Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
SABRINA 8


__ADS_3

Aku duduk di dalam kamar ku dengan dress putih yang di berikan oleh keluarga Gus Salman. Dengan riasan seadanya, malam ini adalah malam terakhir ku menjadi Anak Abi.


Setelah mas Exel menolakku, aku hancur sehancur-hancur nya. Aku tak bisa berbuat apapun selain menerima Gus Salman. Ini bukanlah keputusan yang tepat, tapi tentu aku tak mau membuat malu keluarga ku untuk kesekian kali nya.


Ku pandangi wajah ku yang lebam di pantulan cermin. Walau sudah memakai Soflen dan memakai Eyeliner. Tetap saja tidak bisa menyembunyikan mata ku yang bengkak.


"Jangan nangis, Sabrina" Ucap umi sambil memelukku


"Sudah lah Sabrina, Salman Adalah lelaki yang tepat" Ucap bibi ku terus menyakinkan ku.


Ya, aku beralasan bahwa aku belum yakin dengan Gus Salman. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku mencintai Mas Exel, sekalipun itu kepada Abiku. Tidak ada yang tau bahwa aku memohon cinta kepada Mas Exel. Ah, entahlah. Aku sangat sedih sekali saat ini.


"Saaahhh" Terdengar semua orang berseru Sah


Aku menangis di pelukan umi ku, saat ini aku sudah menjadi istri orang lain. Betapa berat nya tugasku saat ini. Bukan hanya menjalani kewajiban istri saja, tapi aku juga harus berusaha keras menghilangkan Mas Exel di dalam hati dan pikiran ku. Ini sangat sulit sekali, tapi semoga Allah membantu ku untuk tetap bertahan di dalam keadaan apapun.


Tak lama, seorang laki-laki datang ke kamar ku. Umi dan bibi ku pun keluar dari kamar ku, tapi tidak benar-benar keluar. Masih banyak orang yang melihat ku di ambang pintu. Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajah ku yang sudah pasti sangat jelek sekali.

__ADS_1


"Pakai ini Sabrina" laki-laki itu memberiku sebuah kain putih, senada dengan jilbab dan baju ku.


Ternyata itu adalah cadar "Sini aku pakaikan. Sebentar lagi akan di foto"


Dia mengambil cadar itu di tangan ku, lalu memakai kan nya. Karena aku terus menunduk, dia mengangkat dagu ku.


"Jangan takut Sabrina, sudah jangan menangis lagi. Nanti kita bicara berdua" Ucap nyadengan sangat lembut sekali. Bibir nya juga tersenyum .


Sorak beberapa orang kepercayaan pesantren yang berada di depan kamarku tetap tidak membuat rasa sedih ku berkurang. Yang ada hatiku semakin hancur.


Gus Salman menggenggam tangan ku, lalu membawa ku keluar kamar. Ternyata di depan kamar ku sudah ada keluarga inti ku. Kami duduk berhadapan, lalu Paman ku menyuruh Gus Salman untuk membacakan doa sambil menyentuh ubun-ubun ku.


"Ayo Sabrina, cium tangan suami mu" titah abi ku.


Aku sejenak memandang Gus Salman yang slalu tersenyum, aku pun meraih tangan nya lalu mencium nya.


Sepanjang acara aku hanya diam, tidak bicara apapun. Aku duduk bersanding dengan Gus Salman. Walaupun bukan di panggung pelaminan. Ini adalah acara Akad nikah saja, entah kapan resepsi nya aku tak tau. aku tak memikirkan nya, di pikiran ku saat ini masih ada mas Exel.

__ADS_1


Tak terasa sudah jam 11 malam, satu persatu orang pulang. Dan rumah ku sudah mulai sepi.


Aku pun pergi ke kamar ku, lalu membuka cadar yang aku pakai. dengan segera aku mencuci muka ku karena sudah sangat berat sekali.


"Sabrina, ini taruh di kamar mu sayang" Ucap umi saat ku baru saja keluar dari kamar mandi.


"Buat suami mu, siapa tau nanti malam lapar atau haus. Jadi biar kamu juga gak bangun ke dapur"


Aku pun tak menjawab apapun, tapi langsung mengambil nampan yang berisi satu teko air putih dan satu piring dengan beberapa kue di atas nya.


Saat aku masuk ke dalam rumah, ku lihat Gus Salman sudah ada di sana sedang membuka koper kecil nya.


"Sudah sholat Isya?" Tanya nya


"Belum" Jawab ku singkat sambil meletakan nampan di atas meja belajar.


"Yasudah, tunggu dulu ya Sabrina. Mas ambil wudhu dulu"

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, setelah itu dia keluar dari kamar ku. Aku pun berinisiatif untuk menggelar dua sajadah. Ini sudah benar, aku harus terus berusaha menerima nya, walau sangat sakit sekali rasanya.


__ADS_2