
Pagi hari, sesuai perintah el. afifah yang baru saja pulang dari pasar langsung membawa belanjaan nya ke rumah El. bi sugiati yang sedang menyapu, kaget bukan main saat melihat El dan afifah berjalan dari luar.
"Afifah?" sapa bi sugiati
"loo.. bulek sugiati?" afifah kaget dengan keberadaan sugiati disana
"kamu ngapain kesini?" tanya bu sugiati
belum sempat menjawab, El langsung menarik tangan afifah. dan sugiati kaget dengan apa yang ia lihat.
"pak, ada bulek sugiati"
"kenapa? dia bekerja disini"
"tapi mas, dia itu ratunya gosip. bagaimana kalau nanti"
"biarkan saja, lagian kita akan menikah"
"tapi.. "
"cepatlah bersikan ikan nya dan masukkan ke kulkas. nanti siang datang lah kesini. masak buat nanti sore dan malam"
"bulek sugiati bagaimana pak?"
"aku yang akan jelaskan. kepada nya"
"baiklah" afifah akhirnya pasrah, El pun meninggalkan afifah, hendak bersiap-siap pergi ke puskesmas, namun langkah nya terhenti.
"fah dengarkan aku" ucap El katika afifah tak menyadari keberadaan El.
"ehh.. iya pak kenapa?" ucap afifah menoleh sekilas kepada El lalu ia kembali sibuk membersihkan ikan di wastafel.
"kamu bilang tadi bi sugiati ratu gosip kan?" ucap El dengan nada lirih, afifah pun mengangguk
"mulai sekarang, kamu panggil aku ramdan. jangan panggil aku pak. biar dia tidak curiga" tukas El.
afifah kaget dan menghentikan aktifitas nya. ia memandang wajah tampan El. jantung nya kini kembali berdetak kencang apalagi pandangan mata mereka bertemu.
"Cantik.. dia benar-benar cantik. benar yang di katakan andi" batin El
"maaf pak dokter, ada zakir di luar" suara sugiati membuat mereka berdua kaget dan menjadi gugup.
"suruh masuk bi" ucap El berusaha setenang mungkin.
"siapkan makanan ku ya. aku akan bersiap-siap" El langsung meninggalkan afifah sendirian di dapur.
tak lama zakir dan sugiati datang.
"cie cie, sudah masak dirumah calon suami" goda zakir
dan lagi-lagi sugiati di buat kaget.
"husss... " afifah melototi adik nya itu sambil melirik sugiati
"yasudah mbak, ini sarapan nya. aku mau berangkat dulu. assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab sugiati dan afifah
afifah kembali menyibukkan diri menyiapkan sarapan El. ia memindahkan makanan di rantang ke mangkok.
"fah.. kamu ngapain disini?" tanya sugiati kepada afifah. meski afifah sangat menghindari namun yang nama nya ratu gosip tidak bisa di hindari. dia akan terus mengejar sampai dirinya merasa puas.
sedangkan afifah sangat bingung mau jawab apa.
"Dia masak bi, jadi mulai sekarang tugas bi sugiati tidak perlu memasak lagi" jawab El yang tiba-tiba datang
"ehh.. pak dokter"
"afifah ini calon istriku bi. wajar kan kalau aku minta masakin dia. lagi pula nanti sore ada teman ku dari kota hendak datang kesini" El mendekati afifah dan merengkuh pundak rapuh afifah.
__ADS_1
"ohh... iya pak. jadi benar kata orang-orang bapak dan afifah pacaran?"
El tersenyum "iya bi, sebentar lagi menikah" sungguh El sangat pandai berakting. dia sangat santai memainkan peran nya. berbeda dengan afifah yang hanya bisa tersenyum masam.
