CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Aku Sangat Menyayangimu, Ibu


__ADS_3

"Tasya, ada apa?."


Saat sedang menikmati makan malam, Anastasya menatap bingung pada sang buah hati yang sedari tampak menatapnya. Begitu ditanya, gadis itu akan menggelengkan kepala dan menjawab 'Tidak apa-apa, Ibu' dengan seulas senyum yang tersungging di bibir.


Anastasya tentu kebingungan. Pasalnya sepulangnya sang buah hati dari sebuah tempat, gerak-gerik Natasya cukup menyita perhatian. Gadis itu memang tak banyak bicara namun Anastasya rasa jika tatapan sang putri padanya cukup berbeda.


Gadis itu menatapnya dalam diam, namun setelah tertangkap basah, ia pun akan tersenyum dan terkadang langsung memeluk Ibunya. Ada apa sebenarnya?.


"Apa kau sakit?." Natasya kembali bertanya.


Sontak sang putri pun mengelengkan kepala.


"Tidak, Ibu. Aku baik-baik saja."


"Tapi kenapa Ibu lihat ada yang berbeda ya?." Anaatasya masih menyerukan fikirnya. Berkata jika sang putri sedang dalam kondisi tak baik saja.


"Ah, mungkin itu hanya perasaan Ibu saja." Natasya mengulum senyum dan kembali menyuapkan makan ke dalam mulut. Memang saat ini dirinya sedang tak baik saja dan lebih tepatnya setelah Zara menceritakan kehidupan masa lalu sang Ibu padanya.


"Saat menikah dengan Tuan Arka, Ibumu adalah salah satu model terkenal."


Belum juga hilang keterkejutan begitu mengetahui jika Ibu kandungnya pernah dinikahi pewaris keluarga Atmadja, Natasya mendapatkan shock therapy berikutnya. Ibunya seorang model, dan dia tidak pernah mengetahuinya.


Begitu mendapati Reaksi dari Natasya yang tetap diam, Zara lekas mengusap punggung sang gadis untuk menenangkan.


"Maaf, sepertinya kau benar-benar terkejut." Zara dibuat merasa bersalah. "Apa selama ini Ibumu tidak pernah bercerita apa pun tentang masa lalunya?."

__ADS_1


Natasya menggeleng lemah. Makanan yang baru saja masuk ke dalam perut, seolah lenyap. Tubuhnya lemah, terasa lemah saat berbagai kenyataan yang mungkin selama ini ditutupi oleh sang Ibu, justru ia ketahui dari orang lain.


"Selama ini, jika aku bertanya tentang keluarga Ibu, beliau hanya menjawab jika dulu Ibu hidup bersama Paman, Bibi dan keponakannya. Hanya itu saja, tidak ada yang lain." Selama ini yang Natasya tau adalah kehidupan mereka di luar negeri yang dikatakan luar biasa bahagia, meski hanya bersama Ibu dan Ayahnya. Selebihnya ia pun mengenal tetangga sekitar yang sudah menganggapnya seperti keluarga.


Dalam album foto keluarga pun. Memang ada selembar foto, yang merupakan satu keluarga paman dari Ibunya. Selebihnya hanya akan ada foto dirinya dan kedua orang tua. Dari semenjak ia dikandungan sampai lulus perguruan tinggi. Anastasya tak sedikit pun mengingat, atau bisa dikatakan melupakan kehidupan masalalunya di Indonesia. Semenjakan dinikahi Kenan dan diboyong ke Negara XX, Anastasya benar-benar membangun masa lalu tanpa mengikut sertakan seseorang pun dari masa lalunya.


Zara menelan saliva. Mungkinkah luka yang dirasa Anastasya begitu dalam, hingga tak sudi mengingat dirinya, Arka atau pun Rangga yang kelimpungan selepas perempuan itu menghilang?.


"Di antara kami bertiga, Aku, suamiku dan juga Ibumu, kami mengalami banyak kejadian yang sejujurnya tak pernah bisa ku lupakan sampai sekarang. Jika bukan karna Ibumu, tentunya saat ini aku tidak pernah duduk di sini. Di hadapanmu sebagai Nyonya Arkana Surya Atmadja." Zara terdiam. Ia menata Natasya yang sepertinya mulai fokus mendengar ucapannya. "Ibumu sudah seperti peri, dia adalah malaikat yang sengaja dikirim tuhan untukku. Meski pada akhirnya malaikat itu merelakan singgasana yang seharusnya untuk dirinya, menjadi milik orang lain."


Zara benar-benar memanfaatkan waktu dan keadaan dengan sebaik mungkin. Ia bercerita banyak, dan memperlihatkan lembaran foto masa lalu yang betada di album keluarga Atmadja.


