CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Demi Tujuan Pribadi


__ADS_3

Teriknya mentari disiang hari, perlahan menghilang berganti temaram sinar sang rembulan pada malam hari. Di lantai teratas gedung Atmadja group, dua orang pria dewasa nampak duduk berbincang bertemankan secangkir coklat panas yang masih menyisakan kepulan asap di bagaian atasnya.


Terkait masalah yang terjadi di antara dirinya dengan sang putra, membuat Arka harus segera menyelesaikan masalah yang ada sebelum pernikahan Erich berlangsung. Arka lekas menunjuk Sam untuk ia bebani dengan berbagai tugas yang intinya mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan Sandara beserta keluarga.


"Bukankah Tuan muda Ernest pernah mengatakan jika Nona San tak memiliki sanak saudara?" Sam coba meyakinkan perihal informasi yang pernah ia dengar. Awalnya pria itu tak mengerti akan maksud dari Tuannya dengan memberinya tugas demikian, tetapi ia pun tak ingin lancang. Mengingat apa yang terjadi bukanlah sesuatu hal yang patut ia campuri.


"Memang, tapi aku sendiri tidak yakin," jawab Arka disusul helaan nafas. "Ikuti saja apa yang aku perintahkan. Usahakan untuk bergerak serapi mungkin agar gadis itu tidak curiga. Beri jarak aman, takut kalau gadis itu sadar jika gerak geriknya tengah diintai."


"Baik, Tuan. Kami usahakan untuk bergerak serapi mungkin."


"Bagus."


Keduanya kembali berbincang seraya menghabiskan sisa coklat panas di cangkir masing-masing. Meski puluhan tahun bekerja bersama dengan usia yang kini tak lagi muda, tetapi percayalah jika stamina dan cara kerja keduanya tak jauh berbeda seperti puluhan tahun lalu saat kedua belum menyandang gelar sebagai seorang suami.


Sam tetapi berdiri di samping Arka. Menjadi kepala pengawal sekaligus Asisten pribadi. Semuanya tak berubah. Sam tetaplah menjadi orang nomor satu untuk mendampingi Arka sekaligus menjadi orang kepercayaannya. Bahkan jejak kedua pria itu pun sampai diikuti oleh putra-putra mereka. Ernest dan Langit. Langit yang merupakan putra sulung dari pasangan Sam dan Kiara, mendampingi Ernest dalam seluruh pekerjaan yang sudah Arka limpahkan padanya. Meski belum sehebat sang Ayah, namun kecerdasan dan kesigapan Langit patut diapresiasi. Ia pun sudah dibekali oleh ilmu bela diri yang mumpuni, agar layak berdiri di belakang Ernest sekaligus tameng bagi Tuan mudanya.


💗💗💗💗💗


Di sebuah Apartemen di pusat kota. Sandara sudah terlihat rapi dengan out fit mewahnya. Tak memiliki janji dengan Ernest membuat gadis itu ingin menghabiskan harinya untuk berjalan-jalan.


Selepas berkendara selama tiga puluh menit dari Apartemennya, Sandara kembali mengunjungi rumah megah yang pernah ia sambangi beberapa hari lalu.


Seperti biasa para penjaga dan pelayan mengangukan kepala. Mempersilakan gadis muda itu untuk masuk ke dalam rumah dan melayaninya seperti majikan.

__ADS_1


"Mam," sapa Sandara yang langsung menghambur kepelukan perempuan paruh baya yang tengah duduk santai di sofa seraya membajalah.


"Kau datang?" Ibu dari Sandara itu menatap lekat sang putri. Tidak seperti biasa yang selalu menghabiskan waktunya dengan Ernest, akhir-akhir ini gadisnya itu justru lebih sering mengunjungi kediamannya.


"Seperti yang Mama lihat." Sandara menghempaskan bobot tubuh di sofa yang letaknya tak jauh dari ibunya. Meraih satu toples camilan, membuka dan memakan isinya dengan lahap.


"Apa kau tak khawatir jika suatu saat kekasihmu itu akan curiga?" Ibu dari Sandara menghela nafas dalam. Sekian tahun menyetir kehidupan putrinya, perlahan membuatnya dilema.


Sandara mengendikkan bahu. Acuh, masih sibuk mengunyah camilan gurih yang menjadi favoritnya saat berkunjung ke rumah pribadinya sebelum berpura-pura menjadi gadis yatim piatu hanya untuk mengelabuhi Ernest.


"Sepertinya Ernest sedang marah padaku."


"Kenapa?" Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu mencondongkan tubuhnya ke arah sang putri. Dia mulai penasaran.


Kedua perempuan berbeda usia itu tergelak bersamaan. Ibu dari Sandara bahkan sampai geleng-geleng kepala. Merasa bangga akan hasil didikannya selama beberapa tahun kepada sang putri. Satu tubuh, dua wajah. Begitulah kata-kata yang kerap Andara tegaskan untuk putrinya.


