CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Aku Ibunya Dan Kau Putrinya


__ADS_3

"Sebegitu dalam kau menatap wajah pria yang usia boleh dikatakan tak lagi muda. Natasya, apa jangan-jangan kau menyukai Paman?." Sebuah pertanyaan meluncur bebas dan keluar dari mulut Rangga. Di dalam ruang kerja dan hanya ada dirinya dan Natasya, nyatanya membuat pria muda itu nekat bertanya. Mengutarakan apa yang lihat dan akan terasa mengganjal jika tidak dikeluarkan.


Natasya, seseorang yang dilempar tanya sontak menggangga. Sepasang alisnya berpaut dan memasang wajah penuh tanya pada sang Tuan.


"Hah, bagaimana?. Apa maksud, Tuan?."


Sepeninggal Rangga, keduanya kembali bekerja. Ernest masuk keruangan begitu pun Natasya yang kembali merampungkan tugas di balik meja kerjanya. Akan tetapi sesuatu yang secara diam-diam ia perhatikan nyatanya terus mengusik raga. Fikirnya tak tenang, akibat segala macam kemungkinan yang sejatinya ia ciptakan sendiri. Ernest mengira jika Sekretarisnya tersebut memiliki ketertarikan khusus pada pria yang selama ini panggil dengan sebutan 'Paman'. Hati kecilnya berontak, menolak untuk diam dan sebisa mungkin meminta kejelasan dari gadis yang menjadi sumber atas kegundahan hatinya.


"Apa kau menyukai Paman Rangga?."


"Hah?." Maksudnya?.


"Maksudku apa kau memiliki perasaan pada paman. Ya seperti perasaan diantara dua manusia berlawanan jenis?."


Natasya mengangga, tak percaya. Selepas beberapa saat kebingungan dalam mengartikan ucapan Ernest, kini gadis itu pun mulai faham.


"Apa, jadi maksud Tuan saya menyukai Tuan Rangga sebagai ..." Natasya menggantung ucapan. Rasanya geli sendiri meski hanya membayangkan. Dirinya dan Tuan Rangga, Ya tuhan. "Tuan, itu tidak benar. Anda sudah salah sangka."


Ernest tergelak.


"Salah sangka dari mana, jelas-jelas aku melihatmu curi-curi pandang Paman dan itu lebih dari sekali." Protes Ernest.


"Tuan, yang benar saja. Tadi itu aku hanya menatap, bukan curi-curi pandang. Lagi pula, mana mungkin saya menyukai Tuan Rangga, umur kami saja sudah sangat jauh berbeda."


Ernest berdecak.


"Jaman sekarang, usia bukanlah penghalang. Bukankah ada pepatah mengatakan jika cinta itu buta?."


Ya ampun, kenapa jadi melebar kemana-mana.


"Ya tapi aku tidak buta, bisa membadakan mana tua dan mana yang muda." Natasya mulai geram. "Maaf, Tuan. Anda memanggil saya untuk pekerjaan apa. Bila tidak ada, maka saya undur diri."


"Eh, tunggu."


Natasya yang sudah menundukkan kepala hendak beranjak, seketika menghela nafas dalam. Ditatapnya sang atasan yang masih duduk di kursi kebesaran sementara satu tangannya terangkat berniat untuk menghentikan kepergiannya.


"Akhir pekan nanti kau ada waktu?."


"Maaf, untuk akhir pekan nanti jadwal saya penuh, Tuan."


Ernest berdecak. Pasti ini hanya akal-akalan Natasya.


"Baiklah, kau boleh pergi." Mengibaskan tangan, pria muda berstelanjas rapi itu mempersilahkan Sekretarisnya untuk pergi.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan." Senyum tipis tersungging di bibir, akhirnya Natasya berhasil keluar dari ruang kerja sang Tuan yang membuatnya seperti pesakitan. Diintrogasi serta diminta mengakui kesalahan yang sejatinya tak ia lakukan.


Dassar aneh


Natasya hanya menggumam seiring tubuhnya yang menghilang dari pandangan Ernest.


💗💗💗💗💗


Rangga mengulas senyum simpul begitu membuka pintu rumah dan mendapati Ernest sedang berdiri dengan tangan bersedekap. Entahlah, akhir-akhir ini Ernest rutin mengunjungi dirinya. Entah itu di rumah atau pun di kantor.


"Selamat malam, Paman," sapa Ernest.


"Selamat malam juga, Putraku. Ayo masuk," jawab Rangga seraya membuka lebar pintu, memberi akses pada Ernest untuk masuk ke dalam rumah. Sepi, kondisi rumah sebesar ini nyatanya hanya dihuni Rangga dan beberapa pelayan serta pengawal yang berjaga.


"Akhir-akhir ini kau jadi sering kemari." Rangga berbicara dan menjatuhkan bobot tubuh di sofa tunggal ruang tamu.


"Paman tidak suka," sambar Ernest terlihat tidak suka. Paantat yang hampir menyentuh sofa, ia angkat lagi.


"Oh, tentu saja paman suka. Dengan kehadiranmu makan Paman tak kesepian lagi." Hah, candaan Rangga bahkan ditanggapi serius oleh Ernest.


Rangga tergelak, Ernest pun ikut tergelak. Ya, mereka bahkan terlihat sangat akrab dan cocok seperti anak dan Ayah.


Rangga memulai dengan pembicaraan kecil, hal remeh temeh dan menanyakan kabar Ayah serta Ibu Ernest. Pekerjaan yang sibuk membuat Rangga hampir tak punya waktu atau pun kesempatan untuk berkunjung ke rumah sahabat karibnya tersebut. Terakhir berkunjung saat makan malam dan ia bertemu dengan Anastasya.


Rangga tentu terkejut.


"Hei, anak muda. Apa maksudmu?."


"Aku merasa jika Natasya .."


"Menyukaiku?."


Ernest menggangguk dan sontak membuat Rangga terbahak.


"Daasar bocah, Kau giila!. Natasya, sekretarismu itu, mana mungkin dia menyukaiku. Ada-ada saja." Rangga geleng-geleng kepala. Ia bahkan tersedak ludahnya sendiri akibat terlalu lama tertawa.


"Loh, Zaman sekarang apa yang tidak mungkin, Paman?."


Rangga terlihat menghela nafas dalam.


"Ya, tapi pradugamu itu yang seharusnya minta diluruskan. Aku ini sudah tua, dan Natasya, dia lebih pantas menjadi putriku."


Ernest terdiam sebentar.

__ADS_1


"Tadi aku juga sempat bertanya pada Natasya tentang masalah ini?."


"Lalu apa jawaban dia?."


"Natasya menyangkal dan wajahnya terlihat terkejut." Ernest bahkan masih bisa mengingat seperti apa wajah Natasya tadi.


"Lah jika dia saja menyangkal, apa lagi Paman?." Daasar bocah. "Sudahlah, Ernest. Sesungguhnya itu adalah bagian dari rasa cemburumu. Kau tidak suka saat gadis itu menatapku, kau marah dan menuduh dia yang tidak-tidak. Kau cemburu, tetapi malu untuk mengakui."


"Hah." Ernest mengernyit. Apa, cemburu katanya?.


"Cemburu apanya sedangkan kami saja tidak---"


"Tidak berpacaran, maksudmu?."


Ernest mengangguk lemah.


"Kau hanya belum menyadari saja jika sesungguhnya kau mulai tertarik dengannya."


Ernest diam, tak menjawab atau pun menyangkal.


"Kenapa, kau bingung?." Rangga menatap pada Ernest yang terdiam dengan ekspresi wajah sulit diartikan. "Ya, sepertinya kau jatuh cinta namun tak menyadarinya."


Entahlah. Ernest tak berani menjawab. Ia akui interaksi diantara keduanya cukup dekat. Ia pun juga merasa nyaman saat berdua dengan Natasya. Ia yang semula dingin pasca pengkhianatan Sandara, perlahan mulai luluh dan kembali ramah seperti sedia kala. Hoh, benarkan jika Natasya secara tanpa sadar sudah merubah dirinya menjadi lebih baik?.


"Kenapa diam?. Apa sekarang kau mulai sadar?."


"Entahlah, Paman."


Ya, begitulah cinta. Rangga pun pernah merasakannya. Akan tetapi dulu, saat Anastasya mengisi hari-harinya.


"Baiklah, Ernest, tanpa kau akui pun aku sudah tau jika kau menyukai Natasya. Sepertinya untuk urusan kali ini kita harus bekerja sama." Rangga menaik turunkan alis, seperti memberi kode.


"Bekerja sama, maksudnya?."


Rangga tergelak sebelum menjawab, "Aku Ibunya dan kau putrinya. Kita mengincar perempuan yang merupakan Ibu dan Anak jadi mana mungkin kita tidak terlibat kerja sama?."


Ernest termenung, ya tuhan sekarang bukan hanya yang muda saja yang bercinta tetapi yang tua pun tak mau kalah.


"Ok, siapa takut."


Ernest rupanya menanggapi kegilaan sang Paman. Dua pria berbeda generasi itu pun saling menjabat tangan. Sebagai tanda kesepakatan jika keduanya terlibat dalam satu misi. Kerja sama dalam mengejar cinta.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2