CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pertemuan Ernest Dan Natasya


__ADS_3

"Bibi, aku ingin makan rujak." Saat berada di dapur, Isabel menghampiri seorang pelayan dan mengatakan jika ingin makan rujak.


Perempuan setengah baya yang sedang sibuk mengiris bawang itu, sontak membuang pisau dari gengaman. Sepasang matanya membulat dan berbalik badan menatap pada sang majikan yang semula berdiri di belakang tubuhnya.


"Nona muda hamil?." Pelayan itu bertanya dengan ekspresi wajah terkejut.


Isabel mengerutkan dahi, dan beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepala.


"Belum?."


"Kok makan rujak?." Pelayan itu seperti kecewa, terlihat saat perempuan paruh baya itu menghela nafas.


"Memang hanya perempuan hamil yang boleh makan rujak?."


Perempuan itu meringis. Sementara Isabel pura-pura cemberut.


"Maaf, Nona. Maksud Bibi bukan seperti itu, hanya saja Bibi kira Nona sedang hamil sampai ingin makan rujak."


Isabel hanya tersenyum tipis. Ia bahkan belum berfikir untuk hamil. Gadis itu memang tak berniat menundanya, tapi entahkah baik dirinya dan Erich sama-sama belum membahas perihal anak.


Pelayan pun lekas memanggil seorang supir untuk mencari penjual rujak yang diinginkan oleh Nona mudanya. Rujak serut. Isabel menginginkan rujak serut dari pedagang pingir jalan yang berlokasi di sesuatu yang tak jauh dari kediaman Erich.


Isabel memanfaatkan tanah lapang di samping rumah megahnya sebagai kebun bunga dan aneka buah juga sayuran. Kerap ditinggal Erich untuk bekerja, Isabel dengan ditemani pelayan sering menghabiskan waktunya untuk berkebun. Seperti saat ini, gadis berkulit putih itu sedang merapikan beberapa dahan bunga mawar yang mulai berbunga. Ke dua tangannya begitu cekatan dalam mengunting dan membuang tangkai dan daun berlebihan dari beberapa tanamannya.


Mentari kian terik. Tubuh Isabel sudah terlihat berkeringat namun ia masih betah berlama-lama di kebun. Pohon strawbery yang beberapa bulan lalu ia tanam pun sudah berbuah.


"Wah senangnya." Isabel bertepuk tangan riang begitu mendapati pohon strawberynya berbuah. Pohon itu ditanam setelah beberapa hari ia menikah dengan Erich.


"Aku bahkan sudah tak sabar sampai menunggumu matang." Isabel berbicara pada buah strawbery yang masih berukuran kecil. Gadis itu tergelak sampai Bibi pelayan memanggilnya.


"Nona muda, Tuan muda menelfon," ucap perempuan paruh baya yang tergopoh mendekati Isabel dengan membawa ponsel pribadi milik nona mudanya.


"Ya, terimakasih Bibi." Isabel pun menyambut benda pipih itu dari tangan sang pelayan dan langsung mendapati wajah tampan sang suami memenuhi layar.


Ah panggilan Vidio rupanya.


"Sayang." Isabel memasang wajah sesenang mungkin saat menyapa sang suami yang terlihat duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Hai." Erich melambaikan tangan, ia pun mengulas sebuah senyum seraya menatap wajah sang istri dari layar ponsel begitu lekat.


"Kau sedang berkebun?." Erich berpangku tangan, memperhatikan gerak gerik Isabel dan lokasi disekeliling sang istri.


"Ya, aku senang di sini." Isabel mengarahkan kamera pada bunga-bunga beraneka warna miliknya juga tak lupa ada pohon strawbery beserta buah beri imut yang sudah ia incar jika matang.


"Wah, kau terlihat lebih asik saat berkebun dari pada berdua denganku, sayang. Aku cemburu." Erich terlihat kecewa. Entah itu hanya sebagai bentuk candaan atau kah memang mewakili perasaannya.


Isabel tergelak. Ia lekas mengalihkan pembicaraan dan memfokuskan kamera hanya padanya.


"Paman bilang, kau ingin makan rujak?."


Hem.


Isabel terkejut, paman sopir bahkan belum kembali untuk mencari rujak serut pesanannya, tapi kenapa Erich justru sudah tau jika ia menginginkan rujak.


Pasti Paman atau Bibi yang mengatakannya.


"Em, ya. Aku hanya ingin makan rujak segar saat cuaca panas seperti ini." Isabel terlihat mengipaskan tangan Ke lehernya yang berkeringat akibat sengatan mentari.


"Kau menginginkan rujak segar itu karna cocok dimakan saat cuaca panas?."


"Ya," jawab Isabel setengah menimang.


"Bukan karna yang lain?." Entah mengapa Erich seakan tak percaya dengan hasil jawaban sang istri.


"Bukan, aku memang menginginkannya karna pas dimakan dalam cuaca sepanas hari ini." Memang begitu kan? Batin Isabel.


"Ok, ok. Ya sudah, lanjutkan aktifitasmu dan tunggu aku pulang."


Isabel tersenyum dan menganggukkan kepala menanggapi ucapan sang suami. Panggilan pun terputus. Perhatian Isabel teralihkan saat bibi pelayan memintanya untuk masuk ke dalam rumah dan memberitahukan jika rujak serut yang ia inginkan sudah didapatkan.


💗💗💗💗💗


Dalam waktu beberapa hari ini Natasya mendapatkan kabar yang tak pernah ia duga sebelumnya. Begitu mengirim berkas lamaran kerja pada saat itu, beberapa hari kemudian Natasya mendapat panggilan dan juga proses wawancara. Natasya yang memang terkenal cerdas, sama sekali tak kesulitan saat mendapatkan beberapa pertanyaan dari seorang HRD, yang sepertinya cukup puas atas jawaban yang gadis itu berikan.


Hingga bertepatan hari ini, rencananya Natasya beserta dua kandidat terpilih akan mendapatkan kehormatan untuk bertemu dengan Ernest secara langsung.

__ADS_1


Tiga kandidat tersisa adalah orang-orang pilihan setelah proses penyaringan yang memakin waktu hampir dua minggu lamanya.


Di ruang tunggu, Natasya bersama dua rekan lain hanya saling senyum. Mereka laki-laki dan perempuan. Setara dengan Natasya yang memiliki usia di bawah 25 tahun.


Rekan pria lebih dulu dipanggil. Raut ketegangan kini terlihat dari wajah pria berkemeja putih gading itu. Natasya dan satu rekan wanitanya menghela nafas. Tak berbeda jauh dari sang pria, ke dua perempuan itu pun sama tegangnya.


Satu menit, lima menit, lebih dari limabelas menit pria itu keluar dari ruangan CEO. Wajah teganya sudah berangsur menghilang. Ia terlihat menarik nafas panjang dan merapikan kembali dasi yang melilit di leher meski tak berantakan.


Rekan perempuan Natasya di panggil. Gadis itu tersenyum ramah pada Natasya.


"Semangat," ucap Natasya menyemangati.


"Terimakasih. Kau juga, tetap semangat." Rekan perempuan itu pun meninggalkan Natasya untuk memasuki ruang CEO.


Natasya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Keringat bahkan mulai menitik dipelipis. Gadis itu luar biasa tegang, mengingat ini untuk pertama kalinya ia melamar kerja dan akan diwawancara langsung oleh petinggi perusahaan pula.


Aku gemetar.


"Kandidat ketiga." Natasya terkesiap begitu mendengar suara seorang pria yang kini sedang menatapnya. Ya, tuhan Natasya bahkan tidak sadar jika rekan perempuannya sudah keluar dari ruang CEO.


Natasya bangkit, berjalan tergesa untuk cepat mendekati pintu ruangan. Dengan dibimbing seorang pria, gadis berkemeja putih panjang dengan rok pas badan sebawah lutut berwarna hitam itu mulai memasuki ruangan sang atasan.


Aku semakin merinding.


"Silakan." Pria itu meminta Natasya untuk duduk di kursi yang sudah disedikan. Letaknya tepat di hadapan kursi sang CEO dan hanya dibatasi oleh meja kerja. "Tunggulah sebentar," sambung sang pria yang langsung menjauh selepas mempersilahkan Natasya untuk duduk.


"Terimakasih." Natasya memposisikan duduknya dengan sebaik mungkin. Ia menatap kursi di hadapannya yang kosong. Mungkin sang atasan sedang berada di kamar mandi, fikir Natasya.


Natasya tertunduk. Gadis itu memainkan kuku-kuku cantiknya sembari menunggu CEO datang.


Derap langkah dan suara pintu yang tertutup terdengar. Bergerak waspada dan tak ingin melakukan kesalahan, Natasya lekas berdiri dari duduknya. Begitu melihat sosok pria yang berjalan ke arah meja kerja, gadis itu pun langsung menundukkan kepala.


Apa tadi yang aku lihat? Rambut, iya, rambut yang diikat. Apa dia perempuan, tapi kenapa memakai setelan jas?.


Natasya masih menundukan kepala, bahkan saat Ernest sudah duduk di kursi kebesaran, gadis itu masih terus berdiri dan menundukan kepala.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2