
tak berapa lama, el sudah datang bersama prima dan santi. namun sepertinya tamu el bertambah satu lagi, yaitu Ghea. iya Ghea juga ikut bersama mereka.
"masuklah, memang tak besar, namun cukuplah buat kalian" ucap el
"gak usah AC udah dingin dong el. hemat listrik" ucap prima
"ayo kita langsung makan dulu. setelah itu kalian mandi dan istirahat" ajak el
"boleh el, aku juga lapar heheh" jawab santi
merekapun langsung menuju ke ruang makan el yang tak terlalu besar, disana sudah ada afifah dan bi sugiati sedang menyajikan makanan.
Afifah memasak Soto koya Daging sapi, makanan berkuah membuat capek hilang karena mereka baru saja melakukan perjalanan panjang.
setelah itu mereka semua duduk di kursi, ghea duduk di kursi sebelah el. dia memang sengaja, namun el tiba-tiba memanggil afifah sehingga langkah kaki afifah yang hendak pergi ke belakang terhenti.
"Fah, makanlah bersama"
semua diam
"em.. aku nanti saja pak, ehh maksud ku mas ram" jawab afifah
"Mas ram?" ceplos andi
"gak sini, sekalian aku kenalin kamu" el berdiri dan menggandeng afifah. afifah kaget, seolah-olah tubuh tersengat listrik. "ghea maaf, bisa kamu geser? itu kursi afifah"
semua melongo, ghea pun langsung berpindah.
"ini afifah, calon aku"
duaaarrrrr! semua kaget, seperti mendengar ledakan gunung berapi.
afifah hanya diam dan tersenyum kaku ke semua orang.
"Kenalan dong" ucap el
mereka pun bergantian menjabat tangan afifah, tersenyum ramah sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Fah, aku mau kuah yang banyak, toge nya sedikit saja" ucap el
afifah sekali lagi kaget, ia awalnya hanya diam, namun dua detik kemudian ia tau bahwa el sedang meminta nya untuk melayani nya.
tanpa menjawab, afifah langsung mengambil mangkok dan menuangkan nasi bersama kelengkapan lainya.
"Ayo makanlah. apa kalian tidak suka?" ucap el membuyarkan kebengongan semua orang
"ehh.. suka dong pak, ini enak sekali" celetuk andi
"hemm.. benar ini! kelihatan sangat enak" ucap prima mencoba mencairkan susana kembali.
suasana sejenak menjadi hening.
"heeeemmmmmm" ucap prima setelah melahap sesendok kuah. ia memejamkan matanya "enak sekali el" sambung nya
"iya el, enak sekali ini. siapa ini yang memasaknya" tanya santi
"Afifah, calon istri pak el" andi yang menjawab nya
"sayang, kamu harus belajar sama istrinya el" ucap prima dengan mulut penuh makanan
"Nanti aku minta resep nya ya fah" santi mengakrapkan diri.
"iya mbak" afifah tersenyum kepada santi.
setelah acara makan-makan, mereka semua mandi dan beristirahat. afifah sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring kotor. sedangkan bi sugiati sedang mengepel ruang makan karena tadi andi menumpahkan kuah.
__ADS_1
"pak, aku pulang ya. aku sudah masak, nanti tinggal memanasi saja. aku yakin andi bisa"
"tidak, nanti saja. jika andi yang memegang makanan, rasanya berbeda"
"aku gak nyaman sama pakaian ini. aku mau pulang dan ganti baju"
"tidak usah. aku sudah menelpon ibu mu. mengizinkan mu. jadi jangan khawatir"
afifah tak bisa membantah el lagi, akhirnya el mengajak afifah duduk di taman belakang, tepat di samping kolam ikan.
"prima adalah temanku sejak kecil, dia seorang polisi. lalu santi adalah kekasihnya."
"lalu mbak ghea?"
"dia adalah teman nya santi"
"ohh.. ku kira pacar bapak"
el memandang afifah tajam, sehingga afifah sedikit ketakutan.
apa aku buat kesalahan? sepertinya dia marah.
"kamu harus memanggilku mas ramdan, atau ramdan! jangan PAK!! " Tegas el dengan mata elang yang siap menerkam
"ehh.. iya mas. maafin aku, aku belum terbiasa" afifah menelan ludah nya melihat tatapan el.
"lusa ikut aku ke kota. ku kenalkan keluarga ku" suara el kembali datar
"izin dulu pak sama ibu, kalau ibu ngizinin aku akan ikut" jawab afifah sambil memainkan kuku nya
"aku tau!" ketus el "Aku akan ceritakan sedikit tentang keluargaku. di rumahku ada mama, papa, kak byan dan caca." el mengalihkan pandangan nya ke arah kolam ikan.
afifah menyimak cerita el dengan serius sambil memandangi wajah el dari samping.
el terus bercerita, dia juga menceritakan nenek nya.
"Aaahhh" teriak afifah kesakitan, karena el menjewer telinganya
"kenapa kamu bengong!" kesal el
"aku dengar semua nya mas" kesal afifah sambil menggosok telinga nya yang masih tertutup jilbab.
"Yasudah, jadi nanti kamu harus bisa berbaur dengan mereka. kak byan orang nya terbuka dan mudah bergaul. caca juga. namun dia sangat dekat dengan mama. jadi, kalau caca dan mama bersikap kurang baik kepadamu, kamu harus kuat. aku sarankan jangan terlalu di masukkan kedalam hati."
afifah terdiam sambil menganggukan kepala nya.
"aku hanya mempunyai satu mantan, dia adalah Rania"
"Hah?" afifah kaget "Rania? artis itu?"
"iya, jangan kampungan seperti itu... "
kalau di banding aku, gak ada apa-apa nya. pantesan gak punya pacar lagi. dan sekarang dia malah memilihku. dia lihatlah dia tampan sekali. jelas terlihat hidung mancung nya, bibir nya...
"Aaahhh... mas, kenapa di cubit. sakit tau!" kesal afifah lagi-lagi el seenak nya mencubit lengan nya
"kalau kamu menjawab, aku gak akan mencubit mu! kenapa kamu bengong terus! kamu memikirkan apa sih" el tak kalah kesal
"eemm enggak mas. tadi mas tanya apa?"
lebih baik mengalah. lihatlah, dia menatapku seoalah-olah aku mencuri uang nya.
"Apa kami bisa makan pakai garpu dan pisau?"
"hah?" kaget afifah "kalau garpu sama sendok bisa pak. ehh maksud nya mas" afifah tersenyum semanis mungkin agar el tidak menatapnya tajam lagi.
__ADS_1
"aku akan ajari besok. nanti malam lihat lah dulu di youtube"
ALLAHUAKBAR.. ALLAHUAKBAR...
"Mas udah adzan, ayo sholat berjamaah di masjid belakang"
"tapi aku gak punya baju untuk sholat, atau baju koko"
"Pakai kemeja ini saja pak, yang penting bersih dan nutup aurat."
"hmm.. yasudah tunggu di depan, aku naik ke atas dulu"
afifah mengangguk lalu menuju ke depan, untuk mengambil mukena di jok motor nya.
***
afifah dan el sudah berjalan kaki menuju masjid belakang rumah, banyak yang terkejut melihat mereka berdua.
"Dokter el?" sapa semua orang dan el menyapa semua orang, menanggapi semua keramah tamahan warga sekitar.
setelah 20 menit, kini para jamaah sudah keluar dari masjid. el dan afifah kembali berjalan kaki menuju rumah nya.
"Fah" panggil el kepada afifah yang berjalan di samping nya
"aku tadi hanya ikutan saja, namun aku lupa bacaan sholat nya. masih belum hafal"
"bapak bisa lihat bacaan sholat lewat internet"
"iya tadi lupa, gugup juga" ucap el
"gakpapa, sekalian belajar pak. Lama-lama pasti bisa"
"yasudah cepat, kita harus ke pak rt untuk laporan" el melangkah kan kaki nya lebih cepat sehingga meninggalkan afifah di belakang.
setelah sampai di depan rumah, el melihat santi dan prima mengangkat sebuah kardus.
"El?" ucap prima, prima menjatuhkan kardus nya ketika melihat afifah yang baru saja datang dengan menggunakan mukena
"Kamu sholat?" tubuh prima rasanya gemetar melihat sesuatu di depan nya
el hanya mengangguk
"kalian bawa apa?" tanya el
"pesanan kamu el" jawab santi
"oh iya, aku lupa. bawa saja masuk dulu"
"yaelah el, angkat dong kamu kan cowok. ini berat tau!" kesal santi
el pun tergelak lalu mengambil kardus yang lumayan besar dari tangan santi.
"Ell? kau benar-benar berubah. sekarang aku yakin bahwa afifah telah merubah mu lebih baik"
el hanya tersenyum saja.
"sudah saat nya aku bertaubat prim, sudah sangat lama aku gak kembali ke agama ku. dulu aku tidak begitu tertarik dengan agama..."
"dia cantik el, dasar nya cantik. ya walau penampilan nya sedikit kampungan. tapi jika dirubah sedikit penampilan nya pasti tak akan kalah sama Rania"
el tersenyum "jangan memuji wanita lain cantik, kalau denger santi dia bisa marah"
"hahaha..." mereka berdua tertawa memecah keheningan di dalam kamar bagian depan.
setelah meletakkan kardus-kardus tersebut, el dan prima bersiap-siap hendak ke rumah pak rt.
__ADS_1
Disisi lain, bu sugiati sedang berbelanja ke toko pak Haji, seperti biasa. malam hari apalagi jam jam setelah sholat maghrib, toko pak Haji ramai di buru ibu-ibu.
bu sugiati pun tak melewatkan kesempatan untuk menyebarkan apa yang ia tau, toko pak Haji pun menjadi sangat heboh sekali.