
Karena bangun sedikit kesiangan, afifah terpaksa ikut ke puskesmas bersama el.
"Aku mau operasi orang dulu, nanti siapin air buat aku mandi ya. kamu disini saja" ucap El sambil memakai jas putih kebanggaan nya. Afifah pun cuma bisa mengangguk, belum juga satu jam ia disana, tapi rasa bosan sudah menyerap kedalam tubuh nya.
"Ingat, Jangan ke mana-mana!!" El memperingatkan afifah sambil mengangkat jari telunjuk nya
"Iya iya mas" jawab afifah sambil manyun, membuat El tersenyum.
CUP..
El mengecup kening afifah "aku tugas Negara dulu, kamu diam disini saja, jangan keluar"
afifah mengangguk, sungguh ia masih malu jika El bersikap seperti itu.
Disisi lain, sanjaya sedang patroli bersama beberapa anak buah nya. Hari ini ada beberapa penyergapan sesuai laporan yang sudah masuk satu bulan terakhir.
"Ada 5 titik kejahatan yang sangat meresahkan warga. untuk itu kita akan membagi menjadi 5 Tim"
"Masing-masing tim akan di pimpin oleh Saya, Pak Agung, Pak Rizal, Pak Amar dan Pak Munip"
"Siap" jawab tegas 5 pria bertubuh tegap di hadapan sanjaya sambil hormat.
"Masing-masing tim beranggotakan 15 orang, untuk itu kalian langsung masuk kedalam tim secara merata, jangan berebut seperti Anak TK"
Begitulah sanjaya, sosok pemimpin yang tegas namun juga memberi kenyamanan, bukan hanya ketakutan di mata anak-anak buah nya.
Sosok Pemimpin jujur, Sumber kekayaan dan kemewahan yang sanjaya peroleh bukan lah dari Pengabdian nya, namun memang karena sanjaya Anak semata wayang keluarga Alexander.
Kini sanjaya sudah duduk di sebuah kursi depan, tepat samping kursi kemudi, menyusuri jalan untuk menangkap penjahat yang sebelum nya sudah di incar.
Mobil-mobil polisi berpencar, membelah jalanan dengan sirine khas yang membuat beberapa mobil didepan menepi.
"Tante, kok banyak sekali polisi disini" ucap Rani setelah keluar dari sebuah gang
"Gak tau, kita langsung pulang saja" Jawab lastri.
mobil milik lastri segera melaju menuju rumah mewah milik nya, sesampainya di rumah, endang, lastri dan Rani tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kata mbah dukun tadi, afifah hamil tante"
"aku tak peduli itu, yang penting tadi kita sudah serahkan foto El juga agar lupa kepada afifah"
"Aku gak sabar menjadi istri el"
"Besok aku dan Rani pulang las, gak enak kalau disini terus. takut sanjaya curiga kalau kita disini terus"
"aku mau disini saja ma, biarkan aku disini ya, ya ya?"
"Tidak!!" jawab lastri "kamu pulang saja. kalau kamu disini nanti byan ikut curiga. biar nanti el yang menjemputmu, jika waktunya tiba"
...****************...
Sore hari, Afifah pergi ke rumah Pak lek Hanan untuk membantu persiapan pernikahan Hilda, besok.
El juga ikut bantu-bantu disana walau hanya sekedar melihat beberapa pemuda yang membuat umbul-umbul.
Didapur, afifah dan bu zainab sedang membuat kue Tart untuk Hilda, afifah sangat pandai menghias kue tart, apalagi kemarin ia sempat mampir untuk membeli aksesoris tambahan untuk kue tart.
Walau Hilda dan ibu nya sering berbuat jahat kepada afifah, namun afifah tak pernah ada pikiran untuk membalas mereka. Bagi afifah Pak lek nya itu sudah ia anggap seperti ayah nya, ia slalu memaafkan semua kejahatan hilda dan ibunya karena kebaikan pak lek hanan yang sudah banyak membantu keluarga nya.
