
Hari-hari terus berlalu, tahun baru yang seharus nya menikmati kembang api di Singapore, kini hanya bisa menatap langit penuh dengan bintang-bintang.
El duduk di balkon sambil menikmati teh hangat yang baru saja afifah buatkan.
tak ada suara ledakan kembang api, hanya suara jangkrik yang masuk ke telinga El.
Duka masih ada di hati El, ia terus memikirkan banyak hal, memikirkan rumah tangga nya. bukan karena Warisan itu, tapi El memikirkan akan kah dapat wanita tulus setelah Afifah. apalagi publik dengan jelas tau, bagaimana Harta El. tentu banyak wanita yang menganti, meski menjadi wanita simpanan nya.
*Cinta memang menjadi hal yang pertama.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta datang karena karena kita terbiasa dengan kebaikan dan kehadiran nya.
Dia tak seperti rania, rania sering membuatku marah. dia egois dan tak pernah mau salah.
sedangkan afifah? dia penurut, dan juga tak banyak nuntut.
tahun baru, ku awali semuanya dengan yang baru. ku anggap ini sebuah hubungan baru.
Jika Cinta itu tak kunjung hadir di antara kita, aku akan melepaskan nya, membiarkan nya bahagia*.
"Mas" afifah datang membawa piring, membuyarkan lamunan el
"Kamu bawa apa?" tanya el
"Cobain, aku buatin pisang keju buat kamu mas" afifah pun duduk di samping el, lalu meletakkan piring di meja yang ada di depan nya.
"Kok ada coklatnya?" tanya el karena di atas pisang ada parutan coklat
"Aku kasih coklat mas, biar ada manis nya dikit"
"Lalu kenapa kamu bilang pisang keju?"
Afifah tertawa "Hahaha... ya emang sebutan nya pisang keju mas"
el tersenyum melihat afifah tertawa, bagi Afifah pertanyaan el tadi adalah hal yang sangatlah lucu.
Cantik banget!
"Enak gak mas?" tanya afifah membuyarkan lamunan el
"Enak!" el memalingkan muka nya, kembali menghadap ke depan.
Kalau aku sedikit menerima kehadiran nya seperti ini, ternyata nyaman juga.
...****************...
Hari ini afifah sangat senang, ia dapat izin pulang ke rumah ibu nya, Mumpung tidak ada kegiatan.
Kini afifah berjalan ke belakang rumah, tepatnya ke Sungai kecil untuk melihat pipa air. karena air nya tak keluar.
tak disangka disana ada ustad amir dan beberapa santri nya sedang membenarkan pipa air juga. afifah tak tau jika disana ada ustadz amir juga, karena tertutup dedaunan dan afifah bersikap cuek, tak terlalu memperhatikan sekitar.
"Maaf, pipa nya kayak nya tadi ku putus" ucap ustadz amir di belakang nya
afifah berbalik, melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal, jantungnya berdetak cepat, karena jarak mereka begitu dekat, tapi tak sampai menyentuh.
"Maaf ustadz, saya permisi dulu. assalamualaikum"
"Tunggu fah" ustadz amir menghadang jalan afifah dengan merentangkan tangan nya "Aku mohon, jangan seperti ini. maafkan aku"
__ADS_1
"Aku sudah maafin kamu mas"
afifah keceplosan memanggil amir Mas.
amir tersenyum "Beri aku kesempatan untuk menjelaskan nya fah"
"Sudahlah mas, cukup!! yang lalu biarlah berlalu, jangan terus dibahas. kita jalani kehidupan kita masing-masing!"
"Tapi jangan seperti ini kepadaku fah"
"Kamu tentu tau bagaimana adab sebagai seorang istri, dan bagaimana memperlakukan istri orang mas. jadi jangan terus mendekatiku, jika ada orang yang melihat, semua orang pasti mengira aku yang menggodamu!" afifah mendorong tangan amir dan berlalu pergi meninggalkan amir disana.
afifah dengan kesal naik melewati jalan menanjak yang sedikit licin, karena letak sungai nya berada di bawah.
srotttt.... afifah terpeleset, jatuh kebawah.
Dari atas El datang dan melihat afifah jatuh, namun saat ia hendak turun, Ustadz amir sudah menolong nya.
El sejenak diam, lalu ia kaget saat afifah memanggilnya.
"Lepaskan!" ucap el dengan tegas, el langsung turun kebawah dengan hati-hati.
Amir pun melepaskan tangan nya yang sedang memegangi lengan afifah, afifah sendiri sudah berontak.
