Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
24 Jam


__ADS_3

"Exel" Zakir teriak memanggil nama keponakan nya itu sambil menaiki tangga.


Exel yang masih berada di alam mimpi pun tak mendengar nya. Tapi saat teriakan itu semakin keras, menembus gendang telinga. Exel pun harus meninggalkan alam mimpi nya dan kembali ke alam nyata.


"Astaga paman, aku masih capek dan ngantuk sekali" Exel semakin mengeratkan pelukan nya dengan guling.


"Xel, scandal ini ada hubungan nya dengan keluarga kekasihmu. Sabrina"


Mendengar nama sang pujaan hati, Exel langsung segar bugar dan duduk menatap Zakir. Zakir sendiri langsung berdiri, menghampiri sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidur Exel, dan duduk di atas nya.


Flashback On


Satu minggu yang lalu, setelah panen raya. Sawah yang sudah di beli oleh Exel pun di beri tanda. Lalu, Zakir membuat pembatas pagar bambu di sawah Exel sesuai dengan perintah Exel.


Pagar pun di bangun, tapi karena beberapa sawah milik Exel tersebut ada yang di samping pondok pesantren milik keluarga Sabrina, membuat mereka menjadi bertanya-tanya, kenapa di pagari seperti itu.


Ustad Amir pun di utus untuk menanyakan langsung hal tersebut kepada Zakir. Zakir pun menceritakan, bahwa ia ini adalah bisnis baru Exel. Sawah seluas kurang lebih dua hektar tersebut sudah menjadi milik Exel.


"Tapi di samping pesantren ada tanah milik pak sarmin. Pihak pesantren sudah membayar nya sepuluh juga untuk tanda jadi saja. Sisa nya akan di bayarkan tiga bulan lagi"


"Tapi, tiga petak sawah pak sarmin sudah beres di beli oleh Exel, Ustadz" Jawab Zakir


"Hah? benarkah Zakir. Demi Allah, saya sendiri yang datang memberikan uang nya kepada pak sarmin setelah beliau bernegosiasi dengan mas saya"


"Saya tidak tau Ustadz Amir. Ustadz bisa tanyakan langsung kepada Pak sarmin"


Ternyata sebenar nya, pak sarmin sudah mengembalikan uang sepuluh juta milik pesantren. Ustadz Amir tak tau masalah itu. Namun Kyai Jalil, ayah Adam tidak memberitahu ustadz Amir. ia masih ingin menanyakan hal yang sebenar nya. Ustadz Amir pun menyampaikan informasi kepada Kyai Jalil tentang pabrik Exel. Sedangkan Zakir, langsung pergi ke rumah pak Sarmin untuk menanyakan kejelasan perihal tersebut.


"Saya sudah mengembalikan uang nya, pak Zakir. Saya juga sudah menjelaskan nya"


"Kenapa bapak tidak mengatakan, bahwa mereka sudah memberi bapak DP?"


"Sebelum di beli oleh Pak Exel. Saya sudah pergi ke sana, saya menagih sisa uang nya karena saya sangat butuh sekali uang tersebut buat daftar kuliah anak saya dan modal menanam cabai. Panen sekarang, tanaman cabai saya merugi, itulah sebab nya saya langsung mengembalikan DP mereka dan aku jual tanah tersebut ke Pak Exel"

__ADS_1


"Yasudah, Pak. Ini bukan lagi urusan bapak. Karena tanah tersebut sudah berpindah hak milik Keponakan saya, Exel"


"Iya, pak Zakir. Ngoming-ngomong, kalau boleh saya tau. Kenapa menanyakan perihal ini?"


"Tidak pak, tidak ada apapun. Saya permisi kalau seperti itu"


Zakir pun pulang ke rumah, dan di rumah nya ternyata ada Kyai Jalil dan Adam menunggu nya. Zakir pun kaget, ia tak menyangka bahwa mereka menginjakan kaki di rumah nya. Rumah yang sejak dulu di ia tempati, rumah sederhana yang hanya ada toko kecil di depan nya hingga menjadi rumah minimalis dan toko bangunan yang besar.


"Ada apa ya pak Kyai datang ke rumah saya? Tumben sekali" Ucap Zakir terus terang. Sebenar nya, ia masih sedikit jengkel dengan keluarga mereka. Kejadian dulu, di saat nama Afifah menjadi hancur sehancur -hancur nya, ternyata masih memberikan luka di hati nya. Apalagi sejak kejadian tersebut, mereka bersikap acuh kepada keluarga Afifah. Mereka sejenak di kucilkan, namun El langsung mengangkat derajat Afifah dan keluarga. Mungkin itu balasan untuk orang-orang yang sabar menghadapi ujian dari Allah.


"Begini, kir. Tanah milik pak sarmin rencana nya untuk Kelas Hafal Al-Quran yang akan di rintis oleh Adam."


Zakir melirik Adam yang duduk di samping Kyai Jalal. Ia teringat kejadian kemarin, waktu keponakan cantik nya di tolak mentah-mentah oleh mereka. Bukan salah Adam, laki-laki tua yang bergelar Kyai inilah yang menolak Alexa. Dan sekarang, dia datang dengan baik-baik karena ada butuh nya.