"bi.. bersikan semua kamar ya. karena teman ku menginap" titah El
"baiklah pak, kalau begitu saya permisi"
El hanya mengangguk dan tersenyum sebelum sugiati meninggalkan nya.
beres! dia gak akan bergosip kalau seperti ini, itulah yang dipikirkan oleh El. namun ternyata salah, yang nama nya gosip tak pernah ada habis nya. siang itu juga setelah selesai membersihkan rumah. sugiati menyebarkan berita kedatangan afifah di rumah dokter El.
alih-alih beres, sepertinya masalah semakin rumit.
kini beberapa orang menghujat afifah yang belum jadi apa-apa sudah masuk ke rumah dokter El. mungkin ini sudah biasa untuk El yang notabe nya orang kota. berbeda dengan orang desa. itu terlihat tidak baik seorang gadis pergi ke rumah pemuda.
rasanya sangat sulit sekali hidup di desa. ini benar-benar nyata. author sendiri tau. karena sejak kecil hidup dikota. setelah nikah hidup di desa. masalah seperti ini memang sangatlah sensitif. semua jadi omongan.
___
jam 10 siang, terlihat El dan andi meninggalkan puskesmas. mereka berdua langsung menuju ke toko besar milik pak Haji. namun bukan untuk belanja, karena toko pak Haji sedang tutup.
ternyata El dan andi menjemput pak Haji. merekapun masuk kembali ke dalam mobil dan menuju ke sebuah bangunan besar.
Pondok Pesantren Al-Rahman
kini El duduk di sebuah karpet bermotif bunga-bunga. tak lama dua orang datang. satu bapak-bapak yang tidak terlalu tua. dan satunya lagi laki-laki yang sepertinya El pernah melihat nya.
"apakah anda dokter el?" tanya ustadz amir
"iya ustadz amir, dia dokter El" andi yang menjawab nya. El yang mendengar andi menyebut nama ustadz amir, ia menjadi tau bahwa dia adalah mantan kekasih afifah, ya walaupun mereka tidak benar-benar berpacaran.
setelah itu, pak Haji menjelaskan semua maksud kedatangan nya kemari.
"tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, selagi kita masih hidup di dunia" ucap kyai Ali.
"Bismillah, saya akan menuntun nak El untuk bersyahadat"
"Alhamdulillah, semoga nak El bisa menjaga iman nya" ucap kyai Ali "nak El jika ingin belajar tentang agama bisa belajar disini secara privat." sambung kyai Ali
"hmm.. Terima kasih pak. sebenar nya saya mengaji juga bisa, karena dulu waktu kecil pernah mengaji. untuk bacaan sholat mungkin perlu di hafal lagi"
"heheh.. biar di ajari sama calon istrinya saja pak kyai" sambung pak Haji
"ohh.. mau menikah juga? siapa calon istrinya?" tanya kyai Ali
"Sama afifah pak" jawab andi
amir kaget begitu juga kyai Ali.
"hmm... nak, untuk menambah ilmu, silahkan datang di pengajian anak saya setiap hari minggu"
El mengeluarkan sebuah amplop coklat meletakkan nya di depan kyai Ali "Terima kasih pak. jika tidak ada halangan saya akan datang ke pengajian anak bapak" ucap El.
karena hendak melakukan sholat jumat. kyai Ali sendiri mengajari El berwudhu. kyai Ali juga mengajari cara mandi hadas besar.
hari ini El mendapat sebuah ketenangan hati, saat kyai Ali menjelaskan sedikit tentang doa dan istigfar.
andi diam-diam mengirimkan beberapa foto saat El sedang belajar bersama kyai Ali. andi juga mengirimkan vidio saat El bersyahadat.
afifah merasa sangat senang. akhirnya El masuk islam lagi.
