
Di tempatnya berdiri, seorang gadis terlihat mengagumi sosok perempuan dengan pahatan dan garis wajah nyaris sempurna. Emely, tanpa dikomando kakinya pun melangkah untuk mendekati objek yang beberapa saat lalu cukup mencuri perhatiannya.
"Permisi."
Sapaan Emely membuat beberapa gadis yang sedang merangkai bunga itu sontak menatap ke arahnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Salah satu karyawan bertanya. Ia bangkit lantas mendekat pada Emely. Menyambut ramah dan menanyakan maksud juga tujuan.
"Em, aku ingin bertemu dengan Bibi Anastasya. Apa beliau ada?"
Begitu mendengar nama sang Ibu disebut, Natasya, gadis cantik dengan rambut tergerai indah itu pun bangkit dan ikut mendekat ke arah Emely.
"Maaf, kiranya Nona memiliki keperluan apa? Ibu sedang tidak ada di tempat dan saya putrinya yang akan mengantikan beliau untuk sementara waktu."
Emely menganguk. Pura-pura faham meski nyatanya dia pun sudah tau jika Natasya adalah putri dari Bibi Anastasya.
"Kebetulan aku sedang ingin mencari bunga Lily, dan jika tidak keberatan, bisakah anda membantu saya untuk ikut memilihnya?". Emely meringis. Setengah ragu, takut jika gadis itu akan menolaknya.
"Tentu saja. Dengan senang hati kami akan membantu. Sebab hal tersebut pun merupakan salah satu servis pelanggan dari kami. Bagaimana setiap kepuasan dari pelanggan adalah kebahagiaan bagi kami." Gadis bernama Natasya itu menjawab dengan ramah, senyuman pun tak luntur dari bibir tipisnya.
Natasya pun menggiring langkah Emely pada kumpulan bunga Lily di sisi ruangan dengan berbagai jenis dan warna. Sementara Emely berusaha mengingat-ingat jenis bunga lily apa yang dipinta oleh sang Kakak.
"Em, namamu siapa? Aku Natasya. Sepertinya terlalu formal jika memangil dengan sebutan anda dan saya. Aku rasa, kita pun sepertinya seumuran." Natasya, dengan ramah coba memperkenalkan diri. Tangan kanannya pun terulur ingin menjabat tangan Emely.
Emely pun sigap, menyambut uluran tangan Natasya, hingga tangan kedua gadis itu pun berjabat.
__ADS_1
"Aku Emely, senang sekali bisa berkenalan denganmu, Natasya." Emely yang ceria seakan menemukan teman baru yang sepertinya memiliki sifat tak jauh berbeda darinya. Ramah dan ceria. Jabatan tangan itu pun terlepas setelah beberapa detik berlalu.
"Baiklah Emely. Kau ingin mencari bunnga Lily yang seperti apa?".
Waduh, seperti apa ya?. Aku lupa.
"Em, Natasya. Tunggu sebentar." Emely lekas menjauh dari Natasya. Mencari ponsel di dalam tas kemudian menghubungi Erich.
"Kak, tadi kau bilang ingin bunga Lily yang seperti apa?" Tanpa memberi salah, Emely lekas melempar tanya pada pria di seberang.
"Bunga, bunga apa?"
Jawaban dari seberang membuat sepasang mata Emely spontan membola.
Apa kak Erich bilang? Bunga, bunga apa? sudah pikun ya?.
"Ya tuhan Em, bunga? bunga apa? Lagi pula kapan aku memintamu membelikanku bunga? Sudah gila ya!".
Emely kian terkesiap. Terlebih suara pria diseberang semakin lama kian memekakkan telinga. Emely berdecak. Ia menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Dibuat pusing dengan tingkah sang Kakak yang mendadak pikun.
"Kak, umurmu masih muda 'kan? Jadi aku rasa daya ingat Kakak tergolong masih tajam juga tak mungkin pikun. Jadi jangan pura-pura amnesia atau aku akan benar-benar marah dan batal membelikanmu bunga untuk Kak Isabel."
Nafas Emely sudah memburu begitu pun emosinya yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Gigi gadis itu saling bergesekan seolah sedang mengigit tangan sang Kakak sebagai luapan kekesalan.
"Emely, apa maksudmu? Bunga Lily, Isabel. Sebenarnya yang ingin kau telfon itu siapa, aku atau Erich?".
__ADS_1
*Aku atau Erich?
Aku atau Erich*?
"Apa?" Emely setengah berteriak, hingga Natasya pun terkesiap.
Emely lekas menarik ponsel ditelinga telinga kemudia memeriksa layar depannya lebih seksama. Wajahnya syok begitu nama Ernestlah yang tertera di layar depan sebagai lawan bicara dan bukanlah Erich.
Ya tuhan, aku salah tujuan. Kenapa aku justru menelfon Kak Ernest dan bukanya Kak Erich. Wajar saja jika dia marah.
"Heheeee." Emely tergelak begitu benda pipih itu menempel di telinga. "Maaf, aku kira kau Kak Erich." Emely tergelak lagi. "Eh, ternya salah tujuan. Maaf ya Kak, selamat siang Kakakku yang tampan. Da..". Klik. Sambungan diputus paksa bahkan sebelum Ernest berhasil menyemprot sang adik.
Emely meringis selepas tergelak. Begitu menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, ia baru sadar jika Natasya masih menunggunya.
Ya tuhan, bagaimana ini.
Emely menepuk kening. Pusing bercamur malu. Selepas membuang banyak waktu untuk menghubungi Ernest, ia pun harus kembali membuang waktu untuk menghubungi Erich.
"Kenapa? Apa ada masalah?." Natasya yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan, kini memberanikan diri untuk bertanya.
Emely tersenyum kikuk. Dalam hati ia merutuki kecerobohannya. Kurang teliti, hingga membangunkan macam yang tengah bersemedi.
"Ah, tidak. Ini hanya ada sedikit masalah saja. Em, tunggu sebentar, ya. Aku masih ingin menghubungi satu orang lagi."
"Oh, tentu. Silakan."
__ADS_1
Emely lekas melipir, mencari tempat aman untuk menghubungi Erich. Sementara Natasya hanya geleng-geleng kepala dan berlalu pergi seiring Emely yang juga berlari menjauhinya.