CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Erich Penasaran


__ADS_3

Hari berlalu seperti biasa, tak ada yang berbeda bagi Erich. Berkutat dengan tumpukan kertas dan agenda meting yang selalu menemani hari-harinya. Bahkan disaat akhir pekan tiba, pria tampan itu pun tetap berdiam diri dirumah. Berolah raga dan kembali bergelung dengan berkas penting di ruang kerja kediamannya.


Lalu apakah dia bosan? Tentu. Akan tetapi dengan segala kesibukan yang ia jalani, setidaknya mampu mengalihkan sedikit fikirannya pada hal asmara yang untuk sementara ini sedang tak ia ingini.


Erich memeriksa arloji yang melingkar dipergelangan tangan.


"Pukul 09;30 malam," gumam Erich.


Beberapa berkas penting yang harus ia tanda tangani masih tersisa di atas meja.


"Ck, aku butuh segelas kopi."


Erich menekan sambungan interkom.


"Katakan pada gadis itu untuk membawa segelas kopi ke ruanganku." Sambungan terputus. Tanpa menyebut nama, Starla pasti hafal diluar kepala siapa gerangan yang sang tuan maksud.


Erich teringat akan peristiwa tempo hari saat Isabel tertidur di lorong gelap. Gadis itu pasti menunggunya keluar ruangan hingga ketiduran.


"Apa setiap hari dia juga akan melakukan hal yang sama, menungguku, duduk seorang diri dikursi itu?"


Pria tampan itu menghela nafas. Apa dirinya terlihat kejam? Bahkan Retno dulu tak pernah melakukan hal demikian. Ia pasti akan meminta Retno menunggu di dalam ruangan sembari ia merampungkan pekerjaan. Walau Retno sendiri pun tak tinggal diam, dia akan membersihkan toilet atau ruang lain yang tak sedang digunakan olehnya.


Ketukan dipintu terdengar. Tak salah lagi, itu pasti Isabel.


"Masuklah."


Erich spontan mengalihkan pandangan saat pintu terbuka. Enggan tertangkap basah jika tengah menunggu kedatangan gadis bermata bulat itu.


"Kopinya tuan." Aroma kopi dengan kepulan asap yang meliuk indah diatasnya, seakan menyeruak memenuhi ruangan. Erich bahkan nyaris menitikkan liur, tak sabar untuk lekas menyeruput minuman berwarna hitam dengan kandungan kaffein itu.


"Hemm."


"Permisi." Isabel menundukan kepala, memberi penghormatan sebelum beranjak keluar dari ruangan Erich.


"Tunggu!"


Isabel yang sudah menarik gagang pintu, spontan membalikan tubuh.


"Ya, tuan. Apakah ada lagi yang tuan butuhkan?"


"Ya."


Isabel pun mendekat. Membuka lubang telinganya lebar guna mendengar perintah sang tuan.


"Kau bisa merapikan buku-bukuku." Erich menunjuk kesisi kanan ruangan. Beberapa rak berjajar rapi, namun ada beberapa buku yang keluar dari susunan dan sepertinya dibaca Erich beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Isabel cukup kebingungan. Tidak mungkin ia akan bekerja jika pemilik ruangan masih berada di dalamnya.


"Lakukanlah. Setidaknya kau tidak akan pulang larut malam adaikata menungguku hingga pulang."


Gadis itu mengangguk, berjalan pelan mendekati rak dan mulai menyusun buku sesuai tatanan.


Sungguh demi apa pun, bukan ini yang ia inginkan. Ini tidak sopan namanya. Isabel sendiri memang membersihkan ruangan Erich selepas pria itu pulang. Bekerja malam hari setidaknya sedikit meringankan pekerjaannya pada esok pagi. Meski bangun pagi buta, namun pekerjaan menumpuk di rumah yang selalu dilimpahkan padanya, kerap membuat Isabel ketakutan jikalau terlambat sampai ke tempat kerjanya.


Erich rupanya tak tergangu. Pria itu mencuri pandang kearah Isabel yang seoertinya begitu hati-hati melakukan pekerjaannya. Nyaris tak ada kegaduhan atau suara yang timbul.


Erich tergelak dalam hati. Mungkinkah gadis itu ketakutan?.


Dia cantik.


Ucapan Ernest kembali bergema memenuhi rongga telinga.