"Kenapa aku sesenang ini?" batin afifah "aku tidak boleh mencintainya. aku tak mau sakit hati untuk kedua kalinya. cukup ustadz amir yang membuatku berantakan. jika aku sampai jatuh cinta kepada dokter El, dan suatu saat kita berpisah, aku akan akan sakit hati. dan aku yakin hidupku akan hancur saat itu"
untuk mengusir kegelisahan nya, afifah segera mandi dan sholat dhuhur untuk menenangkan hati dan pikiran nya.
jam 2 siang, setelah mengaji surat Al-kahfi. afifah pamit kepada ibunya untuk pergi ke rumah El.
di dapur rumah El, afifah sangat senang sekali memasak karena peralatan di rumah El sangat lengkap. walau afifah masih belum bisa menggunakan beberapa peralatan disana, namun ia cukup senang karena El mempunyai tungku 4 buah. sehingga dapat menyingkat waktu memasaknya.
__ADS_1
karena hari jumat, El akan pulang jam 3 sore. kini dia sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah nya.
"nanti jam 4 datang ke rumah" titah El kepada andi sebelum ia masuk ke mobil
"iya pak, siap" jawab andi
setelah itu, El menginjak pedal gas nya, dan melajukan mobil nya perlahan menuju rumah nya.
saat sampai di rumah, ia melihat afifah berada di dapur nya bersama sugiati. sugiati nampak membantu afifah.
melihat El sudah datang, sugiati langsung panik pasalnya ia lupa menyiapkan air hangat untuk El. namun El menolak dan meminta sugiati untuk tetap membantu afifah di dapur.
setelah mandi dan berganti pakaian rumahan, El turun dan langsung duduk di kursi dapur sambil memainkan ponsel nya.
sugiati pun dengan segera menyajikan secangkir teh hangat seperti biasanya.
"Pak, aku pulang dulu ya"
"duduklah" ucap dingin El, afifah pun menjadi takut.
apa aku membuat kesalahan?
"kenapa kamu masih memanggilku pak" geram El
"ehh maaf Pak. maksud nya mas ehh" afifah menutup mulut nya. ia benar-benat lupa nama yang El
"Ramdan" ketus El
"tapi kan bapak lebih tua. bagaimana kalau aku panggilnya mas saja. terasa anek jika aku memanggil bapak dengan sebutan nama saja"
"terserah kau saja" kesal El "cepat mandilah, sebentar lagi teman ku datang"
"aku pulang saja pak, aku malu"
"mandilah, aku akan telepon ibu mu"
"kenapa harus bawa-bawa ibu sih pak" kesal afifah
"fah" geram El sambil melirik ke arah kanan tepat sugiati sedang mengepel lantai dan sepertinya sedang
"iya mas ram, dimana kamar mandi nya?" afifah tak kalah kesal juga
"pakailah kamar mandi di sana" El menujuk ke sebuah ruangan
tanpa menjawab apapun, afifah langsung masuk dan segera mandi.
El pun beranjak menuju kamar depan.tak lama ia keluar membawa sebuah baju.
"bi, kasih ini ke afifah. suruh di pakai ini. aku mau ke depan nunggu andi"
"iya Pak" jawab sugiati.
sugiati pun menlangkahkan kaki nya ke kamar mandi, tempat di mana afifah menyegarkan tubuhnya.
"afifah, ini baju nya dari dokter El" ucap sugiati setelah mengetuk pintu kamar mandi
afifah pun membuka sedikit celah untuk kepalanya melihat keluar. tanpa bertanya afifah langsung mengambil nya.
setelah itu ia baru melihat bentuk baju yang sedang ia pegang itu.
ini kan se lutut, bagaiamana aku aku bisa memakainya, batin afifah.
namun di tengah-tengah kebingungan nya, afifah melihat sebuah lagging yang tadi ia pakai untuk dalaman di gamis nya. pada akhirnya afifah keluar dengan tampilan yang berbeda dari biasanya.
ia memakai tunik mocca selutut dengan aksen bunga-bunga di bagian bawah dan pergelangan tangan nya. di mix dengan lagging hitam milik nya dan jilbab segitiga berwarna hitam.
afifah akhirnya duduk di dapur, menunggu El datang. karena sugiati sudah memberitahu afifah jika El sedang menjemput teman nya bersama andi.
**
__ADS_1
alhamdulillah bisa update lagi.
jangan lupa tinggalkan jejak