
Bisa di banyangkan bagaimana bosan nya Exel saat duduk di
tengah-tengah orang-orang yang membaca sholawat. Semua orang Nampak serius
membacanya hanya Exel saja yang tak bisa memnaca apapun. Ya mohon maklum saja
Exel memang tidak bisa apapun. Jangan kan membaca Sholawat, membaca al quran
saja tidak bisa. Untung-untungan ia hafal doa sholat walaupun tak pernah
sholat.
Ustadz dan ustadzah yang di undang oleh Amir tujuh puluh
lima pesen adalah anak muda. Tentu mereka tau siapa Exel, dalam dunia anak muda,
sosok Exel memang terkenal sebagai pengusaha muda yang sangat sukses.
Beberapa dari mereka berpendapat kagum dengan exel, sangat
beruntung sekali Sabrina menjadi istri Exel. Namun ada juga yang bilang bahwa
sosok Sabrina di sayangkan saja mendapatkan Exel. Bebebrapa dari mereka
mengatakan bahwa DSabria lebih pantas menjadi istri seorang kyai yang memimpin
sebuah pesantren daripada menjadi istri seorang pengusaha.
“Ustadzah Sabrina, kok bisa sih menikah sama Pak Exel?”
“Iya, ustadzah Sabrina. Dunia kalian kan berbeda. Untuk
bertemu pun bisa di katakana sangat mustahil. Karena kami dengar Pak Exel sejak
kecil di Amerika”
“heheheh..” Sabrina tertawa, saat beberapa ustadzah yang
kenal dan dekat dengan nya bertanya
tentang pertemuan nya.
“Itu terlalu panjang jika di ceritakan, hehehe..” sambung Sabrina
“Tampan dan cantik. Aku yakin nanti anak nya juga tampan dan
cantik”
“Tapi ceritain sedikit dong, Ustadzah Sabrina”
“Baiklah, aku ceritakan nanti. Tapi ayo kalian makan dulu.
Setelah makan kita bersanti sambil bercerita”
Semua wanita yang mengerubumnngi Sabrina pun tersenyum
senang, merka akhirnya menuju ke sebuah meja yang di atas nya sudah ada banyak
sekali berbagai macam makanan.
Exel yang sudah sangat muak sekali dengan acara ini, ia pun
masuk ke dalam rumah saat orang-orang tengah sibuk makan. Ia langsung
menhampiri Sabrina yang duduk sendirian sambil memegangi sebuah buku.
“Sayang, ayo masuk. Mas mau bicara”
Sabrina mengkerutkan
dahi nya, ada apakah exel memanggil nya. Terlihat sangat serius sekali. Namun taka
da pilihan, Sabrina pun langsung berdiri dan mengekor di belakang Exel.
“Ada apa ,mas? Kamu mau makan di sini atau…”
“Tidak” potong exel langsung “Mas bosan sekali, ini acara
nya selesai jam berapa?”
“Kemungkinan jam dua belas,mas.”
Exel langsung melihat jam tangan ya, ia ingin memastikan sesuatu
“Kurang satu jam. Oh my god”
“Kamu coba ikut berbincang dengan mereka semua, mas. Biar
gak bosan”
Exel berkecak pinggang, ia bingung sekali mau ngapain
selanjut nya. Satu jam bagi Exel saat ini sangatlah lama sekali.
“Mas tunggu disini saja ya. Bilang ke Abi aku ada pekerjaan”
“Tapi, mas. Gak enak sama tamu-tamu”
Sabrina benar sekali. Ia juga tidak enak hati kepada Merua
nya. Bagaimanapun, ia tetap harus bersikap baik dan tak mengecewakan amir.
“Mas gak nyaman pakai sarung, boleh gak mas ganti?”
Sabrina tertawa, suami nya itu tidak bisa memakai sarung.
Padahal menurut Sabrina exel semakin tampan saat memakai nya.
“Hehehe, yasudah. Sabrina ambilan celana.”
