CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Benarkah?


__ADS_3

"Hai, bukankah kau gadis yang bekerja di..." Ucapan pria itu setengah menggantung. Sepertinya ia pun sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Ya, benar. Senang sekali dapat berjumpa kembali dengan anda, Tuan Erich."


Jawaban yang diucap Isabel, justru membuat pria itu tergelak.


"Hei, aku ini Ernest, bukan Erich."


Isabel terkesiap. Ia pandangi dengan seksama seraut wajah yang begitu mirip dengan mantan bos besarnya.


"Hei jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku salah tingkah." Ernest terus menanggapi gadis yang masih termenung di depannya, hingga nyaris melupakan gadis yang kini duduk di sampingnya.


Isabel seperti mendapatkan kembali kesadaran saat mengingat sesuatu hal.


Kembar. Ya, bukankah tuan Erich punya kembaran dan ini, dia pasti kembaran tuan Erich, Tidak salah lagi.


Isabel tersenyum kikuk. Ia malu sebab keceplosan dengan memangil nama Erich.


"Kau tentu masih ingat jika Bosmu itu punya saudara kembar, dan aku inilah saudara kembarnya." Ernest tersenyum lebar. "Dan perkenalkan." Ernest mengalihkan pandangan ke arah gadis di sampingnya. "Perkenalkan, di Sandara, kekasihku," sambung Ernest lagi.


Pandangan Isabel berpindah. Ia tersenyum pada gadis yang disebut Ernest sebagai kekasihnya.


Gadis bernama Sandara itu pun spontan mengulurkan tangan dan tentunya disambut oleh dengan senang hati oleh Isabel. Keduanya saling berjabat tangan.


"Senang bisa berkenalan denganmu," ucap Sandara saat gengaman tangan mereka masih belum terlepas.


"Begitu pun sebaliknya." Isabel ikut duduk bergabung setelah dipinta oleh Ernest, meski awalnya ragu, namun Isabel pun tak bisa jua menolak. Kini bahkan ketiganya terlibat dalam pembicaraan ringan. Ernest yang memang banyak bicara rupanya mampu mencairkan suasana yang semula tampak canggung.


Ernest yang penasaran akan keberadaan Isabel di Ibukota, lekas memberondong gadis cantik itu dengan banyak pertanyaan. Isabel sendiri tak menutupi. Ia berkata apa adanya, dan mengatakan jika coffe shop ini memanglah usaha miliknya. Awalnya Ernest ragu, sebab yang ia tau selama ini jika Isabel adalah salah satu OG di perusahaan yang dipimpin oleh saudara kembarnya. Isabel memaklumi, namun gadis itu tak ingin menjabarkan semua hal pribadinya secara detail. Beruntung Ernest pun bisa memahami hal itu.


Ernest nampak kagum. Gadis semuda Isabel bahkan sudah bisa berwirausaha. Meski terbilang masih amatir, namun rupanya Isabel pun punya pemikirannya di mana memilih tempat yang cukup ramai dan strategis untuk membangun usaha.


"Kau memilih tempat usaha yang tepat. Berada di pusat kota dan berdekatan pula dengan pusat perbelanjaan." Ernest sudah seperti seorang pengamat saja.


"Bagaimana sayang, kau pasti sependapat denganku 'kan?" Ernest meminta persetujuan pada kekasihnya, Sandara.


Sandara sendiri spontan menganggukkan kepala. Bibir gadis itu pun mengulas senyuman.

__ADS_1


"Benar, sayang. Sama seperti butikku yang berada di sebelah sana. Cukup banyak memiliki pelanggan dan menjadi buruan dari berbagai kalangan. Bukan hanya para pelanggan berkantong tebal, sebab butikku memasang harga yang berfariasi dan bisa mencakup beberapa kalangan. Mulai dari kelas atas sampai menengah ke bawah. Soal kualitas pun, tak perlu diragukan. Butikku selalu memakai bahan dengan kualitas terbaik." Sandara berucap penuh antusias. Isabel yang sadar akan hal itu pun, merasa bahagia. Rupanya kekasih Ernest pun juga sudah memiliki butik di usianya yang masih muda. Luar biasa. Ternyata Sandara bukan hanya memiliki paras yang rupawan, tetapi juga pintar dalam berbisnis.


"Wah, apakah kekasih tuan Ernest sudah memiliki butik sendiri?"


Sandara pun mengangguk, meng-iyakan.


"Pangil aku Sandara, biar lebih akrab."


Isabel tersenyum kikuk.


"Dan berhenti memanggilku dengan menggunakan sebutan 'Tuan', cukup Ernest saja." Ernest ikut menambahkan.


"Baik."


"Aku memang memiliki butik dan tempatnya ada di sebelah sana." Sandara menunjuk kearah bangunan dua lantai yang letaknya tak terlalu jau dari kafe milik Isabel.


"Wah." Isabel tak mampu menutupi rasa takjubnya. Dari tempat duduknya saat Ini, Isabel bisa melihat butik milik Sandara. Sebuah butik yang cukup luas, dengan beberapa mobil pelanggan yang berjajar rapi di area parkir yang disediakan.


"Aku datang ke butik hanya sesekali. Maklumlah, aku juga bekerja pada kekasihku jadi aku hanya bisa mempercayakan pada seseorang untuk bisa mengurus butik milikku."


Lagi, Isabel terperangah. Sungguh gadis luar biasa. Usaha butik itu bahkan hanya sampingan bagi Sandara.


"Hebat," puji Isabel penuh rasa takjub.


Ernest tersenyum simpul. Pria itu mengusap puncak kepala Sandara penuh sayang.


"Aku sengaja menjadikan San sebagai sekretarisku di perusahan. Maklumlah, kami sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan."


San tergelak. Cukup geli mendengar ucapan kekasihnya sendiri. Sementara Isabel masih dibuat tak percaya.


Bukankah mereka saudara kembar? Tetapi kenapa sifat keduanya bertolak belakang seperti ini?


💗💗💗💗💗


Malam kian merangkak. Rasa kantuk mulai menjalar, namun masih adanya beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan membuat Erich harus bertahan di ruang kerjanya lebih lama.


Pria itu tak mengeluh. Meski begitu sampai di rumah ia masih berkutat dengan lembaran kertas di mejanya kerjanya. Bagi Erich, hidup dan masa mudanya kini sebagian besar ia gunakan untuk bekerja. Meski diawal hanya ia lakukan sebagai pelampiasan, tetapi seiring berjalannya waktu, Erich mulai terbiasa. Pekerjaan adalah hal utama baginya setelah keluarga. Waktu libur akhir pekan pun hanya ia habiskan untuk beristirahat dan olahraga. Seperti itulah aktifitas rutinya berjalan beberapa tahun belakangan. Sementara ini Erich masih tak tertarik untuk menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. Baik itu rekan kerja atau pun stafnya sendiri. Pria itu ingin fokus berkarir di masa muda demi meraih kehidupan cemerlang di masa depan.

__ADS_1


Segelas kopi sebagai teman lembur bahkan sudah habis dan hanya menyisakan ampas, tetapi Erich masih belum jua bangkit dari kursi putarnya. Getaran pada ponsel mengalihkan fokusnya. Pandangan pria itu spontan beralih pada benda pipih miliknya yang tergeletak di atas meja.


"Untuk apa dia menghubungiku malam-malam seperti ini," gumam Erich begitu nama 'Ernest' terpampang di layar benda pipih bernama ponsel miliknya.


Erich lekas mengangkat panggilan vidio dari saudara kembarnya itu. Waktu bahkan sudah larut malam. Tidak mungkin jika Ernest menghubunginya hanya untuk berdebat, atau jangan-jangan ada hal penting yang pria itu ingin sampaikan.


"Hallo," sapa Erich saat wajah Ernest sudah tampak di layar.


"Hei, brother. Kau masih belum tidur rupanya. Waw, wajahmu bahkan masih terlihat segar. Aku tebak jika kau masih berada di ruang kerjamu saat ini. Benar 'kan?"


Erich hanya berdecak. Tak berminat menanggapi. Dari cat ruangan saja saudara kembarnya itu bisa menebak di ruang mana ia berada saat ini.


"Tidurlah, hari sudah malam. Jangan terlalu berlebihan memeras otakmu. Lama-lama kau bisa gila."


Erich kembali berdecak. Malas berdebat dengan saudara kembarnya sendiri.


Menyadari ketidaksukaan akan ucapannya membuat Ernest lekas memasang wajah polos tak tau malunya.


"Hah, baiklah-baiklah. Kau terganggu dengan panggilanku rupanya." Ernest masih sempat-sempatnya tergelak. Sementara Ernest sudah hendak memutuskan panggilan.


"Tunggu sebentar! Jangan dimatikan." Ernest berucap setengah berteriak.


"Cepat katakan apa keperluanmu. Aku sedang sibuk sekarang."


Kini Ernest-lah yang berdecak.


"Ya tuhan. Kau akan lekas tua jika terlalu sering marah-marah."


Erich yang kian jengah nyaris memutuskan panggilan hingga sebuah kalimat yang terucap dari bibir Ernest mengurungkan niatnya.


"Isabel bukanya bekerja padamu saat itu, lalu kenapa ia berada di ibukota sekarang. Hebat sekali kau ya. Berapa kau menggaji Isabel dulu, hingga dalam waktu beberapa bulan ia sudah punya kafe sendiri di ibukota."


Erich tertegun. Wajahnya nampak syok. Bibirnya pun kelu, tak bisa berkata-kata.


Apa? Isabel ada di ibukota? Apa Dia bilang, Isabel bahkan memiliki kafe?


Erich tak tau hendak menjawab apa, namun ada satu hal pasti yang ingin ia lakukan. Pulang ke ibukota dan mencari kebenaran akan ucapan Ernest tentang Isabel.

__ADS_1


__ADS_2