
Perlahan-lahan matahari mulai turun dari singgasana nya, langit juga mulai berganti warna. Senja! itulah yang biasanya orang menyebut nya.
Afifah memandangi langit yang merona indah itu dari balkon belakang rumah. Beban yang ia tanggung saat ini sangatlah berat. jika dulu sebelum menikah ia mempunyai penghasilan dari warung, namun sekarang tidak lagi!
Tabungan nya juga habis untuk biaya hidup beberapa bulan kemarin dan biaya pernikahan nya. karena pernikahan Afifah diadakan besar-besaran.
Kini Afifah perlahan masuk ke kamar nya, maghrib segera datang, ia juga harus memasak untuk El yang sedang lembur di puskesmas.
afifah membuka lemari nya, mengambil sebuah kotak kayu yang berada di bagian Shap paling atas. Dibuka kotak tersebut, terlihatlah satu set perhiasan berlian. dan satu set perhiasan emas. Diambilnya satu cincin bermata Merah itu, itu adalah cincin yang ia beli sendiri dari keringat hasil jualan nya dulu. ia sangat menjaga nya, karena itu saksi perjuangan afifah dimulai.
Tak ada pilihan lagi!
Setelah sholat dan mengaji sebentar, afifah turun dan mulai memasak untuk makan malam sang suami. karena sore tadi ia sudah memasak nya. kini ia hanya tinggal menggoreng saja.
setelah selesai, afifah memasukkan makan malam untuk sang suami ke kotak bekal. saat hendak menelpon andi, HP afifah terlebih dahulu berdering.
Alis afifah terangkat, saat ia membaca sebuah nama Dokter El di layar HP nya.
"Assalamualaikum, " ucap afifah setelah ia menggeser tombol berwarna hijau ke atas
"Waalaikumsalam. Makan malam ku kamu antarkan kesini ya. andi sibuk!."
"Tapi aku naik apa mas, motorku udah aku kasih ke andi tadi."
"Kemarin aku sudah memberikanmu motor baru, kok bisa kamu masih tanya naik apa," nada El jelas terlihat kesal, afifah juga kaget dengan pernyataan El
"Cepat bawa kesini, aku sangat lapar!," El langsung memutus sambungan telepon nya.
"Bodoh sekali! Aku membelikan nya Motor bagus dia malah bertanya naik apa. Bahkan sejak dulu aku memerintahkan motor butut nya untuk di tinggal saja di rumah nya. Apa kata orang, lihat Istri Dokter El dan menantu Sanjaya pakai motor butut!!," El mengomel sendiri, ia sangat merasa kesal dengan afifah.
disisi lain, afifah masih bengong. dia syok dengan pernyataan El.
cekling.....
Cepatlah!!
__ADS_1
sebuah pesan singkat El membuat afifah langsung beranjak, ia hendak langsung pergi. namun langkahnya terhenti. dengan segera ia naik ke lantai 2, mencuci muka nya dan berganti baju.
"Bisa kena semprot kalau aku datang ke sana pakai daster."
setelah berganti baju, afifah memoleskan sedikit bedak tabur di wajah nya, lalu menggores kan sedikit lipbam di atas bibirnya.
turun dengan terburu-buru, mengambil kotak bekal. mengunci semua pintu, lalu pergi ke puskesmas.
motor yang dikendarai afifah sedikit lebih besar daripada motor nya yang lama.
kikuk.
sedikit takut mengendarai nya, akhirnya ia memutuskan untuk membawa motor nya dengan kecepatan sedang, karena takut jatuh.
jika biasanya dari rumah El ke puskesmas membutuhkan waktu 15 menit, perjalanan afifah kini memakan waktu 20 menit.
El di ruangan sudah uring-uringan, El tipe orang yang makan tepat waktu dan teratur. Jam makan malam El sudah terlewat 15menit.
"Ndi? mana mas ramdan" afifah melihat andi bersama yang lain duduk di ruangan staf.
"Fah, kita gak dibawain juga?."
Afifah merasa tak enak, ia hanya membawa makanan untuk dua orang, El dan andi seperti biasanya.
"Maaf ya, lain kali insyaallah afifah bawakan hehehe," afifah tersenyum kikuk
"Dokter El di ruangan nya fah," andi bangun dari duduk nya, lalu melangkahkan kaki nya ke ruangan El, sedangkan afifah langsung mengekor di belakang andi, setelah berpamitan kepada semua orang.
"Dokter El udah dari tadi nungguin, Hati-hati kamu kena semprot" Andi berhenti tepat di depan ruangan el "Masuk saja sendiri, aku takut" andi segera meninggalkan afifah disana.
sebelum ia masuk, afifah menyempatkan menghela nafas dengan perlahan, terus berusaha untuk tenang, tapi jantung nya tak mau berkompromi dengan nya.
ceklek..
"***... " salam afifah langsung terpotong dengan suara tegas el
__ADS_1
"Cepatlah!!!"
Afifah pun langsung membuka kotak bekal yang ia bawa, menyiapkan semua nya di atas meja. tentu nya tanpa bersuara.
"Ini yang terakhir, aku gak mau telat makan gini lagi!" el beranjak dari kursi panas nya, berjalan menghampiri afifah. dari kecil semua nya harus teratur, makan, tidur semua sudah ada jam masing-masing. Bukan seperti afifah, ya kalau lapar langsung makan.
setelah el duduk di sofa, afifah ikut duduk di sebelah el.
"Mas, Ram aku pulang dulu ya." bodoh sekali! memancing amarah singa.
El meletakan kembali sendok yang hampir ia lahap, menatap afifah di sebelahnya dengan sangat tajam, sedangkan yang ditatap sudah ketakutan.
"Sudah malam, Makanlah"
"Ini punya Andi mas," membantah
el semakin geram "Makanlah, andi sudah makan!"
mendengar suara el yang terdengar tegas, afifah langsung menurut, ia membuka kotak bekal tersebut dan ikut makan bersama El.
Mereka makan bersama dengan suasana hening, jangan berharap makan malam suami istri yang romantis, saling memandang dan saling menyuapi. Bagi afifah ia seperti makan bersama singa kelaparan!
"Bersihkan semua nya, nanti pulang bersamaku" el beranjak setelah menghabiskan makanan nya.
"Tapi aku bawa motor!"
kenapa gak nurut saja sih, kenapa harus membantah coba!
"Sudah malam, jangan banyak bicara" el meninggalkan afifah di ruangan nya setelah mencuci tangan nya.
Afifah benar-benar merasa lega, saat El meninggalkan nya di ruangan. dengan segera, ia membawa semua kotak bekal tersebut keluar ruangan, ia langsung mencuci didapur puskesmas.
karena setelah menikah, baru hari ini afifah datang ke puskesmas, Orang-orang yang sedang sift malam menyapa afifah, afifah juga sedikit mengobrol dengan mereka.
"Sayang!"
__ADS_1
semua orang menoleh ke sumber suara, suara yang sangat mereka kenal, suara yang mampu membuat semua orang yang mendengarnya langsung merinding.