CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Mengantarmu Pulang Part. 2


__ADS_3

Apa yang baru saja terjadi pada Rangga masih seperti mimpi, di mana tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Anastasya, seseorang pernah ia sanjungi di masa lalunya.


Ya, aku yakin dia pasti Anastasya.


Rangga terpekur seorang diri. Tubuhnya bahkan tak mampu berdiri, hingga tubuhnya terduduk di lantai.


"Aku tidak salah lihat, dia pasti Anastasya," lirih Rangga dengan pandangan kosong. Sepasang bola matanya memerah, nyaris menangis namun sebisa mungkin ditahan.


"Tapi kenapa dia pergi dan tak mengabaikan panggilanku?." Rangga seperti tak terima, kala perempuan yang ia yakini sebagai Anastasya berlari dan abaikan dirinya. Fikiran Rangga melanglang buana. Ia tak perduli lagi dengan kondisinya. Terduduk di lantai seorang diri, seperti pria menyedihkan yang lontang lantung di jalanan.


Cukup lama Rangga berada dalam posisi demikian, hingga tanpa sengaja dua orang penjaga keamanan Atmadja group melihatnya.


"Lihat, bukankah itu Tuan Rangga?." Salah seorang penjaga bertanya pada satu rekannya. Selepas menunjuk, sang rekan pun bisa melihat wajah Rangga.


"Ayo ke sana, mungkin Tuan Rangga sedang membutuhkan bantuan." Mereka bergegas, berlari ke arah Rangga agar daoat mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada salah satu kerabat atasannya tersebut.


"Tuan Rangga." Tanpa banyak bicara, mereka lekas membantu Rangga untuk berdiri. Mendudukannya di sebuah kursi kemudian memberinya sebotol air.


"Maaf, Tuan. Apa ada sesuatu yang terjadi kepada anda?." Tanya salah satu dari penjaga yang mendapati wajah syok Rangga. Akan tetapi dengan cepat pria berjas itu menggeleng.


"Tidak, tidak terjadi apa-apa. Aku baik-baik saja." Rangga bahkan menolak saat kedua penjaga berniat memapah langkahnya.


"Pergilah, aku baik-baik saja."


Tak punya pilihan, kedua pria berbadan tegap itu meninggalkan Rangga meski benak dipenuhi tanya. Mereka memilih kembali berjaga dari pada diusir Rangga untuk kedua kalinya.


💗💗💗💗💗


Sepanjang perjalanan menuju rumah Anastasya, baik dirinya dan juga Ernest tak saling banyak bicara. Hanya sepatah dua kalimat yang keluar dari bibir ke duanya sebagai upaya menetralisir kegugupan.


Meski mereka bekerja bersama, namun hanya dalam beberapa kesempatan saja mereka terlihat hanya berdua. Selebihnya Ernest akan melibatkan langit untuk bekerja di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Di mana rumahmu?." Ernest bertanya setelah dua puluh menit perjalanan. Natasya pun menjawab, gadis itu menyebutkan sebuah alamat yang membuat Ernest mengerutkan kening. Tentu saja jawaban Natasya mampu di dengar oleh supir pribadi Ernest, dan reaksi sang supir pun tak berbeda jauh dari Ernest.


Perumahan XX, bukankah termasuk kompleks perumahan elit?.


"Kau tinggal dengan kedua orang tuamu?." Mungkin berusaha untuk memecah kesunyian, Ernest sengaja mengajak bicara gadis yang duduk di sampingnya.


Natasya mengangguk kemudian menjawab, "Benar, Tuan. Tapi lebih tepatnya saya hanya tinggal bersama Ibu karna Ayah sudah meninggal." Selepas berucap Natasya lekas mengalihkan pandangan ke arah lain. Entah mengapa ketika disingguh perihal sang Ayah, sudut hati terdalamnya seakan teremas.


"O, begitu. Maaf," lirih Ernest penuh sesal. Tadinya ia hanya berniat mengusir kecanggungan namun begitu mendapati wajah sendu Natasya, Ernest seperti ingin menarik kembali pertanyaannya.


Lagi, mereka terkurung dalam kesenyapan sampai Natasya menyebut sebuah nomor rumah di kompleks perumahan XX yang merupakan tempat tinggalnya.


"Ini rumahmu?." Ernest bertanya seraya menengok bangunan mewah itu dari dalam mobil.


"Ya, Tuan. Ini rumah orang tua saya." Natasya menjawab. Gadis itu membuka pintu dan menggeser pandang ke arah Ernest yang terdiam di tempatnya.


