Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Mengakulah


__ADS_3

Afifah memperhatikan Exel. Tadi pagi, ia melihat paperbag besar di kamar nya. Ia pikir itu hadiah untuk Alexa, karena sudah kebiasaan Exel membelikan Alexa hadiah. Lalu, paperbag besar milik Exel itu kemana? saat ini afifah sedang mencari nya di kamar Exel. Paperbag berwana biru tersebut sama seperti yang Sabrina bawa tadi. Apa benar Exel memberikan nya kepada Sabrina, atau hanya kebetulan saja paperbag itu sama?


Afifah masih mencari di seluruh sudut kamar Exel, tapi dia tak menemukan nya. Afifah duduk di tepi ranjang Exel. Ia memikirkan dan mencoba mengingat-ingat nya. Apakah benar paperbag Exel itu di berikan kepada Sabrina, atau tidak.


Apa aku harus menanyai nya, mengintrograsi nya. Tapi, bagaimana kalau dia tak mengaku. Atau bagaimana kalau Exel dan Sabrina. Ah, tidak, tidak, tidak. Exel tak pernah ada di sini. Tidak mungkin mereka kenal. Aku gak mau kisah ku terulang kepada anak-anak ku. Menjalin hubungan dengan keluarga tersebut bertahun-tahun tapi ujung nya malah memalukan.


"Mommy?" Panggil exel setelah keluar kamar mandi


Afifah terkejut, lalu ia menatap Exel dan bertanya "Kenapa kamu gak belikan Alexa hadiah?"


"Lupa, mom. Next kalau ke sini lagi pasti Exel akan belikan hadiah, sekalian buat keponakan Exel juga"


"Tapi tadi pagi, mommy lihat ada paperbag besar di sana" Afifah menunjuk sofa dekat jendela


Mata Exel melotot, ia tak tau harus menjawab apa.


"Sekarang dimana paperbag itu? kau berikan kepada siapa?"

__ADS_1


Deg, Exel masih diam ia berpura-pura sibuk mencari baju


"Apa kamu berikan kepada Sabrina? "


Sangking terkejut nya dengan pertanyaan Afifah, Exel menjatuhkan baju nya.


"Sabrina? siapa sabrina?"


"Yakin kamu gak kenal sama sabrina?"


"Emang sabrina orang desa sini ya?"


Sial, Exel mengutuki diri nya sendiri. Seharus nya ia tak banyak bicara.


"Keluarlah, mom. Exel mau istirahat"


"Mengaku lah dulu!" desak Afifah

__ADS_1


"Tidak mom, Exel bener-bener gak kenal sama Sabrina"


"Baiklah kalau gak mau mengaku, mommy gak akan pernah mau jika nanti kamu meminta mommy melamar Sabrina"


Afifah pergi dari kamar Exel. Exel sendiri merasa bingung sekali harus bagaimana. Ah, biarkan saja. Exel juga sudah berusaha menghapus Sabrina dari hati nya. Ia sudah tau bahwa ini akan terjadi, keluarga Sabrina tak akan mau menerima Exel, begitu juga keluarga nya.


Masalah cinta afifah dan amir, ayah Sabrina sepertinya masih menyisikan luka. Menyisikan dendam yang terpendam. Bukan hanya itu saja, keributan yang Exel ciptakan waktu itu di pesantren milik keluarga Sabrina, tentu mereka tidak akan pernah lupa.


Exel tak jadi tidur, walau sebelum nya ia sangat mengantuk sekali. Saat ini ia malah duduk di sofa sambil memandang langit berwana oren. Warna senja slalu saja indah, tapi hanya sebentar saja.


Exel maraih sebuah buku tebal yang berada di rak tepat di samping sofa nya. Lalu ia membuka sebuah halaman, dimana halaman tersebut menyimpan sebuah foto.


Foto seorang gadis kecil memakai jilbab berwana merah muda. Gadis kecil tersebut tersenyum memperlihatkan sederet gigi putih nya. Gadis cantik dengan sejuta pesona di mata seorang Exel.


Aku harus mencari solusi nya, sebelum semua terlambat, mommy pasti tidak akan menyetujui nya. Aku harus melupakan nya, jika tidak aku pasti akan benar-benar gila karena kehilangan nya.


Persetan apa ini. Memiliki nya saja tidak, tapi sudah memikirkan kehilangan.

__ADS_1


__ADS_2