
"Aaahhh... mas... Hiks hiks hiks" teriak afifah..
El langsung panik.
"Mas aku pengen ke kamar mandi. perut aku sakit banget"
"Tidak usah fah, jika kamu pengen pipis, atau poop lakukan disini saja"
"Iya sayang, kan udah ada alas nya" El mengelus puncak kepala afifah, membuat bu nanik baper lagi.
afifah melepaskan semua nya, ia terus menangis menahan semua rasa sakitnya
"Boleh saya cek pak?" ucap bu nanik
El diam, dan benar dugaan bu nanik, dalam. hati El ia tak rela bagian dalam tubuh afifah dilihat orang lain. hmm.. possesive yang tak wajar..
"Biar saya yang lihat bu"
bu nanik menghela nafas sedikit kesal, akan kan besok menjadi tranding topik pergosipan tentang yang terjadi sekarang.
"beberapa gumpalan kecil mulai keluar bu, kita tunggu berapa jam lagi?"
"Kita lihat 3 jam lagi pak. setelah itu saya periksa melalui USG. jika belum bersih maka mau tak mau harus di kuret"
El memandang afifah yang sedang kesakitan. mata El mamancarkan kesedian begitu mendalam.
"Bu nanik bisa istirahat dulu. 3 jam lagi tolong kesini lagi ya bu"
bu nanik mengangguk lalu meninggalkan El dan afifah disana.
rupanya gosip itu tak menunggu besok untuk tranding. setelah bu nanik sampai di ruangan nya, beberapa orang disana langsung menanyai bu nanik tentang afifah.
"Udah mulai beraksi obatnya, katanya sih gumpalan darah kecil udah mulai keluar"
"Laaahh.. kok katanya sih bu?"
"Pak El gak ngizinin aku lihat, jadi dia yang periksa."
"Uhh... pak El, so sweet banget sihhh"
"Pak El itu seolah-olah gak mau ada yang lihat tubuh afifah. bahkan saat ia buka baju afifah saja dia sepertinya nutupi gitu biar aku gak lihat."
semua tertawa, merasa sisi lain atasan mereka yang aneh.
"Tetap saja saya lihat, pantesan saja pak El kayak gitu. indah banget, kalau bawahnya sih belum bisa lihat hahahah.."
"Ya mungkin saja, tapi nanti kalau afifah hamil dan ngelahirin gimana"
"Diakan dokter bedah, mungkin nanti afifah melahirkan pak El yang operasi"
"Wkwkwk... lucu juga ya mereka"
"Rasa takutku kepada pak El sedikit berkurang wkwkwk"
mereka terus membicarakan hal-hal itu. dari satu mulut ke mulut yang lain nya, sehingga kabar itu meluap kesemua telinga pekerja puskesmas.
"Emang gitu ya ndi bos kamu?" tanya bu nanik kepada andi
"aku juga gak tau" andi menyembunyikan nya, ia tkut jika El mengetahui nya, ia yang akan di semprot oleh El.
Mereka mungkin akan pingsan kalau tau aku pernah disuruh mata-matain afifah.
Tau gini saja heboh nya bukan main!!
sudah 2 jam lebih terlewat, gumpalan darah cuma sedikit sekali yang keluar. El sangat khawatir, apalagi afifah terus mengaduh sakit.
"Mas, sakitnya bertambah berat hiks hiks"
"Tahan ya sayang" El menciumi kening dan pipi afifah.
tak lama kemudian bu nanik datang, dan bu nanik masih dilarang untuk memeriksa nya langsung. El bilang hanya sedikit gumpalan darah yang keluar.
"baiklah pak, kita bawa ke ruangan USG, sekalian dibersihkan dan akan saya cek"
"Sebentar, biar afifah pakai baju dulu"
karena tadi tubuh afifah panas, jadi ia melepas baju nya. dan sekarang dengan keribetan El, afifah memakai baju nya kembali di tengah-tengah suasana seperti ini.
sesampainya di ruangan USG, disana ada dua perawat, bu nanik dan El.
Saat dua perawat itu hendak membersihkan dan mengganti underware, El melarang nya dan pada akhirnya El yang membersihkan nya sendiri. Bahkan bu nanik dan dua perawat itu diperintah untuk keluar terlebih dulu saat ia membersihkan nya.
Ribet sekali!!!!
Setelah itu, bu nanik dan dua perawat itu kembali masuk. perawat tersebut langsung membersihkan dan mebuang underware milik afifah, sedangkan bu nanik memeriksa afifah.
__ADS_1
"Masih sakit gak fah?"
"sakit bu, tapi gak seberat sebelum nya"
bu nanik mulai menggerakan alat yang ada di tangan nya itu.
"Masih belum bersih pak, harus kuret"
El memandang afifah.
"Nanti kan di bius pak, jadi gak akan ngerasa sakit"
"Tapi bius disini kualitasnya sedang. terkadang setelah obat hilang, rasa sakitnya akan terasa"
bu nanik membuang nafas nya perlahan, mencoba sabar dengan semua tingkah El.
"kapan kuret nya bu?"
"Sekarang pak"
"Jika besok pagi bagaimana? biar sekarang saya minta belikan obat bius yang bagus"
"Boleh pak, tapi gak boleh lebih jam 9 pagi"
Dengan cepat, El langsung menelpon seseorang.
setelah itu ia menelpon supir keluarga nya, untuk mengambil obat bius dan membawa nya ke desa.
"Kalau bisa gak usah di pindah pak, biar disini saja" saran bu nanik
"Kuret disini?"
"Iya pak, lagian besok jadwalnya posyandu. ruangan ini gak dipakai"
El mengangguk "Yasudah bu Terima kasih"
Tak lama zakir datang membawa makanan, untuk afifah dan El.
