Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Pulang Saja


__ADS_3

Kini Exel berada di rumah sakit. Ternyata tadi exel tiba-tiba pingsan, untung saja mobil nya berhenti dan jalanan sangat sepi, sehingga kecelakaan bisa ter hindarkan.


Hanya ada Byan di sana, Byan juga sengaja tidak mengatakan apapun kepada sanjaya. Karena alasan kesehatan Sanjaya, ia tak mau Sanjaya kaget yang bisa berakibat dengan jantung nya.


"Kau pulang saja ke desa. Di sini kau meresahkan sekali, untuk aku menyuruh orang mengawasi mu" Omel Byan kepada Exel yang masih tidur lemas di atas ranjang rumah sakit.


"Iya, paman. Jangan sampai opa tau"


"Sebentar lagi supir ku akan mengantar mu, baru saja aku sudah telepon papa mu."


"Apa papa marah, paman?"


"Tidak! dia modern sepertiku. Tidak seperti mommy mu. Nanti kau bilang ke opa bahwa kau hanya ingin saja pergi ke desa"


"Iya, paman" Jawab Exel seperti pasrah.


Singkat cerita, Exel sekarang berada di dalam perjalanan menuju ke rumah nya yang ada di pelosok desa. Ia hanya diam saja, tidak ceria dan petikalan seperti biasanya.


"Tuan Exel, apa tuan baik-baik saja?" Supir pribadi Byan sangat khwatir sekali. "Tuan bisa tidur di belakang. Ada kasur nya. Kalau mau nanti saya pasangkan"


"Tidak" Exel langsung menolak nya. "Kita putar balik saja" Pinta Exel


"Hah?" Supir tersebut kaget "Ini sudah hampir sampai, tuan"


"Tidak, kita balik saja."


Sesuai perintah. Supir tersebut pun memutar balikan mobil nya.


Entah mengapa, desa bukanlah tempat yang tepat bagi nya saat ini. Perasaan nya sangat kacau sekali, jika ia di desa maka dia akan dekat dengan Sabrina. Dengan begitu semakin sulit melupakan Sabrina, pikir nya.


Hari sudah mulai petang, hampir 8 jam mereka berada di perjalanan. Beberapa kali berhenti untuk makan, dan saat ini mobil milik Byan tersebut berada di sebuah hotel yang tentu saja milik keluarga.


"Kamu pulang saja, biar saya telepon paman Byan" Ucap Exel sebelum turun dari mobil.


"Siap, tuan"


Exel pun berjalan masuk, dan dia langsung menuju ke loby hotel.


"Tuan Exel, semua nya sudah siap. Makanan dan susu sudah ada di kamar" Seorang laki-laki berpakaian rapi berjalan menghampiri Exel.


"Baiklah, untuk beberapa hari ini. Aku akan tinggal di sini, jadi siapkan semua nya"


"Siap, tuan"


Laki-laki itu memencet sebuah tombol lift khusus yang akan membawa Exel ke sebuah lantai, paling atas. Tempat kamar-kamar terbaik.


Setelah sampai di kamar, Exel langsung mandi dengan air hangat. Ia ingin melepas lelah dengan berendam sambil memikirkan nasib nya.

__ADS_1


Kringggg...


Telepon hotel berbunyi, Exel pun langsung meraih gagang telepon yang terletak tak jauh dari bathup.


Begitu gagang telepon menempel di telinga Exel Suara Byan menusuk telinga Exel. "Kenapa kau balik lagi?"


"Kenapa paman teriak sih" Kesal Exel.


"Kau ini meresahkan, aku tak mau kamu di sini dan mengawasi mu"


Exel mengela nafasnya kasar, paman nya ini begitu sangat menyebalkan sekali "Tidak paman, Exel janji tidak akan ke mana-mana. Biarkan saja opa mengira aku ada di desa"


"Baiklah, terserah kau saja. Awas sampai berulah. Ingatlah, Opa lagi sakit"


"Iya, iya paman. Sudah, aku mau istirahat"


Tanpa menunggu Byan menjawab, Exel langsung meletakan kembali gagang telepon di tempat nya.


Setelah selesai mandi, exel langsung makan, minum obat dan langsung tidur.


...****************...


Di sisi lain, Afifah mengetahui bahwa Sabrina sedang sakit. Ia melihat nya sendiri saat ia pergi ke puskesmas mengantarkan makanan untuk El.


Siang tadi, Afifah berjalan di koridor puskesmas dengan sampai nya sambil membawa tantang. Namun saat berada di persimpangan. Afifah bertemu dengan Amir.


