CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Ambisi


__ADS_3

Sepeningal Isabel dan Erich dari kediaman Praja, perasaan Arum dibuat tak tenang. Benarkah perempuan itu merasa terancam? Ataukah takut bila dipenjarakan?


Arum mendengus. Menghela nafas dalam guna menetralisir amarah yang sempat meledak saat terlibat adu mulut dengan Erich. Arum tak habis fikir bagaimana putri tirinya itu mendapatkan pembelaan dari seseorang yang bahkan tak sama sekali ia kenali.


"Apa yang ibu fikirkan?" Larasati tiba-tiba melempar tanya saat melihat sang ibu masih jua tak berbicara.


"Entahlah," jawab Arum ragu.


"Aku penasaran, siapa pria yang dibawa oleh saudara tiriku itu. Dia bahkan lebih tampan dari Steven." Senyum di bibir gadis itu terulas, sepasang matanya menerawang membayangkan paras rupawan Erich yang beberapa waktu lalu sempat ditatap.


"Tutup mulutmu," sentak Arum dengan pandangan menajam kearah putrinya yang duduk santai seolah mentulutkan lagi kobaran api kemarahan.


"Kenapa? Aku hanya mengatakan sebuah kejujuran jika pria yang datang bersama Isabel lebih tampan dari Steven. Apa itu salah?" Larasati tampak tak terima. Bukankah ia hanya sedang memuji.


"Tentu, sebab kau memuji orang yang salah Larasati!" Arum meninggikan nada bicaranya. Cukup muak dengan tingkah sang anak yang kekanakan.


"Huh, aku kan hanya ingin memilikinya," gumam Lara yang mampu didengar oleh Arum.


"Apa? Kau bicara apa Larasati?" Arum bangkit dan mendekat kearah sang putri. "Ayo katakan yang jelas sekali lagi," pinta Arum geram.


Larasati menelan ludah kasar. Sang ibu bahkan sudah berada di hadapannya, melotot tajam dan mengintimidasi.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mengatakan apa pun," elak Lara yang justru menambah kemurkaan Arum.


"Cepat ulangi sekali lagi lara, ibu tidaklah tuli tetapi hanya ingin mendegar sekali lagi kalimat itu keluar dari bibirmu!"


"Aku ingin memilikinya. Aku ingin memiliki pria yang datang bersama Isabel. Apakah ibu puas sekarang, puas?" Dada lara naik turun seiring dengan deru nafasnya. Emosi yang sempat ia tahan, meluap seketika. Arum menganga tak percaya. Perempuan itu lagi-lagi mendapatkan pengakuan yang mencengangkan.


"Buang semua obsesimu Larasati. Buang semua keinginanmu untuk merebut apa yang dimiliki Isabel." Bibir Arum bergetar, ia tak pernah merasakan sesakit ini saat menghadapi kelakuan buruk putrinya sendiri.


Larasati berdecak kemudian tersenyum miring.


"Apa perdulimu ibu, bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Begitu pula diriku, putrimu ini hanya ingin mengikuti jejajakmu. Bukankah semuanya wajar dan lagi pula ibu seperti menikmatinya," cibir Larasati yang membuat Arum kalah telak.


"Ibu tidak pernah mengajarimu Lara."


"Lara!"


"Kenapa? Aku hanya berniat mengingatkannya jika ibu lupa."


Arum menghela nafas panjang. Rongga dadanya perlahan sesak membuatnya kesulitan untuk bernafas.


"Sudahlah, kau jangan mempekeruh suasana. Kondisi kita terhimpit sekarang dan ibu masih belum menemukan jalan keluar yang menguntungkan untuk kita." Menyerah? tentu tidak. Kepalang tanggung Arum bahkan sudah berjalan terlampau jauh untuk bisa berada dititik ini.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya? Toh ibu sudah memiliki banyak harta dengan memeras tuan Praja?"


"Dengkulmu," protes Arum tak terima. "Praja tak sebodoh yang ibu kira. Pria itu begitu pelit saat kuminta mengalihkan beberapa aset pribadi menjadi namaku. Ibu hanya mendapat secuil dari kekayaan Praja, sementara aset yang lain masih diatas namakan dirinya dan mendiang laura. Yang mana hanya Isbel-lah yang lebih berhak atas sebagian besar harta tersebut." Arum menangkup wajahnya, frustrasi sementara Lara terperanggah, bibirnya menganga dengan tubuh menegang.


"Semua ucapan pria bersama Isabel itu memang benar, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang sementara Ibu sendiri tak rela jika apa yang selama ini berusaha ibu dapat hatus kembali pada Praja. Ibu tidak rela."


Larasati sendiri masih syok, ia tidak mengira jika selama ini yang dirinya nikmati ternyata belum sepenuhnya sah menjadi milik ibunya.


"Ibu, jangan katakan jika kita akan keluar dari rumah ini dan menjadi penghuni kolong jembatan lagi, tidak aku tidak mau ibu," ratap Larasati dengan wajah ketakutan. Bayangan dirinya akan terusir dan kembali ke jalanan berputar di benaknya.


"Diam! Maka dari itu berfikirlah." Arum menatap sebal sang putri yang hanya pintar merengek dan memprofokasi.


"Lalu apa lagi ibu, bukankah semua sudah jelas." Lara terdiam sejenak, gadis itu nampaknya tengah berfikir. "Kecuali jika kita menyerang balik Isabel dengan membayar beberapa pengawal lagi untuk melancarkan misi kita. Kuras harta tuan praja untuk mencari bala bantuan. Jika perlu bunuh saja Isabel dan juga Ayahnya agar semua harta yang mereka miliki menjadi milik kita. Bagaimana?"


"Terserah kau saja," jawab Arum sedikit ragu dan tak bersemangat.


"Kita harus optimis, toh sudah banyak yang kita korbankan hingga sampai pada titik ini, apa ibu yakin akan menyerah begitu saja?"


"Tentu tidak."


"Maka dari itu ikuti saranku. Cari bala bantuan sebanyaknya untuk menghabisi Isabel. Aku yakin jika orang yang berada di balik Isabel tak sehebat orang-orang kita. Percaya padaku, impian kita pasti akan terwujud ibu." Tak pernah Larasati seyakin ini. Tekadnya sudah bulat dan membara. Tak akan ada yang berhasil menyurutkan langkahnya dalam menuruti ambisi yang sudah terpatri di dalam diri bahkan Arum sekali pun.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2