
Pagi hari, Afifah duduk di teras bersama kedua anak nya. Mereka bertiga sedang berjemur di bawah sinar matahari pagi yang sudah banyak orang ketahui itu sangat menyehatkan.
El sendiri sibuk mempersiapkan diri nya untuk kembali bekerja. Sedangkan yang lain nya, bersantai menikmati kopi panas sambil membaca berita terupdate dari benda pipih yang canggih bernama Handphone.
"Pa, saham PT. Purnama anjlok" ucap byan
"Tapi saham nya sudah terbeli semua nya" sambung byan
"El yang membeli nya, udah lama tapi berita nya memang baru di up"
"Gak rugi El membeli nya?"
"Tidak, memang awalnya banyak mengeluarkan biaya, tapi sekarang sudah kembali normal"
byan diam..
"Tenang saja kak, Keuntungan sudah di depan mata. Tau sendiri kan produk PT. Purnama banyak sekali peminatnya" letuk El yang datang tiba-tiba
"Kamu yakin El? bukan nya kemarin anjlok drastis ya?"
"Tapi sekarang bukti nya sudah normal, mungkin 2 bulan akan kembali modal"
"Wahhh.. Kok bisa?"
"Kemarin, Perusahaan yang ada di NW mengalami masalah, Bahkan sampai sekarang belum selesai. Tapi walaupun bermasalah tetap tidak rugi, hanya untung bersih nya menurun 75 persen. Karena pekerja di NW tidak ada yang korup semua nya jujur"
"Lalu?" tanya byan
"Masalah di PT. Purnama cuma satu, yaitu data pemasukan tak seimbang dengan pengeluaran, padahal jika di hitung seharus nya pemasukan lebih banyak dari pengeluaran. Intinya ada yang korup. Bukan Peminat nya yang berkurang."
"Hebat... walau kamu tak pernah me mayoritas kan bisnis tapi jiwa bisnis tetap ada di dalam dirimu El. Jujur saja, jika aku sendiri gak akan berani membeli nya"
"Simpel saja sih sebenar nya kak, setelah aku beli semua nya, karyawan yang kemungkinan melakukan korup aku ganti. dan aku mengandalkan beberapa pegawai di LA untuk menangani semua nya. dan Hasil nya memuaskan"
"Lalu bagaimana dengan perusahaan di New York?"
"Karena kemarin afifah habis melahirkan, aku tak sempat untuk membahasnya. karena pandemi mereka juga tidak bisa kesini"
......
Pagi-pagi yang di bicarakan bisnis mulu. jadi bosan dengar nya.
Caca berlalu membawa secangkir teh nya ke teras rumah, menghampiri afifah dan kedua keponakan nya.
"Selamat pagi kakak ipar" sapa caca ceria
"Selamat pagi caca"
"Selamat pagi juga, keponakan tante yang tampan dan cantik" Caca sudah menciumi pipi gembul Exel dan Alexa
Caca ikut duduk di sana, menikmati pagi dengan secangkir teh. Tubuh nya lebih terasa hangat saat cahaya matahari juga mengenai tubuh nya.
Setelah sarapan, el berpamitan untuk berangkat bekerja. Ia lebih dulu menciumi kedua anak nya lalu tak lupa Ia juga mencium afifah.
"Ana, pastikan istri saya tak banyak gerak, jangan biarkan keluar kamar. Jika terjadi sesuatu itu tanggung jawab mu."
"Mas.. jangan berlebihan"
"Pokok nya kamu gak boleh banyak gerak!" ancam el
"Iya, tapi masa aku harus dikamar terus. Gak enak sama yang lain"
"Enggak akan, mereka pasti ngerti sayang" tutur el dengan suara lembut
"Ana, kamu harus tetap disini. mengawasi istri dan anak-anak ku" Suara el berubah tegas.
"Iya tuan"
El pun berangkat kerja, setelah afifah mencium punggung tangan nya. di ruang keluarga, byan dan caca sudah sersiap di depan laptop nya. Caca yang akan melakukan kuliah daring, sedangkan Byan juga mulai berkerja. Afifah sendiri duduk menikmati acara televisi yang membosankan di dalam kamar nya.
"Enak ya jadi Nyonya Elramdan, bisa santai seperti ini" ucap Lastri, ia tak peduli lagi walau disana ada Ana.
Ana menjadi kaget dengan ucapan Lastri, jika sebelum nya semua asisten rumah tangga Sanjaya tau kalau Lastri tak menyukai afifah, kini ana juga tau itu. Entah mengapa di hati ana ada rasa bahagia.
"Maaf ma, mas el gak mau aku banyak gerak. perut aku juga sakit"
"Alasan saja kamu, bilang aja males!" Lastri langsung pergi begitu saja.
Afifah menjadi sedih, sebisa mungkin ia menahan air mata nya agar tidak jatuh karena ada ana disana.
Ternyata, ibu nya pak el tak suka dengan afifah.
...****************...
Sore hari, beberapa warga sekitar datang.
Afifah yang orang asli desa pun tau, bahwa ini adalah tradisi disana.
Mereka membawa kado untuk baby Exel dan Alexa. Walau bukan barang mewah, hanya sekedar sabun cuci baju, bedak dan beberapa perlengkapan mandi bayi.
"Bu ibu kenapa repot sekali" Afifah duduk di sofa ruang tamu, menemui beberapa warga yang datang bersama-sama
"Gak repot neng afifah"
Tak lama, mira datang sambil mendorong Box bayi milik si twins. semua orang langsung berhambur melihat bayi twins afifah.
"Ini siapa ya fah? cantik sekali"
"Nama nya Mbak Mira bu, Istri kakak nya Pak el"
"Ohhh... ngomong-ngomong siapa nama nya ini fah?"
"Yang cewek nama nya Alexa, yang cowok Exel"
__ADS_1
"Nama nya kayak bule ya"
"Ya iyalah, pak el kan orang bule"
Tamu terus berdatangan, Semakin sore semakin banyak yang datang. Afifah jadi tak enak karena persiapan di rumah nya sangat kurang sekali, walau untuk hidangan sudah siap namun souvernir untuk di kasih ke para tamu belum ia siapkan.
"Bi sugiati, tolong catat semua nya ya. besok belikan Mangkok buat mereka"
"Iya fah, sudah aku catat semua nya"
Sanjaya sangat suka dengan suasana seperti ini, dimana sosialisme di lingkungan desa masih sangat tinggi. tapi tidak dengan Lastri, ia lebih memilih masuk kedalam kamar dari pada ikut bergabung bersama sanjaya dan byan yang ikut menyapa semua tamu.
Dasar orang desa!!!
Lastri sendiri sejak menjadi nyonya Sanjaya benar-benar lupa dengan asal usul nya, bagai kacang lupa pada kulit nya.
Tamu terus berdatangan, bahkan sudah satu minggu kemudian masih banyak yang datang. Bukan hanya tetangga dekat rumah El, tetangga afifah dulu juga datang, dan pasien Puskesmas dari desa lain nya juga datang.
"Alhamdulillah, rezeki baby twins" Ucap afifah saat melihat tumpukan hadiah yang di bawah orang-orang.
"Mau diapakan semua ini fah?" tanya El
"Kita bagikan sebagian kepada orang tidak mampu mas, sebagian lagi kita pakai sendiri"
"Tapi ini banyak sekali fah"
"Hmmm.. iya juga sih"
"Kenapa gak di barter dengan Mangkok fah" usul bi sugiati
"Mangkok? buat apa?" tanya El
"Buat souvenir mas, jadi kita juga harus kasih souvernir"
"Terserah kamu deh, kamu saja yang atur ya" ucap El
Afifah benar-benar lelah sekali, satu minggu menemui tamu yang datang terus menerus. tapi itu lebih baik, dengan begitu satu minggu ini Lastri tak mengomeli afifah. Suasana hati afifah jadi sesiki lebih tenang walau pun ia merasa lelah.
...----------------...
