CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Malam Pertama


__ADS_3

Selepas akad, Erich beserta keluarga memboyong Isabel ke kediaman megahnya untuk melanjutkan acara resepsi bertema Garden party dengan menyulap halaman luasnya sedemikian rupa, hingga terlihat begitu hijau dan asri dengan menambahkan hiasan pohon-pohon berukuran mungil dan bunga-bunga segar beraneka warna.


Saat menginjakkan kaki di area taman, Isabel sudah terperangah. Erich benar-benar mewujudkan mimpinya, menggelar resepsi layaknya pesta kebun yang sederhana dengan suasana kekeluargaan. Tapi, bukankah ini tidak bisa dikatakan sederhana saat seluruh dekorasi didominasi bunga asli yang tak bisa disebut sedikit jumlahnya.


"Kak." Isabel terharu, ia tatap wajah Erich yang juga sedang menatapnya.


"Hem?"


"Bukankah ini terlalu berlebihan? Aku hanya menginginkan pesta sederhana saja dan ini? Sungguh, ini sangat menakjubkan."


Erich tersenyum. Ia merasa bangga. Jika melihat raut wajah haru yang ditunjukan oleh sang istri, bisa dipastikan jika kejutan yang sengaja persiapkan bisa dikatakan berhasil.


"Apa yang tidak bisa aku wujudkan, terlebih itu untuk istriku tersayang."


Lagi, Isabel kembali merasakan haru. Kalimat yang baru saja terucap dari bibir Erich, laksana terpaan angin malam yang begitu dingin dan sejuk saat membelai tubuh.


"Terimakasih." Hanya satu kata itulah yang mampu diucap Isabel. Kini gadis itu tak kan lagi merasa sendiri, Erich akan selalu berada di sisi, menggengam tangan dan membimbingnya untuk melangkah menyongsong masa depan.


Dalam resepsi yang terkesan santai. Baik Erich juga Isabel, tak lagi mengenakan pakai formal seperti saat akad. Erich memakai kemeja non formal yang di padukan dengan celana bahan berwarna biru muda untuk menutup tubuh tinggi sempurnannya. Meski style nya terbilang santai namun Erich yang notabene juga mengundang rekan bisnis terdekat, masih menjaga penampilan agak tarkesan terlalu santai. Santai namun tak meninggalkan kesan wibawanya sebagia pebisnis muda.


Sementara Isabel, gadis itu terlihat cantik dengan dres berwarna putih selutut dengan lengan model sabrina yang menampakkan bahu putihnya. Rabut panjang yang semula tersanggul, kini dibiarkan terurai dan hanya dihiasi jepit mutiara berukuran mungil yang menambah kesan manis pada penampilannya.


Isabel mengapit lengan Erich saat melangkah menyusuri karpet merah untuk menuju podium yang sudah disediakan. Senyum dan kebahagiaan terpancar jelas dari para kerabat dan tamu udangan. Erich dan Isabel begitu serasi. Meski postur tubuh Erich yang tinggi menjulang membuat Isabel tampak kerdil jika berdiri di sampingnya, namun itu tak mengurangi sedikit pun kekaguman para tamu udangan kepada sepasang mempelai yang tengah berbahagia.


Seorang pria berkacamata yang didapuk sebagai pembawa acara, memulai acara. Membacakan runut susunan acara dengan sesekali dibubuhi candaan. Hingga tiba pada acara utama, di mana sepasang mempelai mempelai saling mengucap janji suci pernikahan.


Tepukan para tamu riuh terdengar saat Erich mengucap janji pada Isabel tanpa panduan catatan. Ia sengaja mengucap janji, murni dari hatinya sendiri. Mengalir begitu saja tanpa terencana. Begitu pun Isabel, gadis itu juga tak membutuhkan selembar kertas khusus yang memuat janji suci yang sengaja disiapkan sebelumnya. Gadis yang sukses menjadi pusat perhatian semua pasang mata itu mengucap rangkaian kata cukup panjang yang berisikan rasa terimakasihnya juga harapannya kedepan. Erich tak lepas memandangi wajah Isabel, saat gadis itu secara runut mengucap beberapa kalimat yang menyentuh hati sebagai janji pernikahan.


Pria berwajah tampan itu tak bisa lagi menutupi kebahagiaan yang membucah di dada. Sadar jika kini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri, Erich tak malu lagi menunjukan perhatian dan rasa cintanya pada Isabel pada khalayak ramai.


