CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Saat Rencana Tinggal Wacana.


__ADS_3

"Hah, kembar? Rupanya tuan Erich memiliki saudara kembar?" gumam Isabel setengah tak percaya sesaat setelah keluar dari ruang kerja Erich. Akan tetapi, begitu lah faktanya. Paras kedua pria itu begitu mirip, bak pinang terbelah dua. Hanya gaya rambut mereka saja yang berbeda.


Ya tuhan.


Isabel masih tak habis fikir, terlebih saat menilik karakter dari keduanya. Meski baru pertama kali bertemu dengan Ernest, namun gadis itu menyakini jika pria itu memiliki pribadi yang hangat dan ramah, tidak seperti tuannya, Erich.


"Mungkin mereka dianugrahi fisik yang sama namun dengan karakter berbeda."


Isabel meninggalkan gedung pencakar langit yang menjadi tempat mengais rezekinya kini, saat jam kerjanya telah habis.


Sebelum kembali kerumah masih ada satu hal lagi yang ingin gadis itu lakukan. Mengunjungi Retno, dan memastikan kondisi kesehatan paruh baya itu. Sudah lebih baik atau sama seperti terakhir kali ia temui.


Isabel lebih dulu singgah kesebuh kedai martabak manis yang berada di pinggir jalan. Ia pun memesan dua kotak martabak manis dengan rasa berbeda.


Tak butuh waktu lama, satu kantong plastik berisi martabak manis itu sudah berada di tangannya. Malam mulai merangkak, Isabel bergegas untuk bisa sampai ke rumah Retno lebih cepat dengan motornya.


💗💗💗💗💗


Retno menyambut hangat kedatangannya. Perempuan paruh baya itu sudah terlihat lebih segar dari hari sebelumnya.


"Terimakasih banyak, nona." Retno menerima buah tangan yang dibawa Isabel dengan senyum mengembang.


"Seadanya bi, Abel hanya mampu membelikan ini."


"Ini pun sudah lebih dari cukup nona. Bibi luar biasa senang." Putri dari Retno yang selama ini merawat pun tak kalah sumringah. Gadis yang masih bersekolah itu mulai menyuapkan makanan yang dibawa Isabel dengan telaten pada Retno.


Retno pun berucap jika kondisi tubuhnya mulai membaik dari hari kehari. Mungkin butuh waktu beberapa minggu kedepan untuk bisa kembali bekerja ke perusahaan seperti sedia kali.


Isabel mengangguk faham. Jika sewaktu-waktu Retno kembali keperusahaan, maka dengan senang hati ia pun akan melepaskan, mengingat ia pun hanya dipekerjakan sementara waktu untuk menggantikan Retno.


Isabel berpamitan saat jam dinding menunjukan pukul 9 malam. Dengan kecepatan sedang gadis manis itu melanjukan motornya hingga menuju rumah.


Para penjaga yang bersiaga di gerbang utama, lekas membuka pintu pagar dan menutupnya kembali selepas motor yang dikendarai Isabel berlalu menuju halaman rumah.


Rumah megah itu cukup lenggang. Kuda besi milik Ibu beserta adik tirinya tak terlihat, akan tetapi ada satu kuda besi yang cukup familiar bagi Isabel justru kini terparkir di garasi.


Isabel menghela nafas dalam. Enggan melalui pintu depan, Isabel pun berputar arah untuk masuk lewat pintu belakang.


"Isabel, tunggu!"


Isabel menggeram kesal. Sosok pemilik kuda besi itu justru memangil dan berniat menghampiri. Meski enggan, mau tak mau Isabel pun berbalik badan.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Isabel bisa kita bicara?" Steven, pria bertubuh tegap dengan pakaian formal itu coba menggapa jemari tangan Isabel, akan tetapi gadis itu lekas mengibasnya.


"Tentang?"


Steven menyapu pandang kesekeliling. Halaman depan membuat Steven tak leluasa untuk berbicara.


"Aku mohon, jangan di sini. Setidaknya kita bisa bicara di tempat lain."


"Aku tidak punya banyak waktu."


"Isabel, kumohon." Steven memasang wajah memelas.


"Bukankah sudah kukatakan jika aku tak punya waktu. Kau tidak buta dan jelas masih ingat apa saja yang aku kerjakan di dalam rumah."


Keduanya terdiam untuk sesaat. Karna tak ada tanggapan, Isabel pun hendak beranjak namu lagi-lagi Steven menahan langkahnya. Bahkan Steven kembali menggengam pergelangan tangan Isabel.


"Abel, aku mohon." Isabel memejamkan mata. Entah mengapa dirinya seolah tak bisa menolak keinginan Steven.


💗💗💗💗💗


"Kau bekerja?" Steven memindai penampilan Isabel. Kaos polos yang dilapisi jaket serta bawahan celana jens yang saat ini gadis itu pakai.


"Maaf, Kau pasti tau jika semua yang terjadi bukan atas keinginanku."


Kini kedua insan itu duduk dikursi kayu yang berada di sekitar taman belakang. Bermanikan sinar rembulan, Steven berucap panjang lebar yang intinya sedang melakukan pembelaan.


"Semua tak luput dari campur tangan ayah dan aku sebagai anak, tak mampu berbuat banyak. Hanya bisa mengikuti kemauan, sebagai balas jasa karna Ayah sudah membesarkan dan membiayai hidupku hingga sekarang."


Isabel tak menanggapi. Pembelaan yang terlontar dari bibir Steven tak sedikit pun membuatnya terpengaruh.


