
Suara adzan subuh membangunkan afifah, ia berusaha melepaskan El yang tengah memeluk perut dengan pelan-pelan. Namun sayang, El ikut terbangun.
"Jangan di lepas" El memeluk kembali perut buncit itu
"Udah subuh mas, sholat dulu"
El pun akhirnya mengalah, melepaskan pelukan nya.
Setelah sholat, afifah langsung meminta el untuk mengantar afifah kepasar, di pasar el di tanyain kabar oleh banyak orang.
"Saya tidak terkena virus bapak-bapak, ibu-ibu, hanya reaktif saja"
"Pak dokter, saya khawatir. kami juga kangen. biasanya bapak kan kepasar"
el tersenyum kepada semua orang, el juga membagikan masker buat semua orang, dan segera membubarkan kerumunan warga.
"Sudah?" tanya el
"Sudah mas, kamu gak pengen nasi kuning mbah itu? enak lo" afifah menunjuk ke sebuah warung kecil
"Iya deh, belikan satu, buat mengganjal lapar"
"Kamu egois sekali mas, gak mikirin aku dan anakmu" afifah cemberut dan langsung meninggalkan el
Kenapa dia? aku salah apa? kok marah, cemberut gitu.
El benar-benar bingung dengan sikap afifah, Tiba-tiba marah. padahal ia tak mengatakan apapun, hanya minta dibelikan nasi kuning.
di perjalanan pulang, El sesekali memandangi wajah cantik istrinya yang duduk di samping nya. Afifah masih cemberut. el hanya diam, ia takut semakin salah.
setelah sampai, El membawa semua belanjaan nya masuk. disana sudah ada bi sugiati yang langsung mengambil alih belanjaan afifah, di tata dan di masukan ke dalam kulkas.
sedangkan afifah melayani el, membuka kan nasi kuning nya, disajikan di atas piring.
"Cuma beli satu ya fah?"
"Hemm"
"Kamu gak makan juga sayang?" el tau kalau afifah masih marah tak jelas kepadanya
"Enggak!!" afifah berlalu namun el langsung menarik nya, sehingga afifah jatuh di pangkuan el.
"Duduk diam, aku suapin, kita makan sepiring berdua"
Walau masih kesal, tidak dapat dipungkiri afifah baper.
El mulai menyuapi afifah yang duduk di pangkuan nya, dengan makan dari sendok yang sama, afifah pun dengan tak sadar tiba-tiba langsung mencium pipi el.
Setelah dicium afifah, el tersenyum "Sayang gak sama aku?"
afifah melotot, pertanyaan macam apa itu, pikir afifah.
"Kenapa?"
"Jawab dulu, sayang gak?" el menggoda afifah, dan berhasil membuat pipi afifah merah.
"Aku mau masak dulu, mas habiskan sendiri saja nasi nya"
El tak mencegah nya, entah mengapa El sangat senang melihat afifah malu-malu seperti itu. dan yang terpenting sekarang afifah tak lagi marah kepadanya.
Menu sarapan hari ini adalah Nasi jagung, sambel ikan teri dan sayur Asem.
"Aku lagi pengen makan ini mas" afifah menciduk sambal ikan teri nya "Jadi aku masak ini, kamu gakpapa kan makan menu ini?"
"Iya, kamu makan yang banyak ya"
"Kamu gak makan?" tanya afifah sambil menciduk nasi jagung yang masih mengeluarkan asap di atas nya.
"Enggak, tadi udah kenyang nasi kuning"
"Hmm.."
Afifah pun melanjutkan makan nya dengan sangat lahap, El sangat senang sekali melihat nya. Ini bukanlah afifah, cara makan nya seperti orang yang kelaparan, Berhari-hari tak makan.
__ADS_1
"Jangan banyak-banyak sambel nya fah"
"Ini gak pedas kok mas, cuma pakai 2 biji cabai"
El mengusap kepala afifah, ia merasa istrinya ini juga sangat berhari-hari dalam hal makanan.
"Masih kurang?" tanya El
"Iya mas"
"Sini biar aku ambilkan" El lalu mengambilkan sesendok nasi jagung dan di letakkan di atas piring afifah.
Afifah pun melanjutkan ritual makan nya, dengan sangat lahap.
Entah enak, atau kelaparan istriku ini!!!
...****************...
Siang Hari, Byan, mira, sanjaya dan caca baru saja sampai di rumah El, hanya minus lastri saja.
Mereka semua langsung makan setelah mandi membersihkan diri.
"Soup buntut, enak banget ini" Ucap sanjaya
"Kak afifah udah berapa bulan, kok perutnya besar banget"
"Minggu depan 7 bulan ca"
Hubungan afifah dan caca tidak terlalu dekat, karena caca sendiri jarang berada dan berkumpul bersama.
"Hai, gimana kuliah mu sayang?" El mengelus puncak kepala adik kesayangan nya itu.