“tidak,” Exel menari tangan Sabrina, lalu memeluk nya. “Biar
mas ambil sendiri, kamu keluar saja dulu” Titah Exel. Tapi sebelum Sabrina pergi,
exel masih sempat-sempat nya mengelumat bibir Sabrina.
*****
“Jadi, aku kenal sama mas Exel itu kita-kira udah sepuluh
tahunyang lalu. Kalau gak salah aku masih sekolah dasar”
“Hah?” Semua Nampak terkejut
“Iya, waktu itu aku ikut bibi pengajian di masjid. Lalu aku
mau belli Es cream rasa pisang. Tapi habis di beli mas Exel”
“Terus?”
“Mas exel mendengar nya, akupun mengampiri nya dan mencoba
membeli nya. Tapi mas exel malah
memberikan nya kepadaku. Akhirnya aku pun duduk di sebelah nya, Karen waktu itu
umi melarangku membawa es cream ke dalam masjid”
“Lalu?”
“Lalu lama kita gak bertemu dengan nya, karena mas exel
waktu itu kuliah kalau gak alah. Jadi pas aku sekolah SMA, dia dating menghampiriku
di sekolah. Lalau dari situlah kami sering chattingan. Eh gak sering sih, dia
sangat sibuk seperti nya, kadang satu bulan sekali baru blas chatky, heheh”
Sabrina terkekeh.
“Waahh… padahal dul pernah di gosipkan sama selebgram”
“Kamu tau saja” Celah yang lain
__ADS_1
“IYa, aku sering baca berita Pak Exel”
“Ya itulah ujian Cinta. Aku juga sempat menikah dengan Gus
Salman.Tapi yasudah, intinya kalau udah jodoh pasti akan menikah. Jadi kalian
semua yang belum menikah, cukup berdoa. Insyaallah di waktu yang tepat kalian
akan di pertemukan dengan orang yang terbaik”
“Barkallah, Ustadzah Sabrina. Semoga sakina mawaddah wa
rahma”
“Aamiin”
“Yasudah, sebentar aku mau ke depan dulu, ya. Semangat unruk
para jomblo sholihah”
Setelah mengatakan itu Sabrina berdiri, lalu berjalan
menghampiri Exel yang tengah berbicang dengan beberapa orang. Langkah nya
terhenti, saat ia melihat Exel berbicara dengan seseorang yang ia kenal.
Sabrina langsung buru-buru berbalik namun saying sekali..
“Sabrina” Orang itu memanggil Sabrina.
Sabrina menggigit bibir bawah nya, ia sugguh tak ingin
bertemu dengan nya saat ini. Bukan tak mau, tai dia tkut akan menyaiti hati
suami nya.
“Sabrina” Panggil exel. Kali ini Sabrina harus menoleh dan
memenuhi panggilan suami nya.
“Iya, mas” Jawab Sabrina sambil berbalik tapi tak melihat
exel, ia malah menunduk.
“Mau kemana? Ini ada Salman”
Duar
Duar
Duar
Rasa nya jantung Sabrina ingin sekali meledak. Ia bingung
apa yang akan ia kata kan nanti.
“Ayo ke sini, Sabrina”
DEngan langkah ragu abrina berjaln menghampiri Exel.
Yaa Allah, aku hanya memenuhi panggilan suami ku. Jika ini
menyakiti hati nya. Maka ampuni aku yaa Allah.
“Assalamualikum, khaifa khaluq ya Sabrina?” Tanya
Salman langsung sambil tersenyum
“Waalaikumsalam, ana bi khori wal afiyah wal khamdulillah”
“Kalian ngomong apa sih?” Tanya Exel langsung
“Ini mas, Gus Salma menanyakan kabar ku. Jadi aku jawab aku
baik-baik saja”
“Oh, kalian jangan bicara bahasa arap lagi. Aku tak
mengerti. Kalau bahasa Inggris, perancis atau bahas lain nya bisa. Kecuali bahasa
“Maa Syaa Allah, hebat sekali. Kalau bahasa inggris dan yang
lan nya aku gak bisa” Gus salman mencoba bercanda, walau garing
“Ayo, makan. Kamu kan belum makan” Ajak Exel
“Ayo kita makan bersama-sama” Ajak kembali Gus Salman.
