CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Usaha Ernest


__ADS_3

"Kenapa Tuan bisa berfikir demikian?."


Ernest yang semula menatap ke arah kolam renang, kini mengalihkan padang pada gadis yang duduk di sampingnya. Sampai pandangan keduanya pun bertemu. Rupanya Natasya terpancing dengan ucapannya.


"Tidak usah difikirkan, tadi aku hanya iseng bertanya saja." Bibir pria tersebut mengulas senyum, yabg mana membuat Natasya menghela nafas dalam.


"Saya sendiri tak keberatan, andaikan Ibu menikah lagi dengan seseorang." Gadis itu tertunduk selepas berucap. Apakah sesungguhnya ia tidak rela dan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya adalah bualan?.


"Kau terlihat sedih, aku bahkan merasa jika kau malah tak ingin melihat Ibumu menikah lagi." Ah, biarlah dikata lancang. Ia hanya ingin mendengar kejujuran dari Natasya. Ia ingin tau seperti apa reaksi sang gadis andai kata melihat posisi Ayahnya digantikan oleh orang lain. Meski Kenan sendiri tak akan tergantikan, tapi apakah Natasya merasa rela andai Ibunya dipersunting oleh pria lain?.


"Kenapa Tuan bisa berkesimpulan demikian?."


"Tentu saja karna ekspresi wajahmu. Kau terlihat sendu begitu membahas tentang Ibumu andai beliau menikah lagi, jadi bukankah itu pertanda bila kau tidak rela jika Ibumu menikah lagi?."


Natasya terdiam, ia tak memiliki jawaban.


"Maaf, lagi-lagi secara tanpa sadar aku membahas masalah sensitif dalam keluargamu."


Natasya menghela nafas, kemudian memberikan atasannya tersebut sebuah senyuman.


"Sesungguhnya saya pun pernah berfikir demikian. Ibu masih muda dan aku rasa beliau juga masih menginginkan untuk memiliki pasangan hidup, hanya saja Ibu mungkin tidak ingin menyakiti perasaanku." Lebih dari satu tahun Ibunya menyandang gelar sebagai single mom. Selama itu pulalah sang Ibu tidak pernah dekat atau berhubungan dengan seorang pria. Anastasya fokus menjaga putri dan usahanya. Semua hanya difokuskan untuk membesarkan dan memenuhi kehidupan putrinya.


"Ya, bisa dilihat jika Nyonya Anastasya sangat menyayangimu." Memang seperti itulah yang Ernest lihat. Anastasya sangat keibuan dan begitu perhatian pada putrinya. Meski baru beberapa kali bertemu, namun seperti apa sifat dari Ibunda Anastasya itu sedikit banyak bisa ia lihat.


"Selama ini pun Ibu tidak pernah dengan dengan seorang pria. Jangankan dekat, membahas tentang pria saja tidak pernah." Anastasya memang tertutup untuk masalah pendamping hidup, terlebih pada putrinya. Entahlah, sepeninggal Kenan dia bahkan tak terfikirkan untuk menikah lagi.


"Ya, mungkin Nyonya Anastasya berusaha untuk menjaga perasaanmu. Karna rasa sayang dirimu pada mendiang Ayahmu, mungkin itulah salah satu penyebab utama atau menjadi pertimbangan berat bagi beliau untuk kembali berhubungan dengan seorang pria."

__ADS_1


Lagi, Natasya tampak menghela nafas dalam. Ernest yang sengaja membawa Natasya menjauh dari jangkauan Ibunya, berusaha keras untuk mengetahui seperti apa isi hati sang gadis dan juga harapan kedepannya.


"Entahlah, mungkin ucapan Tuan ada benarnya. Ibu tidak ingin menyakiti saya dan memendam keinginannya untuk menikah lagi untuk dirinya sendiri."


"Em, Natasya," panggil Ernest selepas beberapa saat keduanya larut dalam keheningan.


"Ya, Tuan."


"Apa kau tau jika sebelum menikah dengan Ayahmu, Ibu pernah memiliki hubungan spesial dengan seseorang?."


Gadis yang ditanya terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Tau."


"Kau tau, memangnya siapa seseorang itu?." Ernest dibuat terkejut. Natasya sudah tau, apa Natasya sudah tau jika Ibunya pernah memiliki hubungan dengan Rangga?.


"Lah, bukankah sebelum menikah dengan Ayah Ibuku pernah menikah dengan Tuan Arka, Ayah Tuan sendiri?."


"Bukan, maksudku selain dengan Ayahku Ibumu juga sempat memiliki hubungan dengan pria lain."


