CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Rencana Yang Diketahui


__ADS_3

Ada yang menunggu dengan harap-harap cemas saat seseorang yang dipercaya tak lagi memberi kabar. Masih di kamarnya, Zara berjalan hilir mudik dan terus memeriksa ponselnya yang tak menunjukan ada notifikasi. Bulir bening mulai menetes di sudut mata, begitu pun isak yang sesekali terdengar selepas rekaman suara seseorang di kirim oleh Reza ke ponselnya.


Pemilik toko bunga itu bernama Anastasya?. Apa mungkin tebakanku benar?.


Zara menggigit bibir. Deru nafasnya mulai tak beraturan ketika rekaman suara itu kembali di dengar. Di sana suara seorang pria sedang menjawab pertanyaan Reza. Ada banyak pertanyaan, namun satu jawaban yang diberikan sang pria membuat hatinya tertikam. Nama Anastasya benar-benar disebut sebagai pemilik toko bunga yang buka beberapa bulan lalu.


"Tapi ke mana Reza sekarang?."


Langit di luar sudah mulai gelap. Zara pun mau tak mau harus keluar dari kamar untuk menyambut kepulangan suami beserta putranya. Meski perasaannya amat tak menentu, tetapi sebisa mungkin ia bersikap seperti biasa agar anggota keluarganya tak curiga.


Melihat para koki sedang memasak makan malam, perempuan itu ikut turun tangan. Meski sekadar membantu proses penyajian, para koki dan pelayan dengan suka cita mempersilahkan. Selama ini pun Nyonya mereka tak pernah diam, membantu para koki untuk menyajikan makanan sehat untuk Tuan Arka beserta putra dan putri mereka.


Derap langkah yang terdengar membuat Zara menoleh, di sana rupanya sang suami sudah berdiri seolah mengatakan jika dirinya sudah kembali.


"Sayang, maaf aku tidak sempat menyambutmu," ucap Zara penuh sesal. Akibat memasak dengan memikirkan banyak hal membuatnya sampai tak menyadari kepulangan sang suami. Perempuan itu lekas memeluk sang pria dan mengambil alih tas yang pria itu pegang.


"Tak masalah, aku tau jika kau sedang sibuk memasak." Jawab Arka yang mana membuat hati Zara semakin menghangat.


Ke duanya pun melangkahkan kaki untuk menuju kamar pribadi. Selepas bekerja Arka harus membersihkan diri. Zara juga belum melihat Ernest kembali. Mungkin masih banyak tugas yang perlu putranya tersebut kerjakan. Sementara Emely juga berada di dalam kamar, belajar seperti biasa.


💗💗💗💗💗


Pembicaraan hangat sesekali terdengar saat Arka sekeluarga sedang menikmati makan malam. Mereka sudah berkumpul, menikmati hidangan diselingi senda gurau.


"Sayang, ada apa. Malam ini kau seperti lebih pendiam dari biasa," tegur Arka. Pria itu mendapati ada yang berbeda dari sikap sang istri malam ini atau lebih tepatnya selepas dirinya pulang bekerja. Bukan hanya Arka, hal tersebut nyatanya juga disadari putra dan putri mereka, Ernest dan Emely.


"Iya, Ibu tidak sehangat hari biasa." Emely ikut menambahi sementara Ernest hanya menanggapi dengan anggukkan.


"Masa, mungkin itu hanya perasaan kalian saja. Ibu memang sedikit lelah jadi ..."


"Kau kelelahan?." Arka menatap khawatir ke arah sang istri. Tangannya terulur untuk memijat lengan perempuan itu secara sepontan. "Jika sudah ada koki dan pelayan, kenapa kau masih turun tangan untuk memasak?." Arka berfikir jika Zara kelelahan akibat kerap kali mengerjakan pekerjaan rumah meski sudah banyak pelayan.


Zara tergelak, ia gengam taangan sang suami yang masih bergerak untuk memberi pijatan di lengannya.


"Tidak, aku bukan lelah karna itu. Mungkin setelah ini aku harus beristirahat."


Adegan drama Queen itu masih berlanjut. Sepasang suami yang usianya tak lagi muda itu terlihat masih saling memberi perhatian. Saling menunjukan kasih sayang lewat sentuhan dan kata-kata. Fi tempat duduknya, Emely menginjak kaki sang kakak yang fokus menghabiskan makanannya. Sepasang kening Ernest berpaut, bukan protes karna kakinya sengaja diinjak namun sepeti sedang bertanya akan arti dari sebuah injakan yang dilakukan oleh sang adik.


"Kenapa?."

__ADS_1


Emely lekas mencondongkan wajahnya untuk mendekati telinga saudara prianya. Perempuan itu berbisik.


"Apa kau tidak iri dengan kemesraan Ibu dan Ayah juga Kak Erich dan Kakak ipar?." Emely mengulum senyum. Wajahnya mulai ia jauhkan dari telinga Ernest. Sepasang mata pria itu sontak membulat. Mungkin merasa diledek oleh adiknya. Bukannya takut, Emely justru menutup mulut namun bisa didengar jika gadis itu tergelak kencang.


💗💗💗💗💗


Aku harus bagaimana.


Arka yang sudah pergi bekerja dan putra putrinya yang sudah meninggalkan rumah, dimanfaatkan Zara untuk mengutak atik ponselnya demi mengetahui kabar Reza. Akan tetapi ponsel pria itu tak dapat dihubungi. Pun tak ada pesan masuk atau pun panggilan sejak semalam. Zara gundah gulana. Ia tak tau ingin berbuat apa. Melapor pada sang suami pun, ia takut jika masalah yang ada semakin melebar.


