ia tak suka tidur di rumah afifah, apalagi kasurnya tidak empuk.


jam 9 malam, afifah dan El kembali pulang ke rumah, mereka langsung masuk kamar dan tidur. El sangat lelah sekali, apalagi besok ia harus bangun pagi untuk sholat shubuh.


...****************...


Kini El sudah berada di ruangan nya, ia bisa bernafas lega, karena masa penilaian akreditasi sudah terlewat. terakhir tadi pagi setelah apel pagi, pengawas pamit untuk kembali ke kota.


El duduk di sofa, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil mendongak. di pikiran El kembali terbayang tubuh mulus afifah.


"Astaga.. kenapa harus teringat terus" kesal El, ia pun bangkit dan keluar dari ruangan nya.


"Bisa-bisa gila aku menahan hasrat ini, lebih baik aku keliling saja biar gak keingat terus!"


El berjalan dengan gagah, menyapa semua orang disana. semua warga yang sedang sakit disana sangat suka dengan El. dokter tampan, baik dan ramah. benar-benar menantu idaman bagi kaum ibu-ibu.


"Pak dokter sama Afifah pasangan yang sangat serasi, yang satu tampan yang satu nya cantik"


"Iya pak, dia dulu bunga desanya sini. walau cantik ia tak malu berjualan, beda dengan anak-anak remaja lain nya"


El hanya tersenyum menanggapi pujian orang-orang


"Saya doakan, semoga cepat diberi keturunan pak" seorang wanita tua yang tangan nya sedang di infus ikut berbicara


"Iya pak, saya doakan biar afifah cepat hamil"

__ADS_1


"Aamiin" jawab yang lain, namun El hanya diam, menunduk sambil tersenyum.


sangking asik nya menyapa semua orang dan sesekali mengobrol dengan mereka, andi sampai pusing mencari keberadaan atasan nya itu. pasalnya makan siang sudah siap di ruangan nya.


Astaga, dari tadi aku muter-muter! ternyata ngerumpi disini.


"Pak El" panggil andi


"Ada apa?" El menoleh, tentu ia tau dan hafal itu suara asisten nya


"Makan siang nya pak"


El langsung melihat ke pergelangan tangan nya, ternyata sudah terlambat 5 menit, jam makan siang nya.


"Yasudah bu ibu, bapak-bapak, saya permisi ya" pamit El kepada beberapa orang disana.


"Iya dok," mereka semua tersenyum kepada El, begitu juga dengan El.


kini El menatap makan siang nya. Nasi putih, sayur asam, udang goreng dan telur gulung.


Kemarin kamu udah makan yang berlemak mas, tadi pagi juga makan pizza kan, jadi aku buatin makanan yang ringan kayak gini dulu.


El tersenyum, setelah membaca pesan dari afifah.


afifah sendiri dirumah sedang menangis sambil memegang 2 lembar foto yang ia dapatkan dari Pak pos. Hatinya benar-benar terluka, melihat foto-foto El dengan rania. jika itu adalah foto mesra, afifah mungkin tak akan sesakit itu melihatnya, namun di foto-foto tersebut jelas terlihat El sedang telanjang dada tidur bersama rania.


Aku menjaga tubuhku dari siapapun, aku akan menyerahkan nya kepada suami nya. akupun berharap, aku juga wanita yang pertama kali di sentuh suamiku.


setelah mandi, afifah langsung pergi ke rumah ibu nya dengan mata lebam, sang ibu pun tau, namun lebih memilih tidak menanyakan apapun kepada anak nya.


afifah sendiri, memilih langsung tidur di kamar nya.


"Kir, kamu punya nomor dokter el?"


"Tau bu, kemarin aku minta. kenapa?"


"Telepon dia, ibu pengen bicara"


"Hmm.. oke"


setelah menunggu beberapa menit, kini telepon zakir dengan El sudah tersambung, awalnya El kira adalah zakir, bahkan El terkejut yang berbicara dengan nya ada ibu mertua nya.


"Nak El, ibu bukan nya mau ikut campur ya. Cuma ibu tak mau jika masalah kalian semakin keruh"


El diseberang sana sangat bingung dengan perkataan ibu mertua nya.