Dalam hati afifah bertanya-tanya, siapakah yang sedang sakit di puskesmas.


"Ada mantan di sini" Ucap El sambil membuka rantang


"Mantan apa?" Afifah sedikit gugup, tapi ia berusaha untuk tenang dan pura-pura tidak tau.


"Masa tadi gak ketemu"


"Kamu ngomong apa sih, mas. Gak jelas deh" Omel Afifah.


"Hmm.. apa ini hanya alasan, biar bisa ketemu sama... "


"Sama siapa" Afifah mulai kesal


El langsung menatap wajah Afifah yang jelas terlihat kesal, bibir nya tersenyum saat berhasil menggoda nya "Sudah lupakan. Ayo makan dulu"


"Tidak, mas makan saja. Aku kenyang"


"Tapi ini banyak sekali, fah. Tadi kau bilang makan bersama di sini"


"Tapi aku gak lapar, mas"

__ADS_1


Rupa ya Afifah masih kepikiran soal keluarga Amir. siapakah yang sedang sakit.


El pun tak mau ambil pusing, dia sudah sangat lapar karena sudah lima menit jam makan siang nya terlewat. El memanglah seperti itu, dia harus makan tepat waktu.


"Ada Mantan pacarmu, ustadz siapa itu. Lupa aku" Ucap El yang baru saja menyelesaikan makan nya dan sedang mencuci tangan nya di wastafel


"Ustadz Amir" Jawab Afifah seolah-olah kaget


"Wow.. masih ingat rupa nya" Exel berbaik lalu bejalan menuju ke sofa. Afifah pun mengikuti nya


"Kamu jangan mulai deh, mas. itu sudah sangat lama sekali jangan di bahas"


"Kamu sensitif amat sih, sayang" Exel meraih tangan Afifah, lalu menggenggam nya. "Melihat nya, aku jadi ingat kejadian dulu. Gara-gara dia juga aku menikah dengan mu"


Cup


Exel mengecup bibir Afifah.


"Dan sekarang, aku masih cemburu. Jadi jangan pulang biar nanti pulang sama aku saja"


"Ih, mas. Udah mau jadi kakek nenek masih saja cemburu gak jelas"


"Aku takut kamu bertemu dengan nya di jalan, jadi sudah diam di sini dan jangan ke mana-mana" Titah nya sambil menggunakan jas putih kebanggaan nya.


"Alexa di rumah sendirian, mas. Kamu jangan kekanak-kanak an deh. Udah tua juga" Omel Afifah


El pun memikirkan kembali, Alexa anak kesayangan nya sedang hamil besar. Tak baik jika di tinggal sendirian.


"Oke baiklah, aku akan mengantar mu sampai depan"


"Baiklah ayo" Afifah langsung beranjak, waktu makan siang sudah habis. dan El sendiri ada pasien yang sudah menunggu untuk di operasi.


Afifah dan El berjalan beriringan, afifah sebenarnya ingin menanyakan perihal siapa yang sedang sakit, tapi ia takut suami nya itu salah faham. Apalagi dia mengatakan bahwa dia masih cemburu dengan Amir.


"Anak nya mantan kamu sakit, fah. Kamu gak mau lihat dia?"


"Kamu jangan mulai deh mas. Kamu tau bagaimana mereka kepadaku" Jawab Afifah.


"Ayo kita lewat di depan ruangan mereka, biar mereka tau bahwa istriku saat ini sudah bahagia bersama ku"


"Gak usah, mas. Kamu seperti anak kecil saja"


Namun tetap saja, El membawa afifah berjalan melewati ruangan Sabrina di rawat.


Tentu Amir, dan istri kyai jalil melihat nya. Dari sorot mata Amir memperlihatkan, bahwa hati nya merasa sakit saat melihat El dan Afifah berjalan bersama.


Sedangkan Afifah, kini merasa kasian dengan Exel. Mungkin kah Exel atau Sabrina akan tersakiti. Atau mungkin mereka berdua juga tersakiti. Lalu, bagaimana dengan keluarga mereka? hubungan baik belum bisa di mulai. Sekalipun Afifah ingin memperbaiki nya. Tapi terlihat dari sikap El, dia masih tak suka. Besarnya rasa Cinta El membuat ia masih tak Terima dengan perlakuan mereka kepada Afifah. Walau jika di ingat, penyebar gosip Afifah dulu bukan lah Keluarga Amir, mungkin gosip tersebut tercipta sendiri dari mulut masyarakat yang sudah terlanjur mengetahui kisah cinta Afifah. Dan mereka menyalahkan Afifah saja, dan memandang nya buruk.

__ADS_1


__ADS_2