
Sudah tiga hari Exel berada di desa. Setiap malam, Exel sungguh tidak bisa tidur. Afifah terus menghantui nya dengan banyak sekali pertanyaan. Sejauh ini, Exel masih belum menceritakan apapun, dan masih ngeles saja. Afifah sendiri masih curiga, masih ingin tau yang sebenar nya yang terjadi.
Setelah sholat subuh, Alexa muntah-muntah, sampai tubuh nya beegetar. Sebagai dokter, walau dokter gigi. Reihan tau gejala tersebut yang memang sering terjadi pada ibu hamil. Tapi, Reihan tetap sedikit panik melihat wajah pucat Alexa, ia sungguh tak tega melihat nya.
"Pa, Bagaimana kalau Alexa berhenti saja mengajar nya" Tanya reihan kepada El saat menunggu sarapan di sajikan.
"Papa juga sepemikiran, kamu harus bicarakan baik-baik dan juga hati-hati dengan Alexa. Ibu hamil itu sensitif sekali, nanti papa akan bantu juga merayu nya"
Reihan tersenyum "Terima kasih, pa"
"Kemana Exel, Mom?" Tanya El kepada Afifah yang baru saja datang dari dapur.
"Tidur, pa"
Exel hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, anak nya itu tetap saja tidak berubah sama sakali.
"Eza gimana, rei?" Tanya afifah sambil menyiapkan makanan
"Tidur, mom. Tadi sudah reihan kasih obat"
Setelah sarapan, El dan Reihan pergi bersama ke puskesmas, sedangkan afifah melanjutkan ritual masak nya untuk anak nya, Alexa yang sedang mengalami Morning sickness.
Sebagai ibu yang sudah berpengalaman, Afifah membuatkan dua jenis makanan. Gurih dan manis, Ada Soup dan juga bubur Kacang Hijau. Ia sengaja membuat nya lebih banyak, sekalian untuk makan siang dan untuk anak nya yang masih tidur, yaitu Exel.
Jam 10, Exel baru saja turun dari lantai dua. Bagaikan Raja, dia langsung duduk di meja makan dan bi sumi menyiapkan makanan nya.
"Mommy kemana, bi?"
"Lagi di kamar non Alexa, mas. Non Alexa sakit"
"Hah? Sakit apa?" Exel panik
"Muntah-muntah, mas. Biasa karena hamil"
Exel merasa lega, hal itu sudah wajar di alami oleh ibu hamil. Exel tau sekali, karena dulu istri Jho sepanjang hari muntah-muntah. Untuk itu Exel tidak terlalu khawatir.
__ADS_1
Tak lama, Afifah keluar dari kamar Alexa dan menuju ke ruang makan. Saat ia melihat Exel sedang makan di sana, Afifah pun menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.
"Mommy, Exel mau pergi ke pabrik dulu" Ucap Exel memulai pembicaraan, agar Afifah tak membahas masalah Sabrina.
"Jadi sekarang ya, Xel?"
"Iya, mom. Lusa Exel mau kembali ke kota, banyak urusan"
"Kau ini, belum juga seminggu"
"Exel sibuk, mom. Yasudah Exel berangkat dulu" Exel mencium pipi Afifah langsung kabur begitu saja.
"Habiskan dulu makanan nya, Exel" teriak afifah, namun tak membuat Exel berbalik untuk menghabiskan makanan nya.
"Yasudah, hati-hati"
Exel pergi ke pabrik untuk melihat pembangunan pabrik nya. Ia harus cepat membangun agar dua bulan lagi saat panen raya semua nya sudah siap.
"Xel, pembatas sawah nya di bangun nanti saja setelah panen raya"
"Kan panen bulan depan masih punya petani Exel. Kasian mereka jadi sulit nanti nya"
"Baiklah, gimana enak nya saja"
Exel dan Zakir terus bejalan mengamati beberapa orang yang sudah bekerja. Setelah itu, neraka masuk ke dalam kantor untuk istirahat.
"Lusa jadi pulang?"
"Jadi, paman. Aku gak tahan sama mommy yang terus meneror ku" Exel meraih cangkir di atas meja, lalu menyeruput kopi yang sudah dingin tesebut.
"Memang nya meneror apa?"
"Apalagi, kalau bukan Sabrina"
Exel keceplosan, ya begitulah kalau sudah terbiasa mulut tak pernah di rem.
__ADS_1
"Sabrina?"
Exel melotot, ia baru saja menyadari kebodohan nya.
"Oke, paman ngerti sekarang" Zakir tersenyum licik
"Ngerti apa?" Exel menatap Zakir dengan tajam
"Ya ngerti, kalau kamu suka sama Sabrina"
"TIDAK!" Teriak exel dengan lantang
"Ah, jangan bohongi, paman. Waktu acara tujuh bulanan anak paman, paman lihat kamu curi-curi pandang dengan Sabrina"
Exel tak bisa ber kata-kata lagi
"Paman juga pernah melihat mu berbicara dengan Sabrina di simpang sana" Zakir mengatakan nya dengan maksud menggoda.
Sial, Ketahuan juga akhirnya. umpat Exel.
"Ceritalah, paman siap mendengarkan nya dan juga merahasiakan nya"
Setelah diam sejenak, Exel pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan semua nya kepada Zakir. Ia menceritakan nya dari awal. Mulai dari pertama bertemu dengan Sabrina, gadis kecil yang tanpa permisi mengisi pikiran nya. Sudah bertahun-tahun lama nya, Sabrina masih enggan pergi dari pikiran nya, bahkan mungkin sudah masuk ke hati nya.
Jika dulu, Exel masih bisa dekat, berkencan, bahkan bercinta dengan wanita lain. Tapi sekarang tidak lagi, Sejak pertemuan kedua nya di sekolah Alexa. Exel tak tertarik kepada siapapun lagi. Mata nya slalu di penuhi oleh sosok Sabrina, tidak ada yang lain.
"Ini rahasia paman, jangan sampai Mommy tau"
"Kenapa kalau mommy mu tau?"
"Dia sudah mengatakan nya, bahwa dia tidak menyetujui nya"
Exel menunduk, jujur saja dia sangat sedih mengatakan itu.
"Kalau jodoh, tidak akan kemana. Percayalah"
__ADS_1
"Tapi aku akan melupakan nya, paman. Aku sungguh akan melupakan nya"