
Pagi ini, Semua bersiap hendak kembali ke kota. Lastri sendiri merasa tak puas, ia belum bisa membuat afifah down.
Namun saat Lastri hendak ke dapur, ia melewati kamar afifah, ternyata afifah sendirian di sana hanya bersama dengan kedua bayi kembar nya yang baru saja selesai mandi.
Lastri tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung masuk ke sana. berjalan mendekat ke arah afifah, lalu melipat tangan nya di dada nya.
"Ekhemmm" Lastri berdehem, agar afifah mengetahui kehadiran nya.
"Mama?"
"Aku sebentar lagi pulang ke kota, ingat ya Fah, jangan kamu perlakukan El seenak nya. kamu bukan ratu disini"
Afifah diam
"Dan satu lagi, kamu harus tau. Kamu tak lebih dari seorang pembantu. kamu tetaplah kempungan, jadi jangan banyak tingkah"
Dasar Lastri tak tau diri, Afifah tak pernah bertingkah, yang sering bertingkah adalah dirinya.
"Aku yakin, kamu menggunakan dukun agar anakku El menyukai mu. Aku tau itu"
"Astaghfirullah ma, itu tak benar"
"Alaaaahhhh... aku tau gadis kampungan sepertimu ini suka sekali pergi ke dukun, kalau tidak mana mungkin El mau dengan mu!"
"Jangan harap aku menyukai dan memberi restu ku untukmu, walau kau sudah mempunyai anak"
Hati afifah sangat sakit sekali, begitu besar nya kebencian Lastri terhadap nya, bahkan kedua bayi lucu yang berada di depan nya tak bisa membuat hati Lastri luluh.
Jam 10 mereka semua kembali ke kota, Mata lebam afifah membuat el bertanya-tanya, kenapa afifah menangis terus.
"Aku hanya ingat ibu mas"
"Beneran? apa mama mengatakan sesuatu kepadamu?"
"Tidak" jawab cepat afifah membuat el semakin curiga.
"Aku mohon kepadamu fah, jangan pikirkan Mama. Mama memang tak menyukai, tapi itu bukan masalah bagiku. Kamu tetap istriku, cintaku, kamu sgalanya bagiku" el memeluk erat afifah, memberi ketenangan kepada Afifah.
"Jujurlah, apa yang dikatakan mama kepadamu"
"Tidak mas"
"Tapi mama mengatakan sesuatu kan?"
Afifah menggeleng.
"Baiklah, jika kamu gak mau mengatakan nya. Tidurlah"
"Tidak, aku mau masak buat kamu"
"Kan ada Bi lela sayang"
"Gak, aku gak boleh manja"
El berkerut, kenapa alasan nya seperti itu. biasanya jika dilarang afifah mengatakan bahwa ia hanya mau makan, makanan yang ia masak. namun sekarang dia mengatakan tak boleh manja.
"Gak, aku mau memanjakan mu."
"Gak mau mas, biarkan aku masak seperti biasanya"
"Sayang, sekarang kamu ini menjadi Nyonya Elramdan, Pewaris Perusaan Alexander Group. Jadi tugas kamu cuma ngelayanin aku sama mendidik anak-anakku" ucap El sombong, sengaja.
"Gak mau, kalau sampai mama tau. bisa-bisa aku di marahin mas"
Keplosan!
kini El tau, kenapa afifah menangis.
"Mama memarahimu sperti apa?" tanya El dengan tegas
Afifah baru tersadar dengan perkataan nya barusan.
"Enggak mas, cuma bilang anu... "
"Kenapa kamu gak jujur sama aku?"
Afifah diam, sedangkan El langsung meninggalkan Afifah disana.
__ADS_1
"Mas.. Maafin aku, Mas Ramdan" Afifah berusaha untuk mengejar El, namun El tak menghiraukan nya.
"hiks hiks hiks, maafkan aku mas, aku gak bermaksud tak jujur kepadamu"
afifah menangis di ambang pintu kamar nya.
Mereka bertengkar? pak El tak menghiraukan istrinya. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk dekat dengan pak El.
...***************...
Sore hari, El masih belum turun dari kamar nya. Afifah sudah memanggilnya namun El begitu dingin kepada nya.
Afifah pun makan sendirian, setelah makan ia kembali ke kamar lagi.
"Sudah selesai An?" tanya afifah
"Sudah nyonya, baby twins nya sudah tidur."
"Apa mereka rewel?"
"Tidak nyonya"
"Ohh..yasudah"
"Saya permisi dulu nyonya, Dua jam lagi saya kesini nanti" Pamit Ana, dan mendapat anggukan kepala dari afifah.
Ana perlahan melangkahkan kaki nya keluar kamar, lalu ia mencari-cari El ke semua sudut rumah. Namun, nyatanya ia tak menemukan nya.
"Bi lela, kok tumben makanan nya masih banyak? nyonya afifah belum makan?" tanya ana
"Sudah, tinggal Pak El yang belum makan, dia ada di atas"
"Oh iya ana, saya mau tidur sebentar ya. nanti kalau pak El mau makan ada di meja makan"
"Iya bi, tidur saja sana"
Ana tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia tau bahwa El dan afifah sedang bertengkar. Ana langsung mengambil piring, diletakan nya nasi, lauk dan sayur si atas nya, lalu ia membawanya ke atas.
