Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Darah


__ADS_3

Kini Exel sudah berada di kamar nya, ia duduk di atas kasur sambil bertelanjang dada. Rasa nya ia sudah sangat siap sekali bertempur.


Sudah lima menit, namun Sabrina tak kunjung keluar dari kamar mandi. Bukan Sabrina yang lama, Exel saja yang tidak sabaran.


Ceklek


Sabrina keluar dengan memakai handuk kimono milik nya, dengan melingkarkan handuk di rambut nya sehingga terlihat semakin sexy. Apalagi leher putih mulus milik Sabrina terekpose jelas di tambah Wangi sabun milik nya kini masuk ke dalam hidung sehingga jiwa kelelakian nya tidak bisa di tahan lagi. Tidak lagi, dan harus di tuntas kan dengan segera, apalagi waktu nya tak banyak.


Exel langsung meloncat dari atas kasur, ia berlari menghampiri Sabrina yang masih sibuk membereskan koper nya.


"Udah biarin, sayang. Sini" Exel menarik Sabrina menuju ke ranjang. Jantung Sabrina langsung berdetak kencang. Ia tentu tau apa maksud Exel.


"Mas, aku ganti baju dulu?"


"Tidak usah, sudah diam lah" Ucap Exel.


Sabrina langsung diam menutup mulut nya, lalu Exel tersenyum karena Sabrina begitu sangat penurut.


"Sayang" kini suara Exel sudah berubah "Kamu tau kan apa yang mas inginkan?"


Tiba-tiba saja wajah Sabrina terasa panas, ia juga malu dengan tatapan Exel.


"Mas sudah menahan nya lima tahun, sayang. Dan sebelum tiga hari kita di pisahkan, mas ingin sekali melakukan nya" bisik nya di telinga Sabrina, membuat Sabrina merinding karena deru nafas Exel yang sangat panas sekali.


"Boleh?" Tanya Exel sambil menatap manik mata Sabrina dengan penuh permohonan.


"Tentu saja boleh, mas. Cuma.. "


"Mas tau, mas akan melakukan nya sangat pelan sekali. Percayalah"


"Ihh... Bukan itu" Kesal Sabrina sambil menepuk paha Exel sedikit keras, namun Exel tak merasakan apapun. "Makanya dengerin dulu" Omel Sabrina dengan nada manja


"Mas sudah gak tahan sayang" Ucap Exel gemas


"Matikan dulu lampu nya, lalu kunci pintu nya, dan tutup semua kelambu nya"


"Astaga, aku lupa. Bisa-bisa Alexa mengintip ku" Omel Exel sambil melangkah menuju ke jendela kaca besar untuk menutup kelambu. Setelah itu, ia mengunci pintu nya dan terakhir ia menekan saklar agar lampu mati. Setelah itu, ia berjalan sambil menatap mesum Sabrina yang masih duduk di tepi ranjang. Dan Sabrina hanya bisa malu-malu saja.


Setelah Exel duduk di samping Sabrina, ia menarik dengan pelan namun pasti tali yang mengikat jubah mandi di perut Sabrina. Tali itu terlepas, sehingga jubah mandi di bagian dada nya itu kini beringsut turun, menampilkan sebuah belahan dada.


Sabrina memejamkan mata nya dengan sangat erat, ia sungguh sangat malu dengan semua ini, tapi Sabrina tak mau mencegah Exel.


perlahan, tangan kekar milik Exel mulai menarik jubah tersebut agar terlepas dari tubuh Sabrina. Badan Sabrina langsung merinding dan otomatis dia langsung menyilangkan tangan nya di dada nya.


"Jangan di tutupi sayang, mas pengen lihat" Suara Exel parau, ia menarik tangan Sabrina.


"Jangan takut, tatap mas, Sabrina" Exel mengangkat dagu Sabrina agar mendongak "Buka mata kamu, sayang."


Perlahan Sabrina membuka mata nya, sejenak mereka saling memandang. Tapi di detik ketiga, Exel langsung menyerang bibir Sabrina dengan sangat kasar. Mungkin Exel sudah tidak bisa menahan nya, jadi mohon maklum pemirsa.