"Ayo pulang" el menuntun afifah, tapi tatapan tajam nya mengarah kepada amir.
Afifah tak bisa berjalan, sepertinya kaki nya keseleo, dengan cepat el langsung menggendong afifah ala bridal style. Afifah tak memberontak, ia malah melingkarkan tangan nya ke leher el.
Lalu bagaimana dengan ustadz amir? dia menatap sedih punggung el.
Mereka terlihat baik-baik saja, tidak seperti yang dia katakan. apa dia menipuku?
"48 mas"
"Mulai besok kau harus banyak makan, usahakan berat badan mu 50 sampai 55 kilo"
Jadi ngeri kalau mau niduri kurus gini!!
...****************...
Setelah makan, zakir yang juga baru pulang sekolah. ia langsung memanggil kan tukang urut karena afifah benar-benar tidak bisa berjalan.
"memang kok bisa sih kamu itu jatuh, dan kenapa juga disana ada dia? kamu ketemuan? iya?" tanya el didalam kamar afifah, ia berdiri melipat tangan nya.
afifah mendongak, menatap sang suami yang berdiri di depan nya.
"Enggak mas, beneran aku gak ketemuan"
El berdecak, lalu duduk di tepi kasur.
"Tadi aku benerin pipa air, ternyata dia sudah ada disana"
El masih belum bisa menerima alasan afifah.
"Yasudah kalau kamu gak percaya mas, percuma juga di jelaskan" afifah meringis, memindahkan kaki nya untuk turun
"eeehh... mau kemana?"
"Keluar mas, pijat di depan TV sana saja"
__ADS_1
El kembali berdecak, ia langsung menggendong afifah.
Afifah sendiri sangat malu, apalagi ibu nya juga melihat nya sambil senyam-senyum. tapi tidak dengan El, bagi El itu hal biasa.
Tak lama kemudian, Mbok mirna datang. tukang urut yang sudah tua tapi sangat sehat.
Kaki afifah mulai diurut perlahan, namun lama-kelamaan mbok mirna semakin menekan urutan nya.
"Aauhhhh..." Afifah langsung memeluk dengan erat perut El.
El diam, ia tetap fokus dengan pijatan mbok Mirna. tentu bagi El yang berada di dunia medis takut, jika terlalu menekan akan membahayakan otot atau tulang.
lama kelamaan El merasakan jika perutnya basah.
"Kamu nangis?" El mengelus puncak kepala afifah.
"Sudah hentikan, dia sangat kesakitan!" El sedikit marah, afifah melepas pelukan nya, menatap sang suami dengan mata sedikit lebam dan pipi basah.
bu zainab yang berada di dapur langsung menghampiri, katika mendengar El sedikit berteriak.
"Tinggal sedikit lagi nak, afifah kesleo"
El hendak menghentikan mbok mirna lagi, tapi afifah menggelengkan kepalanya.
"Aaaahhhh...." teriak afifah dengan keras
El langsung panik, wajah afifah benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat kesakitan.
"Sudah selesai" ucap mbok mirna, dengan segera bu zainab membawa mbok mirna pergi. setelah memberi mbok mirna uang, bu zainab meminta zakir untuk mengantarkan mbok mirna pulang. sebelum El marah.
"Sakit sekali mas" adu afifah sambil menangis.
"Ayo ke puskesmas, kita ronsen. takut tulangmu patah" tutur El
"Gak usah nak El, udah jam 1 biar afifah di sini dulu ya."
El diam, memandangi sebuah benda kecil yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Ya sudah, aku balik dulu"
"Karna afifah sakit, kalau nak El mau, malam ini saja tidur disini. biar ibu yang masakin nanti"
El memandang afifah.
"Tidak bu, biar afifah pulang saja nanti sore" afifah tau jika El tak suka tidur di rumah nya. apalagi kasur nya sempit dan tidak empuk.
"Yasudah nanti setelah kerja aku langsung pulang kesini. Kamu jangan banyak gerak! kalau sakit telepon aku"
afifah mengangguk.
El pun masuk ke mobil nya, ia mendengar tetangga bergosip tentang afifah. namanya tetangga ada saja yang iri dan dengki.
El cuek, sudah biasa dia di gosip in orang.
**Author sempetin up ya, maaf gak bisa banyak. untuk Kisah Usman tunggu saja ya..
bakalan update secepatnya.
Jangan lupa tinggalkan Jejak**
__ADS_1