Berlaku baik dan pasang wajah sepolos mungkin untuk meluluhkan lawan, setelah itu cengkeram lawan saat sudah berada dalam gengaman.


Andara masih tergelak. Rasa bahagiannya seolah memuncah. Ia sadar jika ucapa sang putri bisa meniupkan kobaran api yang bisa menyulut api perpecahan dalam keluarga Atmadja. Dan bukankah itu yang menjadi tujuannya selama ini. Mengumpankan sang putri untuk masuk ke keluarga Atmadja, menjadi orang spesial di antara mereka, kemudian menghancurkannya tanpa sisa.


"Apa kau tidak akan menyesal, andaikata apa yang menjadi keinginan kita benar-benar terwujud?"


"Maksud, Mama? Dan perlu diralat, semua ini hanyalah murni keinginan Mama dan bukan diriku. Lagi pula bukankah Mama sudah jika aku tidak mencintai Ernest. Aku mencintai Erich dan aku sudah tak sabar untuk menghancurkan pesta pernikahannya." Sandara mengertakkan gigi. Hidup dalam gengaman sang Ibu begitu menyiksanya. Tak bebas dan tak leluasa. Bahkan hanya untuk urusan cinta. Sekian tahun menjalin kasih dengan Ernest, namun nyatanya Sandara justru mencintai sosok Erich, kembaran kekasihnya.

__ADS_1


"Diam Sandara! Kau tidak punya hak untuk melawan keinginan Mama. Lagi pula kenapa beberapa hari lalu kau gagal merayu Ernest untuk menidurimu. Setidaknya dengan adanya janin keturunan Atmadja di perutmu, membuat rencana kita untuk menghancurkan keluarga Zara jadi lebih mudah." Andara memijit pelipisnya yang berdenyut. Rupanya sang putri mulai melawan saat dikendalikan. Memang, dirinya seolah sengaja menumbalkan sang putri demi tujuan pribadi. Sebuah tujuan yang berlandaskan rasa sakit hati.


"Seberapa besar keinginan Mama untuk menghancurkan keluarga Atmadja. Oh, maksudku Zara. Sebesar apa Mama? Aku cukup bersabar saat beberapa tahun ini hanya menjadi pion Mama. Tetapi setelah aku mendengar Pria yang aku sukai akan menikah, aku kecewa Mama. Aku kecewa." Sandara tak lagi ingin menutupi luka. Lewat kalimat ia hanya ingin menunjukan rasa kecewanya pada sang Mama jika tak mudah untuk menjadi dirinya yang harus hidup dalam kepura-puraan.


"San, tenang. Bicaralah dengan baik-baik. Mama tau, kau pasti lelah menjalaninya. Akan tetapi kita sudah melangkah begitu jauh. Hanya tinggal menunggu sedikit saja, kita akan menikmati hasilnya. Keluarga Zara akan hancur dan kita aka---"


"Akan dapat apa, Mama?" Sandara memangkas ucapan Ibunya. "Mendapatkan kepuasan batin saat bisa melihat perempuan yang digilai Ayah berhasil Mama hancurkan?"


"Tutup mulutmu Sandara!" Andara mengangkat satu tangan, berniat untuk menampar bibir sang putri yang sudah berbicara lancang. Akan tetapi satu tangan kokoh menghalangi ayunan tangannya.


"Jangan pernah menyakiti putriku, Andara. Apalagi sampai menamparnya." Seorang pria menahan satu tangan Andara yang terangkat. Andara langsung membuang pandangan saat pandangan mereka berpaut.


Sandara sendiri yang sempat memejamkan mata saat sadar hendak ditampar. Kini berlari, bersembunyi di punggung lebar sang Ayah.


"Berfikir positiflah. Buanglah sifat iri dengki yang selama ini menguasai hidupmu. Kita bangun keluarga yang bahagia tanpa hatus mengorbankan keluarga lain di dalamnya."


Andara tak menanggapi. Berulang kali ia menghela nafas dalam. Dengan emosi yang masih meluap, ia beranikan diri untuk menatap mata sang suami, lekat.


"Coba katakan semua ucapanmu pada dirimu sendiri, Sandy. Sejauh mana kau mencintaiku, sejauh mana kau menginginkanku sebagai istri dan sejauh mana peranmu sebagai suami jika dihatimu hanya tertulis nama Zara. Coba katakan, Sandy. Aku harus bagaimana? Aku harus bersikap seperti apa? Ayo katakan!" Andara berteriak. Ia menunjuk ke arah dada Sandy, membuat pria itu terkesiap.


Ya, memang benar. Zara masih ada di hati Sandy. Meski sudah menikahi Andara dan dikarunia seorang putri. Nyatanya sosok Andara tak mampu mengantikan sosok Zara yang terlanjur menorehkan kesan mendalam di hati Sandy.


tbc.

__ADS_1


Ditunggu next babnya ya kak. Kita akan kulik rahasia tentang Sandy beberapa tahun lalu.


__ADS_2