Jam 10 malam, afifah dan El kembali pulang. sebenarnya afifah enggan pulang, dan meminta untuk ikut begadang membuat kue. Namun El tak mengizinkan nya.
"Kamu kan lagi masa pemulihan, gak baik jika kamu capek-capek seperti ini" Tegas El, yang membuat afifah takut.
dengan hati sedikit kecewa, afifah akhirnya pulang bersama El, apalagi bu zainab juga memarahi afifah karena sejak jam 8 disuruh pulang, namun afifah terus menolak nya.
setelah sholat subuh, Afifah hendak memasak sarapan, sedangkan El tiduran di sofa sambil menonton TV.
Namun tiba-tiba afifah mengalami kram perut, sangking sakitnya afifah sampai tak kuat berdiri dan berjalan.
"Mas, rasanya aku pengen poop, gendong aku ke kamar mandi"
__ADS_1
El pun yang sedikit panik, langsung menggendong afifah ke kamar mandi dekat dapur, afifah pun masuk kesana, dengan berjalan tertatih-tatih.
Setelah afifah membuka Celana dalam nya, ia sangat terkejut melihat darah yang keluar dengan sangat deras.
"Darah Apa ini?" panik afifah.
perut afifah semakin sakit, darah terus keluar dengan deras.
"Mas, hiks hiks hiks" afifah berteriak sambil menangis.
El yang berada di luar semakin panik mendengar teriakan afifah.
"Fah, kamu kenapa" El menggedor pintu kamar mandi yang afifah kunci "Buka pintu nya fah"
"Mas, sakit sekali" afifah berteriak lagi sambil menangis
El pun mendobrak pintu kamar mandi, namun sangat susah sekali terbuka.
El pun mundur lalu menendang dengan kaki nya, setelah beberapa kali pintu berhasil di buka.
"Fah!!" El langsung memeluk afifah yang tersungkur dilantai dengan banyak sekali darah
"Mas, sakit" keluh afifah
"Yasudah kita ke puskesmas langsung. sebentar" afifah menarik tangan El yang hendak berdiri
"Mas, lihat lah ini. Ini apa hiks hiks hiks" afifah menunjuk sebuah gumpalan Darah yang cukup besar
El yang seorang dokter bedah, tanpa merasa jijik langsung mengambil gumpalan tersebut. El meremas nya namun gumpalan itu tetap utuh.
"Ini seperti janin fah, apa kamu hamil?"
"Aku gak tau mas, hiks hiks hiks.. jadwal menstruasi ku masih kurang 1 minggu lagi.. apa sekarang aku lagi menstruasi?"
El langsung keluar, tak lama ia kembali membawa plastik. gumpalan darah itu ia masukkan kedalam plastik setelah ia memfoto nya.
Setelah itu, El dengan sangat sabar membersihkan darah di kamar mandi, dan juga membersihkan tubuh afifah.
setelah semua bersih, El menelpon zakir untuk membawakan sarapan untuk nya dan afifah ke puskesmas.
"Mas.. apa aku keguguran?" afifah kembali menangis, padahal baru saja ia diam.
"Tunggu bu nanik dulu ya, biar diperiksa"
"Kenapa gak kamu saja mas, ayo cepat hiks hiks hiks"
"Fah, aku gak begitu paham dengan semua ini. aku juga sudah melihat nya, namun aku tak bisa menyimpulkan nya"
Mendengar suara El yang seperti marah, afifah semakin menangis sejadi-jadi nya.
"Maaf, aku gak bermaksud marah sayang. Aku juga panik dan takut. jangan menangis" El memeluk afifah dan mencium kening afifah.
El terus memberikan ketenangan lewat pelukan hangat. sampai bu nanik datang dengan hanya memakai daster. karena ini masih jam 6 pagi.
"Iya Pak, afifah mengalami keguguran. gumpalan ini memang janin. mungkin usia nya belum satu bulan"
Afifah menangis mendengar nya, El pun memeluk nya.
"Kandungan nya mungkin lemah, jadi ketika capek sedikit akibat nya bisa sefatal ini."
bu nanik masih memeriksa afifah dengan melihat kondisi afifah melalui USG.
"Ini belum bersih Pak, harus dikasih obat biar semua darah keluar. namun jika masih belum bersih, terpaksa harus kuret"
afifah masih belum berhenti menangis di pelukan El, bisa-bisa jadi gosip hangat pagi ini.
"Siapkan saja obat nya. biar aku yang merawat nya. bu nanik bisa pulang dulu"
"Baik Pak El, saya ambilkan obat nya"
Bu nanik pun keluar dari sana. sedangkan El memerintahkan beberapa perawat laki-laki untuk membawa ranjang pasien ke ruangan nya.
__ADS_1
"Aku jalan saja mas, gak enak di lihat banyak orang kalau kamu gendong aku"
"kamu jangan benyak gerak afifah, sudah nurut saja"
afifah menyembunyikan wajah nya di dada El, ia sangat malu di gendong ala bride style oleh El. walau saat ini puskesmas masih sepi, namun beberapa pegawai puskesmas melihat nya.
"Mas kok disini sih, nanti ruangan kamu jadi bau kena darah ku"
"Gakpapa, daripada kamu di rawat di ruang inap. banyak yang akan lihat nanti"
tak lama bu nanik datang membawa nampan berisi infus dan beberapa obat.
"Pak, ini obat nya dimasukkan ke dalam ******. yang satunya lagi diminum setelah makan. ini infus nya Pak, afifah harus di infus karena nanti tenaganya akan terkuras karena efek obat ini"
El mengangguk "Terima kasih bu nanik, anda bisa pulang dulu. jam kerja masih kurang dua jam lagi"
"Iya Pak, saya permisi dulu"
El mengangguk dan tersenyum.
setelah kepergian bu nanik, El memasang infus di tangan afifah. zakir juga datang bersama bu zainab yang sudah menangis mendengar kabar afifah.
"Nak El, kamu makan saja dulu. biar ibu yang suapin afifah"
"Iya bu, pastikan dia habisin makanan nya ya."
bu zainab mengangguk.
setelah makan, afifah meminum obat nya.
"Bu, afifah gak kenapa-napa. sebaiknya ibu dan zakir hadir di acara akad nikah Hilda. cukup afifah dan mas ramdan yang gak hadir disana. gak enak sama pak lek"
"Ya sudah, ibu pulang ya. nanti siang setelah acara akad nikah ibu kesini lagi. sekalian bawain makan siang untuk kalian"
"Iya bu, jangan khawatirkan afifah ya."
"yasudah ibu pulang dulu. nak El jaga afifah ya, kalau bandel marahin aja"
El tersenyum "iya bu"
Setelah memasukan obat kedalam ****** afifah, El menelpon sanjaya untuk meminta doa nya.
"Iya El, papa akan doakan yang terbaik"
"Papa jangan bilang ke mama dulu ya. tau sendiri mama seperti apa"
"Tenang saja, percaya sama papa"
"Yasudah pa, El mau mandi dulu. El juga kerja disini"
"Iya, jaga Afifah ya nak. kalau gak sibuk besok papa ke sana sama byan dan mira"
"iya pa, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
...****************...
Setelah makan siang, Sanjaya memantau perkembangan beberapa kasus penjahat yang kemarin ia tangkap.
"Pak, ini ada foto bapak dan anak bapak" indra memberikan sebuah foto kepada sanjaya.
"Dari mana foto-foto ini?"
"Ini saya temukan di rumah dukun yang saya tangkap kemarin"
Sanjaya keget "Cepat intograsi dia. kenapa ada fotoku dan anakku"
"Siap Pak"
Indra pun kembali, ia menemui dukun yang ia tangkap kemarin dan mulai mengiteograsi nya.
__ADS_1
Awalnya dukun tersebut tak mau menceritakan, namun setelah beberapa pukulan dilayangkan oleh indra dan beberapa teman nya, dukun tersebut menceritakan semua nya.
Pasti ini kerjaan lastri!!