"Ibu tau, jika afifah tak meminta izin kepadamu kan. dia tadi siang pulang ke rumah mata nya lebam, dan sekarang ia tidur di kamar. ibu minta kamu maafin afifah ya. kamu jangan marah ke dia"


"Iya bu, nanti jam 4 atau jam 5 sore saya kesana lagi ya, jadi jangan perbolehkan afifah pergi kemanapun ya bu"


"Iya nak El, yasudah ya.. assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


tut


tut


tut


setelah sambungan telepon terputus, bu zainab sibuk menyiapkan makanan untuk El nanti. sedangkan afifah masih tidur di kamar nya.


jam 4 sore, El datang dengan berpakaian santai. ia langsung masuk ke kamar afifah setelah berbicara sebentar dengan bu zainab.


Tenyata afifah sudah bangun, namun ia enggan turun dari tempat tidur nya.


"Maaf fah, tapi percayalah, itu dulu sekali" ternyata El sudah tau, afifah marah kepadanya karena apa. afifah sendiri sengaja meletakan foto tersebut di atas nakas kamarnya.


afifah diam, ia masih membalut tubuh nya dengan selimut.


"Walaupun kita sama-sama tau, ujung pernikahan kita bagaimana, tapi percayalah aku akan menjaga diri dan tidak akan pernah selingkuh sebelum kita resmi bercerai"


afifah masih diam membelakangi El, El pun menoleh karena tak ada reaksi apapun dari afifah.


El lun mendekat, melihat wajah afifah. El langsung panik saat melihat afifah seperti kedinginan, El pun meletakan tangan nya ke kening afifah.


Panas sekali!


El pun panik, dengan cepat ia menggendong afifah, dan membawa nya masuk mobi. bu zainab sudah menangis melihat keadaan afifah yang sudah pucat.


setelah sampai di puskesmas, El sendiri langsung memeriksanya, di bantu perawat disana memasang infus di tangan afifah.


"Dia gak makan!"


"Mas, aku mau pulang" suara lemas


"DIAM!" Bentak El, bahkan dia perawat disana ikut kaget dan takut


Afifah pun menangis dan memalingkan muka nya.

__ADS_1


"Katakan kepada mertua saya, suruh siapin makanan buat afifah"


"Iya dok" setelah menjawab, kedua perawat tersebut keluar.


"Cuma gara-gara itu kamu marah? itu dulu, jauh sebelum kenal kamu" suara El pelan namun penuh penekanan.


"Percayalah, sebelum kita bercerai tak akan ada orang ketiga di antara kita" suara El kembali lembut, ia merasa kasian kepada afifah.


"apa kamu marah dengan ku gara-gara foto itu?"


"Tidak mas,"


"lalu kenapa kau menangis? kenapa kamu gak makan? dan pulang ke rumah ibu?"


"jariku teriris tadi mas" afifah memperlihatkan jari telunjuknya yang sudah ia balut handsaplast "Aku gak makan memang beberapa hari ini gak enak makan, aku pulang ke rumah ibu karena aku merasa tak enak badan"


"Kenapa gak pamit?"


"rencana ku hanya sebentar, ehh.. malah ketiduran"


"Yasudah, sebentar lagi makanlah. aku ambilkan obat untukmu dulu"


Memang nya kenapa jika afifah marah kepada El, apa untung dan rugi nya El? bukankah slama ini dia tak pernah peduli dengan afifah! terlebih 10 bulan lagi ia akan bercerai.


...****************...


Hari-hari terus berlalu, afifah juga sudah beraktifitas seperti biasanya, memasak untuk El dan mulai sibuk dengan endors yang masuk.


Kini afifah tak mau memusingkan El lagi, ia sekarang fokus dengan pekerjaan barunya, yang menyenangkan namun menghasilkan banyak sekali uang.


Retno, adik kelas nya dulu, dia menjadi pengatur jadwal afifah, bukan hanya itu dia juga yang mengelola akun instagram afifah dan menjadi fotografer amatir afifah.


Followers afifah semakin meningkat, popularitas nya semakin naik, di kenal banyak orang.


