
"El, bagaimana kelanjutan hubungan mu dengan gadis desa tersebut?" ucap sanjaya setelah mengobrol santai dengan El melalui telepon.
"hmm.. masih belum ke tahap serius pa. mending El tahun depan saja. biarkan kak byan dulu" jawab El
"sejak setahun yang lalu, papa sudah bilang kepadamu dan byan. bahwa kalian berdua harus mulai mencari jodoh. namun jika waktunya tlah tiba, papa akan mencarikan nya untuk kalian"
"iya pa. tapi biar kak byan dulu saja"
"El, papa tak pernah meminta dan memaksa kehendak papa. cuma papa mohon ini adalah permintaan papa" lembut sanjaya
"paaa... jangan bicara seperti itu ya. baiklah baiklah El mau" senyuman berhasil terukir di bibir sanjaya, ia sangat tau bagaimana membuat anak nya luluh dan tak lagi membantahnya.
"jika minggu depan papa tak mendengar kabar baik darimu. maka pulang lah. hari minggu kita sekeluarga di undang di acara ulang tahun pernikahan teman papa. papa akan kenalkan kamu kepada seseorang"
"siapa pa?"
"kamu ingat Febby?"
"febby?"
"iya febby teman caca dulu."
"papa mau nikahin aku sama bocah? gak mau"
"yasudah bawa gadis pilihanmu, kalau enggak berarti kamu harus mau sama febby"
"paa.. febby itu gadis gak baik. El tau itu"
"papa slalu adil kepada kamu dan byan. sama seperti byan yang papa paksa menikah dengan pilihan papa, karena ia tak bisa membawa gadis baik-baik. itu juga sama seperti mu. jika kamu gak jadi sama gadis desa tersebut, nikah saja sama febby. titik"
tut
tut
tut
sambumgan telepon langsung di matikan
El mengeram sangat kesal, ia terjebak di antara pilihan yang sama-sama tidak baik baginya. bukan pilihan namun paksaan. nenek? itulah harapan El untuk menghentikan papa nya.
"Iya el?" selah beberapa detik, nenek eka mengangkat telepon nya
"nek, El gak mau nikah. bilang dong sama papa" ucap El langsung tanpa berbasa-basi.
"nenek gak bisa El, nenek sedang sibuk. sebaiknya kamu turuti saja papa mu. yasudah sampai jumpa lagi ya"
"nekkkk" teriak El
__ADS_1
tut
tut
tut
sambungan telepon langsung di putus sepihak oleh nenek eka. tak biasanya nenek nya bersikap seperti itu. setidak nya nenek nya slalu tanya dulu kenapa? ada apa?. namun kali ini ada yang sedikit aneh, begitulah pikir El.
El pun menjadi kesal, kepala nya semakin pusing, ka memijat pankal hidung nya untuk mencari jalan keluar.
"lebih baik aku sama afifah, daripada sama febby. dia wanita bar-bar dan gak baik. kalau afifah dia bisa ku atur. bahkan... aaaahhhh" El merasa sangat pusing ia mengacak-acak rambut nya
sedangkan disisi lain, nenek eka sedang tertawa bersama sanjaya, anak semata wayang nya.
"San masih gak percaya buk, kalau El di tolak gadis kampungan."
"hahaha.. kamu jangan cerita siapa-siapa. awas ya" ancam nenek eka
"iya buk, tenang saja. ibuk benar juga. dia pasti gadis baik-baik. kalau dia gadis matre sudah pasti dia langsung menerima El"
"kamu siapkan saja untuk lamaran El. seragam juga. aku juga buatkan. awas kalau istrimu tak membuatkan nya untukku" sewot nenek eka
"iya ibuku tersayang" sanjaya memeluk ibu nya yang sudah tua itu, ia merasa sangat gemas sekali, sempat-sempat nya ibu nya itu mengomel karena istrinya. padahal jelas lastri sedang tidak ada di sana
___
jam 3 sore El sudah bersiap-siap hendak kembali ke rumah nya. namun saat sudah di dalam mobil hendak menyalakan mesin mobil, ia mendengar beberapa orang sedang bergosip di luar. tentu saja bergosip tentang nya dan afifah. El pun menginjak pedal gas, ia ingin segera sampai rumah dan memikirkan kembali masalh hidup nya yang begitu sangat rumit.
"iya bi, pulang saja"
"rumah sudah bersih dok, air juga sudah siap di kamar mandi. cuma saya belum masak"
"iya gakpapa bi, pergi saja" jawab El lembut
"baiklah, saya permisi dok. Terima kasih" pamit bu sugiati.
El pun masuk ke dalam rumah. tujuan nya saat ini cuma kamar mandi. ia ingin segera menyegarkan tubuh nya.
El berendam di dalam bathup yang penuh dengan busa sabun ia melihat langit-langit kamar mandi, sambil terus berpikir harus bagaimana. kini tak ada lagi sandaran nya, satu-satu nya teman curhat nya yaitu nenek eka dan byan. namun tak mungkin El menceritakan semua nya ke byan, ia malu jika harus mengatakan jika afifah menolak nya.
setelah mandi, El langsung mengeluarkan motor gede nya yang baru sampai beberapa hari kemarin. ia menuju ke toko pak Haji. di toko pak Haji El pun mengambil telur dan susu. setelah itu membawa nya ke kasir.
"Nak dokter" sapa pak Haji
"iya pak Haji. bagaimana? bisa gak ngurangi gula nya?" El berbasa-basi dengan pak Haji
"sudah nak dokter, ini saya minum teh dengan sedikit gula"
__ADS_1
"Hemm.. minggu depan waktunya kontrol ya pak Haji. awas saja kalau darah nya nambah" Canda El
"hehehe... iya nak dokter. tapi ngomong-ngomong kapan mbak afifah nya di halalin" goda pak Haji
deg... El langsung membisu, pak Haji lalu keluar dan menarik dia kursi plastik di dekat kasir "duduklah"
bagai terhipnotis, El pun langsung duduk disamping pak Haji.
"nak El, alhamrhum ayah nya dulu berangkat Haji bersama ku. keluarga mereka keluarga baik-baik. tak pernah ada kasus yang seperti ini."
"jangan buat dia menunggu sehingga ada gosip lagi yang membuat ibu nya juga sakit nak. jika kamu serius. segera nikahin dia"
El masih diam membisu
"dia dulu sangat ceria, sopan, ramah nak, tidak ada laki-laki yang tak mau dengan nya. namun, sejak kejadian itu dia berubah kecuali kepadaku. dia sudah ku anggap seperti anak ku sendiri. andai aku masih punya anak laki-laki yang belum menikah. tak akan berpikir lagi akan segera ku ambil menantu"
"kasihanilah dia nak, percayalah dia itu gadis baik-baik. aku berani menjamin nya"
"aku tau afifah mungkin menolak untuk menikah karena masih ingin fokus dengan ibu nya. dia mengatakan sendiri kepadaku seperti itu"
"datangilah ibu nya, lamar dia. aku jamin ibu nya langsung menerima mu"
**
kini El sudah berada di rumah nya, di depan nya sudah ada piring dengan nasi putih da 2 telur rebus, dan wortel rebus, lalu segelas susu.
El masih teringat kata-kata pak Haji. ia memikirkan semua nya. El ingin segera mengakhiri maslah hidup nya yang begitu sangat rumit sekali.
disisi lain, afifah sedang duduk bersama ibu dan adik nya menonton televisi. itulah kegiatan mereka setelah sholat isya dan makan malam.
"Fah.. kamu benar pacaran sama dokter el?" tanya bu zainab
"enggak bu, itu hanya gosip" jawab afifah tanpa memalingkan pandangan nya dari layar televisi.
"mbak, apa benar mbak pernah di hadang mas adi?"
"iya, waktu itu dokter El menolong mbak. mungkin karena itu orang-orang mengira mbak pacaran sama dokter El" jawab afifah, kali ini ia memandang zakir dengan penuh keyakinan bawa jawaban nya tidaklah bohong.
tok
tok
tok
"Biar saiki yang buka pintu" zakir pun beranjak dari duduk nya, ia berjalan menuju ke pintu
_____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat.
dan jangan lupa tekan tombol ❤ ya 😘😘😘