Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Hanya Alasan


__ADS_3

Jam tujuh malam, Ustadz Amir datang untuk menjemput Sabrina. Beberapa menit yang lalu, Exel memberitahu ustadz Amir bahwa Sabrina sedang sakit.


"Biar umi saja yang rawat Sabrina, xel. Tiga hari lagi kalian kan menikah, Sabrina sudah harus ikut dengan mu. Biarkan tiga hari ini bersama kami" Ucap Umi Sabrina, istri Ustadz Amir.


"Yasudah, biar aku bangunin dulu Sabrina"


Sejak tadi, Ustadz Amir dan yang lain nya membujuk Exel agar Sabrina boleh di bawa pulang. Karena awal nya exel tak mengizinkan karena tidak tega dengan Sabrina. Di sisi lain, Exel juga masih sangat khawatir dengan Sabrina.


"Sayang, ada umi sama abi jemput kamu" Ucap Exel dengan lembut.


"Yasudah, Sabrina izin pulang ya mas"


"Iya, sayang" Exel memeluk Sabrina "Jangan banyak gerak, kamu istirahat terus ya"


"Iya mas, sudah jangan terlalu khawatir. Sakit nya sedikit berkurang sekarang"


"Yasudah, nanti akan mas bawakan obat itu lagi"


Sabrina menangguk sambil menatap mata Exel yang sedikit sayu karena sedih. Saat Sabrina menatap Exel dengan penuh cinta, itu membuat Exel tidak bisa menahan jika tidak mencium bibir manis Sabrina.


Semakin lama, Exel terbuai dengan ciuman nya hingga tak terasa tangan nya meraba sebuah gundukan yang menurut nya sangat lucu dan menggemaskan.


"Hmmmm, mas" Sabrina mendorong tubuh Exel saat tau bahwa Exel mulai lepas kendali. Exel pun melepaskan ciuman nya, lalu mengusap bibir Sabrina yang sudah terlihat sedikit bengkak dan merah.


"Mas gendong ya?" Tawar Exel


"Gak mau, malu aku"


Exel dan Sabrina pun keluar kamar dengan berjalan penuh hati-hati. Di mata El, ia tau benar bahwa cara jalan Sabrina sedikit berbeda. Pikiran El mulai tak karuan, ia menaruh curiga kepada anak nya Exel. El tidak percaya dengan Exel, tentu ia tau bagaimana pergaulan Exel.


"Abi, Umi. Exel minta Sabrina jangan di suruh apapun, biarkan dia istirahat saja" Exel sekali lagi memperingatkan orang tua Sabrina, seolah-olah Sabrina akan di jadikan pembantu saja.


"Tidak akan, xel. Percayalah sama abi"


"Tumben sekali sih, sayang. apa kamu ingin manja saja kepada suami mu? biasanya juga kalau sakit gak gini amat" Umi meraih dan memeluk Sabrina.

__ADS_1


"Hehehe.. Maklum saja, nama nya juga pengantin baru" Jawab Afifah merasa malu sendiri


Semua orang tertawa mengejek kepada Sabrina dan Exel. Tapi Exel tak pedulikan itu, ia masih kepikiran tentang darah tersebut.


"Rei, bawakan Sabrina obat anti nyeri tadi"


"Sebentar, reihan ambilkan"


Sabrina pun akhir nya pulang. wajah Exel langsung berubah menjadi sedih. Padahal ini cuma tiga hari saja.


Setelah mengantarkan Sabrina sampai depan rumah, Exel berjalan cepat masuk dan hendak naik ke lantai dua.


"Xel, ayo masuk ke ruangan papa. Papa mau bicarakan sesuatu" Cegah El, sehingga Exel menghentikan langkah nya


"Nanti saja, pa. Exel ada pekerjaan penting, lupa kalau di tunggu"


Cih, itu hanya alasan saja.


Exel masuk ke kamar nya, ia melihat ada nomor yang di kirimkan oleh sekertaris nya.


Setelah itu, ia menelpon yang ia sebut dokter dewi tersebut. Exel menceritakan semua nya yang terjadi tanpa ada yang di tutupi, itulah yang harus di lakukan jika sedang konsultasi.


"Jadi begini pak, saya tidak bisa menyimpulkan kalau saya tidak memeriksa nya langsung. Tapi akan saya jelaskan sedikit, mungkin nanti bisa bapak simpulkan sendiri dengan apa yang terjadi"


"Wanita memiliki selaput darah dan ada yang tidak. Lalu Selaput darah wanita itu ada yang sangat tipis, ada yang sedang dan ada yang tebal. Jika wanita memiliki selaput darah yang sangat tipis, selaput darah itu bisa saja robek saat jatuh karena sifat nya yang tipis jadi mudah robek. Lalu selaput darah yang sedang biasanya akan robek saat melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali nya. Lalu selaput darah wanita yang tebal, biasanya beberapa kali hubungan suami istri tetap saja mengeluarkan darah. Kemungkinan, selaput darah istri bapak itu sangat tebal."


Exel sedikit lega mendengar nya.


"Mungkin istri bapak saat itu tegang, atau kurang nya pemanasan"


tidak mungkin, pemanasan Exel sudah cukup. bahkan milik Sabrina sudah keluar dengan permainan lidah nya.


"Jika bagian perut bawah sakit lebih dari dua puluh empat jam, maka kemungkinan itu adalah pendarahan. Itu terjadi karena bapak terlalu dalam sehingga melukai beberapa organ dalam, itu harus di periksakan pak. Tapi jika tidak, mungkin itu selaput darah nya. Tunggu sampai tiga hari saja pak"


"kalau misal terjadi kerobekan di area ****** gimana, dok?"

__ADS_1


"Itu jarang terjadi, pak. ****** wanita itu sifat nya elastis. ****** bisa robek biasa nya saat melahirkan normal, itu pun di robek menggunakan pisau oleh bidan atau dokter untuk membuka jalan lahir karena sang ibu tidak kuat mengejan. Kalau misal ibu melahirkan normal kuat mengejan, maka ****** tidak akan robek, sekecil apapun tetap bisa keluar bayi nya"


"Baiklah, dok nanti saya akan kabari jika dalam tiga hari istri saya masih mengeluarkan darah"


"Iya pak"


"Nanti pembayaran nya akan di urus sama sekertaris saya, Terima kasih"


"Sama-sama Pak"


Exel menghembuskan nafas panjang nya, seolah saat lega sekali dengan penjelasan tadi. Mudah-mudahan tidak pendarahan dan segera mampet itu darah.


...****************...


Jam terus berputar, Exel terus-terusan marah-marah di telepon. Entah karena ada masalah atau Exel nya saja yang emosian. Exel terus mengirimkan pesan kepada Sabrina, memastikan Sabrina baik-baik saja.


✉ Perut Sabrina gak sakit, mas. Cuma itu nya saja


✉ Itu nya apa?


✉ Ya itu, mas.


Exel mengerutkan dahi nya, seolah tak mengerti dengan maksud Sabrina. Namun tak lama ia menyadari nya.


✉ Di buat jalan sakit?


✉ Sedikit, tapi kalau buat pipis masih perih.


✉ Darah nya masih banyak?


✉ Lumayan sedikit dari pada kemarin


Kini Exel semakin yakin, bahwa itu hanyalah selaput darah Sabrina. Bukan pendarahan atau sobek karena junior nya.


Hayoo.. kemarin yang udah nuduh Exel yang enggak-enggak 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2