"Natasya, aku minta maaf. Mungkin kau berfikir jika aku sangat lancang sebab mendahului Ibumu saat memperlihatkannya padamu." Sesungguhnya Zara pun tak ingin bersikap lancang seperti yang sedang dilakukannya saat ini. Akan tetapi jika ia diam, ia pun tak menjamin jika Natasya bisa mengatahui tentang Ibunya dulu, mengingat atas penuturan gadis itu sendiri yang sama sekali tak tau menahu tentang kehidupan Ibunya di masa lalu.


Sang gadis terlihat menghela nafas. Sepasang matanya berkaca, tak urung selepas melihat beberapa lembar foto Ibunya di masa lalu yang sempat membuatnya syok. Di sana bukan hanya ada foto pernikahan, tapi juga ada selembar foto saat Ibunya melahirkan, bayi laki-laki yang menurut Ibu dari Ernest, meninggal selepas beberapa jam dilahirkan.


Memang, sebelum mendapat dirinya, bersama Kenan Natasya pun pernah mengalami keguguran dan untuk hal tersebut, Anastasya pernah bercerita padanya. Tapi bersama Tuan Arka, Ibunya sempat memiliki buah hati?.


"Kenapa selama ini Ibu memilih menutup rapat kehidupannya di masa lalu dari pada berbagi denganku." Natasya menatap lurus ke depan, namun dengan fikiran melayang. "Setelah Ayah meninggal dan meminta kembali untuk pulang ke Indonesia, tentu aku tidak pernah berfikir macam-macam. Bukankah wajar jika seorang perantau pulang ke negara asal?." Indonesia memang bukan tanah kelahiran, tapu Natasya tau jika Indonesia adalah tumpah darah ke dua orang tuanya.


"Entahlah, tapi aku yakin jika Ibumu punya alasan tersendiri untuk tidak menceritakan kehidupannya di masa lalu, termasuk padamu." Zara menatap pada Natasya yang termenung. Ah, setelah ini apakah Natasya akan menceritakan tetang pertemuan ini pada Ibunya. Bagaimana jika Anastasya salah faham dan ..." Aku berharap padamu untuk tidak lebih dulu mengatakan pertemuan ini pada Ibumu," sambung Zara kemudian.


Natasya mengangguk patah-patah.


"Ya, Nyonya."

__ADS_1


"Sungguh, sampai detik ini pun aku masih belum memiliki keberanian untuk menemui Ibumu apa lagi menyapa. Semenjak kepergian Ibumu, aku selalu terkurung dalam rasa bersalah dan penyesalan. Terlebih saat Ibumu menolak semua pemberian Tuan Arka yang sudah menjadi haknya." Zara dengan hati-hati juga menceritakan setiap proses yang terjadi. Pertemuan dengan Anastasya, mendapatkan bantuan sebelum pada akhirnya dinikahkan dengan Arka meski pada awalnya karna terpaksa.


Natasya terus memperhatikan, tenang ia mendengarkan juga terkadang membayangkan. Menjadi Ibunya saat menjalani hidup di masa lalu. Dari sekian banyak kata yang diucap Zara tentang sang Ibu, Natasya dapat mengambil kesimpulan jika sang Ibu memilih menutup lembaran lama dalam hidup dan memilih membuka lalu mengiri lembaran baru bersama Kenan tanpa bayang-bayang.


Mungkin saja rasa sakit di masa lalu lah yang melandasi sang Ibu melakukan hal demikian.


"Perlu kau tau, Natasya. Ibumu adalah perempuan terhebat dan terbaik yang pernah kutemui di muka bumi ini."


Natasya masih mengingat kata-kata Zara untuk Ibunya. Ibunya seperti malaikat, dia adalah malaikat tanpa sayang yang sengaja dikirim Tuhan untukku. Begitulah kata-kata Zara yang terus menggema di telinga.


"Tasya, kau ini kenapa?."


Natasya tersentak. Panggilan sang ibu seperti sedang menyadarkannya dalam lamunan. Pembicaraan panjang antara dirinya dan Zara beberapa jam lalu.


Tak menjawab, sang gadis justru bangkit dari kursi meja makan dan mendekati sang Ibu. Anastasya terkesiap saat sang putri kini memeluk tubuhnya, erat.


"Hei, Tasya.Ada apa ini?."


Natasya tak menjawab sementara sang Ibu kebingungan. Dalam pelukan, gadis itu tersenyum lantas berkata, " Aku sangat menyayangimu, Ibu."


"Tentu saja, Kau putriku, mana mungkin tidak menyayangiku." Kebingungan Anastasya berubah menjadi rasa haru, begitu mendengar kata-kata yang terucap dari bibir sang putri.


"Aku sayangg, Ibu."


"Tentu saja, Ibu yang sudah melahirkanmu, mana mungkin kau tidak menyayangiku." Dalam daada Anastasya seperti bergemuruh. Tanpa dicegah, bulir bening luruh. Ia usap puncak kepala sang putri dengan penuh cinta sebelum menciuminya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2