Di dalam hati El, ada sedikit rasa yang mengganjal, ada sesuatu yang berubah dari afifah, ia menyadari nya, namun ia tak tau itu.


El slalu menepis pikiran nya itu, dengan berdalih afifah mulai sibuk dengan aktifitas baru nya, jadi ia merasa ada yang berbeda. padahal jelas benar-benar afifah berubah.


Malam hari, setelah makan malam. afifah langsung pergi ke kamar untuk tidur, karena ia sangat kelelahan, seperti nya ia butuh satu tenaga untuk membantunya lagi. ia benar-benar kualahan dengan endors yang masuk.


El sedikit kesal, karena ia masih ingin menonton televisi, sedangkan afifah tidak menemaninya, padahal sebelum-sebelumnya juga seperti ini, ia tak kesal, lalu kenapa sekarang kesal.


saat hendak mematikan televisi, HP El berdering. ia melihat panggilan vidio masuk dari nenek eka, dengan cepat El menerima nya, lalu nampak lah 3 wajah orang yang sangat ia sayangi, yaitu nenek eka, Byan dan Papa nya.


Awalnya mereka menanyakan kabar dan mengobrol saintai, namun lama-lama El mulai cemberut karena papa dan kakak nya itu terus menggoda nya.


"Jangan-jangan El Impoten pa, masa sudah hampir 3 bulan bisa buat afifah hamil!" seru Byan


"Gak mungkin! El ini keturunan seorang Perwira, Dan blasteran luar negeri, gak mungkin impoten Byan" sanjaya bukan membela el, namun ia hanya mengejek nya saja.


"Udalah pa, kak jangan bahas itu dulu ya... "


"Oh iya El, mana istrimu?" potong nenek eka


"Dia sudah tidur nek"


"Sudah tidur?" Byan melihat jam tangan di pergelangan tangan nya "Jam segini sudah tidur?"


"Iya kak, mungkin dia capek... "


"tuh kan Byan, papa bilang juga apa. afifah capek mungkin karena.. Ekhemmm"


astaga, kalau seperti ini, hilang sudah wibawa seorang perwira.


"Iya pa, kita tunggu saja bulan depan kabar cucu papa dan keponakan aku"


El hanya diam, jika ia menyahuti kakak dan papa nya itu, pasti urusan nya akan panjang dan merembet kemana-mana.


"El, nenek akan merayakan Natal di Amsterdam, kamu ikut juga ya. sekian jalan-jalan bulan madu gitu"


"Iya El, kan mumpung libur Natal dan taun baru"


"El akan pikirkan dulu ya nek, nanti El kabari lagi"


"nenek gak mau tau, kamu harus berangkat bulan madu, biar nenek segera dapat cicit"


mulai lagi kan merengek minta cicit sih nenek eka ini.


"Iya El, cepet buatin nenek cicit, keburu nenek mati, dosa kau"


"Heiii... apa maksud mu do'ain nenek mati BYAN" di seberang sana nenek eka sudah menjewer telinga Byan.


"Aaah... buka gitu nek, Byan cuma nakutin El biar cepet buatin nenek cicit" El meringis sambil memegangi tangan nenek eka


El pun tertawa puas, sekarang bukan hanya Byan, Wijaya juga kena jewer karena salah bicara akibat ikut membela Byan.


setelah mematikan sambungan telepon nya, El naik ke lantai dua, masuk kemar. ia melihat sang istri sudah tidur dengan posisi terlentang, ia benar-benar sangat menginginkan nya. namun sebelum rasa itu semakin memuncak, ia segera masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi.


Setelah berganti baju, El membaringkan tubuh nya di samping afifah, ia bergeser sedikit agar lebih dekat dengan afifah. El pun mengambil guling yang terletak di antara mereka, namun saat hendak berbalik, Tiba-tiba tangan afifah melingkar di perut nya.

__ADS_1


Seketika jantung El berdetak dengan kencang, entah karena apa, yang jelas malam ini El tidak bisa tidur dengan nyenyak!.


Jangan lupa tinggalkan jejak..


__ADS_2