
Maaf, jika episode sebelum nya agak tidak nyambung. karena anak rewel jadi tak sengaja ke hapus sebagian.
Karena author malas nulis lagi, jadi cerita nya langsung saja ya. lagian di sana hanya tentang pernikahan caca.
...****************...
...****************...
Setelah acara resepsi selesai, semua keluarga pulang.
Malam ini, El di buat jengkel dengan kedua anak nya, yang dengan sengaja menggeser posisi El untuk tidur di samping afifah.
Alexa dan Exel tidur memeluk afifah, El sendiri tak bisa berbuat banyak, karena afifah sendiri juga sudah terlelap dalam pelukan kedua anak nya.
"Padahal aku tinggal beberapa menit. dengan cepat nya mereka sudah tidur disini. Apa mereka tidak memikirkan ku" Walau mengomel, namun El tidaklah marah. Ia langsung tidur di sofa yang juga tak kalah empuk nya.
Tengah malam, Afifah terbangun. ia melihat di sisi kiri dan kanan nya, alexa dan Exel tidur dengan sangat lelap. ia mengusap kepala kedua anak nya itu, lalu tersenyum.
Ia beranjak bangun, ia pikir suami nya itu tidur di kamar lain, namun nyatanya tidak. Afifah sedikit kaget saat melihat suami nya terlelap di atas sofa.
Cup,
Afifah mengecup pipi El setelah itu ia pergi ke kamar mandi.
...****************...
Matahari sudah berada di atas kepala. Semua orang sudah sarapan dan sudah rapi. Mereka hendak mengantarkan Caca dan suami nya untuk pergi ke bandara.
Setelah menikah caca akan ikut suami nya yang bertugas di pulau Bali, sekalian caca juga mengurus hotel, villa warisan nya.
Sedangkan Exel, baru saja bangun tidur. Rumah sudah sepi hanya ada pembantu saja di sana.
"Semua sedang mengantarkan Nona caca ke bandara Mas Exel"
El diam, ia langsung berlalu meninggalkan bi Ijah.
"Kenapa semua ninggalin aku sih, kan bisa bangunin aku dulu" Omel nya.
Mau tak mau, Exel menghabiskan waktu nya dengan bermain PS. Ia sungguh bosan berada di rumah terus.
__ADS_1
"Mas Exel, kata papa barusan telepon. Mas Exel suruh kemasi baju-baju, karena nanti sore mau kembali ke desa"
Exel diam, menatap bi ija "oke bi, tapi bantuin Exel ya"
Bi ija pun mengangguk, lalu mengekor di belakang Exel yang sudah berjalan cepat menuju kamar nya.
Ia melemparkan semua baju-baju nya di atas kasur, dengan telaten bi ija melipat nya dan mulai menata ke dalam koper.
Baju yang di bawa Exel sangat banyak sekali. belum lagi sepatu, dan juga jaket nya.
"Sudah bi, Exel tinggal ke depan dulu" Setelah mengeluarkan semua baju nya dari dalam lemari, ia melangkah keluar kamar.
Exel menatap halaman depan yang sangat luas itu. karena halaman tersebut sangat membosankan bagi Exel, ia pun mengambil sepeda lipat milik kakek nya dan membawa nya keluar rumah.
"Aku tak tau jalanan sini, bisa-bisa kesasar aku kalau nekat" Exel masih diam tepat di depan gerbang. Ia masih bingung hendak belok ke kanan atau ke kiri.
"Lagian, siang-siang gini kayak nya gak epic deh kalau bersepeda. Terus enak nya aku ngapain ya" Exel melipat tangan nya di dada. Dia benar-benar merasa stres kali ini.
Akhirnya, Exel membawa masuk lagi sepeda itu dengan rasa kesal. Ia tak menemukan apapun yang bisa ia kerjakan. HP nya juga masih belum bisa di pakai, karena dulu ia beli di Amerika, jadi IMEI belum terdaftar.
Exel masuk lagi ke dalam rumah, ia langsung pergi ke halaman belakang. Rencana hendak berenang, namun sial nya kolam renang sedang di bersihkan.
"Ssshiiit" Umpat Exel "Kenapa hari ini begitu sangat menyebalkan sekali" ia mengusap rambut nya dengan sangat kasar, ia pun keluar lagi dari rumah, mengambil sepeda nya dan nekat keluar.
"Pak, ini nama nya apa?" tanya Exel kepada salah satu penjual
"Ini cilung mas, Aci di gulung. heheh" Penjual itu menjawab dengan senang, melihat ada bule yang tanya dagangan nya
"Yasudah Saya beli satu porsi" Exel memberikan uang seratus ribu kepada penjual tersebut.
"Uang kecil gak ada ya mas? cilung nya hanya 2000 perak se gulung gini"
"Yasudah saya beli 5 gulung ya pak. sebentar saya mau lihat yang lain"
Exel menanyai semua penjual di sana dan membeli nya. Hampir tiga puluh menit di sana, kini Exel kembali pulang, mengayuh sepeda nya sambil membawa kantong kresek banyak.
Saat memasuki komplek, Exel lupa jalan pulang. Akhirnya ia duduk di bawah pohon radang dan memakan semua jajanan itu dengan nikmat.
"Enak juga, harga nya juga murah"
__ADS_1
...****************...
Keluarga sanjaya sudah berada di perjalanan pulang. Lastri terus saja menangis di dalam mobil. padahal dulu Lastri memarahi dan mengatakan afifah lebay saat Exel berangkat ke Amerika dulu.
"Astaga, kenapa pemulung bisa masuk ke komplek" Ucap Jihan yang duduk di depan
"Tapi pemulung kok punya sepeda bagus sih. Sama seperti punya kakek" Sambung Vici
byan yang mengemudi tidak menghiraukan obrolan kedua anak nya, sedangkan mira sibuk menenangkan Lastri.
Di bagian belakang, Mobil yang di timpangi El, sanjaya, afifah dan Alexa baru saja memasuki area kompleks perumahan.
"Pa, itu kak Exel bukan?" tuding Alexa
El langsung mengerem, semua orang langsung melihat di bagian kanan jalan. Ia melihat sosok pria yang duduk membelakangi mereka.
"Iya, itu sepedaku" Ucap sanjaya lalu segera turun dari mobil.
"Exel" Panggil sanjaya
Yang di panggil pun langsung menoleh.
"Kakek?" Exel langsung berdiri dengan tangan masih memegang sunduk cilung.
"Kamu ngapain disini nak, astaghfirullah"
"Exel" Ucap Afifah dan El yang baru saja turun dari mobil.
"Tadi El bosan, kalian semua ninggalin aku sendirian di rumah. Jadi aku keluar ke depan situ. Ehh malah gak tau jalan pulang"
El menghela nafas nya kasar.
"Yasudah, ayo cepat ikuti mobil papa"
"Oke pa"
"Bersihkan dulu sampah nya, jangan mengotori jalanan" Ucap Afifah
Exel yang sudah hendak siap duduk di atas sepeda, harus turun kembali. Ia membersihkan sisa-sisa bungkus jajanan SD yang ia beli tadi, lalu membuang nya ke tong sampah.
__ADS_1
Mobil El berjalan perlahan, Exel berada di belakang mobil tersebut. Exel masih terasa bosan, sungguh Indonesia bagi El sangat membosankan.
"Apalagi besok pulang ke desa. Bisa-bisa aku benar-benar akan mati karena bosan di sana" kini pikiran exel beralih membayangkan suasana rumah nya yang berada di desa. sangat sepi sekali dan tidak ada apapun.