
Setelah acara pengajian selesai, aku pulang bersama umi salamah, Bibi ku. Sudah bisa ku lihat, isi paperbag ini adalah boneka. Aku bahagia sekali, Kerja keras ku belajar bahasa Inggris tak sia-sia. Mas Exel, Laki-laki yang tak pernah ku sangka sebelum nya. kini menjadi cinta ku setelah Abi ku.
Setelah sampai, aku buru-buru masuk ke kamar. Aku langsung mengeluarkan benda empuk dengan bulu-bulu putih itu dari paper bag.
"Maa Syaa Allah" Ucapku terkagum melihat boneka kelinci yang sangat lucu sekali. Aku langsung memeluk nya, boneka ini akan menjadi favorit ku mulai detik ini.
Ku letakkan boneka lucu ini di atas kasur ku, dan aku juga ikut duduk di depan nya. Ku pandangi boneka itu, sambil mengingat nya.
Bibir ku tersenyum, Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan nya. Dan sekarang dia semakin gagah dan tampan sekali. Lebih tampan daripada foto-foto nya di sosial media.
Senyuman ku langsung sirna, saat aku mengingat sosial media. Sejak beberapa bulan yang lalu, mas Exel di kabarkan dekat dengan salah satu Selebgram cantik dan sexy. Apalah aku, yang berbadan kurus tak ada lekuk nya yang bisa di bilang menggoda. Ah, aku melakukan body simming kepada diriku sendiri.
Aku tak tau, mengapa semua ini terjadi kepadaku. Semakin aku berusaha melupakan nya, semakin dalam juga perasaan ini. Kejadian mas Exel memukuli kakak sepupuku, Bang Adam. Aku yakin, keluarga ku tak akan mau menerima mas Exel. Lalu aku harus bagaiman? jujur jika di katakan aku tak bisa membohongi perasaan ku, aku benar-benar tak bisa melupakan nya.
"Sabrina, sayang"
Aku kaget saat abi ku yang tampan ini tiba-tiba masuk ke dalam kamar ku, membuyarkan lamunan ku.
"Abi, bikin kaget saja"
"Sayang, Ada kyai Salim sama keluarga nya kesini. Mereka ingin bertemu sama kamu"
"Hmm.. Sabrina mandi dulu ya, bi. Sabrina baru selesai pengajian kan"
"Iya, lagian kyai Salim nanti ba'da maghrib datang nya"
"Ye, ku kira sekarang"
Aku mencubit abi karena suka sekali menggoda ku.
"Yasudah, abi mau keluar dulu" Pamit nya, tak lupa mencium kening ku.
Abi ku sangat sayang sekali padaku, dia slalu menuruti kemauan ku. Beliau juga slalu menyembunyikan kesalahan ku, dan slalu membelaku. Aku juga sangat menyayangi nya, dia cinta pertamaku dan dia segalanya di hidupku.
Aku pun mandi, setelah itu rebahan sebentar sambil menunggu maghrib. Aku sangat lelah sekali, apalagi besok hari senin, pasti akan ada upacara bendera.
__ADS_1
"Sabrina, ayo sholat ke masjid, nak" Teriak umi ku dari luar.
Aku pun segera turun dari kasur, sedikit berlari keluar kamar untuk menyusul umi yang sudah berjalan keluar rumah.
"Umi, Sabrina capek. Sabrina sholat di rumah saja ya. Belum lagi nanti ada tamu, besok juga udah sekolah"
Umi diam menatap ku, seperti nya beliau masih memikirkan nya "Baiklah, hari ini saja"
Aku tersenyum lalu mencium umi "Terima kasih"
Aku berlari kembali masuk ke dalam kamar, lalu membating tubuh ku ke kasur. Ku raih boneka kelinci yang sangat pas di pelukan ku, nyaman sekali.
Adzan maghrib berkumandang, aku pun langsung menggelar sajadah ku. Aku menunaikan kewajiban umat islam, setelah itu aku mengaji seperti biasanya.
"Sabrina, kok belum siap-siap. Ayo keluarga kyai Salim sudah datang"
"Sbodakallahuadzim" Aku mencium al Quran ku lalu kututup. "Iya, Umi" Jawabku sambil memandang umi yang berdiri di ambang pintu.
"Dandan yang cantik" Ucap umi kepadaku, lalu ia menutup kembali pintu kamar ku.
Aku tau siapa Kyai Salim, dia adalah pemimpin pondok pesantren yang cukup besar setelah ayah nya meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia teman Abi ku saat dulu kuliah di kota, Abi sering sekali menceritakan nya. Dia orang yang sangat baik sekali, rendah hati dan sederhana.
Istri Kyai Salim bernama Ustadzah Maria, dia seorang qoriah nomor satu di kota ini. Sebelum nya aku tak pernah bertemu dengan beliau, tapi saat ini beliau sedang duduk di samping ku, tersenyum kepadaku.
"Cantik sekali" Puji nya sambil memegang dagu ku.
Aku hanya bisa tersenyum, kepada nya.
"Sudah hafal berapa juz, sayang?" Tanya nya
"Baru 22 Juz, Ustadzah" aku menjawab nya dengan sedikit malu, sambil tersenyum kepada nya.
"Maa Syaa Allah, sebentar lagi sudah hafal Al-Quran"
"Bukan hal yang bisa di bangga kan, Ustadzah. Karena di usiaku ini belum bisa menghafalnya" Ucapku
__ADS_1
"Tidak, sayang. Berapapun pencapaian nya, di umur berapapun tetap harus di bangga kan, karena tidak ada kata terlambat selama Ajal belum datang" Dia mengelus kepalaku sambil terus tersenyum kepada ku.
Kami terus berbincang-bincang, Adzan Isya membuat kita semua harus pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Setelah itu, kami semua makan bersama.
"Cantik sekali anakmu, Mir" Puji Kyai Salim
"Abi nya ganteng, anak nya ya pasti cantik" Jawab abi ku dengan bangga
"Kau ini, slalu saja merasa tampan sejak dulu"
Penuturan Kyai Salim membuat Semua orang tertawa.
"Ini anak sulung ku, Nama nya Salman Al Farizi" Ustadzah Maria memperkenalkan anak sulung nya kepada umi dan bibi ku.
Aku pun melihat nya, pemuda tinggi dengan badan ideal, tidak terlalu besar itu terlihat tampan, apalagi kulit nya putih bersih. Wajah nya juga bercahaya.
"Oh, jadi ini yang baru saja lulus dari al Azhar?" Tanya bibi ku "Berarti yang dulu teman nya Adam waktu kuliah?"
"Iya, ustazah salamah. Baru satu bulan di sini"
"Ayo makan dulu, nanti kita lanjutkan ngobrol nya" Ajak Paman ku.
Kita semua makan dalam satu tempat, tak biasanya juga kita makan bercampur laki-laki. Mungkin karena keluarga Kyai Salim sudah sangat dekat dengan keluarga ku.
Aku makan dengan sangat nikmat, apalagi perutku sudah sangat lapar sekali, hehehe. Tapi aku merasa ada yang terus melihat ku. Aku pun sesekali melirik nya, tapi dia pandai sekali memainkan mata nya, sehingga aku gak bisa menangkap mata nya.
"Sabrina, antar kan Ustadz Salman ke tempat Bang Adam ya" Ucap paman ku "Kata nya dia mau ketemu sama Bang Adam. Paman udah telepon tapi gak di angkat"
Aku langsung berdiri, tapi tiba-tiba abi ku berseru "Ehh, tapi mereka bukan muhrim"
"Ah, aku percaya sama anakku, gak akan macam-macam sebelum halal"
"Hehehehe... "
"Salman, jaga jarak ya." Ucap abi ku, aku hanya tersenyum menanggapi semua candaan ini. Hari ini, benar-benar hari yang membahagiakan.
__ADS_1
Aku pun perjalan, dan ustadz Salman mengikuti ku di belakang. Langkah kaki ku menuju ke sebuah bangunan tempat Bang Adam mengajar. Setelah sampai, Bang Adam yang mengetahui kedatangan ku langsung keluar. Sebelum aku mengatakan apapun, mereka sudah berpelukan. Aku pun langsung meninggalkan mereka dan pergi bergabung bersama di rumah utama.