
Hari ini, Alexa sudah memakai dress brukat ungu. Ia akan menghadiri acara pernikahan Adam. Ia membuang nafas nya kasar didepan cermin. Hati nya bimbang, akan kah ia pergi ke sana.
"Xa, sudah siap? di tunggu bella" Tanya Afifah yang baru saja masuk ke kamar Alexa
"Iya mom, ini tinggal pakai sepatu. Bella kok gak masuk?"
"Dia di belakang sama bi sumi. Yasudah mommy keluar dulu ya"
"Iya mom" Jawab Alexa sambil menganggukan kepala nya.
Setelah Afifah pergi dari sana, tak lama Alexa juga keluar dari kamar juga. Ia memamggil nama bela agar segera kedepan.
"Xa, yakin kamu gak ajak Reihan saja?"
"Enggak bel, aku takut nanti tiba-tiba aku nangis. Gak enak sama Reihan"
Bella tersenyum, lalu mengusap pundak Alexa seraya menguatkan sahabat nya itu. Mobil yang Alexa tumpangi bersama Bella kini berjalan perlahan menuju tempat tujuan.
"Xa, kita bisa putar balik jika kam.... "
"Tidak, bel. teruskan saja menyetir nya"
Setelah mobil berhenti di sebuah parkiran pondok pesantren, lagi-lagi Bella bertanya kepada Alexa dan jawaban nya masih sama.
Kaki putih dengan jari-jari yang terlihat epic itu turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke sebuah tenda. Langkah kaki itu terlihat mantap menapaki karpet merah yang di menutupi tanah di bawah nya. Mereka terlihat seperti orang asing, bahkan beberapa orang menatap wanita berwajah sedikit ke bule-bule an tersebut. Seraya betanya-tanya, siapa kah dia.
"Alexa, silahkan masuk, nak" Seorang laki-laki yang baru saja melihat Keisha langsung menyapa nya dan mempersilahkan Alexa untuk duduk.
"Iya, Ustadz Amir" Alexa tersenyum
"Kesini sama siapa? sama suami kamu?"
"Tidak ustadz, sama teman Alexa ini" Alexa memegang Bella
"Ohh, yasudah. Kamu langsung makan ya, saya tinggal dulu"
"Iya ustadz"
Bella pun mengajak Alexa makan, namun Alexa menolak dengan alasan tidak lapar. Bella pun bisa tau, bukan nya Alexa tak lapar, mungkin karena sekarang lagi galau.
Tak lama, sepasang raja dan ratu hari ini keluar. Mereka berjalan dengan anggun nya sambil bergandengan tangan. Hati Alexa terasa di remas, sangking sakit nya air mata nya ingin sekali keluar.
Adam melihat Alexa yang duduk diam dari atas panggung pelaminan. Nyatanya bukan hanya Alexa, Adam juga merasa sudah menyakiti hati Alexa.
"Ayo pulang saja, xa" Ajak Bella saat melihat Alexa lemas
"Kita ucapkan selamat dulu bel, stelah itu kita langsung pulang"
"Baiklah"
Alexa masih duduk, kaki nya belum kuat untuk berdiri. Panggung pelaminan juga masih ramai di pakai untuk foto. Bukan doa untuk pengantin yang sekarang ia panjat kan di dalam hatinya. Namun, saat ini dia berdoa agar nanti air mata nya tak keluar saat menatap Adam.
Setelah memantapkan hati dan menyakinkan diri sendiri. Alexa dan Bella berjalan menghampiri panggung pengantin. Sejak tadi, Adam memperhatikan setiap langkah kaki Alexa, mata nya terus mengikuti gerak tubuh wanita yang sempat atau bahkan sampai sekarang masih ada di hati nya.
Orang tua Adam melihat intens Alexa yang saat ini sedang naik ke panggung pelaminan. Tentu mereka tau, bahwa Adam menyukai Alexa. Tapi saat ini mereka hanya diam saja, bahkan senyuman tidak mereka keluarkan.
"Alexa, Terima kasih sudah datang" Ucap Adam sambil menatap mata Alexa.
Sialnya, pandangan mereka bertemu. Sehingga Alexa saat ini benar-benar ingin sekali menangis. Tidak ada yang Alexa ucapkan, selain senyuman yang terukir di bibir nya. Wanita bercadar yang berdiri di samping Adam tidak menaruh curiga, dia menyalami Alexa dengan mata menyipit, seperti nya ia tersenyum di balik cadar nya.
Alexa segera keluar dari tenda berwarna putih dan biru itu, ia sedikit berlari karena terburu-buru masuk ke dalam mobil. Dan pada akhirnya, tangisan Alexa pecah. Dia sudah tak sanggup lagi membendung air mata nya.
Bella hanya bisa diam, dia sudah duduk di kursi kemudi dan mulai membawa mobil itu keluar dari area pesantren. Bukan nya pulang, Bella membawa Alexa ke tempat yang sepi. Tempat yang sebenar nya menyimpan kenangan Alexa bersama Adam.
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, selain membawa Alexa kesana. Bukan ingin mengingatkan Adam kembali. Tapi karena hanya tempat itu yang sepi di desa ini.
"Teriak lah Alexa, keluarkan semua beban hatimu"
Alexa semakin histeris, ia berteriak di dalam mobil. memaki diri nya sendiri karena masih belum bisa melupakan Adam.
"Xa, " Panggil bella, dan Alexa pun langsung memeluk Bella.
"Jahat banget, Bel. Dia jahat benget kepadaku"
"Tapi kamu juga jahat, xa. Kamu jahat kepada Reihan"
seketika Alexa menghentikan tangisan nya. Rupa nya ia baru saja ingat kepada reihan. Laki-laki baik itu tak bersalah, Alexa merasa bersalah jika sampai Reihan tau apa yang ia lakukan saat ini dan reihan sakit hati karena nya.
"Ayo kita pulang saja, bel"
"Apa kita ke kontrakanku saja dulu?"
"Tidak, bel. Ini hari jumat. Sebentar lagi Mas Reihan datang"
"Baiklah" Bella mulai menyalakan mesin mobil nya, Perlahan mobil itu berjalan dengan sangat pelan. Alexa sendiri masih memikirkan Adam dan Reihan. Cinta Adam masih ada di dalam hati nya, tapi reihan. Dia adalah suami nya, bahkan seutuhnya dia milik reihan.
Setelah sampai di rumah, Bella langsung pamit untuk pulang karena sudah sore. Begitu juga Alexa, ia langsung ke kamar nya dan tak keluar sampai Reihan dan El datang.
"Alexa, kamu kenapa?" Reihan yang baru saja masuk kamar, tanpa membuka jas langsung menghampiri Alexa "Kamu sakit gigi? kok nangis?"
Alexa sebenar nya ingin sekali marah dengan pertanyaan raihan, mentang-mentang dia dokter gigi seenak nya saja menuduh Alexa sakit gigi.
"Tidak"
Reihan lalu memegang kening Alexa, dan ternyata Alexa demam. ia pun sedikit panik dan langsung memanggil El. El yang baru saja rebahan, langsung kaget mendengar panggilan menantu nya. Ia langsung memeriksa anak kesayangan nya itu.
"Rei, kamu beli obat di puskesmas ya. Aku akan tulis resep nya"
Melihat dua laki-laki yang seperti nya sangat menyayangi nya, Alexa terus merasa bersalah telah menyia-nyiakan reihan. Seharus nya hati nya untuk reihan, bukan Adam.
Afifah sendiri saat ini tengah sibuk membuat soup untuk Alexa. Walau ia tak tau yang sebab Alexa sakit, tapi dia cukup khawatir dengan Alexa, karena tadi Alexa baik-baik saja.
lima belas menit kemudian reihan datang, soup buatan afifah juga sudah matang. El pun yang tau bahwa anak dan menantu nya itu butuh pendekatan, ia meminta Afifah untuk pergi dari sana.
"Biarkan Reihan saja yang nyuapin Alexa, Fah" Ucap El saat Afifah menolak keluar dari sana
"Reihan capek, mas. Kasian, biar aku yang rawat Alexa"
"Tidak, mommy. Biarkan Reihan saja"
Akhirnya dengan langkah berat Afifah keluar dari kamar tersebut. Reihan pun juga mulai menyuapi Alexa meski penuh dengan paksaan dan sedikit penuh drama.
"Udah mas, gak enak"
"Dikit lagi xa, ayo aaa" Reihan terus berusaha menyuapi Alexa, sampai soup itu benar-benar sudah habis.
"Ini obat nya, setelah itu kamu istirahat ya xa. Besok aku akan izinkan kamu ke sekolah"
"Gak usah mas, aku mau ngajar saja"
"Gak boleh, mas gak akan izinin kamu ngajar dulu."
Malam ini, karena Alexa demam. Reihan mematikan AC di kamar Alexa. Dan ia harus berkorban tidur dengan hawa sedikit panas. meski rumah El berada di pegunungan, tapi saat ini musim panas, hawa dingin tak terlalu extrim.
...****************...
Disisi lain, Exel baru saja melempar tubuh nya ke atas kasur empuk milik nya. Ia merasa begitu lelah sekali, seharian bekerja menguras pikiran nya. Memang ini yang dia inginkan bukan? Menyibukkan diri untuk bekerja sampai lupa dengan diri nya sendiri.
__ADS_1
Lastri menghampiri Exel, membawakan air putih dan beberapa butir vitamin. Seperti biasa, Exel langsung menelan vitamin tersebut dan mengucapkan Terima kasih kepada nenek nya.
"Yasudah, kamu mandi terus tidur ya sayang. Oma istirahat dulu"
Exel tersenyum sambil mengangguk. Meski Lastri masih tak suka dengan Afifah, tapi dia begitu sangat menyayangi cucu-cucu nya. Dan Exel adalah kesayangan nya.
Setelah melepas jas nya, Exel mengeluarkan dia ponsel di saku celana nya. Sejak kemarin, Exel mempunyai dua ponsel. Ponsel baru berwarna hitam itu di gunakan untuk bisnis, dan ponsel lama berwarna silver tersebut di gunakan untuk kebutuhan pribadi.
Exel memencet tombol yang berada di samping ponsel nya, ponsel silver nya itu tak ada notifikasi apapun, berbeda dengan ponsel baru nya yang penuh dengan pesan email.
Exel menggeser layar ponsel lama nya ke atas. Sebuah Wallpaper ponsel nya masih sama, foto jadul beberapa tahun lalu masih enggan ia ganti.
Tarikan nafas kasar El membuat hidup nya berasa sangat berat sekali. Ia meletakkan kembali ponsel tersebut dan segera mandi lalu istirahat.
Keesokan pagi nya, Alexa bangun dengan keadaan lebih baik. Tapi reihan benar-benar tak mengizinkan dia pergi mengajar, bahkan dia sendiri juga tak bekerja dengan Alasan ingin merawat Alexa.
"Kamu kerja saja, aku udah baikan, mas"
"Enggak, xa. Aku mau jagain kamu hari ini. Udah ya jangan membantah"
Reihan yang masih memakai celana pendek dan kaos oblong itu terlihat sibuk mondar-mandir. Mengambil kan makanan buat Alexa. Dia juga membersihkan kamar Alexa, menyalakan lilin Aroma terapi agar kamar nya wangi.
sedangkan di sisi lain, Exel berjalan dengan gagah nya menyusuri lorong kantor keluarga nya. Ini adalah rapat pertama nya, dan ia harus memenangkan proyek besar yang tak akan datang dua kali tersebut.
Jas berwarna Biru Turkish itu membuat Exel terlihat tampan dan menjadi idola dadakan para karyawati perusahaan. Aura nya begitu sangat kuat, bahkan laki-laki pun mengakui bahwa Exel sangatlah tampan dan gagah.
Exel masuk ke sebuah ruangan Rapat, disana sudah ada beberapa orang yang menunggu nya. Baru saja duduk, Exel berdiri kembali karena klien nya baru saja datang.
"Selamat pagi, Pak Exel" Ucap seorang laki-laki yang seperti nya seumuran dengan Byan
"Selamat pagi, pak. Silahkan duduk"
Laki-laki itu datang bersama beberapa orang. Tapi seorang perempuan muda cantik menarik perhatian Exel.
"Ini kenalkan, Kalina pak. Dia putri Bapak Jaguar"
Exel tersenyum sambil mengulurkan tangan nya "Exel"
"Kalina" Wanita itu tersenyum sangat cantik sekali
Exel memulai rapat nya. Ternyata Exel sangat pintar sekali dalam presentasi menjelaskan penawaran nya. Dia benar-benar bisa di andalkan. Walau masih muda dan bisa di katakan pemain baru di bidang bisnis. Nyatanya hasil nya tak buruk. dia seperti laki-laki yang sudah bertahun-tahun berbisnis.
"Baiklah, pak Exel. Penawaran bapak sangat bagus sekali. Namun, karena masih ada dua perusahaan yang juga menawar tander ini, maka dari itu saya akan beri kabar lusa"
"Baiklah, pak. Semoga lusa saya mendapat kabar baik nya"
Mereka semua saling menjabat tangan, namun satu mata melihat Exel begitu sangat intens. Mata itu sepertinya terpesona melihat Exel.
"Apa sih paman?" Kesal Exel saat byan menyenggoli nya
"Seperti nya kalina menyukaimu"
"Ahh.. paman mengada-ngada saja"
"Tatapan nya beda, xel"
"Papa memang benar, paman memanglah playboy sejati. Lihat yang cantik dikit udah suruh deketin"
"Jangan bodoh deh, Jho bilang kepadaku kau juga mewarisi playboy ku"
Exel berdecak, kalina memang wanita yang sangat cantik, tapi entah mengapa jiwa ke playboy an nya tidak meronta-ronta. Exel heran juga dengan diri nya sendiri. Bahkan, kekasih Exel di Amerika ia abaikan begitu saja. Ia memutuskan semua akses agar tidak bisa menghubungi nya.
Wajah gadis kecil yang masih sangat polos itu masih memenuhi mata nya. Dia merasa bahwa tidak ada wanita yang mengalahkan kecantikan Sabrina.
__ADS_1