
Aku masih tak memberikan jawaban apapun kepada keluarga ku. Umi terus saja menanyai ku, tapi aku masih belum berani mengambil keputusan.
Aku merasa belum siap menjalankan tugas-tugas istri, umurku baru saja tujuh belas tahun, baru satu minggu aku membuat KTP.
"Sabrina" Aku menoleh saat abi memanggilku. "Lagi apa di sini, sayang?" Tanya nya sambil berjalan menghampiri ku yang duduk di ayunan belakang rumah.
"Tidak ada, bi. Hanya ingin duduk di sini saja" Jawab ku sambil tersenyum.
Abi ikut duduk di sampingku, ia memegang tangan ku lalu menatap ku "Maafkan abi, sayang"
"Tidak, bi. Ini salah Sabrina" Aku menguatkan diriku sendiri, agar tidak menangis saat melihat wajah sedih abi ku.
"Abi akan slalu mendukung keputusan mu, perjuangkan jika memang itu pilihan mu. Abi akan mendukung mu"
Setelah mengatakan itu, abi mengelus kepalaku dan pergi meninggalkan ku. Air mataku juga langsung terjatuh, aku bingung sekali dengan keadaan ini.
Ku rogoh saku baju ku untuk mengambil handphone ku, lalu ku buka sebuah aplikasi chat yang biasa aku pakai menghubungi mas Exel.
Mas, Exel. Sabrina ingin bicara sangat penting sekali. Ini menyangkut hidup Sabrina. Bukan hanya hidup, tapi cinta Sabrina.
__ADS_1
Pesan ku itu hanya di baca saja, betapa sakit hati nya aku melihat nya. Meski ini adalah hal biasa bagiku, tapi tidak untuk sekarang.
Ku coba untuk menelpon nya, cukup lama aku menunggu sambungan telepon berdering, tetap saja tidak ada jawaban. Pada akhirnya, meski beberapa kali ku telepon kembali nyatanya sia-sia. Mas Exel tak menjawab nya.
Aku kembali ke kamarku, beban ini membuatku sangat pusing sekali. Belum lagi mas Exel yang tak kunjung menghubungiku, sedangkan keluargaku sudah mendesak ku untuk memberikan jawaban.
Sebelum aku tidur untuk istirahat, aku memutuskan untuk mencoba menelpon mas Exel kembali dan hasil nya masih sama, dia tidak menjawab nya.
...****************...
"Sabrina"
Ku buka mata ku perlahan, dan aku langsung melihat abi ku duduk di tepi ranjang ku. Entah berapa lama aku tertidur, kini aku merasa badan ku panas dan sakit semua nya. Kepalaku juga sangat berat sekali, rasanya aku tak bisa bangun.
"Ini, bi" Umi tiba-tiba dengan panik nya berlari sambil membawa termometer.
"Ayo sayang, letakkan ini di ketiak mu"
Tanpa menjawab, aku pun mengambil termometer dari tangan abiku, lalu ku masukkan ke dalam bajuku dan ku jepit di antara ketiak ku. Sambil menunggu bunyi termometer, abi ku terus mengelus rambut ku, mata nya jelas menunjukkan bahwa beliau sangat khawatir sekali.
__ADS_1
TIT.. TIT.. TIT
Mendengar suara alam dari termometer digital yang aku pakai ini, dengan segera aku mengambil nya dan melihat layar kecil yang ada di benda tersebut.
43°
Abi langsung mengambil nya dan melihat hasil nya. Abi dan umi langsung panik, mereka memanggil mas Adam dan yang lain nya untuk segera membawa ku ke puskesmas.
"Kuat bangun, sayang?"
"Tidak, bi. Kepala Sabrina pusing sekali"
Abi pun menggendong ku, lalu membawa ku naik mobil ke puskesmas.
"Adam, sedikit cepat ya" pinta abi ku kepada mas Adam yang sedang mengemudikan mobil.
Singkat cerita, aku pun sampai di puskesmas. Karena desa kami cukup terpencil, tidak ada fasilitas kesehatan lain kecuali puskesmas ini. Tapi puskesmas di desa ku besar dan lengkap, seperti rumah sakit.
"Ini seperti nya harus rawat inap, pak kyai" Ucap perawat kepada Abi ku setelah memeriksa nya.
__ADS_1
"Baiklah, lakukan apa saja yang terbaik"
Aku pun di bawa ke sebuah ruangan setelah seorang dokter perempuan memeriksa ku. Umi dan bibi ku juga datang menyusul, Mungkin karena tak tega melihat ku yang mungkin sangat memprihatinkan, umi ku sampai menangis sambil menciumi ku.