Udara yang serasa pengap, mengiring langkah Zara menuju taman belakang. Setidaknya dia butuh otak yang jernih untuk digunakan berfikir.


"Nyonya."


Panggilan seseorang membuat tubuh Zara tersentak. Perempuan itu terkesiap. Tak terdengar jejak langkah, membuat Zara tak menyadari jika seorang pengawal senior menyapanya.


"Pa-paman," jawab Zara setengah tergagap akibat terkejut.


"Nyonya, bisakah kita bicara?." Pria berpakaia khas pengawal Atmadja group itu bertanya.


"Bisa, paman. Tentang?."


Zara terdiam. Setelah melihat ekspresi wajah sang lawan bicara yang terlihat serius. Zara pun menganggukkan kepala dan berucap, "Baik, Paman."


💗💗💗💗💗


Di sebuah bangunan kosong yang semalam ia gunakan untuk menekan Reza, kini Zara justru duduk seperti seorang pesakitan. Sepasang matanya menatap nanar selembar foto ditangan dengan bibir bergetar.


"Pa-paman, si-siapa ini?." Zara bertanya pada pria yang ia sebut paman. Pria itu kini duduk di depannya. Sebagai pengawal senior, Zara tentu menghormatinya, sama seperti dirinya menghormati Sam, meski berstatus pekerjanya.


"Apa Nyonya benar-benar tidak bisa mengenalinya?."


Gelengan kepala Zara sontak membuat sang pengawal menghela nafas.


"Dia Reza, pengawal senior yang sudah Nyonya tugaskan untuk memata-matai Sekretaris Tuan muda."


Zara membekap mulut. Bulir bening mulai meleleh di sudut mata.


"Di-dia, Re-reza?." Zara seakan tak percaya.

__ADS_1


"Ya, benar. Dia Reza, Nyonya dan saat ini dia sedang berada di rumah sakit dalam kondisi kritis," jelas sang pengawal yang membuat tubuh Zara melemas seperti kehilangan seluruh tulang. Zara menangis dan hal tersebut masih menjadi sumber pertanyaan sang pengawal.


"Sebenarnya apa yang sedang Nyonya rencanakan. Maaf, bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja sebelum Nyonya memberikan perintah, tidakkan terbesit dalam fikiran anda tentang dampaknya?."


Zara masih tergugu. Perempuan itu terlihat benar-benar syok. Sang pengawal yang bekerja pada keluarga Arka sudah sangat lama itu hanya menatap datar pada wajah sang Nyonya yang sudah bersimbah air mata.


"Nyonya, katakan. Mungkin untuk saat ini masalah yang terjadi masih dapat disembunyikan dari Tuan Arka, akan tetapi kami pun tidak bisa menjamin jika beberapa hati setelahnya Tuan Arka akan mengetahuinya."


Ucapan sang pengawal kembali membuat Zara menangis.


"Saya harap selepas kejadian hampir tiga puluh tahun lalu, prahara dan masalah di keluarga ini tak akan pernah terjadi lagi." Melihat sang Nyonya hanya menangis, membuat sang pengawal menyerah. Mungkin saat ini perempuan itu masih belum mampu untuk bicara.


"Paman," panggil Zara.


"Ya, Nyonya."


"Jika aku bicara, apa paman bisa berjanji untuk merahasiakannya?." Tak ada pilihan lain. Ia hanya berharap pria itu bisa menolongnya.


"Nyonya.."


"Saya mohon, paman. Jika Paman tidak dapat berjanji sekarang, maka selepas apa yang kuceritakan, Paman boleh memutuskan."


Hening. Pria dengan rambut yang mulai memutih itu ragu untuk bereaksi.


Zara bergerak cepat. Ia memperlihatkan wajah Natasya dan memutar rekaman suara di depan sang pengawal.


"Paman lihat, wajah gadis ini begitu mirip dengan Kak Anastasya, dan di dalam rekaman suara juga terdengar jika nama pemilik toko bunga adalah Anastasya." Zara menjelaskan disela isak tangis. Sang pengawal mendengar dan melihatnya dengan seksama. Bukan sekali duakali, pria itu memdengar suara rekaman dan melihat foto-foto hasil tangkapan Reza secara berulang-ulang.


"Paman, itulah tujuanku menyuruh Reza secara diam-diam. Dia yang sama sekali tak tau Kak Anastasya pasti tak akan banyak bertanya." Ya, itulah tujuan utama Zara mengirim Reza. Pengawal junior itu pasti tak tau tentang siapa itu Anastasya dan kehidupan pernikahannya di masalalu.


Pengawal senior itu terlihat syok. Ia kembali menatap foto Natasya, yang memang begitu mirip dengan Anastasya, mantan majikannya.


"Maka dari itu aku mencari cara untuk bisa mencari latar belakang gadis itu. Aku berfikir, jika apa yang menjadi perkiraanku adalah benar."


Pria itu berulang kali menghela nafas dalam. Reaksinya juga tak berbeda jauh dari Zara saat pertama kali melihat wajah Natasya. Terlebih mengetahui jika Ibu dari gadis tersebut bernama Anastasya.


"Paman, kumohon, bantulah aku. Mungkin di sini hanya paman yang bisa membantuku. Tolong, cari tau tentang gadis itu, tapi sebisa mungkin dirahasiakan dari orang lain. Aku mohon, paman." Zara mengiba. Ia sampai menangkupkan kedua tangan. Entah, Zara sudah tak mampu berfikir lagi. Ia pasrah, jika pengawal senior tersebut menolak, maka dia sendirilah yang akan mencari tahu sendiri kebenarannya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2