
karena setelah menikah, baru hari ini afifah datang ke puskesmas, Orang-orang yang sedang sift malam menyapa afifah, afifah juga sedikit mengobrol dengan mereka.
"Seneng nya jadi istri dokter el fah"
"Iya fah, punya suami tampan, mapan seperti dokter el rasanya bahagia fah"
afifah hanya bisa tersenyum kaku,
"Fah, kamu panggil dokter apa? beb? atau sayang? papa?,"
"tidak, aku hanya memanggilnya mas Ramdan?"
"Mas Ramdan? bukan mas el?" sambung seorang perawat muda bernama dinda
"Dia memintaku memanggilnya mas Ramdan"
"Dinda.. itu namanya panggilan kesayangan!" jawab yang lain, sambil melirik afifah dengan tatapan menggoda
"hahaha... iya maaf, maklum lah jomblo" sungguh dinda dan yang lainya membuat afifah sangat malu.
"Sayang!"
semua orang menoleh ke sumber suara, suara yang sangat mereka kenal, suara yang mampu membuat semua orang yang mendengarnya langsung merinding.
"Mas ramdan" bibir afifah keluh mendengar El memanggilnya sayang.
sosok bertubuh tegap itu menghampiri Afifah.
yang lain hanya bisa senyam-senyum. Pimpinan nya itu slalu bersikap cool, cuek dan tegas. namun mereka malam ini melihat berapa lembut nya perlakuan El kepada afifah.
"ternyata kalian yang menahan istriku disini," ucap El kepada beberapa orang disana
"Ih.. baru juga sebentar pak, udah dicariin, " jawab dinda
"Gak akan hilang pak, hehehe"
"besok jangan kesiangan ya, jam 7 tepat harus sudah disini"
"Iya Pak"
El tersenyum kepada rekan kerja nya itu "Ayo sayang, pulang," El merangkuh pundak afifah, tubuh afifah langsung merinding dengan perlakuan El.
ia harus bersikap tenang, walaupun di dalam pikiran nya banyak sekali pertanyaan.
Kenapa?
kenapa bersikap seperti itu?
Kenapa berpura-pura?
...****************...
Setelah sholat subuh, seperti biasanya afifah memasak makanan untuk sarapan suami nya, dan pagi-pagi sekali, seseorang sudah mengetuk pintu rumah afifah.
dengan langkah terburu-buru, afifah berlari untuk membuka kan pintu. setelah pintu terbuka, sosok pemuda berseragam sudah berdiri disana.
"Zakir?"
"Mbak, aku ambil sepeda nya sekarang ya. maaf masih pagi buta gini gangguin mbak"
"Gakpapa, ayo masuk dulu."
"Tidak, aku harus cepat kembali mbak, kasian ibu dirumah. aku juga ada kelas tambahan pagi"
"Hmm.. baiklah, ayo" afifah keluar, dan membuka garasi.
Pintu garasi terbuka, zakir langsung melotot saat melihat penampakan di dalam garasi.
"Ini mobil kakak juga?" zakir mengelus mobil sport milik el
"Bukan, itu milik mas ramdan"
zakir masih sibuk meneliti setiap inci mobil tersebut.
"sudah pergilah, katanya ada kelas pagi," afifah menuntun motor matic nya keluar dari sana, diikuti oleh adik nya di belakang
"nanti mbak kesana ya kir, bilang sama ibu"
"Iya mbak, siap" zakir mulai duduk di atas jok motor, dan menghidupkan mesin nya "Yasudah mbak, zakir pamit dulu ya. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waaikumsalam"
setelah itu, afifah menutup kembali pintu garasi. namun tiba-tiba afifah berlari, ia teringat sesuatu.
"Astaghfirullah... Tolong," Teriak Afifah
"Mas, Mas Ramdan"
el yang masih tertidur pulas langsung terbangun saat teriakan afifah memenuhi telinga nya.
"Ya ampun!!!" el terbelalak saat melihat api yang menjulang tinggi.
dengan segera el mematikan kompor, lalu diambil nya lap basah untuk menutupi panci yang sudah gosong.
"Kau tinggal kemana?" teriak el penuh amarah.
"Tadi ada zakir ambil motor mas, aku lupa matikan kompor"
"Ceroboh!!"
el meninggalkan afifah disana, lalu naik lagi ke lantai dua. el memang seperti itu, dari dulu juga seperti itu, jarang sekali bersikap lembut kepada afifah. Bukankah sudah biasa el bersikap seperti ini? tapi kenapa afifah menangis pagi ini?
"Gak usah masak sarapan, buatkan aku roti panggang keju dan selai kacang!" suara el mengagetkan afifah. afifah segera mengusap air mata nya.
El duduk di meja makan, sambil bermain ponsel, afifah pun menyodorkan segelas susu coklat. lalu dengan segera ia memasukkan roti tawar kedalam pemanggang roti.
sambil menunggu roti di panggang, afifah membersihkan panci yang gosong tadi.
sedangkan el, naik lagi ke lantai dua setelah menghabiskan susu coklat nya.
30 menit kemudian, el turun kembali dengan pakaian rapi, dia terlihat sangat tampan, bahkan afifah tak beekedip melihat el yang masih menurununi anak tangga.
roti panggang pesanan el sudah terhidang di atas meja makan, afifah juga ikut sarapan roti panggang namun dengan selai nanas.
"Bi sugiati sudah datang?"
"Sudah mas"
hening sejenak, afifah masih mengumpulkan keberanian untuk berpamitan pulang ke rumah nya, apalagi tadi pagi ia membuat keributan, takut el semakin marah.