“OKey, ayo Sabrina, siapkan makanan ku”
Ada beberapa orang yang memperhatikan Gus Salman , exel dan Sabrina.Merekanampak
baik-baik aja. Seolah tidak pernah terjadi cerita di antara mereka.
Saat Adzan Dhuhur berkumandang, Ustadz Amir mengjak semua
orang untuk Sholat di pesantren sebelum semua nya kembali pulang. Kali ini Gus
Salman yang memimpin Sholat Dhuhur. Exel yang juga iut sholat di barisan paling
depan bersama orang-orang sholeh lain nya, insyaallah. DIa bisa mendengar jelas
bagaimana suara merdu dan faseh nya Gus Salman saat mengaji.
Entah mengapa, untuk pertama kali nya,Exel merasa
terkalahkan oleh seseorang. Padahal jika lihat sekarang, itu terlalu berlebuhan
Apalgi semua sudah bahagia dengan jalan masing-masing. Exel yang sejak dulu tak
pernah menerima kekalahan pun ingi sekali menjadi lebih dari gus salman. Ambisi
Exel tersulut, ia harus berjuang keras untuk menjadi imam yang baik untuk Sabrina,
hingga suatu saat nanti tidak ada yang membandingkan nya dengan Gus Salma.
Walau tidak ada yang berpikiran seperti Exel, tapi exel tak mau itu terjadi di
kemudian hari.
"Aku akan menjadi lebih baim dari nya, harus!"
***
Kini Sabrina dan Exel berbaring di tempat tidur, dengan Sabrina
berbantalan lengan Exel, mereka
memandangi langit-langit kamar. SUdah lima belas minit mereka diam, Sabrina juga
takut sekali untuk memulai berbicara, sedangkan Exel saat ini banyak sekali
pikiran di dalam otak nya.
“Sabrina, mas gak bisa ngaji. Apa kamu gak malu atau gak
kecewa dengan mas yang seperti ini?” Akhirnya Exel mengatakan unek-unek nya
yang sejak tadi siang ia pendam.
“Sabrina tau, mas” Kini Sabrina memirinkan tubuh nya, tangan
nya ia llingkarkan di atas perut Exel. “Kenpa mas tiba-tiba ngomong seperti
itu?”
“Gus amir kan… Ahhhhh”
Sabrina mencibit keras perut Exel.
“Kenapa di cubit, sayang?” exel menggosok perut nya yang
terasa panas akibat cubutan Sabrina
__ADS_1
“Aku gak suka membandingakn apapun. Kita sudah menikah,
untuk kekurangan nya jangan di bahas. Ayo kita saling melengkapi nya. Gak usah
bahas yang lalu”
Exel memeluk Sabrina, “Terima kasih sayang. Mas aka terus
berusaha akan menjadi imam yang baik buat mu”
“Aamiin.. Nanti Sabrina Ajari mas ngaji pelan-pelan ya. Dan
kali ini mas gak usah gengsi atau malu. Kita sudah menjadi suami istr. Kita
harus bisa menutupi kejelekan pasangan kita dari orag lain, jadi mas gak usah
khawatir”
“Baiklah istri ku yang cantik”
“Jangan bilang cantik, ganti dengan Sholehah saja. Biar jadi
doa juga”
“Baiklah istr sholehah nya mas” Exel menciumi Sabrina,memeluk
nya dengan gemas dan pada akhirnya tau sendiri lah apa yang di lakukan oleh
pengantin baru ini.
***
Hari ini, Exel akan terbang ke Prancis bersama Sabrina. Ia
akan menyelesaiakn beberapa tugas sebelum ia tinggal menetap di Indonesia.
