
Adegan panas baru saja selesai, seperti biasanya Sabrina slalu kalah dengan Exel. Dua jam cukup untuk Exel membuat Sabrina menangis ampun.
Kini Sabrina memiringkan tubuh nya ke kiri, sungguh ia lelah sekali. Badan nya juga sangat sakit karena Exel mengangkat nya dan membolak-balikan badan nya.
"Mas, ini jam berapa?"
"Jam lima, sayang. Kenapa?"
"Astaghfirullah" Sabrina langsung bangun, seketika ia sangat kaget sekali "Aku belum sholat ashar mas, apalagi sebentar lagi... "
"Sudah diam, dulu. Masih ada satu jam, cukup untuk satu celup"
"Lihat ini dulu, kamu jangan panik" Exel menarik tangan Sabrina, sehingga Sabrina terjatuh di dada nya.
"Lihat ini, Waktu asar masih satu jam lagi"
Mata Sabrina terbelalak "Asar nya jam setengah tujuh?"
"Iya sayang, sudahlah jangan panik"
"Lalu isya nya?"
"Nanti mas pasang kan aplikasi nya di ponsel mu, Kalau waktu sholat nanti ada Adzan nya. Di sini gak ada Adzan, jadi gak usah bingung kalau sholat" Ucap Exel sambil meletakan ponsel nya di atas Nakas.
__ADS_1
"Sudah sini peluk dulu" Exel menarik Sabrina dan langsung memeluk nya. Untuk kelanjutan nya bisa di pikirkan sendiri, dan maklumi saja pengantin baru apalagi Exel sudah sangat lama sekali menahan nya.
"Nikmat sekali, sayang" Ucap Exel sambil mengecup kening Sabrina. Nafas nya ngos-ngosan
Sabrina masih bingung dan sulit sekali menyesuaikan jadwal sholat yang begitu sangat malam sekali. dua minggu membuat Sabrina harus beradaptasi dengan waktu. Kurang tidur, capek pekerjaan rumah belum lagi Exel slalu menghajar nya setiap hari tampa terlewat.
Akhir nya, di minggu ketiga Sabrina sakit. Badan nya demam belum lagi hawa dingin yang sekarang di rasakan semua warga prancis.
"Ayo pakai mantel nya. Kita ke dokter" Exel membantu Sabrina memakai serangkaian baju hangat. Mulai dari kaos, lalu pake leging tebal, lalu memakai gamis, yang terakhir Jaket panjang sampai di bawa lutut. Tak lupa sepatu boot juga di pakai.
Hari ini suhu mencapai minus dua derajat, salju juga belum turun. Jika sudah turun maka semakin dingin pula cuacanya.
Setelah mengantri, Sabrina pun masuk. Dokter wanita. berbincang dengan Exel, karena Sabrina tidak bisa bahasa Perancis jadi dia diam saja.
"Mas, kata dokter aku kenapa?"
Sabrina mengangguk-angguk tanda paham. Setalah dari dokter, mereka mampir ke sebuah restoran halal. Exel membeli beberapa makanan untuk di makan malam ini.
"Mas libur dua hari, jadi kamu gak usah masak. Sementara kita beli saja dulu"
"Tapi gak enak, mas. Sabrina suka masak sendiri"
"Kali ini jangan bantah, mas!" Exel mengatakan nya dengan nada sedikit tinggi, membuat Sabrina takut. Ini adalah pertama kali nya Exel kasar kepada nya kecuali di ranjang. Mata Sabrina langsung berkaca-kaca, namun ia tahan agar buliran air mata itu tidak sampai terjatuh.
__ADS_1
Setelah memarkir mobil di besment, Sabrina berjalan di belakang Exel menuju ke apartemen mereka. Suasana sedih masih menyelimuti hati Sabrina, pasca bentakan Exel.
"Kamu duduk, biar aku yang siapin makan" Baru saja masuk ke rumah, Exel langsung memerintahkan Sabrina untuk duduk. Sedangkan dia sibuk mengeluarkan makanan yang tadi ia beli.
"Makan yang banyak kata dokter. Jadi semua ini habiskan!"
Exel seperti emak-emak yang memarahi anak nya karena sulit sekali makan.
"Ini obat nya, setelah makan langsung minum. Ini ada vitamin nya juga"
Sabrina masih diam, dia seperti seorang anak nakal yang sedang di marahi orang tua nya.
"Mas, Sabrina kenyang. Ini tinggal sedikit lagi, boleh kah Sabrina menyudahi nya"
Exel melirik piring makan Sabrina, lalu ia melihat Sabrina. Wanita yang sangat ia cintai itu sungguh terlihat begitu melas sekali, membuat Exel tak tega
"Baiklah, sekarang minum obat nya"
Sabrina mengangguk pasrah. Ia mengambil dua butir obat lalu menelan nya bergantian.
"Sekarang langsung istirahat, ayo" Exel meununtun Sabrina ke tempat tidur, entah ini nama nya merawat, atau bucin atau posesif atau... ah kalian simpulkan sendiri.
Exel sebenar nya ingin memeluk nya dan memanjakan nya, tapi jika ia melakukan nya. Sabrina pasti akan manja dan sulit sekali di atur. Untuk itulah Exel mau tak mau memperlakukan Sabrina tegas.
__ADS_1
Namun, saat Sabrina sudah terlelap. Exel memeluk nya, menciumi puncak kepala nya seolah ia telah melakukan kesalahan.
...****************...