
Alexa menarik tangan adik nya itu, membawa nya masuk ke rumah agar tidak ada yang mendengar nya.
"Kenapa kau undang Ustadz Amir, ZAKIR!" Afifah dengan gemas mencubit telinga adik nya itu.
"Tidak ada lagi, mbak. Udah pada tua juga, ngapain di ingat yang lalu" Jawaban Zakir benar sekali.
"Tapi.... "
"Kita harus memulai hubungan yang baik, mbak" Potong Zakir "Lagipula, Ustadz Amir sejak dulu udah baik ke Zakir. Kalau masalah keluarga ustadz Amir yang lain, sudahlah jangan di bahas" Zakir membujuk Afifah "Zakir yakin, ustadz Amir juga ingin memulai hubungan yang baik juga, bukti nya dia mau datang ke sini"
Afifah masih diam, memikirkan kata-kata adik nya yang ada benar nya juga.
"Kalau mas El marah gimana hayo?"
"Gak akan, mbak. Lagian udah tua masih saja mengingat-ingat masa lalu."
"Ya kamu kan tau gimana mbak mu dulu, kir" Afifah tiba-tiba sedih, mengingat kembali memories pahit nya dulu.
"Iya, mbak. Zakir tau. Bukan hanya mbak saja, zakir juga sakit hati kalau ingat waktu itu" Zakir memegang pundak Afifah, seolah ingin menenangkan afifah.
"Baiklah, kalau sampai mas El marah, kamu tanggung jawab ya"
Afifah pergi dari sana, ia langsung duduk anteng di samping El. Ia gak mau jauh-jauh dari El, ia tak mau membuat El cemburu.
__ADS_1
...****************...
Malam hari, Afifah mendekat ke arah El yang sedang duduk membaca buku di sofa dekat jendela kamar. Ia tiba-tiba duduk di pangkuan El, jujur saja sejak tadi afifah gelisah, takut El marah.
"Mas, tidur yuk" Ajak nya
"Masih jam segini, fah"
"Pengen pelukan, lama kan kita gak tidur kelonan" Ucap nya manja
"Kita udah tua, fah. sudah punya cucu juga" El terkekeh
"Lagian, mas dari tadi diam terus. Mas marah ya kepadaku?"
El ikut bingung, ia langsung berfikir kemana arah pembicaraan Afifah.
"Apa ini ada hubungan nya dengan yang tadi ceramah?" El tersenyum lalu terkekeh
"Ihh, mas kok malah tertawa sih" Afifah kesal, setelah memukul lengan El, ia bangkit dari pangkuan El.
"Kamu kenapa sih, fah. Udalah mas sudah lupain semua itu. lagian sudah bahagia masing-masing, udah punya cucu juga"
Afifah tersenyum, ia merasa bahagia sekali. Ia pikir El masih saja marah kepada ustadz amir, nyata nya tidak lagi.
__ADS_1
Tapi, bagaimana dengan exel? exel sudah ada di Amerika. waktu nya hanya di habiskan untuk memikirkan pekerjaan. Tidak ada lagi waktu untuk jalan-jalan, atau sekedar santai sambil meminum wine.
Exel juga berencana membesarkan perusahaan nya yang ada di Belanda dan swiss. Dua perusahaan cabang itu jarang sekali di perhatikan. Dan sekarang Exel berambisi mengembangkan nya. Karena itulah, Exel akan tinggal di Belanda sampai dia bisa mengembangkan perusahaan itu sampai besar dan seimbang dengan perusahaan nya yang ada di Amerika dan di Indonesia.
Bukan hanya kesibukan nya, kini Exel berubah menjadi pria dingin yang tak banyak bicara. Dia juga jarang sekali bercanda ataupun bicara dari hati ke hati dengan keluarga nya.
Jhonatan, paman Exel yang merawat nya sampai tak habis pikir dengan perubahan Exel yang sangat berbanding terbalik dari sebelum nya.
Walau sudah di jelaskan oleh byan, jhonatan masih saja tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Byan.
"Exel itu playboy, mana mungkin karena satu orang wanita bisa seperti itu"
"Kau ini tak tau ya, kalau cinta sudah mengambil alih, hidup pun bisa berubah"
"Tidak mungkin, aku masih tak percaya"
"Kau ini" Byan sangat kesal dengan sepupu nya tersebut "Kalau istilah anak abege jaman sekarang. Buaya pun akan jinak jika bertemu pawang nya"
Jhonatan masih saja diam, tak percaya.
"Apa kau tak tau, dia sedikit ada masalah dengan senjata masa depan nya, yang hanya bisa berdiri saat bersama gadis itu. Kau bisa mencoba nya, aku yakin dia tidak bisa melakukan nya jika dengan wanita lain"
Jhonatan benar-benar merasa ketinggalan info tentang Exel, kenapa juga Exel tidak bercerita kepadanya. z terakhir Exel bercerita kepada nya saat di gosip kan dekat dengan salah satu anak pengusaha.
__ADS_1