Ciuman Exel semakin dalam, bahkan kini Sabrina sudah terlentang di atas kasur dan Exel berada di atas tubuh nya.


"Hah.. hah.. hah.. " Sabrina ngos-ngosan, saat Exel baru saja melepas ciuman nya, bukan melepas, lebih tepat nya ciuman Exel berpindah. Kini bibir Exel ada di leher Sabrina.


"Ahhhh... " Teriak Sabrina saat Exel dengan sangat kuat menyesap leher nya. (Baru saja mau menulis dan memeriksa nya, Sabrina sudah teriak.)


Tapi teriakan itu tak membuat Exel berhenti, tapi ia kini berpindah ke sebuah gundukan kecil di dada Sabrina. walau kecil, tapi cukuplah di genggaman Exel. Kedua tangan Exel meremas nya dengan gemas, sedangkan bibir nya menelusuri purut Sabrina.

__ADS_1


"Mas, sakit" Sabrina mencoba menyingkirkan tangan Exel yang berada di gunung kembar nya.


Exel pun menghentikan remasan nya, namun bukan berarti berhenti menyerang. Kini berganti bibirnya mengecup puncak gundukan tersebut. Exel memainkan lidah nya, lalu menyesap nya. Sehingga membuat sekujur tubuh Sabrina meremang, Exel terus memainkan nya tanpa ampun, apalagi tubuh Sabrina menggeliat seperti cacing kepanasan.


Exel sudah tidak tahan lagi, cukup sudah dengan pemanasan nya. Namun, sebelum mengambil sebuah mahkota berharga milik istri nya. Ia ingin sekali menikmati nya dengan menggunakan lidah nya.


"Mas, jangan" Cegah Sabrina sambil menutupi area terlarang nya. Karena wajah Exel sudah di depan area terlarang Sabrina.


"Jangan cegah, mas sayang. Please"


Exel memindahkan tangan Sabrina ke atas kepala nya, lalu tanpa menunggu apapun bibirnya langsung menelusup ke area tersebut. Tanpa rasa jijik Exel langsung menyesap semua cairan milik Sabrina yang terasa sangat manis itu. Dengan lihai, Exel juga memasukan lidah nya. Membuat tubuh Sabrina semakin panas.


"Mas, hentikan" Sabrina meremas rambut Exel, bibir bawah nya juga ia gigit untuk menahan sesuatu yang seperti nya ingin sekali meledak.


"Mas.. " panggil Sabrina dengan dada membusung, dahi berkeringat dan mata tertutup.


"Aaaahhh" Seketika sekujur tubuh Sabrina melemah.


Exel pun duduk, ia tersenyum penuh kemenangan. Dia sungguh sangat lah ahli urusan beginian. Bahkan buat Sabrina yang pemula, ia bisa mengeluarkan nya hanya dengan permainan lidah.


"Oke sayang, kita masuk ke permainan inti" Ucap nya sambil mulai menurunkan celana boxer nya.


Sabrina yang masih lemah tak memperdulikan exel, ia masih mengatur nafas nya agar teratur.


"Mas, aku mau bersih in ini dulu" Ucap Sabrina sambil melihat ke arah Exel yang ada di bawah nya. Namun, seketika mata Sabrina terbelalak melihat sesuatu yang tak biasa.


"Mas" Panggil Sabrina dengan nada seperti takut


"Diam lah, sayang. Tidak usah di bersihkan, biar licin."


Sabrina menatap Exel yang berada di atas nya, bibir nya tiba-tiba gemetar "Mas, takut"


"Sabrina yakin, gak akan muat, mas"


"Muat sayang, ini sudah SNI. Percayalah, jadi tetap muat walau di pakai orang lokal"


"tapi.. "


"Diamlah"


Bagai sebuah mantra, Sabrina langsung diam dengan titah Exel.


Exel mulai membuka kaki Sabrina selebar-lebar nya, lalu ia mencium kembali bibir Sabrina agar tidak terlalu tegang. Saat ciuman itu semakin dalam, Exel langsung mengarahkan senjata nya yang sudah sejak tadi tegang.


"Emmm" Sabrina memberontak, saat sesuatu yang besar dan keras masuk kedalam tubuh nya.


