
Kisah masa lalu Anastasya rupanya mengiring langkah kaki Natasya ke sebuah tempat pemakaman khusus keluarga Atmadja. Suatu sempat yang baru pertama kalinya ia ketahui dan datangi. Anastasya ikut mendampingi, menggengam tangan sang putri untuk memasuki sebuah tempat yang dulu kerap ia datangi.
Ditatapnya sekeliling, cukup banyak yang berubah setelah Anastasya tinggalkan bertahun-tahun lamanya. Ada beberapa makam baru yang entah tubuh siapa yang tertimbun di bawahnya. Sedangkan makan putra sulungnya, Abagail. Anastasya dengan jelas masih mengingatnya.
Anastasya memimpin langkah menuju sebuah pusara berukuran mungil dan bertuliskan nama Abigail Surya Atmadja sebagai identitas. Itulah makam putranya, buah hatinya dengan Rangga Wiratama.
"Bu," lirih Natasya memanggil nama sang Ibu. "Ini makam Kakak Tasya?." Natasya bertanya saat posisi keduanya berdiri di depan sebuah makam.
"Ya," jawab Anastasya seraya menganggukkan kepala. Helaan nafas terdengar dari bibir keduanya. Mereka saling menatap sebelum akhirnya saling mendekap.
Dua hari ini Natasya menemukan sisi lain yang belum pernah Ibunya perlihatkan selama ini. Sepengetahuan Natasya, Ibunya sosok yang kuat, tak pernah memperlihatkan sisi lemah di hadapan putrinya. Akan tetapi, saat ini nyatanya berbeda. Anastasya terlihat lemah, tangisnya tak segan keluar meski sekuat tenaga ditahan.
Seperti biasa, setelah melepaskan pelukan Natasya, Anastasya bersimpuh di hadapan pusara sang Putra. Hatinya serasa remuk redam saat menatap pengistirahatan terakhir putranya yang tak berdosa.
"Tasya, kemarilah," pinta Anastasya agar sang putri duduk bersamanya. Gadis itu tak menolak, duduk bersimpuh di depan pusara sang Kakak.
"Inilah makam Kakakmu, mendiang Abigail Surya Atmadja." Anastasya berbicara pelan, menatap dan menjelaskannya pada sang putri secara perlahan.
"Abigail Surya Atmadja?." Mungkin Natasya berfikir kenapa adiknya mengunakan nama Atmadja sedangkan Ayah kandung Abigail sendiri merupakan keturunan keluarga Wiratama.
"Ya, Tuan Arka lah yang sudah memberi nama juga menemani proses Ibu saat melahirkan mendiang Kakakmu." Masih teringat jelas seperti apa rasa khawatir Arka saat melihat dirinya kesakitan. Mereka terlihat seperti calon orang tua pada umumnya. Memberi semangat, saling mengengam dan menguatkan. Sampai Anastasya sendiri merasa jika Arka mampu menggeser posisi Rangga di hatinya.
Semalam pun Ibunya sudah bercerita banyak tentang dua tahun kehidupan pernikahannya dengan Arka. Natasya terenyuh, demi sang sahabat, Ayah dari Ernest tersebut rela menikahi seorang perempuan yang nyatanya sudah mengandung benih milik sahabatnya itu sendiri. Hidup Ibunya tercukupi dan tak kekurangan satu apa pun. Tuan Arkana bertanggung jawab penuh atas kehidupan Ibunya.
Anastasya mengusap batu nisan Abigail. Membaca doa kemudian menaburkan bunga diikuti pula oleh Natasya. Beberapa saat hening melanda. Ibu dan Anak tersebut seperti sefang terlarut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Jika Tuan Arka begitu bertanggung jawab pada hidup Ibu, lalu kenapa kalian bisa berpisah?." Pertanyaan itu pada akhirnya keluar dari mulut Natasya. Anastasya tentu terkejut, meskipun ia pernah mengira jika pertanyaan tersebut kelak akan ditanyakan oleh putrinya.
"Kau tau, cinta itu tak bisa dipaksa, dan hal tersebutlah lah yang menjadi alasan utama perpisahan kita." Anaatasya tak bisa berbivmcara banyak. Setelahnya perempuan itu berpamitan pada putra pertamanya, kemudian membawa Natasya untuk keluar dari pemakaman.
Tempat ini. Begitu keluar dari pintu gerbang, seorang penjaga terkejut saat tanpa sengaja menatap Anastasya.
"N-nyonya Anastasya?."
Panggilan itu sontak membuat Anastasya menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Ah, rupanya beliau adalah penjaga makam keluarga Atmadja yang belum digantikan sejak dulu. Tentu saja pria itu mengenalnya.
"Paman."
"Anda benar Nyonya Anastasya?." Paruh baya itu seperti tak percaya meski pun Anastasya sudah mendekat.
"Benar, Paman. Aku Anastasya."
"Benar, Paman. Dia putriku, Namanya Natasya." Tanpa ragu Natasya meminta berjabat tangan. Awalnya penjaga itu menolak namun menyambutnya jua.
Tiba-tiba penjaga lain datang. Penjaga makam yang beberapa saat lalu memberi akses masuk pada Anastasya.
"Nyonya, apa anda sudah selesai?." Ucapan penjaga tersebut sontak mengejutkan satu penjaga lain.
"Kau tadi sudah bertemu Nyonya Anastasya?." Bisik pria itu di telinga sang teman namun masih bisa didengar oleh Anastasya.
"Tentu saja, tadi aku yang sudah mempersilahkan beliau masuk."
__ADS_1
Anastasya tersenyum tipis mendengar perdebatan diantara kedua penjaga keamanan. Ia tak ingin menganggu, dan berpamitan untuk pulang setelahnya.
"Nak, kita duduk di sana sebentar ya?." Anastasya menunjuk ke arah sebuah kursi yang letaknya tak begitu jauh dari pintu gerbang pemakaman.
"Maksudnya kita istirahat dulu?." Gadis itu tentu kebingungan. Kenapa mereka tidak pulang saja malah memilik duduk di pinggir jalan seperti ini.
"Ya, kita istirahat sebentar. Ok?."
"Ok, Bu," jawab Natasya patuh. Ia ikuti langkah sang Ibu yang masih ingin beristirahat.
Keduanya kini sudah menjatuhkan bobot tubuh di kursi panjang yang letaknya tidak terlalu jauh dengan jalan raya dan pemakaman. Anastasya mengusap bagian kursi yang rupanya berbeda saat ia duduki bertahun-tahun lalu.
"Tasya, apa kau tau jika ditempat inilah Ibu dan Zara dipertemukan untuk pertama kali?."
"Hem." Natasya menatap bingung sang Ibu kemudian menatap kesekeliling. Jalan raya dan pemakanan, Ibunya dan Ibunya Ernest bertemu di tempat ini?.
"Ibu dan Nyonya Zara bertemu di sini?."
Anastasya mengangguki. Kembali perempuan itu menceritakan kisah petemuannya dengan Zara. Berawal dari saat dirinya yang hampir kecopetan dan pada akhirnya digagalkan oleh Zara.
"Ibu masih mengingat sepolos apa Zara dulu. Berasal dari kampung seperti Ibu. Mengadu nasib dikota akibat ditipu salah satu teman." Sebuah kehidupan yang dialami Zara dulu tak lebih baik darinya.
"Jika mengingat kehidupan kami dulu, rasanya sangat bersyukur dengan kehidupan kami yang sekarang ini." Tentunya kehidupan nyaman yang ia jalani kini berkat tangan dingin Arka yang tak pernah memandangnya hina meski sudah ternoda.
"Tak menampik kenyataan, memang Tuan Arka lah yang berjasa besar atas kehidupan sejah tera Ibu. Akan tetapi bukan hanya Tuan Arka namun Tuan Rangga pun memiliki peranan penting. Beliau yang mengurus serta menjaga Ibu saat memulai karir di dunia modeling. Dalam hidup Ibu yang hanya seorang diri di kota, Tuan Rangga selalu berusaha melindungi dan memastikan Ibu baik-baik saja baik di rumah atau di tempat lain. Tuan Rangga baik, Nak. Beliau sangat baik, hanya saja karna restu orang tua lah yang mengakibatkan hubungan kami berantakan. Ibu harap, kau tidak membenci Tuan Rangga meski pun beliau pernah menghancurkan masa depan Ibu."
__ADS_1
Natasya menghela nafas dalam. Entahlah. Ia tak bisa berjanji untuk tak membenci Rangga namun Ia pun tak bisa menghakimi Rangga sebagai pria beejat yang tega menghancurkan masa muda Ibunya.
Tbc.