
Afifah terbangun, saat adzan subuh berkumandang, ia membuka mata nya dan langsung terperanjak.
Kemarin malam, afifah menunggu balasan dari El namun El tak kunjung membalas nya atau menelpon afifah.
setelah sholat dan sarapan, afifah masih gelisah menunggu El.
"Kamu kemana sih mas" guman afifah sambil duduk di kursi.
tak lama kemudian, HP afifah bergetar ada sebuah pesan masuk dari Byan.
El tidak sadarkan diri, cepat datang ke RS Garuda group, ruang Paviliun Nomor 1.
Byan mengirimkan foto, El yang berbaring di tempat tidur dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di hidung nya, lalu infus di tangan nya.
dan satu lagi, Byan mengirim lokasi terkini nya.
tubuh afifah langsung bergetar melihat suami nya itu. ia terus menelpon Byan namun tak ada jawaban.
afifah pun langsung pulang, ia berganti baju, lalu memakai jaket levis, helm dan kacamata.
"Fah, tunggu zakir dulu ya. biar dia yang atar kamu" cegah bu zainab setelah afifah berpamitan kepadanya
"Ibu doakan saja afifah ya, jangan lupa mas ramdan juga"
"Yasudah, Hati-hati ya"
afifah kini seperti anak motor dadakan. ia melakukan terus motornya, keluar dari area desa. membelah jalan kota dengan modal bismillah dari rumah.
4 jam perjalanan afifah ia lalui tanpa berhenti, makan ataupun minum, yang sekarang ada di pikiran nya hanya ingin segera sampai melihat sang suami. ia benar- benar khawatir dengan keadaan El.
karena pertama kali nya afifah datang ke kota sendirian pula, dengan bermodal google maps dan tanya orang dijalan. kini motor afifah sudah terparkir di sebuah rumah sakit besar, yang terlihat tak begitu padat. hanya ada beberapa motor yang terparkir disana, dan yang lain nya mobil-mobil mewah memenuhi parkiran mobil di area belakang.
Seperti nya ini rumah sakit mahal.
dengan langkah ragu namun pasti, afifah masuk dan bertanya kepada Resepsionis.
salah satu suster pun mengantarkan afifah.
mereka masuk ke lift, lalu menuju ke lantai paling atas.
afifah takut, pasalnya di lantai ini sangat sepi.
"Maaf Sus, kok sepi ya?"
"Ini rumah sakit keluarga Alexander, ini Lantai paling atas, khusus keluarga Alexander"
afifah tak bisa lagi berkata-kata.
tak lama afifah sampai di depan kamar el. disana sudah ada byan dan sanjaya.
melihat el, air mata afifah langsung menetes.
"Kata dokter, el koma fah. kamu jagain dia ya. kita mau keluar dulu" tanpa menunggu afifah bertanya kenapa, byan langsung menjelaskan nya kepada afifah.
"Nak" sanjaya memegang bahu afifah "Kata dokter suruh ajak bicara, untuk merangsang kesadaran nya"
Afifah mengangguk, lalu berbalik melihat papa mertua dan kakak ipar nya itu hendak keluar ruangan.
"Pah" panggil afifah, menghentikan langkah kaki byan dan sanjaya
"Iya nak, kenapa?"
"Mas ramdan kenapa? kenapa tiba-tiba koma?"
"Hmmm... el itu.." jawab sanjaya gugup
"Jatuh, iya el jatuh dari kamar mandi lalu gak sadar" jawab byan
afifah pun mengangguk, lalu mendekat ke el.
"Ayo pah, cepat keluar" ucap byan terburu-buru keluar bersama sanjaya.
afifah duduk memandangi wajah sang suami sambil menangis, sudah 15 menit berlalu.
"Mas ram.. Maafkan aku"
ternyata byan dan sanjaya mengintip di luar.
"Mas, bangun dong, kamu kenapa sih mas hiks hiks hiks," afifah meletakkan kepalanya perlahan di samping lengan el
__ADS_1
"Mas, maafin aku mas. kenapa kamu begitu lemah mas, hanya jatuh saja sampai Koma gini hiks hiks hiks"
Sanjaya dan byan terkekeh di luar sana.
"Mas ram," afifah menggoyangkan lengan el perlahan.
"Mas, ayo pulang. aku kangen sama kamu mas"
"Byan, ayo kita makan dulu, biarkan saja sudah" ajak sanjaya kepada anak nya itu
"Tidak pa, kita lihat saja. mereka itu lucu banget. kisah nya kayak ABG wkwkw"
"Mas, bangun. aku siap kok jadi ibu dari anak-anak mu mas."
"mas bangun, jangan tinggalin aku mas"
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu mas hiks hiks hiks"
"Kamu bilang mau periksa aku kan? kamu mau rawat aku sampai aku hamil kan?"
afifah melingkarkan tangan nya di atas perut el.
tak lama afifah kaget, saat tangan besar mengusap punggung tangan nya dengan perlahan.
"Mas?" afifah langsung bangun "Dokter, dokter" teriak afifah namun dengan sangat kuat el menarik tangan afifah.
"Yaa ampun el, kenapa bangun sih" ucap byan dari luar
afifah pun langsung beranjak dan berdiri tegap, karena tadi ia terjatuh di dada el
el juga langsung duduk dengan tersenyum lebar.
afifah plonga-plongo, tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, kamu?" afifah mundur dua langkah, saat melihat el melepas selang oksigen dan infus di tangan nya.
"Sayang jangan marah, ini ide kak byan, " el turun dari ranjang, berusaha meraih tangan afifah.
pandangan afifah beralih ke byan, yang di pandang cengengesan.
"Papa gak ikut-ikut ya, kemarin udah kasih tau el supaya pulang." ucap sanjaya sambil melipat tangan nya.
flash back on.
Setelah pulang dari Stasiun TV X, byan dan el menuju ke hotel, disana sudah ada sanjaya. sanjaya sengaja mengajak kedua putra nya untuk ke hotel karena ada yang harus di bahas mengenai beberapa rumah sakit keluarga.
setelah pembahasan, el membuka HP nya dan melihat ada sebuah pesan dari afifah.
Sanjaya dan Byan sudah tau semua tentang pernikahan el, karena el sudah cerita mulai dari NOL. cuma mereka komitmen untuk merahasiakan dari lastri.
setelah membaca pesan, el buru-buru pulang malam itu juga. awal nya sanjaya dan Byan melarang, dengan alasan sudah malam dan terlalu berbahaya, apalagi el dalam keadaan capek.
El pun menceritakan, dan memberitahu isi pesan afifah. mendengar itu, sanjaya langsung menyuruh el pulang namun membawa sopir.
"Jangan el, apa kamu mau melihat seberapa besar cinta istrimu kepadamu?"
semua diam, hanya Byan yang tau masalah ini. maklum saja, mantan playboy.
"Jadi, besok pagi sekali. aku akan kirim dia Pesan, bahwa kamu koma gitu. kita lihat reaksinya. dia panik, sedih atau biasa-biasa saja..."
"Udah gak usah di perpanjang, yang penting istri el sudah gak ngambek" potong sanjaya
"Iya kak, aku juga kengen banget. pulang saja"
"issshhh...kau ini! kita lihat reaksi nya. Jadi, kalau dia panik, nangis, nyesel udah diamin kamu, berarti dia benar-benar cinta sama kamu, kalau tidak ya mending kamu lepasin dia el. sesekali lah nguji dulu"
Benar juga kata kak Byan.
"Yasudah, lalu aku harus gimana?" tanya el polos.
maklum saja el orang nya setia, jarang bohong gak seperti Byan.
"Sekarang kita tidur dulu, besok pagi kita ke RS sambil survei"
"Ya sudah, ayo pulang"
Flashback off..
"Tapi gara-gara itu, aku gak bisa tidur sayang. beneran deh" ucap el sambil memegang kedua tangan afifah, seraya meminta pengampunan
__ADS_1
"Jangan lakukan ini lagi ya mas, kak" ucap afifah lembut.
"Gak akan, kan sudah tau jawaban nya" jawab Byan tanpa bersalah
"Kalian jangan bertengkar lagi ya, biar papa juga segera dapat cucu"
"Iya pa, tenang saja masih proses"
"Byan juga pa, tenang saja. Byan buatkan yang banyak nanti, heheheh"
"Yasudah, ayo kita pulang" ajak sanjaya
"Papa dan kakak duluan saja, aku nanti nyusul"
sanjaya dan byan beradu pandang sejenak, namun akhirnya mereka meninggalkan el dan afifah disana.
"Sayang, jangan marah dong" ucap el setelah dirasa papa dan kakak nya tidak ada di sana
Afifah menghela nafas perlahan "Iya, tapi jangan di ulangi lagi ya. kasian ibu ikutan tertipu"
"Nanti biar aku yang jelasin ke ibu ya. yang penting kamu jangan marah lagi," el menarik afifah kedalam pelukan nya.
Nyaman
tak bisa di pungkiri afifah juga merindukan sosok laki-laki tegap yang tengah memeluk nya.
"Mas, apa kamu benar-benar ingin bersamaku?" tanya afifah
"Iya sayang, aku ingin bersamamu, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku. Biarkan aku menjadi imam mu, kita mulai dari Awal lagi. I Love You"
afifah membalas pelukan el "I love you too mas"
mereka saling berpelukan, meluapkan semua rasa rindu mereka masing-masing.
"Aku tadi bawa motor kesini"
"Udah jangan bahas itu dulu. diamlah!"
el semakin mempererat pelukan nya, sambil menciumi puncak kepala Afifah.
"Kangen banget aku sama kamu,"el menatap afifah dalam-dalam, mata nya tertuju kepada bibir yang terasa manis, bagi nya.
"Mas, aku lapar. ayo makan dulu"
mendengar itu, Fokus el langsung terganggu.
"Apa kamu belum Makan?"
"Tadi hanya sarapan, mulai dari rumah sampai sini aku belum makan dan minum"
tatapan el berubah, yang tadi nya teduh, kini alis nya hampir menyatu "Kenapa? seharusnya kamu makan dan minum, perjalanan dari desa ke kota sangat jauh!!!.... "
"Mas, jangan marah dong. kan semua ini gara-gara kamu juga. lagian gak udah ngomel dong, ayo makan mas. aku sangat lapar" afifah memotong omelan el yang belum selesai
cup
El mengecup bibir afifah, raut wajah el juga berubah menjadi senang lagi, melihat sang istri begitu menggemaskan, menurutnya!
"Yasudah, ayo kita makan"
el menggandeng tangan itu, dibawah nya afifah turun ke lantai dasar, disana sudah ada sanjaya dan byan menunggu.
"Pa, kak, mira makan siang dulu" ajak el
"Iya, papa juga sangat lapar"
"Kita makan di resto simpang sana saja, menyingkat waktu" sepertinya byan juga sangat lapar.
"Mas motorku?" afifah bingung motor nya dari tadi, Hadeh....
"Mana kunci, aku akan kasih ke satpam, biar nanti ada yang bawa ke rumah. sudah ya jangan ributin motor lagi" El kesal sekali, dari tadi afifah terus membicarakan motornya.
"Hmmm... Iya mas" diamlah sudah afifah ini.
mereka ber empat pun langsung menuju ke restoran untuk makan siang. setelah makan, semua nya langsung pulang kerumah. hmm.. Kira-kira gimana ya suasana di rumah sanjaya.
Bersambung....
**Segini dulu ya gaes, author benar-benar gak sempat up. Sibuk banget, mohon maklum ya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak**