
Waktu terus bergulir, begitu pun hari yang terus berganti. Meski diawal kerja Natasya cukup kesulitan untuk menyesuaikan diri sebagai sekretaris pribadi seorang Ernest Surya Atmadja yang selalu menuntut kesempurnaan dan tak pernah setengah-setengah dalam segala hal yang berbau pekerjaan, namun seiring berjalannya waktu Natasya pun bisa mengimbangi. Meski butuh waktu serta kesabaran, itu seperti tidak menjadi masalah sebab sesuai dengan penghasilan yang gadis itu dapat setiap bulannya.
Gadis itu tersenyum senang setiap kali melihat nominal angka yang masuk ke rekening pribadinya saat awal bulan. Meski kebutuhan pribadinya selalu tercukupi, namun Natasya sangat berbangga diri saat bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri.
Suatu ketika Anastasya dibuat menangis saat mendapatkan kejutan dipertambahan usianya dari sang putri. Satu set perhiasan mahal sengaja gadis itu kemas sebagai hadiah.
Anastasya tergugu. Bukan perhiasan atau pun uang, perempuan itu hanya menginginkan putrinya selalu ada untuk menemaninya. Tak harus kado mewah, sepotong roti pun tak apa, asalkan mereka tetap bersama dan saling menyayangi.
Anastasya selalu mengucap syukur. Meski Kenan sudah tiada, namun pria itu meninggalkan buah hati untuk menjadi teman di masa tuanya. Perempuan itu masih tak percaya jika putri kecil yang dulu ia lahirkan, kini sudah besar dan cantik seperti dirinya.
Meski paras mereka hampir serupa, namun dari sifat Natasya mewarisi dari kedua orang tuanya, dan dari sang putrilah Anastasya selalu diingatkan tetang sosok Kenan yang sampai detik ini masih menguasai seluruh hatinya.
Akhir pekan ini seperti rutinitas dalam setiap minggunya, Anastasya dan Natasya memasak bersama di dapur. Mencoba resep-resep baru yang ditemukan lewat salah satu chanel memasak di salah satu aplikasi.
Natasya yang memang belum terlalu mahir memasak, ikut membantu mengupas atau pun memotong bahan-bahan. Sementara Anastasya meracik bumbu dan mempersiapkan alat-alat untuk digunakan.
"Tasya, bagaimana dengan pekerjaanmu?." Natasya bertanya pada sang putri yang masih disibukkan dengan kesibukannya memotong beberapa sayuran segar. Gadis itu tersenyum, dan melirik sejenak pada sang Ibu yang berdiri menghadap kompor.
"Lancar, Ibu. Seperti biasa," jawab Natasya. "O ya, esok perusahan akan mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai bentuk apresiasi pada kinerja para karyawan selama beberapa bulan kebelakang. Aku dengar perusahan mendapatkan keuntungan berkali lipat dan terus meningkat setiap bulannya. Maka dari itu pihak perusahan mengundang seluruh karyawan dan keluarga. Ibu bisa kanmenemaniku datang?. Aku pasti akan memperkenalkan Ibu pada teman-teman dan.. atasanku." Natasya tersenyum simpul. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memotong sayur, hingga tak mendapati wajah pucat pasi sang Ibu yang berdiri memunggunginya.
💗💗💗💗💗
Anastasya tertegun saat kuda besi yang ia dan sang putri tunggangi berhenti di area parkir perusahaan Atmadja group. Dalam situasi seperti ini ingin rasanya ia berbalik arah dan pulang agar tak lagi berurusan dengan apa pun dan siapa pun yang menyangkut Atmadja group.
__ADS_1
Dadanya mendadak sesak. Ia melirik sang putri di kursi samping yang begitu santai merapikan penampilan. Demi apa pun, Anastasya ingin menangis dan meraung sejadi-jadinya sekarang. Andai bukan atas permintaan sang putri yang sampai berlutut memintanya untuk hadir, tentu Anastasya tidak akan pernah ingin lagi menginjakkan kaki ke tempat ini.
"Ibu, ayo turun," titah Natasya. Gadis itu memperhatikan keadaan sekitar dari dalam mobil. "Sepertinya teman-teman juga sudah banyak yang datang. Ayo, Ibu. Kita turun."
Anastasya mengangguk pasrah. Tiada daya dan upaya selain mengikuti kemauan sang putri agar dia senang.
Ibu dan Anak itu terlihat serasi. Memakai dres nyaris serupa namun dengan model berbeda. Keduanya melangkah ringan dengan tangan saling bergandengan.
Natasya membiarkan rambut panjangnya tergerai sementara Anastasya mengulung dan menjepitnya hingga menyerupai sanggul, kemudian menambahkan aksesoris sebagai hiasan.
Begitu menyusuri lobi, semua mata tertuju pada mereka. Jika wajah Natasya mungkin sesama rekan keja sudah mengenalinya, tapi siapa perempuan yang berjalan di sampingnya?. Mereka tentu sibuk mengira-ngira sebab wajah Anastasya yang tergolong awet muda dan masih terlihat cantik dan segar meski nyaris berkepala lima.
"Aku rasa penampilan Ibu cukup membuat takjub rekan-rekan kerjaku." Natasya tergelak setelah berucap. Ia menyenggol bahu sang Ibu, berniat menggoda.
"Tasya, jangan macam-macam. Kau lihat, teman-temanmu sampai memperhatikan kita karna ulahmu." Anastasya mengomel. Meski tetap melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan, perempuan itu tetap mengomel meski hanya mampu di dengar oleh putrinya.
💗💗💗💗💗
Natasya menatap penuh tanya pada sang Ibu yang enggan memilih tempat duduk yang letaknya berada di depan panggung. Di sana para petinggi Atmadja grup bergilir memberikan sambutan. Selepas Arkana Surya Atmadja, kini Erich Surya Atmadja sedang berdiri di atas podium. Di sini Natasya baru mengetahui jika Ernest memiliki saudara kembar.
Wajah mereka sama, apa sifat mereka juga sama?.
Di tempat duduknya Natasya tak lagi memperhatikan sang Ibu, ia justru melihat Erich dan coba mencari perbedaan antara pria tersebut dengan Ernest, saudara kembarnya.
__ADS_1
Ya, tuhan. Andai rambut Tuan Ernest tidak panjang, tentu keduanya tidak bisa dibedakan.
Selepas Erich, kini Ernest-lah yang mendapat giliran untuk memberikan sambutan barang sepatah dua patah kata di atas podium. Hari ini karna membawa serta sang Ibu Natasya pun memilih untuk sedikit menjauh dari Ernest, berbeda dengan hari-hari biasa saat bekerja. Toh lagi pula atasannya tersebut tak memberi ultimatum jika dirinya harus mendampingi. Posisi Langit pasti sudah cukup membantu tanpa harus dirinya turun tangan.
Saat berbicara, sepasang mata elang milik Ernest tampak menyapu pandang ke sekeliling. Pria itu seperti sedang mencari-cari keberadaan seseorang.
"Tasya, Ibu ingin ke toilet." Anastasya menyentuh lengan sang putri, berniat meminta izin.
"Perlu Tasya antar?." Gadis itu menawarkan.
"Tidak usah, Nak. Ibu bisa sendiri."
Meski khawatir, namun penolakan sang Ibh membuat gadis itu pun mengalah dan membiarkan sang Ibu keluar dari ruang acara.
Natasya kembali memfokuskan pandangan ke arah pria yang sedang berbicara di podium. Dan tanpa diduga, pandangan dirinya dan pria tersebut rupanya saling bertemu.
"Nona Natasya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya minta kesediaannya pada anda untuk dapat berdiri di tempat ini dan mendampingi saya. Beri tepuk tangan untuk Nona Natasya." Tepuk tangan bergerumuruh tentu mengejutkan Natasya. Pria itu masih terdiam, hingga seorang pelayan mempersilahkan dirinya untuk maju kedepan, mendampingi Ernest.
Keterkejutan rupanya bukan hanya dialami Natasya namun juga Ibunya. Saat berusaha ingin menangkan diri dengan alasan ke toilet, Anastasya justru dipertemukan dengan seorang pria yang sesungguhnya tak ingin ia temui.
"Tasya," panggil seseorang. Anastasya yang memilih bersandar di dinding lorong gedung justru dikejutkan dengan keberadaan seseorang pria yang berdiri tak jauh darinya.
Begitu tersadar, Anastasya mengambil ancang-ancang untuk berlari. Akan tetapi gagal saat seseorang itu berhasil menangkap pergelangan tanggannya.
__ADS_1
"Tasya, ini kau kan?. Benar ini dirimu kan, aku sedang tidak salah kan?." Berbagai pertanyaan terus meluncur dari bibir seseorang itu. Akan tetapi tak sedikit pun Anastasya membuka mulut. Ia terus berontak, berusaha melepaskan tangan seseorang itu dan berniat untuk pergi secepatnya.