Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Paper Bag


__ADS_3

Exel turun dari mobil nya dengan menggunakan kacamata hitam. Ia berjalan dengan sangat gagah nya masuk ke balai desa. Jangan kan wanita, pria saja terpanah melihat nya.


Exel menghampiri zakir yang sudah duduk di teras kantor balai desa, melepas kaca mata nya lalu berbisik kepada zakir "Udah di mulai ya, paman"


"Sudah, duduklah. tinggal penyerahan saja" Jawab Zakir dengan ketus


"Maaf paman, ada urusan masa depan"


Celetukan Exel tak membuat zakir tertarik, baginya Exel memang suka bicara sembarangan.


"Selamat siang, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian"


"Selamat siang"


Zakir menepuk jidat nya, bisa-bisa nya Exel tak mengucapkan Assalamu'alaikum, tapi malah Selamat siang.


"Saya ucapkan Terima kasih kepada semua yang sudah berkenan membantu saya. Terima kasih sudah mendukung usaha saya. Saya akan mengingat semua kebaikan bapak dan ibu hari ini..."


Setelah mengucapkan kata sambutan nya. Kini Exel menerima semua sertifikat tanah yang sudah ia beli hari ini. Terhitung detik ini, Exel menjadi tuan tanah di desa ini. Dua hektar tanah yang ia beli ini sudah cukup membuktikan nya. Belum lagi satu hektar tanah yang berada di samping pabrik nya. Jangan lupakan kebun teh milik Nenek eka yang sekarang menjadi atas nama Alexa dan Exel.


"Semua sudah beres, sertifikat ini langsung di balik nama atas nama ku" Ucap Exel

__ADS_1


"Ini terlalu banyak, pak. Bagaimana kalau saya jadikan satu saja. Karena semua ini berada di satu tempat yang sama. itu juga memudahkan saya"


"Baiklah, atur bagaimana baik nya"


"Pabrik nya kurang besar, xel. Bagaimana?"


"Jika bangun lagi, maka tanah sawah kita berkurang, paman. Jadi Pabrik akan aku renovasi, menjadi tiga lantai. Aku sudah menyiapkan gambar nya"


"Rupanya kamu sudah matang sekali memikirkan usaha mu ini"


"Tentu saja paman, pasar beras di dunia hampir cina yang menembus nya. Aku akan menyaingi nya"


"Biaya kirim nya bagaimana?"


Zakir tak menyangka, di balik sikap pecicilan Exel ternyata dia sangat cerdas sekali dalam berbisnis. Zakir rasa keputusan Exel membeli begitu banyak tanah tak akan sia-sia.


Setelah selesai berbincang dengan petinggi desa dan notaris, Exel dan Zakir pun kembali ke pabrik. Exel sedang men survei pabrik kecil nya tersebut, sebelum ia mulai meronovasi nya.


"Gimana? tetap kurang atau sudah cukup?"


"Cukup, paman" Pengeringan padi akan di lakukan di lantai paling Atas, untuk memuat nya ke atas nanti aku akan pakai lift. Setelah kering padi tersebut akan turun ke lantai dua, untuk di kupas dan langsung di packing. Setelah itu turun lagi ke lantai dasar, tempat penyimpanan"

__ADS_1


Sangat cerdas!


Itulah pujian yang terus di katakan oleh Zakir kepada keponakan ya itu.


Jam lima sore, Exel baru pulang ke rumah nya. Kini rumah nya sangat rame sekali. El dan Alexa terkejut saat melihat Exel. Namun, afifah menjelaskan nya, bahwa anak nakal nya tersebut sudah datang sejak kemarin malam.


"Gimana? jadi bisnis nya?"


"Jadi dong, pa. Udah Exel pikirkan sangat matang. Bulan depan panen raya, setelah itu bisnis dimulai"


"Papa akan doakan, agar semua nya lancar"


"Yasudah, Exel mandi dulu. Udah lengket sama keringat"


"Hadiah ku mana?" Ucap Alexa yang baru saja datang bersama Reihan.


"Xa" Panggil Reihan


"Ahh, aku lupa. Next saja, nanti double" Ucap Exel seraya menyakinkan Saudara kembar nya itu.


Afifah memperhatikan Exel. Tadi pagi, ia melihat paperbag besar di kamar nya. Ia pikir itu hadiah untuk Alexa, karena sudah kebiasaan Exel membelikan Alexa hadiah. Lalu, paperbag besar milik Exel itu kemana? saat ini afifah sedang mencari nya di kamar Exel. Paperbag berwana biru tersebut sama seperti yang Sabrina bawa tadi. Apa benar Exel memberikan nya kepada Sabrina, atau hanya kebetulan saja paperbag itu sama?

__ADS_1


Afifah masih mencari di seluruh sudut kamar Exel, tapi dia tak menemukan nya. Afifah duduk di tepi ranjang Exel. Ia memikirkan dan mencoba mengingat-ingat nya. Apakah benar paperbag Exel itu di berikan kepada Sabrina, atau tidak.


Apa aku harus menanyai nya, mengintrograsi nya. Tapi, bagaimana kalau dia tak mengaku. Atau bagaimana kalau Exel dan Sabrina. Ah, tidak, tidak, tidak. Exel tak pernah ada di sini. Tidak mungkin mereka kenal. Aku gak mau kisah ku terulang kepada anak-anak ku. Menjalin hubungan dengan keluarga tersebut bertahun-tahun tapi ujung nya malah memalukan.


__ADS_2