3 Ekor kambing untuk persiapan Aqiqah baby twin sudah siap. di dapur beberapa juru masak desa yang afifah panggil sudah siap mengolah nya, besok pagi adalah acara aqiqah baby twins nya.
Seperti biasanya, acara ini dilakukan dengan begitu mewah, dekorasi berwarna putih dengan kombinasi Biru dan merah muda menghiasi ruang tamu rumah El.
Zakir dan Hanan juga sudah bersiap membantu disana. tak terkecuali bibi dan sepupu afifah, Hilda.
"Bu, lihatlah semua nya sangat mewah sekali" iri Hilda
"Iya, berapa sih uang El itu"
Masih saja iri, dengki dan kepo.
"Kamu istirahat ya sayang, besok acara aqiqah baby twins kita. jadi hari ini kamu diam saja di kamar, jangan kerjakan apapun"
"Tapi di luar kan lagi repot mas"
Tak lama caca datang dengan manyun.
"kenapa?" aku mau disini saja. di kamar bau kambing aku mau muntah"
"laaa.. cocok! kamu rebahan saja disini. temani kakak ipar mu. jangan biarkan kakak ipar mu keluar kamar ya"
"Siap... "
Kalau masalah rebahan, Caca memang ratu nya. Jadi tak salah jika El meminta Caca untuk menemani afifah.
Lastri sendiri yang tau El sudah keluar dari kamar afifah, ia segera menghampiri afifah. namun langkah nya terhenti saat ia melihat caca juga ada disana.
"Kamu ngapain di sini ca?" tanya Lastri membuat caca dan afifah kaget.
Afifah menjadi was-was saat ia melihat lastri. ia masih ingat benar dengan kata-kata Lastri yang menyakitkan. Afifah mulai mempersiapkan diri untuk mendengarnya lagi.
"Di depan bau kambing. caca mau muntah ma, jadi caca pindah kesini"
Lastri mendengus kesal, ia langsung pergi dari sana.
Jika aku memarahi nya di depan caca, Dia pasti akan mengadu kepada El, apalagi afifah slalu menangis setelah aku mengomeli nya.
Hari ini, Afifah benar-benar merasakan kedamaian. Ia istirahat di dalam kamar, menonton televisi bersama caca tanpa ada gangguan dari Lastri. Caca benar-benar membuat Lastri tak bisa menganggu afifah, sudah beberapa kali Lastri kembali melihat kamar afifah, namun nyata nya Caca masih ada disana, bahkan sepanjang hari ia disana.
"Sudah sana pergi, jangan tidur di sini" Usir El
"Biarkan aku tidur disini kak, di luar bau kambing!" kesal caca, karena El mengusir nya, padahal sejak tadi ia sudah berjasa menemani afifah
"Jangan tidur disini, tidur saja sama papa dan mama"
"Gak mau, mama kalau tidur ngorok!"
"Kakak juga kalau tidur sambil pelukan, kamu masih belum cukup umur untuk melihat nya" El sengaja menggoda adik nya itu
"Kakak menyebalkan sekali sih!" caca dengan kesal pergi dari sana, el tertawa melihat mimik wajah kesal adik nya itu.
"Kasian caca mas, kenapa gak boleh tidur disini"
"Gak boleh, aku kangen banget sama kamu fah" El memposisikan diri nya senyaman mungkin, lalu ia membawa afifah kedalam peukan nya "masa iya aku ciumin sama peluk kamu kayak gini di depan caca" El menciumi pipi, hidung, kening dan bibir afifah.
"Sudah aaa mas, ihhhh" afifah mendorong tubuh El
"Kenapa? lagian kan lagi nifas akan akan macem-macem"
"Gak mau, aku capek mau tidur"
"Jangan alasan deh fah, cuma cium cium saja" El terus menciumi afifah
__ADS_1
"Mas... geli, sudah hentikan hahaha"
Suara tawa afifah berhasil membuat orang yang berada di luar mendengar nya.
Ana, kesal mendengar nya.
