
Setelah pulang sekolah, aku langsung mandi dan sholat dhuhur. Badan ku rasanya sakit semua, mungkin aku akan datang bulan, itu sudah biasa ku rasakan.
Aku ingin sekali tidur siang, mumpung aku dapat izin dari abi untuk istirahat. Tapi, Tiba-tiba aku mendengar umi ku teriak memanggil ku. Aku pun langsung beranjak, keluar dari kamar menghampiri umi.
"Kata mas Adam, kamu di panggil Abi sama paman"
"Tumben, mas? Ada apa?" Tanyaku heran, karena gak biasanya mereka memanggilku seperti ini. Ah, mungkin ada yang penting pikirku.
"Sudah ayo, ikut"
Aku pun berjalan mengekor di belakang Mas Adam menuju rumah nya. Aku pun masuk dari pintu depan, saat aku berada di ambang pintu, aku sangat terkejut sekali melihat sosok yang sangat aku rindu kan. Laki-laki tampan itu tersenyum kepadaku.
"Sabrina, How Are You?" Sapa nya, yang membuat jantungku langsung berdetak kencang sekali.
"Apa kalian saling mengenal?" Paman Jalil bertanya, sambil menatapku dan Mas Exel bergantian.
Matilah aku, Ya Allah, Aku mohon jangan katakan apapun mas Exel. kalau tidak, kelar hidupku.
"Tentu saja mengenal nya. Bahkan kita pernah makan bersama" Dia menjawab dengan sangat santai sekali, tanpa tau bahwa jawaban itu bisa-bisa membunuhku. Kenapa dia banyak bicara sekali, biasanya bersikap cuek dan dingin.
Abi dan paman ku langsung menatap ku saat mas Exel mengatakan itu semua.
"Oh tidak, bukan kita. Tapi kami"
"Iya kami, makan bersama. Aku, Alexa, Sabrina dan Adam. Benarkan Adam?"
Dengan langkah kaki gemetar, aku berjalan mendekat ke abi ku. Lalu duduk di sebelah nya.
"Oh iya Sabrina. Ini aku belikan sesuatu" Mas Exel menaruh dua paperbag itu di atas meja "Kau bisa memakai nya untuk sekolah" Sambung nya.
Aku menatap paperbag hitam yang ada tulisan sebuah merk terkenal. Lalu aku menatap nya, dia tersenyum lebar sekali.
"Thanks" Ucapku sambil tersenyum sedikit saja.
"Your welcome" Jawab nya, tapi wajah nya berubah seperti kaku.
__ADS_1
"Silahkan Sabrina, tanda tangan di sini" Laki-laki berjas itu menyodorkan sebuah kertas kepada ku. Aku tak tau maksud semua ini, lalu bertanya sambil menatap Mas Exel. "Ini apa?"
Mas Exel tak menjawab ku, tapi dia malah menatap ku diam. Tatapan nya sudah lain dari yang tadi.
"Ini adalah sertifikat tanah yang di hibahkan oleh pak Exel kepadamu"
Karena ini kah mas Exel meminta KTP ku?
Aku menatap abi ku, meminta persetujuan. Tapi sayang nya diam saja.
"Ayo Sabrina, tanda tangan. Aku menghibahkan nya untuk mu. Selanjutnya terserah kau mau di apakan" Ucap mas Exel meyakinkan ku.
"Kalau boleh tau, kenapa tiba-tiba di hibahkan kepada Sabrina? apa ada maksud lain?" Abi ku tiba-tiba bersuara
"Aku mohon jangan salah faham, aku tak ada maksud apapun. Aku hanya ingin menghibahkan saja kepada Sabrina. Karena kemarin kata paman ku ini ada yang ke rumah nya menanyakan tanah tersebut, untuk di jadikan... "
"Rumah Hafidz"
"Hah, itu"
"Kenapa di hibahkan kepada Sabrina? Jika memang di hibahkan kamu bisa menghibahkan kepada pesantren saja" Paman ku berbicara lagi
Aku ingin pergi dari sini rasanya, ini bukan urusan ku. Kenapa juga Mas Exel menyeret ku ke masalah ini sih.
