
Jam sembilan malam, Exel baru saja masuk ke kamar nya. Sebenarnya di luar masih ada tamu, namun Exel berpamitan untuk istirahat terlebih dahulu.
Lampu kamar masih sangat terang, tapi Sabrina tidak ada di sana. Saat Exel hendak keluar kamar lagi untuk mencari Sabrina, Sabrina malah masuk kamar.
"Dari mana?"
"Dari kamar mandi, mas." Jawab Sabrina sambil terus melangkah menuju ke arah ranjang.
Exel yang mungkin sudah tidak sabar langsung memeluk Sabrina dan mencium tengkuk Sabrina dengan keras, sehingga meninggalkan bekas merah.
"Issshh" Sabrina meringis menahan sakit di tengkuk nya.
"Itu hukuman buat kamu, karena gak nurut"
Sabrina langsung berbalik dan langsung menatap Exel tajam. "Apa salah sabrina?"
"Kan mas sudah bilang, pakai baju yang dari Alexa"
"harus ya, mas?" Sabrina sungguh tak mau memakai nya, membayangkan saja sudah merinding.
"Iya, cepat. Mas tunggu lima menit"
Setelah itu Exel bejalan menuju ke koper kecil nya. Ia terlihat membuka dan mengambil sesuatu di dalam kopernya. Lalu, Exel berjalan menuju ke pintu. Ia mengunci pintu, lalu menempelkan beberapa Alat berbentuk bulat kecil di area pintu. Lalu, Exel juga menempel kan nya di tembok dan jendela.
"Apa itu mas?" Tanya Sabrina
"Alat peredam suara" Jawab Exel yang masih menempel kan alat berbentuk bulat tersebut di tembok.
"Buat apa?"
Exel berbalik, ia melihat Sabrina sudah memakai baju lengerie dari Alexa. Ia pun tersenyum jahat sambil menghampiri Sabrina. Lalu ia berbisik "Biar suara jeritan dan desahan kita tidak terdengar orang luar"
Berrrrrr
Darah di dalam tubuh Sabrina langsung berdesir saat mendengar bisikan Exel yang menggelitik di telinga, apalagi kata-kata yang di ucap kan oleh Exel cukup fulgar.
"Mas niat banget prepare nya"
"Iya, sayang. Mas tidak bisa kalau tidak mendesah mengekspresikan kenikmatan"
"Kalau tidak nikmat, gimana?" Sabrina menatap wajah Exel yang tepat berada di depan nya.
"Ayo kita buktikan sekarang"
Seperti nya Sabrina salah menggoda Exel, kini Exel sudah menyerang Sabrina dengan ciuman yang kasar. Perkataan terakhir Sabrina membuat Exel merasa Sabrina menantang nya. Padahal Sabrina sendiri tidak serius dengan perkataan nya dan hanya bercanda saja.
KREKKKKKK
Baju lingerie baru yang kemungkinan juga mahal kini sudah di sobek kasar oleh Exel.
"Mashhh.. hah. ha..jangan kasar. Sabrina takut" Ucap Sabrina sambil ngos-ngosan.
__ADS_1
Exel mengusap bibir Sabrina, yang kini menjadi kebiasaan nya "Mas tidak bisa pelan, sayang. Lagi pula kan sudah tidak perawan" Ucap nya dengan suara serak, Nafas nya panas seolah gairah Exel sudah berada di level paling atas.
Exel melanjutkan kembali aksi nya, sebelum ia melakukan permainan inti. Exel harus membuat Sabrina keluar dengan permainan lidah nya, harus itu.
Lama-lama Sabrina mulai terbuai dengan sentuhan nikmat Exel, ia tidak berani mendesah. Ia hanya bisa menggigit bibir bawah nya, tapi bahasa tubuh nya tidak bisa di bohongi. Tubuh Sabrina yang sudah sangat tegang dan panas terus saja menggeliat, bahkan kaki nya sampai bergetar.
"Masssshh.. Sudaaaahhh" Ucap Sabrina yang sudah keringetan.
Exel tidak berhenti, ia malah memperdalam ciuman nya di area ter sensitif Sabrina. Sampai kedua kaki Sabrina menjepit kepala Exel, dada nya ia angkat, tangan nya meremas dan menekan sprei, mata nya terbejam, dan bibir yang ia gigit kini terlepas "Aaaaahhhhh" desah nya bersamaan dengan itu, tubuh nya langsung lemas.
Nafas Sabrina ngos-ngosan, Exel naik mensejajarkan wajah nya dengan wajah Sabrina. Bibir nya tersenyum puas melihat wajah Sabrina yang lesu.
"Siap?" bisik Exel
"Sebentar, mas. Sabrina capek"
"Dari tadi kamu cuma diam saja kok capek."
"Ayo baca doa dulu mas"
"Doa apa?"
Sabrina langsung membuka mata nya, ia langsung melihat wajah suami nya yang penuh tanda tanya. Tangan Sabrina langsung meraih sebuah kertas di tepi ranjang nya, lalu ia memberikan nya kepada Exel "Ayo baca, sebenar nya terlambat. Tapi tidak apa-apa, dari pada tidak sama sekali."
Exel langsung membaca tulisan yang sudah Sabrina siapkan, Sabrina juga langsung meraih tangan Exel dan meletakan nya di ubun-ubun nya.
Setelah itu, Exel yang seperti nya sudah tidak sabar ingin segera memasukan junior nya yang sudah meronta-ronta .
Exel menuruti saja, ia mencium kening Sabrina cukup lama lalu ia langsung memposisikan junior nya di depan pintu goa Sabrina. Exel memasukan perlahan agar pucuk nya masuk dahulu.
"Sayang" panggil Exel yang sudah memposisikan diri nya senyaman mungkin. Ia bertumpuh kedua tangan nya yang ada di samping kepala Sabrina.
Kini Sabrina dan Exel saling menatap, Sungguh dengan tatapan saja membuat darah di dalam tubuh Exel mendidih.
"Aaaahhh... Emmm"
Sabrina menjerit saat tubuh nya tersentak dengan kasar, Exel memasukan nya dengan sekali sentak. Air mata yang kini menetes di pipi Sabrina menjadi saksi kesakitan yang Exel berikan.
"Sakit?"
"Banget, mas" Jawab Sabrina.
Exel mengusap air mata Sabrina, ia merasa sangat bersalah. Namun sesuatu yang sedang memijat junior nya dan berasa sedang di sedot membuat Exel merasa ingin sekali menggerakan nya. Namun sebelum itu, exel memastikan nya lagi tidak ada darah yang keluar.
"Mas, pelan" pinta Sabrina saat Exel mulai menggerakan pinggulnya dengan pelan namun Exel slalu menyentak nya.
"Aaaahhhh" Exel menenggadah, mata nya terpejam saat sebuah kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelum nya.
"Masshhh" Sabrina Memanggil Exel saat merasa tubuh nya akan meledak, ia langsung memeluk Exel dangan sangat erat sekali.
"Iyaaaahhhh sayanggg, hmmm. Enakk?"
__ADS_1
Exel yang sudah mengalaman tau bahwa Sabrina akan keluar.Exel pun langsung menciumi leher Sabrina sambil terus mendesah. Tubuh Sabrina semakin menegang, ia memeluk Exel dengan sangat erat dan "Aaaahhhh" Desah Sabrina saat sesuatu itu akhirnya keluar juga dari dalam tubuh nya.
"Uhh.. Uh.. Uh" Exel semakin menyentak nya dengan liar, saat cairan Sabrina semakin membuat junior nya semakin lincah keluar masuk.
"Ahhh, masssshhh" Sabrina mulai terangsang kembali, ia membusungkan dada nya ke atas sambil menekan sprei saat milik Exel berhasil membuat nya terbang melayang. Tentu ini sangat wajar, Sabrina yang masih berumur dua puluh dua tahun, jiwa muda nya mampu mengimbangi permainan Exel.
"Kamu kuat sekali, sayang" Ucap Exel sambil terus memompa milik nya yang semakin merasa di remas kuat.
"Masssshh, aaaaahhhhh..."
Exel menarik satu sudut bibir nya, kini Sabrina terus saja mendesah, membuat nya semakin bersemangat mempercepat tempo nya.
"Saaahhhyaaaanggg, Enaaaakkk... aaaahhh" Racau Exel sambil terus menyentak tubuh Sabrina.
"Mas, aku pengen pipis. Hentikan!" Sabrina mendorong dada Exel saat ia tak mampu menahan nya
"Keluarkan sayang, uh.. uh... uh" Exel semakin menyentak nya sehingga menimbulkan kan suara yang begitu sangat keras.
"Aaaahhhh... " Keisha mendesah panjang, setelah itu tubuh nya langsung lemas.
Exel terus memacu pinggul nya dengan tempo cepat, sudah hampir satu jam namun Exel masih ingin menikmati nya tanpa berniat menyudahi nya. Exel mulai menciumi sabrina agar gairah Sabrina kembali terpancing. Namun sia-sia saja.
"Mas... Sudahhh, hentikannnn" Rengek Sabrina
"Sayanggg, Enak, ah.. ah.. ah"
"Saaakiiit" Sabrina menatap Exel dengan tatapan memohon, Exel pun menjadi tidak tega melihat istri kecil nya yang memohon.
Exel memposisikan diri nya senyaman mungkin, ia membuka lebar-lebar kaki Sabrina, dengan tubuh bertumpu dengan kedua siku nya. Kedua tangan Sabrina melingkar di leher Exel.
"Cium leher mas, sayang. Seperti masa menciumi mu"
Sabrina mengangguk.
"Baiklah, tahan sebentar ya. Mungkin akan sedikit sakit"
Setelah mengatakan itu, Exel langsung memacu pinggul nya dengan tempo sangat cepat dan keras. Sabrina yang sebelum nya sudah di tugaskan untuk menciumi leher Exel kini malah mendorong dada Exel karena rasa sakit yang Exel berikan.
Exel pun merasa tak suka, ia langsung mencengram kedua tangan Sabrina lalu mengangkat nya ke atas. Exel pun mengunci nya dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri nya ia gunakan untuk menekan pinggang Sabrina karena Sabrina terus memberontak.
"Hiks... hiks sakit mas"
Exel tidak memperdulikan rengekan Sabrina, ia terus melakukan nya semakin liar apalagi kini sesuatu sudah mulai naik ke ubun-ubun nya.
"Aaaahhhh.. Aaaaahhhh.. Ahhhhhh" Exel menyentak nya sangat kasar, bersamaan dengan itu tubuh Exel langsung lemas.
Sedangkan Sabrina langsung memegangi milik nya yang begitu sangat sakit sekali.
"Maaf" Bisik Exel sambil memeluk Sabrina.
"Andai kau tak memaksa ku untuk menyudahi nya dan membiarkan ku menyelesaikan nya senidiri. z mungkin tak akan begini cerita nya"
__ADS_1
BERSAMBUNG...