Waktu terasa cepat berjalan. Erich dan Isabel mulai menyapa beberapa kerabat dan rekan yang hadir. Baik tamu undangan dan juga kerabat tampak saling berbaur. Mereka bertukar cerita dan tertawa lepas, terlihat begitu menikmati pesta dalam nuasa kekeluargaan yang begitu kental.


Tak ada perbedaan strata sosial. Bukan hanya keluarga dan tamu undangan, tetapi para pelayan dan pengawal keluarga Atmadja pun turut menikmati pesta dengan suka cita.


Kedua mempelai itu tampak sibuk menerima ucapan selamat juga doa dari beberapa tamu. Senyum di bibir sepasang pengantin baru itu terus terukir, dengan tangan saling berpaut mereka berjalan seraya menyapa dan duduk di meja para tetamu.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia selamannya. Menjadi pasangan yang hanya dipisahkan oleh maut."

__ADS_1


Erich terkesiap. Senyum di bibirnya memudar saat tanpa terasa dirinya tepat berdiri di hadapan saudara kembarnya, Ernest.


"Good job boy, congratuliation. Kau mendapat gadis yang tepat untuk dijadikan istri," puji Ernest seraya menjabat dan menepuk bahu Erich. "Tidak seperti diriku," sambung Ernest lagi dengan suara lirih namun masih bisa didengar oleh Erich.


"Terimakasih," jawab Erich yang kemudian menarik tubuh Ernest dan memeluknya Erat. Anak kembar itu berpelukan. Haru tiba-tiba menyeruak. Sepasang mata Isabel ikut berkaca-kaca, saat mendapati satu titik bening keluar dari sudut mata Ernest. Pria itu menangis.


Dari kejauhan, sepasang suami istri yang mendapati kedua putranya saling memeluk dan menguatkan, mempererat gengaman tangan. Zara dan Arka saling bersitatap. Bukan hanya kedua putranya yang terluka, tetapi mereka pun bisa merasa.


Sempat terbesit untuk menikahkan kedua putranya dengan jarak waktu dekat, namun tanpa diduga badai justru datang dan menggagalkan rencana.


Sandara memang bukan yang terbaik untuk Erich. Setidaknya penderitaan yang dialami Ernest kini, akan menjadi sebongkah kebahagiaan dihari depannya kelak.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Erich hanya bisa tersenyum dengan pandangan yang tak teralihkan dari kamar mandi. Gemercik air terdengar dari ruang yang hanya berdinding kaca buram tersebut. Pria itu sudah bersih dengan rambut yang masih terlihat lembab sehabis keramas.


Sementara di ruang tertutup itu Isabel tengah membersihkan diri. Bayangan samar tubuh Isabel yang tengah mandi cukup jelas jika ditatap mata tajam Erich.


Pria muda itu kembali tersenyum tipis. Fikrannya mendadak oleng. Berimajinasi pada bayang-bayang tubuh polos Isabel dari balik kaca kamar mandi.


****.


Tapi, kenapa dia lama sekali?.


Gemercik air masih terdengar, begitu pun tubuh Isabel yang tampak bergerak, hingga tak berapa lama pintu kaca itu bergeser dan seorang gadis dengan kimono berwarna putih keluar dari balik pintu tersebut.


Akhirnya.


"Kakak," panggil Isabel pada Erich.


"Ya, ada apa?" Erich mengarahkan satu tangan, meminta pada Isabel untuk duduk di sampingnya.


"Em... Ini." Suara gadis itu tercekat. Rasa gugup yang sempat menghilang selepas akad kini kembali datang. "Baju, em bajuku di mana?" Seingat Isabel dirinya sudah mempersiapkan koper berisi baju-baju miliknya untuk di bawa, namun di mana benda itu sekarang disimpan?.


"O... Itu?" Erich hanya menjawabnya ringan. Sementara tangannya terulur untuk meraih tubuh Isabel dan menjatuhkannya di atas pangkuan. "Mungkin saja sudah disimpan pelayan tapi aku juga tidak tau di mana mereka menyimpannya."


Sungguh jawaban yang membuat Isabel menelan saliva berat. Ia bahkan sudah duduk dipangkuan Erich dengan kedua tangan suaminya itu yang sudah melingkar erat di pinggang. Isabel tak mampu bergerak. Terkurung dalam kukungan pria yang kini berstatus suaminya.

__ADS_1


"Ta-tapi."


"Tapi apa?"


"Em bajuku."