"Tuan, terimakasih." Natasya menundukan kepala sebelum keluar.


Ucapan Ernest sontak membuat setengah tubuh sang gadis yang sudah keluar dari mobil, masuk kembali.


"Te-tentu saja, Tuan jika anda berkenan."


Jawaban Natasya membuat sudut bibir seorang Ernest terangkat. Pria itu tersenyum namun sebisa mungkin menyembunyikannya dari pandangan Natasya.


Satu hal yang kini Ernest ketahui dari kehidupan sekretaris pribadinya. Jika dilihat dari bangunan mewah berlantai tiga yang menjadi huniannya, bisa dipastikan jika Natasya bukanlah dari kalangan biasa-biasa saja.


Seorang pria sigap membuka pagar, memberi akses pada sang tamu untuk masuk. Bukan hanya kendaraan Ernest, rupanya mobil Natasya pun sudah berhasil diantar oleh supir suruhan Ernest.


Kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan yang sudah bekerja pada keluarga Anastasya setelah mereka kembali ke tanah air. Bibi pelayan itu tentu bertanya-tanya saat majikannya pulang dengan ditemani seorang pria yang belum pernah ia lihat.


"Selamat datang Nona, Tuan," sapa bibi pelayan dengan membuka pintu rumah utama, dan mempersilahkan mereka untuk masuk.

__ADS_1


"Selamat datang, Bibi. Terimakasih."


Benar dugaan Ernest. Saat ia memasuki rumah milik keluarga Natasya, rupanya apa yang berada di dalam tak jauh berbeda dari isi di dalam rumahnya.


"Tuan, silakan duduk." Natasya mempersilahkan pada Ernest untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Terimakasih." Sungguh tak bisa diduga. Saat perayaan sedang berlangsung di perusahaan, dirinya justu pergi dan bertamu ke rumah Natasya seperti saat ini. Pandangan pria muda itu tak urung menatap ke sekeliling. Benarkah seorang Ernest penasaran dengan kehidupan pribadi sekretaris pribadinya di luar pekerjaan?.


"Maaf, Tuan. Saya tinggal sebentar," pamit Natasya. Entah hendak ke mana dia, Ernest pun menanggapinya dengan anggukkan.


Dari hanya melihat saja tentu Ernest bisa menaksir berapa harga perabotan Rumah dari benerapa vas dan pajangan yang cukup menyita perhatiannya.


Apa Natasya salah satu dari putri konglomerat?. Tapi siapa, siapa nama kedua orang tua Natasya.


Seakan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang memenuhi benak, Ernest menemukan sebuah foto keluarga berukuran besar di salah satu sudut dinding ruang tamu.


Ernest pun menatap lekat foto tersebut di mana Anastasya berdiri di belakang tubuh lelaki dan perempuan yang Ernest yakini sebagai orang tua dari Natasya.


Jadi ini orang tua Natasya?. Rupanya mereka masih muda.


Sungguh kini pandangan Ernest hanya tertuju pada album foto keluarga Natasya. Ketika dirinya sedang mengamati wajah Ayah Natasya secara saksama, Natasya muncul kembali yang mana membuat pria tersebut terkesiap.


"Tuan Ernest, perkenalkan," ucap Natasya yang rupanya tidak muncul seorang diri. Ada seorang perempuan yang parasnya begitu mirip dengan Natasya namun dengan usia yang cukup jauh di atasya. "Ini Ibu saya. Ibu, perkenalkan. Beliau Tuan Ernest, atasan di tempatku bekerja," sambung Natasya yang meminta pada Ibu dan juga atasannya untuk menyapa.


"Selamat malam, Bibi." Tak disangka, Ernest lebih dulu menyapa Ibu dari Natasya.


"Selamat malam, Tuan. Saya Anastasya, Ibu dari Natasya, karyawan anda." Anastasya menyambut hangat kedatangan Ernest meski sesungguh hatinya tak kuasa. Jika Natasya memiliki paras serupa Natasya, rupanya Ernest pun mendominasi wajah Ayahnya, Arka dan hal tersebutlah yang mampu merobek pertahanan seorang Anastasya untuk kesekuan kalinya.


Nyaris serupa dengan Anastasya, Ernest tentu dibuat terkejut dengan penampakan Ibu dari Natasya selepas melihatnya langsung. Tak seperti Ibu dan anak, ke dua perempuan tersebut lebih seperti adik dan kakak. Ibu dari Natasya terlihat awet muda meski Ernest sendiri meyakini jika perempuan tersebut pasti seusia dengan Ibunya, bahkan lebih.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2