"Mas, nanti aku mau pulang. boleh?" dengan ragu-ragu afifah berbicara
singkat, padat dan jelas.
namun afifah tak mengambil pusing hal itu, yang penting diizinkan, begitu pikir nya.
setelah el berangkat, afifah segera bersiap untuk pulang ke rumah nya. namun sebelum itu, ia pergi ke pasar untuk menjual perhiasan nya yang ia beli dengan hasil jerih payah nya berjualan.
setelah mendapatkan uang satu juta tiga ratus, afifah melajukan motor baru nya ke rumah nya. seperti biasa, afifah menyapa semua orang, apalagi melewati beberapa perkebunan.
di rumah, bu zainab sudah menunggu sang anak. ia duduk di kursi depan rumah nya. tak lama, anak pertama nya itu datang, dengan mengendarai motor baru, ia terharu melihat afifah hidup lebih baik lagi, walau pun kenyataan nya tak seperti itu.
"assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
afifah sedikit berlari dan memeluk sang ibu. meluapkan rasa kangen nya.
"Bu, aku kangen."
"Yasudah, ayo masuk."
afifah dan bu zainab masuk ke rumah, afifah memasuki kamar kecil nya, ia sangat rindu dengan kasur nya, walau tidak se empuk kasur milik el.
Cekling
Cekling
✉Masaklah di rumah ibu
✉Aku makan siang disana!
dua pesan masuk di handphone afifah..
Kenapa harus makan disini! yaa ampun, merepotkan sekali. padahal aku hanya sebentar disini!
"Bu, Mas Ramdan nanti makan siang disini. ibu ada ayam?," tanya afifah kepada ibu nya yang sedang duduk selonjoran di depan televisi
"ibu sudah masakin Rendang buat anak dan membantu ibu," bibir itu tersenyum "Sudah ibu siapin"
__ADS_1
afifah segera masuk ke dapur, dan benar, ia melihat rendang di atas wajan, afifah menjadi tak enak, ia tau bahwa ibu nya tak punya cukup uang, gara-gara dia pulang ibu nya sampai membelikan daging dan memasak untuknya.
"Bu, ambil ini," afifah menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu
"Tidak! ibu tak mau. jika itu nafkah buatmu. maka simpanlah. ibu tak mau"
"Tidak bu, ambilah"
afifah memaksa agar sang ibu menerima nya, namun usaha nya tetap sia-sia, bu zainab terus menolak nya.
"Ini dari mas Ramdan bu, dia memberikan nya untuk ibu. jika ibu menolak nya, apa nanti kata mas Ramdan"
bu zainab diam sejenak.
"Baiklah, tapi ini terlalu banyak"
"Tidak bu, ambil semua nya. buat bayar uang sekolah zakir juga"
bu zainab pun pada akhirnya menerima nya.
"Tidurlah, kamu terlihat capek sekali."
afifah pun mengangguk, lalu membaringkan tubuh nya di kasur lantai yang terletak di depan televisi.
Bu zainab sejenak memandangi wajah cantik, anak nya tersebut. ia bahagia, melihat sang anak sudah menikah, terlebih suami nya bisa dibilang sudah mapan. bu zainab ikut membaringkan tubuh nya di samping afifah, setelah beberapa saat ia terlelap, bu zainab bangun dan melihat jam sudah menunjuk ke angka 11.
ia pun segera pergi ke warung, membeli beberapa keperluan dapur, sekalian membayar kasbon nya. setelah itu, ia kembali kerumah, menyiapkan makan siang untuk sang menantu, namun afifah tetap tidur. bu zainab sendiri tak tega jika harus membangunkan afifah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
bu zainab keluar, ternyata sang menantu sedang mencopot sepatu nya di ambang pintu.
"Nak el, masuklah nak"
el tersenyum, ia langsung masuk kedalam rumah diikuti oleh andi
"Afifah dimana bu?"
"tidur nak, sebentar ibu bangunkan"
"Tidak usah bu, biarkan," el mencegah sang mertua membangunkan istrinya
"Biar saja bu, mungkin dia lelah"
"Yasudah, ayo masuk. ibu sudah siapin makan siang. ayo nak andi jangan malu-malu"
"Dia gak pernah malu bu, malu-malu in, iyah"
El bisa saja becanda nya!
el dan andi pun menikmati masakan yang berasal dari Padang itu, rendang!
mereka berdua sangat menikmati nya, el benar-benar suka dengan masakan sang mertua.
"Nak el, ibu ucapkan Terima kasih, tapi ibu tak mau menerima nya lagi. biar ini menjadi yang pertama dan terakhir"
el berkedip-kedip, ia tak tau maksud ibu mertua nya tersebut.
"itu terlalu banyak nominal nya nak. bagi ibu, kamu buat afifah bahagia itu sudah lebih dari cukup"
"Maksud ibu?"
"Tadi afifah sudah memberikan uang darimu itu, satu juta," bu zainab tersenyum ramah
"Ibu?" afifah sudah berdiri di ambang pintu jalan menuju dapur, ia mendengar semua nya. namun ia tidak bisa menghentikan nya, sehingga el tau semua nya.
"Hmm... baru afifah berikan bu? padahal aku sudah menyuruhnya menitipkan nya kepada zakir kemarin"
Tubuh afifah langsung bergetar, mendengar penuturan el itu.
"Tidakpapa nak, afifah mungkin lupa," bu zainab mengelus pundak kokoh sang menantu.
Kenapa ibu bilang sih, aku harus bagaimana ini!
Alhamdulillah bisa Update lagi, Segini dulu ya man-teman, InsyaAllah update secepatnya lagi ☺
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1