(NOTE : MOHON TIDAK BAPER, AUTHOR TIDAK MEMBERIKAN PANDANGAN BURUK ATAU PEMBUNUHAN KARAKTER SEORANG 'KYAI' MOHON DI MENGERTI, NEXT NANTI AKAN ADA PENJELASAN ATAU SUDUT PANDANG DARI KELUARGA ADAM. JADI IKUTI ALURNYA DULU YA GAES. IKUTI EMOSI YANG AUTHOR CIPTAKAN DULU. TAPI JANGAN SAMPAI BEPER! NANTI AUTHOR DI BULLY LAGI KALAU GAK DI JELASKAN GINI)


"Calon santri penghafal Al Quran sudah ada banyak, bahkan rencana bulan depan mulai pembangunan. Tapi masalah nya, tanah itu tiba-tiba sudah di beli Oleh pak Zakir"


"Lalu?"


Adam masih diam, ia sebenar nya malu sekali datang ke sini. Walau adam tak tau bahwa Zakir sudah mengetahui segala nya.


"Tanah tersebut milik Exel, saudara kembar nya Alexa, Keponakan saya."


Kini ekspresi mereka berdua keget.


"Jadi seperti ini, pak Zakir" Adam mulai berbicara "Jika tidak keberatan, pak Zakir bisa menyampaikan kepada Kak Exel. Saya ingin membeli nya tiga petak saja buat rumah hafidz tersebut"


Kyak Jalil melihat Adam, yang menyebut Exel dengan panggilan 'kak'


"Pak Zakir bisa sampaikan dulu kepada Kak Exel, atau pak Zakir bisa menyampaikan bahwa saya ingin bertemu dengan kak Exel perihal tersebut. Saya mohon dengan sangat untuk membantu saya, insyallah pak Zakir akan mendapatkan pahala juga jika membatu nya"


Zakir diam, ia tentu tak punya hak untuk memutuskan hal ini. Masyarakat desa, sangat menghormati keluarga Kyai Jalil. Zakir takut, jika sampai Exel menolak mentah-mentah hal ini, masyarakat akan memandang keluarga mereka buruk lagi.

__ADS_1


Flashback Off


"Seharusnya paman langsung menolak nya, jika ada aku di sana. Sudah aku remas mulut di Adam"


"Jangan salahkan Adam, Xel. Dia tidak salah. Nama nya juga keluarga Kyai, pasti cari yang dari kalangan Kyai atau Ustadz gitu"


"Huh, dia saja cemen. Kalau beneran cinta sama Alexa dia bisa kabur dari rumah nya. Dalam Islam, Laki-laki tak butuh wali untuk menikah. Dan aku sudah bilang kepada nya, aku akan memberikan banyak uang untuk biaya melamar Alexa." Exel yang masih duduk di atas kasur pun mengomel panjang lebar, luka lama nya seperti tergores kembali mengingat bagaimana terpuruk nya Alexa.


"Apa mantan nya mommy itu juga ikut-ikutan? Siapa na nya? aku lupa" Tanya Exel


"Ssssttt.. " Zakir melotot kepada Exel "Jangan keras-keras membahas ini, nanti papa mu dengar bisa-bisa dia marah"


"Huh, merepotkan sekali sih" Exel beranjak berdiri, ia membuka kelambu kamar nya agar cahaya matahari masuk dan menerangi kamar nya.


"Dia tak ikut-ikutan. Jadi Aman lah calon menantu nya ini"


Mendengar kata menantu, Exel pun mengerti maksud nya. Ia teringat ada Sabrina di sana. Jika ia terlalu keras menghadapi mereka, sudah pasti jalan nya untuk menjadikan Sabrina istri akan menjadi buntu.


"Xel, jadi gimana? Kau mau menjual nya atau tidak?"


Exel diam saja sampai Zakir menghampiri nya dan membuyarkan lamunan nya.


"Bagaiman?" Zakir menatap Exel sambil menaik turunkan Alis nya


"Beri aku waktu dua puluh empat jam untuk berpikir, paman" Jawab Exel masih dengan tatapan kosong. "Besok atau lusa, masalah ini aku akan membereskan nya."


"Jadi, paman gak usah bantu apapun ini?"


"Hanya satu, jangan sampai mereka datang ke sini. Kalau mereka datang ke rumah paman, bilang saja aku masih sibuk, jadi paman belum bisa membahas nya dengan ku"


"Baiklah, paman pergi dulu" Zakir melihat jam di pergelangan tangan nya "Ini sudah terlambat, paman mau memantau pekerja pemasang pagar"


Zakir sudah pergi dari sana, Exel juga langsung membersihkan badan nya dan turun untuk sarapan. Karena ini hari minggu, semua orang ada di rumah. Melihat Alexa dan Reihan yang merakit peralatan bayi, membuat Exel iri. Ia ingin sekali mempunyai istri, tapi Exel langsung teringat sesuatu. Ada satu hal yang ia takutkan, masalah T***T nya belum selesai, ia belum mencoba nya lagi. Mudah-mudahan saja akan normal saat bertemu Sabrina. Kalau tidak, kelar hidup Exel.

__ADS_1


__ADS_2