
Beraneka ragam hidangan makan siang telah tertata dengan apik di atas meja. Para pelayan saling bahu membahu, mempersiapkan ruangan beserta peralatan makan seperti piring dan sendok tertata sempurna.
Sandara sudah duduk rapi di tempat duduknya sembari menunggu Ernest yang masih membersihkan diri selepas berolah raga. Dari pintu utama Arka muncul, mungkin ia menyempatkan diri untuk makan siang bersama seperti yang kerap ia lakukan di hari-hari sebelumnya.
Sandara, Ernest berserta Arka dan Zara sudah mengelilingi meja makan. Seperti biasa Zara selalu melayani Suami beserta putra putrinya tanpa bantuan pelayan. Ketika perempuan itu menarik piring sang suami dan hendak mengisinya dengan nasi dan hidangan pelengkap lain, tanpa sengaja pandangan Arka tertuju pada lengan sang istri yang berbalut kain perban.
"Sayang, apa yang terjadi dengan lenganmu?" Terkejut, Arka sepontan menyentuh lengan sang istri dibagian yang tak terluka sementara pandangannya menatap sepasang mata sang istri penuh tanya. Rupanya bukan hanya Arka yang dibuat terkejut, Ernest juga terbelalak sementara wajah Sandara langsung memucat ketakutan.
Koki dan beberapa pelayan yang sempat menyaksikan kejadian saling lirik. Wajah mereka pun ikut pucat.
"Oh, ini?" Zara menyentuh lengannya yang berbalut kain perban. "Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Biasa, aku tanpa sengaja menumpahkan air panas sampai sedikit mengenai lengan," kilah Zara dengan wajah dipasang setenang mungkin.
Sandara sontak menghembuskan nafas lega. Tubuhnya yang sempat menegang, rileks seketika. Ia bahkan sempat memejamkan mata, merasa bersyukur sebab Zara menutupi kesalahannya.
"Itu bukan luka kecil, sayang. Lihatlah, bahkan luka itu harus ditutupi perban." Arka tetaplah Arka. Pria maskulin itu begitu perhatian dan tak henti mengusap lengan sang istri penuh kekhawatiran. Sesekali Arka meniup kulit berbalut perban itu berharap bisa mengurangi rasa sakit yang didera sang istri.
Zara tergelak samar. Perempuan itu berusaha menyakinkan Arka jika dirinya baik-baik saja dan kembali melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.
Pelayan-lah yang kini mengantikan pekerjaan Zara untuk sementara. Sandara terlihat melayani Ernest. Seperti biasa pria muda itu menerima dengan suka cinta saat menerima satu porsi lengkap makanan yang sudah disiapkan Sandara.
Mereka menghabiskan makan dalam diam. Sandara melirik sekilas ke arah Arka yang sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulut sang istri. Begitu romantis. Rupanya usia tak menjadi penghalang bagi pasangan tersebut untuk menunjukan rasa cinta.
Sandara membuang muka. Secara diam-diam ia kerap memperhatikan Zara dari pertama kali ia menjejakan kaki di rumah ini hingga detik ini. Ia sadar, bertahun-tahun lamanya ia bahkan mengamati penampilan, pergaulan, bahkan keseharian Zara, yang tentunya tak disadari oleh Zara sendiri.
Sudut bibir Sandara terangkat hingga membentuk serigai. Dari wajah pandangan gadis itu turun kearah tangan Zara yang terluka. Serigai itu nampak jelas terukir namun sayangnya tanpa bisa disadari oleh beberapa pasang mata yang sedang menghabiskan kudapan mereka di meja makan.
__ADS_1
💗💗💗💗💗
Selepas makan siang Sandara masih enggan beranjak dari rumah orang tua sang kekasih. Gadis itu selalu membuntuti langkah Ernest bahkan saat pria tampan itu memasuki kamar pribadinya.
"Sayang, tunggu!" Sandara memprotes saat Ernest terlihat ingin menutup pintu kamar saat diri masih ingin bicara.
"Ada apa, Cinta? Bukankah sudah kubilang, aku sibuk. Pekerjaan kantor yang belum rampung sengaja aku kerjakan di rumah. Maaf, akhir pekan ini aku tak memiliki banyak waktu untuk menemanimu." Ernest menghela nafas, ia kembali memasuki kamar tanpa menutup pintu, sengaja memberi akses jalan masuk untuk Sandara.
Gadis dengan dres selutut berwarna merah muda itu mengikuti langkah Ernest, memasuki kamar dan duduk di sofa tunggal tanpa sungkan. Sementara Ernest sendiri langsung menuju sebuah meja di mana beberapa berkas tertumpuk di atasnya. Ernest benar-benar bekerja meski diakhir pekan.