Dasar pria bermuka dua. Semalam dia bahkan asik bercumbu di hadapanku. Dan sekarang kau bilang jika semua hanya bedasar keterpaksaan. Bulshit.


"Namun dari sudut hati terdalam, aku masih begitu mencintaimu, Isabel. Kau tak akan terganti oleh siapa pun."


Isabel menghela nafas dalam. Sejujurnya ia engan untuk bertemu dengan Steven terlebih dalam situasi seperti saat ini. Hanya berdua dan tentunya kian menyesakkan dada.


Peristiwa beberapa tahun lalu tentunya masih jelas terpatri dalam ingatan Isabel. Di mana seorang Steven menjadi satu-satunya pria yang begitu dekat dengannya. Lima tahun perbedaan usia, tentu tak menjadi penghalang. Terlebih ayah steven merupakan tangan kanan dari Praja diwangka, ayah Isabel.


Kerap menghabiskan waktu bersama, rupanya mematik kobaran api asmara dihati Steven untuk Isabel. Isabel sendiri yang kala itu masih berusia sangat muda, tak begitu faham, namun menganggap dan menyayangi Steven seperti seorang kakak.

__ADS_1


Praja diwangka terperangah, saat Steven dengan tegas berucap jika mencintai Isabel dan kelak akan menikahinya. Praja sempat mengira jika ucapan pria muda itu hanyalah sebuah lelucon.


Steven tak patah arang. Bukan hanya pada Praja ia mengungkap sebuah pengakuan, akan tetapi pada Ayahnya jua. Hingga selepas berunding para keluarga mendapat sebuah kesepakatan. Steven dan Isabel dijodohkan. Meski entah kapan pernikahan resmi akan dilangsungkan, mengingat usia keduanya yang masih begitu muda, namun sepasang cincin berhasil tersemat di jari manis Isabel sebagai simbol sebuah ikatan.


Namun kini, Rencana hanya tinggal wacana. Saat sang ibu meninggal dan sang ayah yang terbaring oleh kelumpuhan, Steven justru memutuskan hubungan dan ingin menikahi Lara, saudara tirinya.


Lalu, apakah Isabel terima? Tentu saja. Isabel lelah. Ketamakan rupaya sudah menutup mata hati Ibu dan saudara tirinya. Tak cukup menghancurkan keluarganya tetapi juga menghancurkan kehidupannya. Isabel berpasrah. Baginya melawan pun tiada guna. Biarkanlah waktu yang akan menjawab semua lara. Menyerah bukan berarti kalah. Namun hanya seorang pecundang yang bisa menang karena curang.


"Aku sudah melupakan segalanya. Tentang kita dan impian kita. Berbahagialah." Suara Isabel begitu tenang. Namun terasa menusuk direlung hati Steven.


"Tapi Abel, aku..."


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Suara tinggi seseorang dari arah belakang membuat Steven terkesiap. Pria itu spontan bangkit dengan wajah yang mulai pias. Sementara Isabel masih tampak tenang. Tak terkejut atau pun takut. Tetap duduk pada tempatnya semula, seraya menatap lurus pandangan.


Keduanya cukup familiar dengan sosok dari pemilik suara menggelegar tersebut.


"Katakan?"


"Ka-kami tidak melakukan apa pun. Kami berdua hanya mengobrol." Setengah terbata Steven menjawab. Yang spontan mendapat tatapan tajam dari seorang larasati.


"Hem, pintar sekali kau rupanya. Bermain dengan dia di belakangku."


Steven terdiam, wajahnya justru tertunduk lesu.


"Dan kau," ucap Lara seraya menunjuk wajah Isabel. Sementara satu tangan lain mencengkeram rambut panjang Isabel cukup erat. "Kau bahkan tau jika kami akan bertunangan, tapi kenapa kau masih saja menggodanya. Di mana otakmu sebenarnya?" Larasati kian mempererat cengkeraman tangannya pada rambut Isabel. Steven menelan ludah. Sesekali terlihat meringis seakan bisa merasakan sakit yang kini dirasakan Isabel, namun ia pun tak mampu berbuat banyak. Semakin ia mengkhawatirkan Isabel, Larasati pasti akan membuat gadis itu lebih sakit lagi.


Buk..


Isabel mengarahkan sikunya tepat di ulu hati Larasati. Perempuan itu menjerit, tubuhnya bahkan terhuyung hingga spontan membuat tangan yang digunakan untuk mencengkeram rambut Isabel itu terlepas.


"Sialan. Berani kau rupanya."


"Apalagi yang harus kutakutkan. Bukankah kau sudah merasampas semuanya dariku? Lalu apalagi yang kau inginkan? Nyawaku? Nyawa ayahku? Ayo lakukan. Habisi kami jika itu membuatmu puas!" Isabel berteriak seolah meluapkan semua amarah yang tersimpah dalam dirinya.


"Kalian yang sudah membuat rumah tangga orang tuaku hancur, kalian yang sudah membuat ibuku meninggal dan kalian pulalah yang sudah membuat ayahku lumpuh. Apakah kalian benar-benar belum puas hingga terus menerus menyiksaku?"


Hening. Hanya deru nafas memburulah yang terdengar.


"Ayo, lakukanlah. Setelah ini setidaknya aku tak akan melihat lagi orang-orang pengkhianat seperti kalian."


Larasati yang semula terhenyak, kini mulai menemukan kesadaran. Gadis itu pun berlalu pergi, disusul Steven yang menyusul langkahnya.

__ADS_1


Isabel menatap nanar punggung kedua insan yang kini kian menjauhinya. Tubuhnya luruh. Lunglai seakan tak bertulang.


__ADS_2