
Taman menjadi tempat pelariaan Erich saat fikirannya mulai kacau dikala berhari-hari menunggu kesembuhan Isabel di rumah sakit. Kali ini, pria dengan kemeja abu-abu itu duduk terpekur. Pembicaraan yang sempat ia curi dengar dari Praja dan putrinya, tak ayal ikut mengusik suasana hatinya.
Benar kata-kata Praja. Isabel memang harus keluar dari rumahnya. Selain terlihat tidak lumrah bagi kebanyakan orang mengingat keduanya masih sama-sama lanjang, Erich pun tak lagi bisa menahan dengan alasan keamanan disaat Arum dan para anak buahnya sudah menjadi tahanan.
"Ya, memang sudah semestinya aku tak harus menahan Isabel lebih lama untuk berada di dekatku. Tuan Praja pasti akan lebih mampu melindungi putrinya dari pada aku." Erich bermonolog. Ia masih terduduk di taman untuk beberapa lama sampai pria itu tersadar jika harus menemui Isabel yang rencananya akan keluar dari rumah sakit hari ini.
"Maaf, apa kalian sudah menunggu lama?" Erich berbasa basi saat membuka pintu ruang perawatan Isabel. Gadis itu sedang menunggunya bersama Praja sementara beberapa barang pribadi milik sang gadis terlihat sudah dirapikan dan dikemas dalam beberapa tas oleh perawat.
Kedua anak dan ayah itu tersenyum pada Erich dan memberikan tempat pada pria muda itu untuk duduk.
"Ah, tidak nak. Paman juga baru saja sampai," kilah Praja. Tentunya sudah sedari tadi ia menemani putrinya sembari menunggu Erich datang menjemputnya.
"Em, baiklah. Kita akan pulang sekarang," ucap Erich seraya bangkit. Pria tampan itu mulai meraih barang-barang Isabel yang sudah dikemas untuk ia bawa dan akan dimasukkan dalam bagasi mobil.
Melihat tingkah Erich, Praja dan Isabel saling pandang. Pria paruh baya itu bermaksud ingin menghentikan pergerakan sang pria muda kemudian mengatakan jika mereka tidak akan kembali ke rumah pria muda itu seperti sebelumnya.
"Em Nak Erich," panggil Praja ragu.
Erich yang masih berkutat dengan barang-barang milik Isabel sontak menjawab seraya menatap seseorang yang sudah memanggilnya.
"Ya, ada apa, Paman?"
"Maaf, setelah ini kami tidak tinggal lagi di kediaman nak Erich. Sementara waktu kami akan mencari penginapan sebelum kembali ke Ibu kota."
Gerakan tangan Erich pada barang-barang Isabel terhenti. Pria itu terlihat menghela nafas dalam sebelum kembali mendaratkan tubuh di sofa, samping Kursi roda Praja.
"Tidak masalah, tetapi izinkan saya untuk menjamu makan malam Paman dan Isabel, sebelum kita berpisah."
Praja lantas mengangguk. Lagi pula tidak ada salahnya menerima tawaran dari Erich sebagai salam perpisahan. Toh pria muda itu pun juga berkorban banyak atas nyawa sang putri. Erich pria baik dan Praja senang memenuhi permintaan pria muda tersebut.
__ADS_1
💗💗💗💗💗
Bagaimana hatimu? Apakah baik-baik saja?.
Isabel bertanya pada hati kecilnya saat sang ayah memginginkan dirinya untuk secepatnya pergi dari hadapan Erich. Bolehkan Isabel berharap lebih? Berharap agar Erich menahan dan memintanya untuk tetap tinggal?.
Mustahil Isabel. Memang siapa dirimu bagi pria nyaris sempurna seperti 'Dia'.
Isabel menatap ke luar jendela. Menikmati pemandangan sekitar dari balik kaca mobil penumpang yang di biarkan sedikit terbuka celahnya. Sementara itu Erich yang duduk di sampingnya tak kuasa untuk mencuri pandang ke arah gadis yang sepertinya tengah sibuk sendiri dengan dunianya.
Apa? Dia tersenyum?