"Kamu mau ngintip ya" tegur Lastri
"Tidak nyonya, saya mau menyusui si kembar" Ana memperlihatkan botol berisi susu yang ia pegang.
"Lalu kenapa gak masuk?"
"Ada tuan El di dalam"
Lastri mendengus kesal, saat ia mendengar suara afifah dan El tertawa juga.
"Kembalilah 15 menit lagi, jangan lupa ketuk dulu pintu nya nanti" titah Lastri
Ana pun meninggalkan Lastri disana yang masih menguping El dan afifah.
"Hentikan fah, hahaha... geli tau"
"Biarin, bilang ampun dulu"
"Berani ya kamu, hahahahah"
suara tawa El dan Afifah yang seperti nya sedang bercanda di dalam kamar berhasil membuat Lastri kesal.
Suara tawa afifah benar-benar membuatku sakit hati, dia bisa tertawa begitu lepas, ini pasti karena aku tak mengomeli nya seminggu ini.
Lastri dengan kesal meninggalkan kamar El, ia kembali ke kamar nya dan ia melihat caca sudah tidur.
"Caca, kanapa tidur disini?"
"Biarin saja ma, katanya di kamar nya bau kambing"
karena kamar caca berada di depan, jadi wajar saja jika bau kambing.
disisi lain, Ana sedang mengetuk pintu kamar El. El dan afifah yang belum tidur pun mempersilahkan ana untuk masuk.
"Maaf tuan dan nyonya" ucap ana
"Iya tak apa-apa" jawab El.
Afifah dan El melanjutkan menonton televisi tanpa menghiraukan Ana disana. Ana sendiri sesekali melirik El dan afifah yang tengah berpelukan.
"Kalau pandemi sudah selsai, kita ke Paris yuk"
"Ngapain?" tanya afifah
"Ya liburan sayang, melihat menara effel aku jadi kangen suasana nya"
"Hmmm.. oke, tapi exel sama Alexa di ajak kan mas?"
"Ya iyalah, sekalian berkunjung ke rumah paman"
"Aku dengar Perusahaan kamu yang di New York juga ada masalah ya mas?"
Ana yang mendengar nya pun menjadi semakin yakin, bahwa majikan nya itu bukan orang biasa. Walau sudah diketahui banyak orang, bahwa El adalah cucu Konglomerat kaya bukan hanya di dalam negeri, tapi aset di luar negeri nya juga banyak. namun semua itu tak membuat nyali ana menciut, tapi sepertinya ambisi ana semakin besar.
"Iya, kamu gak usah pikirkan itu ya sayang. Masalah nya kecil kok"
"Kamu gak kesana mas?"
"Tidak, mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian disini sayang"
"Memangnya kenapa aku, aku bisa kok jaga diriku mas"
"enggak, aku harus tetap mengawasi, menjaga, dan merawat mu sayang. Aku gak tenang jika meninggalkan mu jauh"
Afifah menatap El, lalu El mencium bibir afifah dengan lembut, tanpa memperdulikan ana.
"Mass" afifah melepaskan ciuman nya, ia sangat tak enak dengan ana
"Kenapa?"
afifah melirik ana, El tersenyum "Biarin, memang sengaja" El tersenyum licik
"dasar kamu ya" afifah memeluk El, entah mengapa senyuman El membuat nya gemas.
"Tidur yuk" ajak El
Afifah pun mengangguk, lalu El membawa afifah kedalam pelukan nya, mengelus puncak kepala nya dan gak lupa mengecup kening afifah.
Ana melihat nya, ia sangat iri sekali. Walau teekesan tak sopan bermesraan di depan orang. Namun seperti nya El nyaman-nyaman saja, padahal sebelum nya El bukan tipe laki-laki yang suka menebar kemesraan di depan umum.
Alhamdulilah, bisa update
Terima kasih atas dukungan kalian, dan setia membaca kisah ini.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.
.
.
.
.
.
FOLOW AKUN INSTAGRAM AUTHOR @ISMANIYAH._
__ADS_1
.
DM JIKA MAU DI FOLLBACK ❤❤