"Sudahlah." Erich kini justru sibuk dengan rambut panjang Isabel yang basah. "Sebentar, aku keringkan rambutmu." Erich mengambil sebuah handuk kecil yang berada tak jauh darinya. Penuh kelembutan ia mengusap dan mengeringkan rambut basah sang istri dengan kedua tangan.


Isabel diam. Tak menolak dan justru menikmati segala bentuk perhatian yang diberikan oleh sang suami.


"Jangan perdulikan baju, aku bahkan tak mengizinkanmu untuk berpakaian malam ini." Isabel terbelalak namun ia tak berani berkomentar.


Begitu telaten Erich mengusap bahkan menyisir rambut Isabel hingga kering. Meski wajah Isabel sudah bersih dari riasan namun Erich mengakui jika kecantikan alami Isabel benar-benar terpancar malam ini. Saat pandangan keduanya berpaut, Isabel kerap menunduk. Malu dan tak percaya diri saat bersitatap dengan mata suaminya sendiri.


Kedua tangan Erich membingkai wajah Isabel. Meminta sang istri untuk balas menatapnya.


"Isabel, tanpa perlu kujelaskan kau pasti bisa merasakan seberapa besar rasa cintaku padamu. Aku dan kau sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan yang mewajibkan kita untuk saling mengisi dan juga memberi. Berjalanlah bersamaku, mengandeng tanganku menuju masa depan indah yang menunggu dikehidupan kita." Selepas berucap Erich memberanikan diri untuk menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri.


Satu kecupan singkat yang mampu membuat Isabel terkesiap.


"Lakukanlah sesuatu yang wajib dilakukan olehmu sebagai istriku. Jangan takut. Kita lakukan secara perlahan. Langkah demi langkah yang membuatmu tetap merasa nyaman." Penuh kehati-hatian Erich menjelaskan pada Isabel. Pria itu faham, usia Isabel yang terbilang muda dan jauh dibawah usianya, mungkin saja masih membuat gafis itu ketakutan. Setidaknya dengan sedikit pemahaman dan ketenangan akan membuat gadis itu nyaman dan mulai terbiasa menjalani kewajibannya sebagai seorang istri.


Erich mengusap seluruh bagian wajah Isabel. Mulai menciumi pipi, bibir dan area lain dengan tak hentinya memberi pujian.


"Tetap santai, sayang." Erich berbisik di telinga sang istri dengan nafas mulai memburu. Demi apa pun saat melihat sepasang mata sang istri yang terpejam begitu menikmati sentuhan darinya, membuat birahinya sebagai pria sejati, bergejolak. Ia sudah tak sabar untuk menaklukan sang istri, hingga gadis itu berteriak di bawah kendalinya. Tetapi, sebagai pasangan baru tentunya dia harus bisa mengendalikan diri terlebih ini menjadi momen pertama kali bagi keduanya dalam melakukan penyatuan.


Pekikan tertahan seakan memenuhi ruangan. Penuh kehati-hatian Erich menjamah Isabel lewat sentuhannya. Meski perlahan dan tak grusa grusu, rupanya hal tersebutlah yang membuat Erich ingin melakukannya lagi dan lagi.


Isabel sendiri sudah tak berdaya. Meski Erich menjamahnya begitu lembut dan mesra, namun rasa lelah tak lagi mampu ditutupinya. Gadis itu menyerah, yang mana membuat Erich tak tega.


"Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu." Satu kecupan mendarat di kening Isabel. Gadis itu sudah terlelap dan tak mungkin bisa mendengar. Erich menghela nafas panjang. Ia ambruk di samping tubuh sang istri dengan keringat bercucuran.


"Rupanya menikah itu enak, sungguh menyesal aku bisa merasakannya sekarang." Erich memiringkan tubuh. Memadang wajah cantik sang istri sebelum ikut terlelap dengan memeluknya.


Tbc.


Haduh, bab sebelumnya ke dobel, padahal udh aku hapus tapi diberanda kok masih tumpuk dua ya? Maaf.. Tapi judul tetap sama kokπŸ˜…

__ADS_1


Lah ini part MP nya ya. Otor gak bisa bkin tulisan yang anu anu. Ntar juga ga bakalan lolos kalo partnya ada anu anu anπŸ˜…


Ok. Trus ikuti ya. Karna akan ada kejutan-kejutan yang sepertinya sudah bisa ditebak oleh kakak pembaca. Ditunggu next part ya πŸ€—


__ADS_2