Tanpa sengaja Erich menangkap saat Isabel tengah tersenyum menatap pepohonan rindang yang sepanjang jalan mereka lewati.
Tidak ada yang lucu, lalu kenapa dia tersenyum?
Erich tatap lagi dan Isabel masih dalam keadaan tersenyum. Tanpa menyadari jika sedang diperhatikan.
Berbagai fikiran yang intinya perumpaan memenuhi benak Erich.
Jadi dia sudah punya kekasih? Ah yang benar saja!.
Erich otomatis membuang pandangan saat berperang melawan praduganya. Berfikir jika Isabel tengah memikirkan seorang kekasih rupanya membuat sudut terdalam di hati Erich tak terima.
Mobil yang mereka kendarai melesat cepat melalui jalanan lenggang kota xx, hingga beberapa saat kemudian sudah memasuki gerbang utama kediaman Erich.
"Paman Praja, Isabel, mari kita turun," ajak Erich begitu kendaraan yang membawa mereka sudah terhenti di garasi.
Sang sopir sigap membantu Praja untuk turun kemudian mendudukannya di kursi roda sementara Erich membantu Isabel berjalan.
__ADS_1
Senja mulai menghiasi kota. Begitu memasuki rumah Retno dan satu pelayan nampak sibuk mempersiapkan hidangan untuk makan malam. Rupanya Erich sudah memberi mereka perintah, hingga bergerak lebih cepat.
Erich membawa anak dan ayah itu ke ruang keluarga dan rupanya Arka, ayah Erich pun masih tertinggal di sana.
"Wah Tuan Arka, senang rasanya dapat kembali bertemu dengan.anda." Praja mengangkat satu tangan yang langsung disambut oleh Arka dengan suka cita. Keduanya terlihat senang saat dipertimukan kembali dan terlihat semakin akrab seperti bertemu dengan kawan lama.
Erich yang hanya ditemani Arka, mengajak Praja dan Isabel untuk menikmati makan malam. Suasana terasa hangat. Sesekali diselingi perbincangan santai membahas bisnis Arka maupun Praja saat pria paruh baya itu masih dalam keadaan sehat dulu.
Di antara keempatnya Isabel_lah yang lebih banyak diam. Perbincangan yang selalu menyangkut pada dunia bisnis dan perusahaan membuat gadis itu tak faham. Ia hanya menjawab sesekali begitu ditanya dan akan kembali diam jika pembicaraan tak lagi mampu dijangkau oleh otaknnya.
Makan malam berakhir. Lewat isyarat pandangan Praja mengode sang putri untuk lekas pergi. Keduanya bangkit, berniat untuk pamit. Akan tetapi sebelum Praja berhasil membuka mulut, Erich justru lebih bergerak sigap.
"Sebelumnya mohon maaf. Terutama pada Paman Praja, ada sesuatu hal yang lebih dulu ingin saya sampaikan."
Praja otomatis menautkan alis, kebingungan.
"Ada apa Nak Erich?"
"Mungkin terkesan terburu-buru bagi Paman Praja, namun bagi saya ini merupakan bentuk pengakuan diri dan saya harap Paman sudi menerima itikad baik saya ini."
Praja kian kebingungan.
"Maaf Nak Erich, apa maksudnya ini? Saya tidak faham?"
"Izinkan saya, Erich Surya Atmadja untuk melamar putri anda Isabela Praja Diwangka untuk menjadikannya sebagai istri."
Kalimat lantang yang terucap dari bibir seorang Erich nyatanya mampu mengejutkan beberapa orang yang berada di ruang makan termasuk Isabel. Gadis itu terkesiap. Menelan salivanya susah payah terlebih saat Erich mengarahkan pandangan ke arahnya.
"Isabel, aku menginginkanmu. Bukan sekedar menjadi kekasih tetapi sebagai teman hidup disepanjang hayatku." Meski tanpa sebuket bunga apalagi sekotak berlian, namun pandangan Erich mampu menyiratkan segalala, bahwa pria itu sedang tidak main-main.
__ADS_1
Isabel sendiri masih belum mampu membuang rasa keterkejutannya. Bibir mungil gadis itu masih bungkam. Ragu untuk menjawabnya.
Tbc.