Entah dorongan dari mana yang membuat pandangan Erich kini tertuju pada gadis yang tegah sibuk di depan rak buku, dengan posisi memunggunginya.


Erich memang tak secara langsung memperhatikan penampilan Isabel selama gadis itu bekerja. Namun jika seorang Ernest saja sampai menyanjungkan pujian, bukankah terdengar luar biasa.


Isabel memiliki kulit tubuh yang putih bersih, sementara rambutnya hitam legam seatas pinggang. Wajahnya pun bersih terawat, dengan bibir merah alami dan lesung pipi. Postur tubuhnya pun terbilang mungil, mungkin sekitar 156 cm. Meski itu hanya tebakan Erich semata.


Bodoh.


Erich merutuki diri. Kenapa ia justru terpancing omongan Ernest hingga dengan lancang memindai tubuh lawan jenis secara keseluruhan.


"Hei kau." Lewat Isyarat tangan Erich memanggil Isabel untuk mendekat. "Kemarilah," titahnya lagi.


Terkesiap, Isabel bahkan nyaris menubruk sofa saking gelagapannya.


Ada apa lagi ini?


Wajah Isabel pias. Gadis itu rupanya ketakutan.


"Duduklah."


Spontan Isabel mendaratkan pantatnya di atas lantai marmer. Erich yang tengah menyesap kopi, nyaris tersedak. Hendak tertawa dan marah dalam waktu bersamaan.


"Hei aku tidak menyuruhmu untuk duduk di lantai." Erich menarik sebuah sofa bundar berukuran mungil dan menariknya hingga kedepan Isabel. "Duduklah."


Gadis itu mengangguk, namun memberi jarak cukup jauh dari tuannya.


Secara spontan terbesit ide untuk mencari informasi perihal kehidupan isabel. Mulai dari pendidikan hingga lingkungan keluarganya. Meski dalam lampiran lamaran kerja beberapa saat lalu sudah tertera, namun Erich pun tak berniat untuk membacanya. Jika orangnya saja ada di hadapan, lalu untuk apa kau bersusah payah membuka map lalu membacanya.


"Sebutkan pendidikan terakhirmu?"

__ADS_1


"Sekolah menengah atas, tuan."


"Hem, kau tidak kuliah?"


Isabel menggeleng.


"Tidak, tuan."


"Berapa usiamu sekarang?"


Ya tuhan ada apa ini? Apakah ini tanda-tanda jika tuan Erich akan memecatku?


"19 tahun tuan."


Erich diam sejenak. Fokus mencari bahan pertanyaan selanjutnya.


"Kau pernah bekerja disuatu tempat sebelum ini?"


"Pernah. Saya pernah bekerja disebuah kedai kopi milik teman."


Erich mengernyit. Rupanya Isabel memiliki pengalaman dibidang pembuatan kopi. Jadi lumrah jika kopi hasil racikannya benar-benar nikmat.


"Lalu, bukankah bekerja di kedai kopi lebih menjanjikan dari pada menjadi Cleaning Service di sebuah perusahaan?"


Isabel mengangguk. Erich mulai membuatnya tak nyaman. Kedai kopi dan Karamel. Demi apa pun Isabel enggan untuk membahasnya lagi.


"Saya dipecat."


Erich menautkan sepasang alis tebalnya. Dipecat? Apakah gadis di depannya ini melakukan kesalahan hingga berujung pemecatan? Tetapi kesalahan semacam apa?


"Kau melakukan kesalahan atau kau..."


"Maaf, saya tidak bisa menjawab." Terdengar tegas. Bahkan Erich pun bungkam. Rasa ingin tahunya seolah lenyap, seiring Isabel yang sepertinya enggan diuliik kisah masa lalunya.


"Kau tinggal dengan?"


"Ayah." Isabel hanya menjawab satu kata.


"Ibu?"


Isabel menggeleng.


"Tidak, ibu saya sudah meninggal."


"Lalu adik."

__ADS_1


Lagi, Isabel menggeleng kemudian berucap, " Tidak, saya tidak punya adik."


Erich terhenyak. Lalu seperti apa kehidupan yang dijalani Isabel? Hanya memiliki Ayah, tanpa ibu dan seorang adik. Erich seolah merasa bersalah. Terlebih Pria itu mendapati raut wajah mendung Isabel, saat dihujaninya begitu banyak pertanyaan yang sepertinya mengusik sudut hati terdalam Isabel.


__ADS_2