"Lancar kok kak, aku mau liburan disini. lagian sekarang kan kuliah online hehe"
"Ayo makan dulu, nanti saja berbincang-bincang nya"
Seperti pesanan El, byan dan keluarga membawa dua orang asisten rumah tangga. Yang mereka dapat dari yayasan terpercaya.
bi sugiati akan bertugas membersihkan rumah, karena El mau nya setiap hari rumah di sapu dan di pel. Bi lela yang sudah berpengalaman masak, bertugas mengurus dapur dan segala keperluan nya. dan ani yang seumuran dengan afifah, dia di minta untuk membantu semua keperluan afifah dan urusan baju bersih.
"Saya boleh pulang pak?" tanya bi sugiati
"Iya bi, besok pagi-pagi datang ya"
Bi sugiati mengangguk, mereka bertiga pun meninggalkan El yang masih duduk di kursi dapur.
"Mas, aku ngantuk banget"
"Kamu tidur saja, aku masih mau berbincang-bincang sama papa, masalah perusahaan keluarga"
"Yasudah, aku naik dulu"
El juga ikut berjalan di belakang afifah.
"Mau aku kelonin dulu?" tawar El
"Enggak mas, aku ngantuk banget soalnya"
merekapun berpisah di tangga, El menuju ruang tengah. Dimana byan dan Sanjaya rebahan sambil berbincang-bincang.
"Gimana El? kan libur tugas mu tinggal seminggu lagi"
"Hmm, El sudah ajuin agar tetap disini paa, tiga hari lagi keputusan nya"
"Emang kalau gak di ijinin kamu mau dinas dimana?"
"Gak tau kak, aku juga pusing apalagi keadaan afifah seperti ini. aku gak mau jauh dari dia"
"Aku doakan supaya kamu gak di tugas in menangani pasien virus"
"Aamiin"
"Gimana perusahaan yang di luar negeri el?"
__ADS_1
"Semua nya stabil pa, malah dua bulan ini laba bertambah kali lipat, cuma kalau di bidang travel menurun drastis. Aku sudah putusin untuk meliburkan semua karyawan."
"Keputusan yang bijak El, bulan ini di perusahan tidak ada laba, semua nya masuk ke pengeluaran"
"Kalau seperti itu, kakak bisa meliburkan separuh karyawan kakak saja. sampai keadaan kembali normal"
"Iya, kalau di PHK kasian"
"Ohh.. iya mama kok gak ikut" El tuba-tiba teringat dengan mama nya
"Lusa katanya dia nyusulin kita, kita semua disini palingan cuma seminggu El"
Mereka terus berbincang-bincang, sampai semua ketiduran di sana.
Malam hari, afifah sudah menyajikan makanan. tadi ia masak di bantu oleh bi lela dan mira. jangan tanyakan caca, caca lagi rebahan.
"Saya makan disini saja nyonya"
sebenarnya afifah tak mau di panggil nyonya, namun beberapa jam yang lalu El sudah memperingatkan, bahwa afifah harus mau di panggil nyonya.
"Yasudah, ani jangan lupa di ajak makan ya bi"
"Iya nyonya"
Makan malam pun dimulai, dengan menu Lalapan semua makan dengan lahap. setelah makan malam, mereka semua langsung istirahat di kamar masing-masing
"Mas, Aku pengen juga hamil." rengek Mira di dalam dekapan Byan.
"Sabar ya sayang, kita kan sudah berusaha"
"Nanti aku akan tanya kan kepada El ya, siapa tau ada vitamin buat penyubur kandungan yang bagus"
"Iya mas"
sejenak mereka berpelukan, air mata mereka menetes.
Sedangkan di kamar lain, afifah dan El sedang duduk bersandar di sandaran kasur, mereka terlihat sedang berbincang-bincang sambil memandangi layar HP baru El.
"Ini saja ya mas, bagus"
"Warna ini saya, ini kan buat cewek"
"Gak, pokok nya ini!!" keukeh afifah
"Makanya besok USG ya, biar tau cewek sama cowok nya"
"Enggakkkk!!!"
El benar-benar tak mengerti, kenapa afifah menolak USG.
"Kita beli baju nya yang lokal saja mas, ini mahal"
"Enggak, disini kan dingin. buat anakku tak kedinginan jadi aku belikan yang bagus, yang Import"
"Mahal mas, mending uang nya di tabung. beli sawah gitu"
"Kamu dari kemarin bahas beli sawah terus. Besok aku belikan sawah!!" kesal El
"Kok kamu marah sih" afifah menghempas tangan El yang sejak tadi memeluk perutnya
"aku gak marah sayang"
"Tau aah, aku mau tidur. jangan dekat-dekat"
Afifah langsung masuk kedalam selimut, sedangkan El sangat frustasi, padahal malam ini ia ingin melepaskan semua rindu nya.
Pagi Hari, semua sudah bangun. Bi lela sudah ada di dapur bersama Afifah, tak lama Mira juga datang bergabung memasak sarapan.
"Ani Kemana bi?" tanya afifah
"Cuci baju di belakang nyonya, karena untuk siang dan sore dia harus siap siaga membantu keperluan nyonya"
El merasa bingung, maksud membantu keperluan nya seperti apa ya. Dia belum bertanya tentang ini kepada El.
__ADS_1
Enak banget ya jadi nyonya Afifah, dapat suami tampan dan kaya seperti Elramdan, Cucu Sultan.
Beda banget sama aku, dari kecil udah susah, sekarang udah besar banyak sekali beban yang aku pikul.