Exel langsung melepas ciuman nya, ia ingin melihat dan memastikan bahwa dia tak salah lubang. Karena ia merasa lubang nya seperti buntu, sempit sekali.


"Sayang, ini sangat sakit. Kamu tahan ya" Exel mengerti, bahwa ini akan sangat sakit sekali. Ah, ia sungguh tak tega.


"Mas, udah masuk belum?" Tanya Sabrina yang sudah sangat gelisah menahan sakit.


"Baru pucuk nya sayang, mas aja belum dorong. Kamu tahan ya, mas dorong dikit"


Exel pun menekan pinggang nya, dada Sabrina langsung membusung, tangan nya mereka yeng kram sprei sangat kuat, menahan sakit nya sangat luar biasa.


Exel pun langsung sigap memainkan lidah nya di dada Sabrina, mungkin bisa mengurangi rasa sakit yang di rasakan oleh istri nya. Cukup lama, akhirnya Exel bisa merasakan bahwa tubuh Sabrina mulai santai, dan terangsang kembali. Exel terus memberikan sentuhan lembut kepada Sabrina sambil berusaha mendorong masuk junior nya.

__ADS_1


"Ahh, mas. Sakit sekali, Sabrina gak tahan. Hiks hiks hiks" Sabrina menangis, Exel pun melihat kebawah, di celah antara tubuh nya dan tubuh Exel. Baru saja setengah, tapi milik Sabrina sudah mengeluarkan darah.


Exel pun mencium kembali bibir Sabrina, sekalian membungkam nya agar tidak menangis. Lalu dengan pelan namun pasti, Exel menekan nya.


"Dikit lagi sayang, tahan ya"


(Tidak sedikit Exel, itu masih banyak)


Tekkkkk..


Sabrina merasakan sesuatu yang patah di dalam tubuh nya, begitu juga exel. ia juga merasakan bahwa ada sesuatu keras yang ka dorong.


"Aaaahhh.. Sakit mas" Sabrina teriak sambil menangis saat tubuh nya tersentak keras.


Exel pun segera mencabut milik nya, ia langsung menenangkan Sabrina.


"Sayang, jangan nangis"


"Sakit, mas hiks hiks hiks"


"Sudah, sayang. Sudah cukup hari ini, mas bersihin dulu"


Exel berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Tak lama ia kembali dan melihat Sabrina masih menangis.


"Sabrina, ke apa darah nya banyak sekali" Exel panik


Sabrina pun langsung duduk ingin melihat nya, namun ia kembali tidur, saat perut nya terasa sakit.


"Hiks hiks, sakit sekali mas"


Exel langsung membawa Sabrina ke dalam kamar mandi, ia meletakkan Sabrina di dalam bathup. Setelah itu, Exel mengumpulkan air hangat di dalam timba kecil untuk di guyurkan di kaki Sabrina.


"Kok jadi gini sih, sayang" Ucap nya saat melihat sesuatu yang tadi nya sangat indah berubah menjadi tak beraturan.


"Mas, darah nya terus keluar, ya?"


"Iya sayang, kamu masih ngerasa sakit gak?"


"Iya mas, sakit sekali"


"Apa kamu lagi menstruasi, mas?"


"Ini bukan waktu nya Sabrina menstruasi, mas. Karena Sabrina baru saja selesai menstruasi satu minggu yang lalu."


"Kita kedokter saja, ya. Mas takut sekali"


"Tidak" Tolak Sabrina langsung "Malu mas, andai saja kita di kota. Kita cari dokter yang tidak mengenali kita, udah beres. Kalau di sini, bagaimana kalau dia menceritakan nya kepada papa dan Mas reihan"


"Lalu bagaimana, sayang?" exel mengelus rambut Sabrina, merasa sangat bersalah sekali.


"Belikan Sabrina pembalut mas, atau minta kepada Mbak Alexa."


"Baiklah, tunggu sini"


Exel dengan yakin langsung keluar dari kamar setelah memakai celana boxer nya. Bukan malu yang ia pikirkan saat ini, tapi ia bingung dengan darah Sabrina yang begitu banyak sekali.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Maaf ya jika kurang indah, dan kurang romantis. Salahin si Exel yang terburu-buru gak sabaran sama sekali.


__ADS_2