Tok
Tok
Tok
Tak ada jawaban apapun, namun saat ana hendak berbalik, El membuka pintu.
"Ada apa?" tanya El dingin
"Ini saya bawakan Makan siang"
El langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Astaga, sudah lewat"
"Masuklah, taruh di meja" El kembali masuk kedalam kamar nya, ana pun juga berjalan mengekori El.
Kamar itu sangat berantakan, banyak sekali kertas di atas kasur.
"Ana kamu tata semua kertas-kertas itu" titah El
Ana pun mengangguk dan segera mengerjakan perintah El. El sendiri langsung makan sambil memandangi layar laptop nya.
"Istri saya kemana an?" tanya El
"Tidur tuan, makanya saya berinisiatif membawakan Makan siang untuk tuan"
"Apa dia sudah makan?"
"Sudah tuan, nyonya sudah kenyang tapi tuan sendiri tak dihiraukan"
Kening El berkerut, kenapa juga ana bilang seperti itu. Afifah tak seburuk itu, El tau dan percaya itu.
"Baby twins rewel an?"
"Tidak pak, sepanjang hari saya menjaga nya. Nyonya tak memperdulikan baby twins, nyonya hanya tiduran dan diam di ranjang"
Kini El mengerti, Ana hanya ingin menjelek-jelekan afifah. Tentu El tau tipe-tipe pembantu seperti ana.
__ADS_1
Ana lumayan, dia juga masih muda, tapi tutur katanya tak sopan, dan sejak tadi ingin menjatuhkan afifah di depan nya.
El menarik satu sudut bibir nya
Usahamu gagal ana, aku tak terpengaruh. itulah alasan ku memperkerjakan mu agar afifah bisa diam. hahaha...
"Bersihkan kamar ini, taruh semua nya di atas meja sini. aku mau menghampiri istriku dulu" ucap El dingin.
"Pasti tuan El akan memarahi istri nya. memang istrinya itu malas sekali, semua nya aku yang ngerjakan, dia cuma ongkang-ongkangan di atas kasur!!!" Omel Ana setelah El pergi.
El terus melangkahkan kaki nya menuju kamar tamu yang sekarang di tempati oleh istri dan kedua anak nya. Perlahan ia membuka pintu, dan disana ia melihat baby twins nya tidur di dalam box dengan nyenyak, begitu juga istri tercinta nya, dia tidur dengan mata lebam, El tau bahwa afifah menangis. Niat hati El pura-pura marah, agar afifah tak lagi menyembunyikan apapun dari nya.
Wajah polos mu ini, berhasil membuat hatiku luluh sayang.
El mengelus kepala afifah dengan lembut, lalu mencium kening nya.
El lalu merangkak naik, hendak ikut berbaring di samping afifah, namun ia merasakan ada sesuatu bergetar di belakang afifah.
"Mama?" kening El berkerut saat ia melihat ponsel afifah.
Ngapain sang mama telepon, pikir El.
El pun langsung menggeser tombol berwarna hijau. lalu meletakan benda pipih tersebut ke dekat telinga nya.
"Dasar menantu tak tau di untung, kamu sengaja mengadu kepada El, agar dia marah kepadaku. Apa yang kamu katakan kepada nya sehingga El semarah itu kepadaku"
"Hai anak kampungan! aku kini mengerti. Kau ingin mengadu domba ku dengan El, agar El membenciku dan kamu bisa kuasai semua harta El"
"Aku paham cewek cewek murahan seperti mu, hanya memikirkan Uang saja, dasar pelacur"
"Mama!!!" teriak El sehingga afifah terbangun karena kaget
"El... mama bisa jelasin"
"Mama sepertinya tak pernah mau mengerti. Mulai minggu depan, semua fasilitas Mama El cabut!!"
tut
tut
tut
El langsung mematikan sambungan telepon nya. El benar-benar kesal dengan klakuan mama nya.
"Mas ramdan"afifah langsung memeluk El
"Jangan marah mas, maafin aku hiks hiks hiks"
"Jangan nangis sayang, mas udah gak marah kok. asal jangan diulangi lagi ya gak jujur sama mas"
"aku cuma gak mau mas bertengkar dengan mama"
El langsung memeluk afifah dengan erat, bagaimana bisa mama nya itu menuduh afifah yang tidak-tidak, padahal afifah sendiri slalu menghormati nya, dan tak mau El dan lastri bertengkar.
"Ayo tidur, mas kelonin" El membaringkan tubuh afifah kembali, lalu menarik nya masuk kedalam pelukan nya.
"Mas, tadi kenapa kamu teriak? tadi mama ya yang telepon"
"Jangan dibahas! ayo tidur!!" El bersuara tegas, agar afifah takut dan tak membantah nya. Dan benar saja, afifah langsung meringsut dan memajamkan mata nya kembali.
Satu Jam kemudian, ana kembali ke kamar afifah untuk memberikan susu kepada baby twins.
Mata Ana terbelalak, saat melihat El tidur memeluk afifah. padahal ia sudah menghasut El dan sejak pagi tadi mereka bertengkar.
Aku harus terus berusaha agar tuan El marah dan menganggap nya istri tak baik!!
Aku harus tunjukan, bahwa aku lebih baik.
**Alhamdulillah, bisa update
jangan lupa tinggalkan jejak.
Terima kasih sudah mendukung author.
bisa follow ig author @ismaniyah._
salam sayang dari author buat kalian semua**....
__ADS_1