Di tempatnya Sandara terdiam sementara pandangannya tertuju pada Erich yang sudah terhanyut dalam dunianya sendiri. Gadis itu pun mengamati sekitar kamar pribadi Ernest yang berukuran luas. Sudut bibirnya terangkat, senyumnya terbit seketika manakala foto dirinya dan Ernest saat liburan beberapa bulan lalu terpajang di atas meja kerja sang pria. Juga beberapa foto dirinya yang juga tertempel di dinding beberapa sudut ruangan. Sandara pastinya berbangga diri. Merasa berharga dan dicintai oleh pria muda, tampan dan mapan yang menjadi incaran kaum hawa.
Ernest yang hanya diam di meja kerjanya begitu menawan di mata Sandara. Rahang kokoh, bibir seksi dan sepasang mata tajam itu tak kuasa menahan hasrat Sandara untuk bangkit dan mendekat. Perlahan namun pasti tubuh gadis itu sudah berada di hadapan meja kerja sang pria secara tiba-tiba.
"Cinta?" Ernest terkesiap saat tubuh Sandara menerobos masuk lewat celah lengannya yang terbuka. Sandara menelusup kemudian memposisikan tubuh untuk duduk di pangkuan Ernest.
Ernest hanya bisa menghela nafas. Posisi Sandara yang duduk dipangkuan otomatis membuat aktifitasnya terganggu.
"Cinta, aku sedang bekerja."
"Lalu?" Sandara justru menegakkan kepala, menatap wajah sang kekasih begitu lekat dan dekat, hingga jarak wajah keduanya hanya terjeda beberapa inci saja.
"Jangan mengangguku."
Tak mengubris. Gadis berpipi chabi itu tersenyum-senyum dan mulai nakal menciumi pipi sang kekasih. Ernest tentu terkesiap namun berbeda dengan Sandara yang sepertinya ketagihan sampai berinisiatif mencium pipi kekasihnya lagi.
__ADS_1
Cup.
Ernest masih terdiam. Sandara yang tak mendapatkan reaksi atas aktifitas yang ia lakukan justru memberanikan diri. Mendekat bibirnya, hingga beberapa detik kemudian bibir ranum nan tipisnya ******* bibir Seksi Ernest yang merupakan candu baginya.
Sepasang mata Ernest terbelalak, terlebih Sandara begitu aktif melummat bahkan menghiisap bibirnya. Keduanya terlihat saling menikmati dengan mata terpejam. Tautan bibir terlepas saat keduanya nyaris kehabisan nafas. Terenggah, bibir seksi Erich yang basah dan memerah membuat Sandara tak kuat untuk melummatnya lagi.
"Euump" Sandara begitu bernafsu. Kedua tangan sang gadis pun mulaia aktif menyusuri dada bidang Ernest yang tertutup pakaian.
Tersadar, Ernest yang tak pernah menyentuh Sandara secara berlebihan, mendorong untuk memisahkan tubuh.
"Cinta, sadarlah!" Ernest
Sandara sepertinya tak suka saat Ernest coba menghentikan aktifitasnya. Sang pria bahkan memisahkan diri dan berniat untuk menjauh darinya. Sandara Ernest dudukkan di tepi ranjang sementara ia kembali ke meja kerja.
Gadis itu menekuk wajah namun beberapa menit kemudian ia menyusul Ernest di tempatnya dan mendekap tubuh tegap itu dari belakang.
"Aku merindukanmu," bisik Sandara tepat di telinga Ernest. Pria itu bisa merasakan hembusan nafas Sandara begitu dekat, membuatnya meremang dan pasrah begitu saja saat gadis itu kembali membenamkan bibir berpoles lipstik itu ke bibirnya.
Ciuman dalam itu membuat keduanya terlena. Tangan Sandara kembali bergerak liar, menari membelai bahu lalu turun ke dada bidang nan padat berbalut kaus polo. Sementara Ernest yang sudah mulai terbakar gairah, menarik tubuh Sandara hingga kembali kepangkuan.
Sepasang kekasih yang tengah asik bercumbu itu lupa daratan, hingga tanpa sadar jika pintu kamar masih terbuka lebar. Di saat itulah seorang perempuan yang sedang mencari keberadaan Sandara, dibuat terkejut. Sepasang matanya terbelalak, menyaksikan pemandangan yang membuatnya tersulut amarah.
"Ernest, San, apa yang sedang kalian lakukan?"
Sepasang kekasih itu terlonjak, hingga tautan bibir keduanya terlepas. Akan tetapi mereka lebih terlonjak lagi saat tau siapa yang sudah memergoki aksi ciuman kedua sejoli tersebut.
__ADS_1
Tbc