"Apa, maksud Tuan dulu ibuku selingkuh?." Natasya terbelalak. Ernest justru dibuat kelimpungan karnanya.


Haduh susahnya bicara dengan anak kecil.


"Bukan, bukan begitu maksudku." Hah, bagaimana ini?. Secara spontan Ernest merogoh benda pipih yang tersimpan di saku celana. "Sebentar, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Ponsel milik Ernest yang sudah berada di tangan lekas ia bukan dan menggulir layar. Pria tampan itu seperti sudah tak sabar menunjukkan sesuatu hal yang peting pada gadis di sampingnya.


"Kau lihat pria ini, aku rasa kau pun pernah bertemu dengannya." Ernest berucap seraya mengangsur ponsel miliknya ke hadapan sang lawan bicara. Sementara Natasya menerima benda pipih tersebut dan fokus menatap ke arah layar.

__ADS_1


Kening sang gadis mengernyit. Selepas menatap layar ponsel, kini panfangannya kembali pada Ernest.


"Yang berada di foto, bukan kah beliau Tuan Rangga. Sepertinya aku pernah melihat beliau saat menghadiri undangan makan malam keluarga Tuan, aku juga pernah melihatnya datang ke kantor beberapa kali." Lalu apa hubungannya dengan Tuan Rangga, begitu fikir Natasya.


Atau jangan-jangan..


"Tuan, tidak mungkin 'kan jika Ibuku pernah memiliki hubungan dengan Tuan Rangga?." Natasya bahkan ingin meemukul mulutnya sendiri yang sudah lancang dan kelepasan. Tidak, tidak mungkin Ibunya pernah ....


"Kenapa yang ada di dalam fikiranmu selalu benar." Jawaban Ernest terdengar seperti pujian namun nyatanya membuat seseorang yang sedang di puji itu terlihat syok.


"Tuan, ti-tidak mungkin. Tuan berbohong 'kan?." Seperti mengetahui rahasia besar, tubuh Natasya bahkan gemetar. Bibirnya bergetar dan cukup membuat Ernest terkejut dengan reaksi yang ditunjukan oleh sang Sekretaris.


"Natasya, tenanglah. Tarik nafasmu dan buang perlahan." Pria yang semula sempat kebingungan itu meminta sang gadis untuk tenang. Di sebuah gazebo, kedua insan itu duduk saling berhadapan. Ernest bahkan tak ragu untuk mengusap lembut bahu Natasya saat meminta gadis itu untuk tetap tenang. Percayalah, jika dilihat sekilas mereka sudah seperti sepasang kekasih yang saling menguatkan.


"Tenangkan dirimu dan aku akan menjelaskannya satu persatu." Setelah dirasa tenang, Ernest kembali mengoperasikan ponsel. Menggulir layar sampai menemukan objek yang ia perlukan. Beruntung Rangga sempat mengirim padanya foto-foto lawas antara Rangga dan Anastasya. Ernest akan mengunakannya sebagai bukti untuk bisa meyakinkan Natasya.


Natasya menelan ludah. Ponsel milik Ernest sudah ia pegang sementara pria muda itu pun ikut mengarahkan. Gadis itu ternganga. Bagaimana tidak, saat disuguhkan beberapa foto muda sang Ibu yang terlihat mesra dengan Rangga Wiratama, pria kaya yang merupakan salah satu konglomerat di tanah air.


"Sebelum menikah dengan Ayah, Ibumu lebih dulu menjalin kasih dengan Paman Rangga. Lihatlah, mereka terlihat berbahagia dan saling mencintai."


Natasya tak mampu berkata-kata. Selepas kembali ke tanah air kenapa dirinya justru menerima kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ibunya diantara pria-pria konglomerat. Sungguh sesuatu hal yang sangat ingin ia ketahui tetapi juga tak ingin ia ketahui.


"Ibuku dan Tuan Rangga, bagaimana bisa..."


Antara terkejut sekaligus bingung. Natasya seperti gadis boodoh dan ling lung yang tak tau menahu tentang kehidupan sang Ibu di masalalu.


"Ketahuilah Natasya, mereka berpisah karna restu. Paman dengan terpaksa melepas Ibumu meski dalam ketidakrelaan. Apa kau tau, sampai detik ini pun beliau masih setia melajang, dan baru saja aku tau jika rasa cintanya pada Ibumu lah yang membuat Paman Rangga setia dengan kesendiriannya."

__ADS_1


Diam, Natasya memilih diam dan hanya mendengarkan. Tidak, dirinya tidak memikirkan Rangha tetapi memikirkan sang Ibu yang menyimpan rapat rahasia sepenting ini dari putrinya sendiri.


Tbc.


__ADS_2