El tidak marah atau tidak merasa lapar, walau jam makan nya sudah terlewat. itu karena sangking khawatirnya kepada afifah.
"Ibu sengaja gak aku kasih kesini mbak, dia pasti cepek sekali"
"Iya kir, mbak malah suka kalau ibu gak kesini. takut menambah pikiran nya"
"Sekarang kamu makan dulu" titah El sambil menyodorkan sendok kepada afifah
"Maaf ya pak, aku telat kirim makanan. karena tadi memang sibuk"
"Tidak kir, jangan seperti itu. kamu pulang saja, nanti kalau lama disini ibu ikut khawatir"
zakir diam, ada benarnya juga perkataan El.
"Oh iya, kalau bisa besok ibu jangan dikasih kesini dulu. nanti aku kabari kalau mbak mu sudah pulang ke rumah. baru antar ibu kerumah ya"
"Iya kir, jangan sampai dibawa kesini ya"
"Iya mas, tadi ibu tanya. aku terpaksa bohong, bilang mbak afifah sudah gakpapa"
jika didalam sedang berbincang sambil makan, diluar sangat heboh dengan berita yang di kabarkan oleh bu nanik.
Jatuhlah wibawa anda pak!!
Sejak afifah sakit, El tak menyapa semua orang bahkan jadwal blusukan nya tidak ada.
beberapa pasien bahkan kabar afifah keguguran dengan cepat didengar warga seluruh desa, bagaikan Asap yang terbawa angin.
Jam 12 malam, El yang baru saja terlelap namun bunyi ponsel nya membuat ia kaget dan langsung bangun.
Kak byan? ngapain telepon jam segini
El mandang benda kecil yang masih melingkar di Pergelangan tangan nya itu.
"El dimana kamu! aku didepan!"
suara byan menyentuh gendang telinga El, sehingga El meringis
"Laaa.. malah diam, ini aku bawakan obat bius nya. aku kesini sama papa, durhaka kamu buat orang tua nunggu"
"Astaga kak, aku ada di puskesmas."
byan berdecak "Yasudah, aku langsung kesana"
tut
tut
__ADS_1
tut
Tak lama byan dan sanjaya sampai di puskesmas. Andi langsung memerankan kopi untuk mereka. Iya andi! andi tak diizinkan El pulang. ia harus di puskesmas walau tak melakukan apapun.
Sanjaya menceritakan semua nya kepada El, El merasa sangat marah ketika mendengar nya.
"Maafkan mama El" ucap byan sambil mengelus pundak El.
El menunduk, menahan amarah nya.
"Aku gak mau ketemu sama mama dulu pa.. biarkan rasa marah ini hilang. aku tak mau durhaka"
"Lalu gimana keadaan afifah el?" tanya sanjaya
"Tenaga nya habis, karena efek obat pa. besok pagi harus di kuret karena beberapa darah tak mau keluar"
semua diam, nampak kasian dengan keadaan afifah.
"Sudah hampir 20 jam afifah menahan sakit pa, ini tadi El bius obat tidur biar tidur. karena dari tadi ngeluh sakit terus"
"Kalau separah itu, kenapa gak dibawa langsung ke Singapore El"
"benar El, aku akan siapkan jika kamu ijinkan bawa afifah ke Singapore"
Mohon maklum, keluarga Sultan, gini aja sudah langsung bawa ke Singapore.
"Gak usah kak, kasian afifah jika harus dibawa perjalanan jauh"
"Papa dan kak byan pulang saja ya, biar andi yang akan bukain rumah"
"Yasudah, besok bi sumi sama pak dayat akan nyusulin kita kesini. biar mereka bantu kalian disini"
"Makasih pa, kak" ucap El masih dengan suara sama, suara lemas seperti kehilangan semangat hidup.
...****************...
Pagi sekali, afifah sudah berada di ruangan Eksekusi.
Bu nanik sudah siap dengan alat yang seperti paruh bebek.
"Mas aku takut" afifah memelas sambil menatap El
"Jangan takut, aku akan memelukmu"
"Sakit fah?" tanya bu nanik yang sedang mencubit paha afifah
"Tidak terasa bu"
"Obat nya sudah merasuk pak, sudah siap kan?"
El mandang afifah dengan tatapan tak tega.
"Siap bu"
Bu nanik melakukan tugas nya dengan hati-hati, El sendiri merasa tak tega melihat nya. dan tentu itu bukan sifat Dokter bedah seperti El. Mungkin Karena rasa cinta nya kepada afifah jadi El bisa seperti ini.
Astaghfirullah, sebesar itukah cinta pak El kepada afifah. beruntung sekali afifah itu.
Bu nanik melihat El yang terus menenangkan afifah, tangan kiri El melingkar di dada afifah, dan tangan kanan El mengelus kepala afifah.
"Sakit gak?" entah sudah berapa kali El menanyakan itu
"Enggak mas, tapi aku bisa ngerasain didalam sedang di aduk-aduk"
"Sabar ya sayang, maafin aku"
"Bukan salahmu, ini sudah takdir mas"
Bu nanik mengintip mereka, tenyata El sedang mencium bibir afifah.
Mereka anggap aku ini apa sih, bisa-bisa nya mereka melakukan nya di keadaan seperti ini.
"Mas.. " afifah mendorong dada El, lalu menunjuk dengan ekor mata nya.
"Aku tak tega fah, sungguh tak tega dengan semua ini sayang"
Bu nanik hanya jadi pendengar, atau mungkin juga akan menjadi penyiar berita.
Bersambung...
Maaf jika kurang romantis. sungguh author merasa hambar, karena di novel sebelah sedang dalam suasana sedih.
Jadi author gak bisa kasih yang lebih dari ini.
InsyaAllah up secepatnya, doakan lancar
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK