
"dokter el?" lirih zakir
"ada afifah kir?" suara El terasa ragu
"ohh.. ada pak, silahkan masuk" gugup zakir, mempersilahkan El masuk
setelah El duduk, afifah juga langsung keluar dari dalam.
"ada apa dok?" tanya afifah setelah duduk di depan El. jantung nya berdetak kencang. tentu ini yang pertama kali nya.
"Fah, aku ingin bertemu dengan ibumu" El merubah pikiran nya untuk bicara langsung kepada afifah. ia takut di tolak lagi. sungguh memalukan.
"katanya mau bicara kepadaku, sekarang sama ibu" kesal afifah.
"aku ingin bicara berdua dengan ibu" tambah El
afifah pun beranjak, lalu masuk ke dalam rumah.
"ibu kedepan saja, biar aku yang buatkan munimuan" tanpa menjawab bu zainab pun keluar menemui El.
"bu, saya sungguh tidak pandai ber kata-kata. saya mau langsung maksud kedatangan saya" setelah bae dikit berbasa-basi dengan bu zainab.
"ada apa nak? katakan lah jangan ragu"
"sebelum nya saya ingin mengatakan sesuatu, banyak orang yang mengatakan bahwa aku sama afifah berpacaran. saya tekan kan itu tidak benar"
"namun, aku mempunyai niat baik kepada afifah. kedatangan saya kesini untuk melamar afifah dan menjadikan nya istri saya"
deg... jantung bu zainab langsung berdetak dengan kencang, walau bukan pertama kalinya orang datang melamar afifah.
"aku tau, dan yakin bahwa kita belum saling mencintai. tapi saya akan mencoba nya bu. saya akan menerima afifah menjadi istri saya."
"saya tidak peduli dengan omongan banyak orang sebelum-sebelum nya. aku yakin afifah gadis baik-baik"
bu zainab tiba-tiba meneteskan air mata.
"Saya Terima lamaran mu nak." ucap bu zainab
"Terima kasih bu" El meraih tangan bu zainab dan mencium nya
"tapi afifah bu... "
"jangan pikirkan dia, biar ibu yang bicarakan."
"yasudah, saya pamit pulang bulu bu. sudah malam tidak enak. untuk rencana kedepan nya, saya akan ke sini lagi untuk membicarakan nya"
"iya nak, besok jangan beli makan lagi ya. biar zakir yang akan antarkan makanan"
El tersenyum "Terima kasih bu"
El pun melangkah kan kaki nya pulang, kini masalah nya sudah selesai. saat berada di dalam perjalanan, handphone El berbunyi, ia melihat layar ponsel nya tertera nama Prima.
El menepikan mobil nya, lalu menggeser tombol berwarna hijau yang tertera di layar ponsel nya.
"ada apa prim?" tanya El langsung
....
"Oke baiklah, apa kamu sekarang bersama santi?"
...
"iya, aku mau bicara kepadanya"
...
__ADS_1
"San, kamu pernah bilang buka usaha baju gitu kan?"
...
"aku bawakan baju muslim sekalian hijab nya. sebanyak mungkin. yang kekinian"
...
"baju tidur dan baju untuk dirumah. kamu atur saja. ukuran nya sama seperti ukuran caca. kamu kira-kira saja"
...
"oke, aku tunggu"
....
tut tut tut
El pun melakukan kembali mobil nya, ia ingin segera sampai ke rumah agar segera tidur beristirahat.
disisi lain, bu zainab dan afifah sedang duduk menunduk, sambil menangis.
"dia sangat baik fah, di bilang sama ibu kalau belum mencintai mu, namun dia akan mencoba dan akan menerima mu"
afifah semakin terisak, ia tau benar bahwa dokter El hanya ingin menikah dengan nya untuk waktu satu tahun.
"jika kamu masih menolak nya. lebih baik ibu mati saja. ibu capek, slama ini sudah menuruti semua keinginan mu. tapi kali ini tidak" bu zainab sangat marah kepada afifah karena tadi afifah menolak keras untuk menikah dengan El
"sudah malam, tidurlah" bu zainab meninggalkan afifah duduk sendirian di atas karpet bulu di ruang tengah.
"Mbak.. " panggil zakir, afifah pun memeluk nya dan menangis.
"zakir percaya sama dokter El, daripada ustadz amir atau mas Adi mbak." ucap zakir, ia lalu melepas pelukan nya dan beranjak masuk kedalam kamar nya.
afifah pun ikut masuk kedalam kamar nya, ia menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. ia ingin menikah sekali seumur hidupnya, ingin menikah dengan penuh cinta, ia tak mau kisah rumah tangga nya sama seperti novel yang sering ia baca, diamana pernikahan kontrak dijalan kan, walau pada akhirnya sering berakhir bahagia.
**
"Antar kan ke rumah dokter El ya kir." ucap bu zainab
"iya bu, zakir berangkat ya. assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab bu zainab dan afifah.
"Buu" panggil afifah, namun bu zainab tak menghiraukan nya
"maafkan afifah bu, afifah cuma gak mau karena dokter El itu non muslim"
"namun jangan mencari alasan fah, namanya El Ramdan Ghifari Sanjaya, nama nya saja sudah menunjukkan kalau dia islam"
"bu.. sudahlah. kalau kau masih tidak mau ibu akan pergi dari rumah ini sekarang juga" bu zainab benar-benar marah
"afifah mau bu, mau.. ridho ibu adalah ridho Nya Allah. afifah akan pasrah dan menerima nya."
bu zainab tersenyum, namun segera ia hapus senyum itu dan berpura-pura masih marah "baiklah, cepat masak buat nanti makan siang dokter El. mulai sekarang tidak usah bekerja di kebun pak lek mu lagi. nanti ibu akan bicara kepada pak lek mu"
afifah mengangguk, ia tak mempunyai keberanian untuk sekedar menjawab ibu nya.
afifah pun segera memasak semua bahan yang tadi pagi ibu nya beli di tukang sayur. mengolah semua sayur dan lauk menjadi hidangan yang sangat menggoda cacing-cacing di perut.
setelah memasak, afifah membersihkan rumah nya. rumah berukuran 6x9 dengan model sederhana itu slalu tampak bersih dan rapi.
jam 11 siang, afifah sudah bersiap-siap hendak pergi ke puskesmas. motor matic butut afifah memecah jalanan desa yang tak terlalu ramai, ia melakukan motornya dengan perlahan. sesampai nya di parkiran puskesmas, jantung afifah berdetak tak karuan. ia sangat malu sekali hanya sekedar masuk, walaupun afifah sudah kenal dengan semua penghuni pekesmas, namun rasanya semua terasa asing.
dengan langkah yakin, afifah masuk melalui pintu samping. ia langsung menuju ruangan dokter El. dan kebetulan sekali andi juga mau masuk kesana.
__ADS_1
"masuklah fah, tadi pak El sudah pesen kalau kamu suruh nunggu di dalam"
afifah hanya mengangguk tanpa bersuara. setelah duduk di sofa, andi meninggalkan afifah di sana sendirian. afifah sendiri langsung sibuk menata makanan di atas meja.
setelah 30 menit, el masuk bersama andi.
"kenapa gak andi saja yang ngambil?" tanya El sambil mencuci tangan nya di wastafel yang terletak di sudut ruangan nya.
"gakpapa pak, sekalian ada yang mau saya bicarakan" ucap afifah
"cie cie, masih panggil pak. kenapa gak sayang, beb apa gitu hahah" goda andi
El pun melotot ke andi "maaf Pak, bercanda. heheh" afifah pun ikut tertawa, merasa bahwa kedua orang di depan nya ini sama-sama sangat lucu. dan sejenak bisa membuat jantung nya kembali normal.
El pun duduk di sofa setelah melepas jas putih nya "kamu keluarlah ndi, beli lah makanan di luar" ucap El
"ehhh.. jangan, ini aku juga bawa porsi 2 orang" cegah afifah. andi yang sudah berdiri kembali duduk sambil tersenyum sumringah.
setelah afifah mengambilkan nya untuk andi, andi pun keluar. tentu saja semua orang langsung mengerubungi andi dan bertanya banyak hal seperti wartawan.
"sudahlah, tunggu saja undangan pernikahan pak El. kalau aku cerita sekarang dan ketahuan bergosip. bisa-bisa gajiku dipotong" ucap andi. andi sudah mengetahui semua nya. sengaja El bercerita agar andi tau. sekalipun bocor itu tak masalah.
kembali ke ruangan El, disana suasana masih hening, hanya suara gulatan sendok dan garpu di atas piring. jantung afifah juga kembali berdetak kencang saat andi meninggalkan nya berdua di dalam ruangan El yang tertutup.
"Pak, saya mau tanya sesuatu"
"hemmm" jawab El tanpa menghentikan aktifitas makan nya
"bapak islam kan?"
deg... El menatap afifah, sisa makanan di dalam mulutnya langsung ia telan.
"Di KTP islam. cuma aku sering ikut nenek ke geraja" jawab El
"aku ingin bapak kembali bersyahadat. aku ingin menikah dengan lelaki muslim pak"
"hmm.. kamu jangan pikirkan itu, aku akan segera kembali bersyahadat" El sangat tau, kini saat nya ia kembali ke agama nya. sudah sangat lama ia lupa dan jauh dari agama. hati nya teketuk oleh afifah. jika Allah sudah menurunkan hidayah, siapapun bisa berubah.
"ini nomorku, kamu bisa menghubungiku" El memberikan sebuah kertas kepada afifah "ingat, jangan kasih nomorku ku siapapun" ucapan El sangat menekan
"hmm .. baiklah" afifah mulai membersihkan tantang sisa makanan El.
suasana sejenak menjadi hening.
setelah El mencuci tangan nya, ia kembali duduk di sofa. lalu meletakan uang pecahan seratus ribu di meja.
"ambilah"
"buat apa pak? itu banyak sekali jika bapak ingin saya kirimkan makanan setiap hari"
El tersenyum "besok beli lah bahan makanan yang banyak untuk stok sampai hari minggu. besok sore ada temanku mau datang kesini. kamu bisa kan masak di rumahku"
afifah terdiam "tapi pak... "
"nanti aku akan ke rumah mu. minta izin ke ibu kamu"
"eehhh.. gak usah. nanti aku saja yang sampaikan gakpapa."
"yasudah ambil uang nya" ucap El sedikit keras sehingga afifah kaget
afifah ingin sekali menanyakan perihal pernikahan nya. namun ia tak seberani itu untuk sekedar menatap El.
sejauh ini, hubungan El dan afifah masih terbilang kaku dan canggung. entah bagaimana akhirnya, yang terpenting bagi El saat ini adalah bebas dari ancaman papa nya. dan afifah harus ikhlas menerima nya, bagaimanapun akhir kisah nya, yang terpenting saat ini ia harus melewatinya dengan sabar.
***
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak