Bumbu Cinta, 100% Halal

Bumbu Cinta, 100% Halal
Tidak Boleh Lagi


__ADS_3

"Mas... Sudahhh, hentikannnn" Rengek Sabrina


"Sayanggg, Enak, ah.. ah.. ah"


"Saaakiiit" Sabrina menatap Exel dengan tatapan memohon, Exel pun menjadi tidak tega melihat istri kecil nya yang memohon.


Exel memposisikan diri nya senyaman mungkin, ia membuka lebar-lebar kaki Sabrina, dengan tubuh bertumpu dengan kedua siku nya. Kedua tangan Sabrina melingkar di leher Exel.


"Cium leher mas, sayang. Seperti masa menciumi mu"


Sabrina mengangguk.


"Baiklah, tahan sebentar ya. Mungkin akan sedikit sakit"


Setelah mengatakan itu, Exel langsung memacu pinggul nya dengan tempo sangat cepat dan keras. Sabrina yang sebelum nya sudah di tugaskan untuk menciumi leher Exel kini malah mendorong dada Exel karena rasa sakit yang Exel berikan.


Exel pun merasa tak suka, ia langsung mencengram kedua tangan Sabrina lalu mengangkat nya ke atas. Exel pun mengunci nya dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri nya ia gunakan untuk menekan pinggang Sabrina karena Sabrina terus memberontak.


"Hiks... hiks sakit mas"


Exel tidak memperdulikan rengekan Sabrina, ia terus melakukan nya semakin liar apalagi kini sesuatu sudah mulai naik ke ubun-ubun nya.


"Aaaahhhh.. Aaaaahhhh.. Ahhhhhh" Exel menyentak nya sangat kasar, bersamaan dengan itu tubuh Exel langsung lemas.


Sedangkan Sabrina langsung memegangi milik nya yang begitu sangat sakit sekali. Ia menangis membelakangi Exel.


"Maaf" Bisik Exel sambil memeluk Sabrina dari belakang.


"Andai kau tak memaksa ku untuk menyudahi nya dan membiarkan ku menyelesaikan nya senidiri. z mungkin tak akan begini cerita nya" Exel semakin mempererat pelukan nya.


"Sakit sekali, mas. Bagaimana ini?" Tanya Sabrina


"Mas lihat dulu sini" Exel bangkit duduk, ia langsung membuka paha Sabrina dan melihat benda yang beberapa menit yang lalu membuat nya gila


Mata Exel terbelalak, kenapa bentuk nya menjadi tak karuan seperti ini, batin Exel.


"Pasti sakit sekali ya, sayang?"


"Iya, mas"


Sabrina bangun, ia duduk di tepi ranjang dengan menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Exel


"Mau ke kamar mandi, mas. Bersihin ini"


"Biar di bersihin pakai tisu dulu, lagian sebentar lagi kita lanjutkan... "


"Tidak" Tolak Sabrina langsung "Tidak boleh lagi"


"Mana puas mas, sayang" Exel memeluk Sabrina mengangkat nya dan mendudukan Sabrina di pangkuan nya.


"Sakit sekali, mas. Besok masih ada acara"


"Acara apa?" Tanya Exel dengan serius


"Huh, mas ini benar-benar tidak tau ya. Besok pagi kita ke rumah mas, ada acara keloran" Sabrina meringsut, ia berdiri, lalu berjalan menuju ke kemari dengan sangat hati-hati.


"Huh, kenapa banyak sekali acaranya"


"Sabrina mohon, malam ini cukup dulu ya mas. Nanti kalau di teruskan bisa-bisa Sabrina gak bisa jalan. Ini saja sudah sangat sulit jalan nya"


Exel bisa melihat jelas, kini Sabrina berjalan dengan sedikit mengangkang. Ah, Exel masih tau dan bisa lihat jelas, bagaimana bentuk milik Sabrina yang seperti terkena angin ****** beliung, porak poranda.


...****************...


"Bangunkan suami mu dulu, sayang. Umi siapkan beberapa kue yang akan di bawa ke sana"


Sabrina mengangguk, lalu ia meninggalkan sang ibu di dapur. Ia masuk ke dalam kamar nya, Sabrina melihat suami nya itu tidur sambil memeluk selimut dengan erat. Sabrina menggeleng-gelengkan kepala nya, suami nya ini begitu tidak tau diri sekali. Tidur di rumah mertua masih saja jam segini masih tidur. Terlebih mertua nya seorang ustadz, seharus nya jam segini ia sholat dhuha bukan tidur sangat nyenyak sekali. Untung saja mertua nya sabar, Alhamdulillah.


"Mas," Sabrina menggoyang nya tubuh Exel, berharap Exel membuka mata nya, tapi Exel yang terusik malah berbalik dan semakin menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut.


"Mas, bangun. Udah jam sembilan, Sabrina mau pergi, mas gak ikut?"


Exel yang mendengar nya pun langsung bangun, ternyata siasat Sabrina berhasil juga.


"Pagi-pagi gini kamu mau kemana? suami masih tidur tapi kamu udah dandan cantik gini"


"Sudah ayo bangun, kita akan pergi ke rumah kamu mas, kan kemarin aku udah bilang ada acara keloran"


"Oh my god, kenapa Indonesia slalu banyak sekali sih acara nya" Omel nya sambil meremas rambut nya


"Ayo bangun, itu baju nya sudah Sabrina siapkan" Sabrina menuding sebuah baju batik dengan design khusus yang sudah di pesan oleh ustadz Amir.

__ADS_1


Exel pun terpaksa bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di luar kamar dengan tidak tau malu nya. Padahal di luar banyak kerabat Sabrina, tapi Exel tidak perduli seolah bangun siang yang dia lakukan saat ini adalah wajar. Dasar bule Edyan!


"Mas Syaa Allah, Suami ku tampan sekali dan gagah" Puji Sabrina yang baru saja selesai memgaitkan kancing di leher Exel.


"Presiden mu kalah gagah nya sama aku, kan?" Ucap Exel dengan penuh percaya diri nya.


"Gak boleh body shamming, itu pemimpin negara kita mas. Kita harus menghargai nya. Apalagi mas juga sering kan di undang ke istana tapi gak pernah mau datang. Padahal itu sebuah kehormatan"


"Gak perlu datang ke istana, yang penting aku sudah membuat negeriku bangga"


"Tuh kan, kalau di puji sekali semakin ngelunjak"


Cup, Exel mencium kening Sabrina, lalu memeluk nya.


"Kamu cantik banget sih, sayang. Masih sakit gak?"


"Masih mas, lebih sakit yang ini dari pada yang kemarin"


"Besok kita langsung pergi bulan madu, biar kalau manatap-mantapan sepanjang malam gak khawatir"


"Gak bisa, mas" Sabrina mundur, lalu mendingan menatap Exel "Besok ada acara di sini, tasyakuran pra nikah. Abi akan undang teman-teman nya, nanti acara nya kaya pengajian gitu"


"Astagaaaa" Exel memegangi kepala nya yang tak pusing itu.


"Sudah ayo keluar" Sabrina langsung menarik tangan Exel agar mengikuti nya keluar kamar.


Setelah keluar, mereka langsung g menuju ke teras untuk menunggu persiapan selesai. Exel kini merasa pusing memikirkan cara bagaimana kabur dan menghindari acara-acara yang menurut Exel tak penting ini. Memikirkan ini sangat sulit sekali, padahal selama ini Exel tidak pernah kesulitan saat belajar dan juga masalah pekerjaan. Ini benar-benar masalah serius. Butuh bantuan pihak ke tiga agar dia benar-benar bisa menikmati suasana pengantin baru nya.


"Ayo berangkat" Ajak Ustadz Amir.


Sabrina pun berdiri, tapi Exel masih diam melamun.


"Mas" Panggil Sabrina, namun Exel tak mendengar nya.


"Mas," Sabrina memegang tangan Exel


"Hah?" Exel menatap Sabrina


"Kamu kenapa?"


"Gak apa-apa, lagi banyak pikiran pekerjaan saja" Dia berbohong.

__ADS_1


"Nanti saja di pikirkan, sekarang ayo berangkat"


"Hmm, ayo"


__ADS_2