"Tidak, jika Sabrina tidak mau menerima nya. Maka tanah ini tidak akan di berikan kepada siapapun"
Aku menatap Mas Exel yang seperti nya marah, aku sangat takut sekali mendengar suara nya yang begitu tegas.
"Sabrina" Suara nya kembali melunak saat memanggil ku, aku yakin saat ini dia sedang menahan Amarah nya, karena bisa di lihat bahwa nafas nya memburu.
"Kamu mau apa tidak? jika tidak aku akan bawa pulang lagi sertifikat ini."
Aku diam, aku takut melihat nya yang marah. Aku pun menatap abi ku untuk meminta pendapat nya. Tapi abi lagi-lagi diam.
Aku tau ini adalah impian Mas Adam, membangun sebuah sekolah Hafidz. Tanah itu satu-satu nya harapan Mas Adam.
__ADS_1
"Begini saja kak Exel" Mas Adam akhirnya bersuara "Tanah itu saya beli saja, agar masalah perhibahan ini tidak menjadi masalah di kemudian hari"
"Tidak, Aku tak menjual nya. Jika Sabrina tak mau menerima nya, maka aku akan menarik kembali dan itu akan menjadi milikku"
Sungguh repot sekali mas Exel ini, dia memaksa ku untuk menerima tanah itu. Aku tidak bisa berpikir saat ini. Yang ada di pikiran ku saat ini hanya jawaban yang akan aku berikan kepada Abi.
"Aku tak ingin membuang waktu ku, jika kalian melarang Sabrina untuk menerima nya. I'ts Okay, aku akan pergi sekarang"
Aku diam, tak berani berbuat apapun.
"Kami tidak melarang nya" Paman berucap, seolah menyuruh ku untuk menerima nya. Tapi aku masih ingin abi ku sendiri yang mengatakan nya.
Aku menatap Abi ku, ku lihat abi ku juga nampak berpikir. Ia tersenyum menatapku, aku tau mungkin dia luluh melihat wajah ku yang mungkin saja terlihat ketakutan.
"Aku serahkan semua nya kepada Sabrina. Jika Sabrina mau menerima nya, ya silahkan. Aku percaya, bahwa Sabrina sudah cukup dewasa untuk mempertimbangkan semua itu"
Inilah cinta pertama ku. Dia slalu bersikap sangat baik sekali. Dia laki-laki terhebat ku, laki-laki yang akan slalu ku puja dengan segala bentuk kebaikan yang ia berikan kepada ku.
Aku meraih bolpoin stanliss yang ada di atas kertas tersebut, sebelum aku menggoreskan tinta di atas materai, ku pandang Mas Exel, dia nampak tersenyum dan mengangguk.
"Bismillah" Aku pun mengukir tanda tangan ku di sana. Selesai sudah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk semua nya. Aku berharap, setelah ini hubungan keluarga ku dan Mas Exel membaik dan melupakan kejadian Mas Adam kemarin.
Surat-surat tersebut langsung Mas Exel berikan kepada ku dengan wajah bahagia. Aku tak peduli nanti yang akan terjadi kepada ku. Tujuan ku hanya ingin membantu Mas Adam, dan memperbaiki hubungan ini.
Tak lama, Mas Exel dan dua bapak-bapak itu kembali pulang. Mas exel ersikap ramah kepada abi ku, tapi seperti nya ia masih marah kepada Mas Adam dan Paman ki. Karena hanya mas Exel yang tak menjabat tangan paman dan mas Adam.
"Mas Adam, silahkan bangun saja rumah Hafidz nya." Ucapku kepada mas Adam
"Biar mas Adam beli saja dari kamu, Sabrina"
"Mana bisa tanah hibah di jual mas. Sudah bangun saja, Sabrina mengizinkan nya dan tidak akan mengungkit tanah ini di kemudian hari"
"Amir, aku ingin berbicara kepada mu" Paman ku langsung pergi dari sana, diikuti oleh abi ku. Aku langsung takut sekali, pasti mereka marah kepadaku.
Mas Adam menghampiri ku, lalu tersenyum kepadaku. "Jangan takut, semua akan baik-baik saja"
__ADS_1
Aku yakin mas Adam tau dengan kegelisahan ku saat ini.