Sebenarnya mereka sudah berada di kota satu minggu yang lalu. Tapi,mereka baru
bisa pergi ke prancis sekarang karena tuga hari Exel merayakan bulan madu di
hotel, dan sisa nya Sabrina sakit karena exel terus menghajar nya tak kenal
waktu.
“Mas Sabrina, takut. APalagi kita akan angat lama di pesawat”
“Gak usah takut,” Exel mengambil sebuah lembaran kertas di
saku kursi “ Ini ada doa nya. Kamu baca dan kamu tambahin ssendiri doa nya biar
kamu tenang”
Sabrina memegang tangan Exel kuat saat pesawat mulai lepas
landas, Sabrina memejamkan mata nya karena ini adalah pertama kali nya Sabrina naik
pesawat.
“Syang, buka matamu. Lihatlah ke luar. Awan pagi ini sangat
indah”
Perlahan Sabrina membuka mata nya, ia lalu meioleh kea rah jendela.
“Maa syaa Allah,mas. Indah sekali”
Exel tersenyum, saat perlahan rasa takut Sabrina sudah
hilang.
“Nanti mas akan mengajak mu keliling eropa. Kita akan
liburan kurang lebih dua sampai tiga bulan”
Sabrina diam, menatap exel.
“Kamu nanti cari informasi wisata, ya. KAmu katakana saja
mau kemana”
“Sebenar nya Sabrina ingin ke Mekkah mas. Kita Umrah saja
gimana?”
Exel diam, ia mengkerutkan dahi nya, seolah hran dengan Sabrina.
Dsaat semua wanita ingin jalan-jalan keliling eropa, Sabrina malah ingin pergi
umrah ke mekkah.
“Gak apa-apa mas, jika Sabrina tidak jalan-jalan keliling
eropa. Atau uang mahar Sabrina saja di pakai untuk pergi umrah. JAdi mas gak
perlu biayain Sabrina lagi. Nanti uang Mas exel habis.”
Sabrina memang bisa berpikir dewasa, tapi ia juga masih gadis labil yang
kekanak-kanakan.
“Tidak, sayang. Kita pasti akan Umarah. Cuma kita keliling
Eropa dulu, mas juga mau selesaikan pekrjaan mas”
Sabrina memeluk lengan Exel karena sangking senang nya “Terima
kasih, mas”
***
Kini Sabrina dan exel sudah sampai di sebuah aprtemen yang
tidak terlalu besar. Exel sengaja menyewa aprtermen baru dan menjual apartemen
nya yang lama. Karena letak partemen yangbaru ini cukup ramai sekitar nya. Jadi
Sabrina tidak akan bosan jika ia tinggal kerja, Karen depan apartemen ada
swalayan besar dan tak jau dari sana anak Mall besar juga.
“Gimana? Suka gak?” Tanya Exel saat tau Sabrina memandangi
seisi ruangan
“Suka, mas”
Exel pun berjalan menuju ke dekat jendela, membuak gorden
puth yang menutupi kaca jendela. Pemandangan lampu dari gedung dan mobil di
luar terlhat sangat indah sekali. Sabrina pun menyudul exel. Kini mereka duduk
di dekat jendela bersama.
“Saat mas kerja, kamu bisa belanja di swalayan depan itu”
Exel menunjuk sebuah bangunan yang tepat di depan gedung apartemen nya. “Kamu
ka juga mau masak, jadi eak gak usah nungguin mas. Kamu berani kan?”
“Insyaallah berani, mas. Cuma kan Sabrina gak bisa bahasa
Prancis, Gimana dong? Kalau missal Sabrina berbelanja terus sama kasir nya di
bohongi gimana?”
“Di sini gak ada kejahatan seperti di indonesia. Nanti kalau
kamu berbelanja pakai kartu saja, biar kamu gak bingun dengan mata uangn
disini, biar nanti mas cek terus transaksi nya, kamu jagan buang struk nya ya”
Sabrina mengnangguk mengerti.
__ADS_1
“ Baiklah, kamu mandi dulu. Setelah itu kita istirahat”